"Diterima ya, Mba. Dijalani saja dulu, banyak shalat dan baca Qur'an. Semoga tugas akhirmu, lekas selesai. Insya Allah, ini keputusan yang baik, Mba. Sepertinya Mas Akbar, anak yang shaleh."
"Iya, Pak, Bu. Saya jalani. Makasih restu dan doanya."
Aku berdiri, pamit. Masuk ke kamar. Kututup pintu, segera sujud syukur kepada Pemilik Semesta.
"Bismillah, semoga aku bisa."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lilinur m, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sukses
Berhasil melafalkan ijab dan kabul, Akbar langsung bersujud syukur. Alhamdulilah, ibadah melalui pernikahan ini semoga berkah. Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah dan warrohmah.
Sekar yang mendengar lafal kabul dari Akbar dengan lancar dan sukses, langsung bersyukur.
"Jangan menangis ya, Mba. Nanti polesannya luntur." Kata Alina.
"Iya. Tidak menangis kok, cuma meneteskan air mata." Kelakar Sekar, padahal masih dalam keadaan menangis, masih saja bergurau.
Akhirnya Alina membenarkan make-up Sekar sebentar yang terkena aliran air mata bahagia.
Kini Akbar dan Sekar saling berhadapan. Akbar sangat kagum dengan kecantikan Sekar. Ditambah dengan kebaya putih yang dipakai, hiasan di kepala yang indah tapi menarik, tidak terlalu mencolok. Akbar suka.
Saling bersalaman dan memasangkan cincin. Berfoto dengan memperlihatkan buku berlambang garuda pada kaum jomblo, tentunya, kata Fatih.
Acara pernikahan Akbar dan Fatih berlangsung sukses dan hikmat. Pengajian yang diadakan menarik dan pendengar mendapatkan ilmu yang berharga.
Khususnya kedua mempelai. Mereka berdua masih malu-malu untuk berpegangan tangan di depan umum.
Padahal mereka sudah sah beberapa jam yang lalu.
Banyak teman Akbar yang datang, begitu juga dengan Sekar. Mereka datang memberikan selamat sekaligus berswafoto ria di panggung kemegahan Akbar dan Sekar.
Hari sudah larut malam. Pak Wira, mempersilahkan Akbar dan Sekar untuk masuk kamar untuk beristirahat. Sehabis mengadakan acara sungkeman, kedua orang tua mereka masih sibuk menerima tamu.
"Mas Akbar, yang semangat ya, minum jamu kuat, haha."
Begitu kata-kata yang didengar Akbar dan Sekar sepanjang turun dari panggung. Sekar pasti sudah merona pipinya, karena memakai polesan, jadi tidak terlihat dengan jelas.
Keduanya hanya menanggapi dengan senyuman. Akbar tahu kalau Sekar tadi tidak shalat Duhur. Artinya ia tidak mendapat jatah malam ini. Sementara Sekar hanya tersenyum malu.
Pintu kamar sudah tertutup. Alina sudah menghias kamar Sekar dengan cantik. Sprei yang dipilihkan Alina merupakan sprei dengan warna putih yang terbaik. Ranjang pengantin mereka sangat menarik, lampu cantik dengan tingkat remang-remang yang sudah diatur.
"Sayang, mari kita mandi terlebih dahulu. Dirimu belum shalat kan, biar aku mandi dulu, nanti ketika aku shalat, sayang baru mandi." Kata Akbar, memandang wajah cantik Sekar.
Sekar menggigit bibirnya. Bingung menyampaikannya bagaimana. Tangannya saling bertautan.
Melihat itu, Akbar langsung mencium lembut bibir mungil Sekar.
Sekar kaget, namun tidak menolak Akbar.
Setelah selesai, Sekar mencoba memandang wajah Akbar. Sangat tampan. Porsi wajahnya sangat pas.
Sambil memegang lengan Akbar, Sekar berujar lembut, "Mas, Sekar akan menjadi makmum Mas Akbar, hari ini Sekar sudah selesai haidnya. Sekarang Mas, mandi dulu, baru Sekar. Ketika Mas mandi, nanti Sekar keluar membuat susu hangat untuk kita. Bagaimana?"
Raut wajah Akbar menjadi gembira. "Baiklah kalau begitu, sayang. Aku akan mandi dulu." Jawab Akbar cepat, sembari mengambil ciuman di kening Sekar.
Sekar memegang jantungnya. Baru pertama kalinya, ia sedekat ini dengan laki-laki. Beginikah rasanya. Campur aduk. Pikir Sekar.
Keduanya selesai mandi. Setelah itu, mereka melaksanakan shalat jamak, karena waktu Magrib tadi, belum melaksanakan shalat. Dilanjutkan shalat Isya.
"Mas, mau disuapin?"
"Boleh. Sayang, bolehkah Mas melihat rambutmu?"
"Iya, kita selesaikan makan dulu, ya. Setelah itu baru aku kabulin semua permintaan Mas."
Akbar cepat mengangguk.
"Mari kita berdoa, sayang. Semoga kita lekas dikarunia keturunan yang sholeh dan sholehah. Aamiin."
Begitulah doa keduanya sebelum melakukan malam pertama mereka.
"Rambutmu sangat indah sayang, bolehkah Mas melihat semuanya?" Kata Akbar sambil mengelus rambut panjang Sekar yang hitam lurus.
Sekar mengangguk pelan, sambil menutup wajahnya yang memerah.
Akbar melakukan pemanasan terlebih dahulu, supaya tidak sakit dan rileks. Begitu yang ia dapatkan dari buku yang ia baca tentang suami istri.
"Sayang, aku tidak bisa menahan lagi. Bolehkan aku melakukannya."
"Pelan-pelan sayang, ini sungguh sakit."
Akbar sukses menerobos pertahan Sekar. Diciumnya air mata Sekar, "Maaf sayang, setelah ini, tidak akan sakit lagi. Aku janji."
Rasa sakit Sekar kini berganti dengan kenikmatan. Akbar terus memacu miliknya hingga keduanya mencapai klimaks. Menaburkan benih di rahim milik Sekar, istri tercintanya.
Mereka melakukanya hingga hampir pagi. Melihat Sekar yang lelah, Akbar turun dan memeluknya.
Terima kasih sudah membaca cerita ini. Sehat selalu kita. Aamiin.