Pemberontakan atas perjodohan orang tua, membuat Shena Az Zahra nekat mengajak pria asing untuk menikah. Pernikahan itu terjadi tepat di hari pertemuan pertama karena insiden kecelakaan.
Danish Anderson yang menjadi harapan kilat, justru mengempaskan impian gadis itu. Niat hati melarikan diri, tetapi berakhir terjebak dalam pernikahan aliansi.
Duka itu bukan saat kehilangan orang terkasih, tetapi ketika kepercayaan yang mengetuk hati hancur sebelum dimulai. Kenyataan dalam selimut kepalsuan di setiap hubungan dengan tarik ulur kesalahpahaman.
Apakah pernikahan kilat Shena dan Danish bisa bertahan? Simak kisah cinta keduanya hanya di Aku Bukan Perebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asma Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Mr. Xavier, Koran Bekas
Apapun yang pria itu pikirkan, tetap tersimpan di dalam benaknya. Namun, di tempat lain. Wajah memerah menahan amarah membuat sang asisten bergidik ngeri. Bagaimana tidak murka? Baru saja ingin memberikan ultimatum atas proyek yang dirinya sponsori. Tiba-tiba ada intimidasi yang menyerang gendang telinganya tanpa permisi. Apalagi panggilan langsung berakhir tanpa memberikan dia waktu untuk membalas serangan itu.
"Siapa dia? Suara gadis yang kita sewa, berbeda dari suara tadi. Cepat, cari tahu siapa itu!"
Perintah atasannya, membuat Tuan Harry lari terbirit-birit meninggalkan ruangan pria yang memiliki temperamental tinggi. Dialah pemilik nama Xavier yang biasa di panggil Tuan Xavier atau Mr. Vier di kalangan pebisnis. Tangan kekar yang tidak mengenal kata ampun, bahkan ia tidak pandang bulu hanya karena gender.
Ketika seseorang mengusik ketenangan serta bisnisnya. Maka, orang itu harus siap di hancurkan. Selain itu, Tuan Xavier juga memiliki anak buah yang selalu siap siaga melaksanakan perintahnya. Meski begitu, hanya satu pegawai yang bisa dekat dengan pria satu ini yaitu Tuan Harry sang asisten.
Walau usia terpaut jauh, tak membuat rasa sungkan itu hadir di hati Tuan Xavier. Seorang pemimpin dari Bio Pharmacy Company's. Sisi dingin pria itu, mengubah kerajaan bisnisnya menjadi disegani atau lebih tepatnya. Ditakuti. Banyak perusahaan yang memilih menghindari kerjasama dengan perusahaan itu. Termasuk keluarga Danish.
Dalam kemarahan, Xavier menghempaskan tubuhnya ke kursi kebesarannya. Lalu, jarinya bermain ketukan nada agar mengembalikan ketenangan. Ia merenung, siapa orang yang bersikap begitu berani. Apakah tidak tahu tengah berbicara dengan siapa? atau memang ingin melakukan pemberontakan?
Namun, seketika ia tersadar. Bukankah proyek itu dipegang mahasiswa yang direkomendasikan oleh dewan kampus? Kenapa harus berpikir begitu keras. Bisa saja mengambil data dari semua mahasiswa, lalu mencocokkan suara yang ia dengar dengan suara setiap mahasiswa. Akan tetapi, kenapa menjadi rumit.
"Suaranya terus saja berdengung ditelinga ku. Ketegasan, keberanian, siapa yang memiliki suara seperti itu? Apakah jika berdiri di hadapan ku, gadis itu masih memiliki keberanian. Tidak. Semua orang akan tunduk dengan aura ku." Tuan Xavier bermonolog pada dirinya sendiri, ia menerka apa yang akan terjadi.
Sementara gadis yang berhasil mencuri ketenangannya. Justru tengah fokus memperhatikan Naina yang melakukan demo dadakan untuk memperkenalkan proyek yang tengah dihadapinya. Walau hanya menggunakan laptop yang sengaja di pinjam dari Danish.
Penjelasan panjang kali lebar, membuat Shena merasa kepanasan. Ternyata matahari semakin tinggi, sedangkan ia belum mandi. "Stop! Gerah nih, masuk aja ya. Kalian istirahat aja, aku mau mandi dulu."
"Yaelah, nanggung nih. Lima belas menit selesai loh." tukas Siti yang memperhatikan durasi dari video di layar laptop, tetapi Shena tidak peduli.
Gadis satu itu, malah berlari meninggalkan kedua sahabatnya. Sontak saja, membuat Naina dan Siti menghela nafas panjang seraya menepuk kening masing-masing. Siapapun yang punya sahabat seperti Shena. Percayalah harus ekstra sabar, ketika sikap tak tepat waktu tiba-tiba muncul begitu saja.
"Nai, apa menurutmu yang akan dilakukan Si Mr. Xavier pada sahabat kita? Bukankah kamu pernah bilang, kalau bos dari Bio Pharmacy orangnya kolot, ya." ucap Siti dengan rasa penasarannya yang tinggi.
Naina mengedikkan bahu, "Ntahlah. Aku tidak akan membiarkan Shena kena masalah. Satu bulan ini proyek akan aku selesaikan. Tidak peduli, bagaimanapun caranya."
Terdengar begitu meyakinkan, bahkan sangat positif thinking. Meski dari sudut hati yang paling dalam, terselip keraguan akan kemampuan yang diharuskan mencapai target dengan waktu yang begitu singkat. Berbicara itu mudah, tetapi mewujudkan yang sulit.
"Ambillah. Ini akan membantu pekerjaan mu." kata Danish yang mengagetkan kedua sahabat istrinya, pria itu tiba-tiba saja datang tanpa diundang.
Seikat tumpukan koran bekas diletakkan ke atas meja. Lalu, dibukanya tali yang mengikat lembaran kertas itu. Satu persatu, menjejerkan sekilas info dari perusahaan Bio Pharmacy. Naina mengambil salah satu koran, membacanya dengan teliti. Wow. Informasi yang bisa dijadikan sebagai kartu As.
"Pak, eh Ka. Enaknya panggil apa ya?" tanya Naina menggaruk kepalanya yang tak gatal, melihat itu Siti menepuk bahunya. "Sakit tahu ...,"
"Ka, kenapa Kakak tahu kalau kami butuh informasi soal Tuan Xavier?" tanya Siti tanpa mempedulikan bibir manyun Naina yang menyudutkan dirinya.
Danish mengambil salah satu koran. Lalu, menunjukkan tepat di depan Naina dan Siti. Dimana di judul tertulis *Krisis Ekonomi melanda Keluarga Anderson*. Koran itu terbitan tiga tahun lalu. Itu berarti, ada rahasia di balik setiap koran yang mereka dapatkan.
"Kalian bisa mencari semua informasi dari semua koran ini, tapi jangan lewat jejaring sosial. Semua yang terkoneksi dengan internet. Sudah pasti bisa disadap. Paham?" jelas Danish yang ingin memberikan nasehat agar para gadis tidak salah membuat keputusan.
Ada pertanyaan di dalam kepala Naina, tetapi tidak berani mengungkapkannya. Terlebih lagi di antara mereka bertiga, kehadiran Shena sangat dibutuhkan. Ketika sibuk melamun, Danish berjalan menjauh meninggalkan kedua gadis itu untuk kembali masuk ke dalam rumahnya.
Tanpa Dan sadari. Dari balik jendela, Shena melihat dan mendengarkan semua. Gadis itu bergegas meninggalkan tempatnya bersembunyi, lalu menghadang suaminya dengan berdiri di tengah tangga. Tatapan mata terus ke depan, hingga bertemu netra tegas sang suami.
Pria itu bisa merasakan tatapan menyelidik tertuju padanya. Meski begitu, langkah kakinya tetap maju menghampiri Shena. Suasana mendadak menegangkan, tiada hembusan angin yang menerpa. Oksigen yang menipis, membuat keduanya menahan nafas sesaat hingga langkah itu terhenti menyisakan jarak tak seberapa.
"Katakan. Apa pertanyaan mu, SheZa." kata Danish, membalas tatapan mata Shena lebih dalam lagi.
Keheningan. Gadis itu mengedarkan pandangan matanya, menelusuri tubuh Danish dari ujung kepala hingga ujung kaki. Lalu memperhitungkan berapa berat badan suaminya, serta kekuatan yang pria itu miliki. Sementara yang ditatap, tentu keheranan. Kenapa seperti ditel@njangi.
"....,"
Shena mengangkat tangannya, sontak menghentikan pergerakan bibir suaminya. "Empat ronde. Bagaimana?"
Ronde? Apa maksud dari Shena. Kenapa tiba-tiba membicarakan soal ronde. Apakah gadis itu mengajak nonton bola, atau bulu tangkis? Atau jangan-jangan. Pikiran Danish berkelana hanya karena satu kata yang menyentak insting pria dewasanya. Mungkinkah, secepat itu istrinya mau menerima dia sebagai seorang suami?
Tatapan mata bingung dengan seulas senyum, membuat Shena memutar bola matanya. Sekarang dia paham, kenapa Danish terkejut dengan ucapannya. Pasti pria satu itu sudah berpikir tentang olahraga ranjang. Padahal yang dia maksud dengan ronde adalah hal lain. Tak ingin ada kesalahpahaman, ia menjentikkan jari di depan muka suaminya.
"Mas Danish Anderson. Aku menantangmu untuk bertarung. Kenapa malah traveling pikiranmu, Mas." tukas Shena dengan geleng-geleng kepala.
Danish tersenyum aneh, "Kirain, tapi kenapa tiba-tiba mengajak bertarung? Aku tahu, istriku hebat. Jadi tidak perlu membuktikan itu padaku."
"Siapa Tuan Xavier?" Shena bertanya, tetapi suaranya begitu serius, seakan tidak menerima penolakan. Apalagi alasan untuk menghindarinya, "Aku ingin jawaban. Bukan tatapanmu, Mas."
Emosi manusia akan selalu terpancar dari sorot matanya. Dan bisa melihat, Shena tidak main-main dengan pertanyaannya. Namun, masa lalu yang ingin istrinya gali. Bisa saja melukai banyak orang. Tak ingin membuat kegaduhan, langkahnya maju mendekati Shena.
Pria itu memegang kedua lengan Shena, menatapnya lembut agar hati yang mengeras, bisa sedikit melunak. "SheZa, Aku akan ceritakan semua kisah hidupku, tapi bersabarlah. Kisah yang kamu minta, bukanlah kisah masa kecil dengan perebutan kelereng mainan. Ku harap, istriku mau memahami ini."
"Baiklah. Aku tunggu kesiapanmu, Mas." balas Shena menghembuskan nafas kasarnya, ia kembali mengendalikan rasa ingin tahunya. Jika Danish tidak siap untuk bercerita. Percuma untuk memaksa. "Aku ke atas dulu, permisi."
Tanpa menunggu jawaban. Shena melepaskan tangan Dan, lalu berbalik, kemudian berlari kecil menaiki anak tangga. Danish sendiri menatap gadis itu tanpa berkedip. Sesuatu mencoba memberontak dari dalam jiwanya. Ingin terbuka, tetapi tidak semudah itu.
SheZa, kamu istriku dan berhak mengetahui sejarah keluarga ku. Walau bukan hari ini, tapi suatu saat nanti. Aku sendiri yang akan menceritakan seluruh kisah pahit kebangkitan keluarga Anderson.~ ucap batin Danish seraya mengusap wajahnya kasar.
Kehidupan itu hanya memiliki tiga waktu. Kemarin yang menjadi masa lalu. Kini yang menjadi hari menapakkan sejarah baru dan esok yang akan menjadi misteri. Masa lalu tidak selamanya manis dan pahit. Rasa itu selalu tidak terbatas. Seperti mimpi, keyakinan, dan harapan.
Danish meninggalkan tempatnya berdiri. Langkahnya berjalan menuju ruang kerja yang ada di sisi lain tangga. Hati yang berkecamuk, berteman kesendirian. Kehidupan yang mendadak mempertanyakan sebuah nama. Namun, badai itu terus menghantui langkah menuju masa depannya.
Apakah, sekali lagi akan menjadi kekacauan? Pria itu masih tidak menyadari. Badai yang akan datang bukan dari orang luar, melainkan dari dalam keluarganya sendiri. Dia tidak tahu, jika Fatih sudah siap untuk bertempur merebut Shena dari kehidupannya.