"Bantu aku, maka aku akan mengingat kebaikan mu ini!" Ujar seorang pria yang menodongkan sebuah senjata ke perut Laela.
Mata Laela tentu saja membelalak lebar.
"Ba... baik!" jawab Laela gugup.
Apa jadinya jika perjalanan liburan sekolah Laela malah membuatnya bertemu dengan seorang bos mafia yang baru saja terluka dan melarikan diri dari para pembunuh bayaran yang mengincar nyawanya?
Setelah menolong pria itu, bagaimanakah cara pria itu membalas kebaikan yang ia janjikan pada Laela?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Laela yang merasa perasaannya semakin tidak karuan menelan salivanya dengan susah payah berkali-kali karena Kabir masih terus mendekatinya meski dia sudah tak bisa mundur lagi. Punggung Laela sudah menabrak dinding toilet di belakangnya. Sudah tak bisa mundur.
Dan semakin Kabir mendekat ke arahnya, dan kedua pasang mata mereka bertemu. Laela malah merasa jantungnya makin kencang berdetak sampai dia merasa jantungnya itu mau mencelos keluar saja dari tempatnya.
Tangan dan kaki Laela juga menjadi dingin, ingin lari tapi malah tak bisa bergerak. Tatapan Kabir itu seperti mengunci pergerakan Laela, bahkan ingin memalingkan pandangan dari Kabir pun rasanya Laela tak mampu melakukan itu.
Jantungnya makin berdegup kencang, darahnya terasa berdesir. Bahkan ingin menangis rasanya.
"Matamu berkaca-kaca, apa kamu merindukan aku?" tanya Kabir dengan suara berat masih tetap menatap Laela.
Deg
Jantung Laela benar-benar mau mencelos rasanya. Ketika tangan Kabir terangkat dan menyentuh pipi Laela, Laela tersentak kaget dan langsung menghindari tangan Kabir yang sudah sempat sekilas menyentuh pipi lembut Laela.
Laela memalingkan wajahnya ke arah kanan. Kedua tangan Kabir terangkat dan mengungkung Laela hingga membuat Laela kembali menoleh ke arah Kabir. Kali ini jarak mereka begitu dekat, hingga hembusan nafas Kabir pun bisa Laela rasakan di keningnya.
Karena Laela merasa tak nyaman dan terancam dalam posisi seperti itu, dia yang awalnya tak mau ada kontak fisik dengan Kabir pun terpaksa mengangkat kedua tangannya dan mengarahkan kedua telapak tangannya ke arah dada Kabir untuk mendorong Kabir agar menjauh darinya.
"Menjauh lah dariku Kabir!" pekik Laela di depan Kabir.
Tapi sayang sekali sekuat apapun Laela mendorong Kabir. Pria tampan berbadan gagah itu tak bergeser sedikit pun dari tempatnya berdiri.
"Aku sangat merindukanmu!" lirih Kabir tanpa melepaskan pandangan matanya pada Laela.
Tangan Laela yang tadinya terus berusaha mendorong Kabir pun terdiam, berhenti bergerak. Tatapan mata Laela yang tadinya terlihat sangat kesal juga semakin menjadi sendu.
Melihat reaksi Laela yang diam saja bahkan masih meletakkan tangannya di dada Kabir namun berhenti mendorong, Kabir pun menyimpulkan sendiri perasaan Laela padanya. Dengan mengumpulkan segenap keberaniannya Kabir menarik kedua tangan Laela lalu memeluk gadis yang tengah bingung dengan perasaannya sendiri itu.
Laela tersentak kaget, air matanya yang sudah menggenang tiba-tiba saja jatuh tanpa dia sadari.
Kabir memeluk Laela dengan erat. Kabir bahkan memejamkan matanya berusaha mencoba meredakan rasa rindu yang sudah satu bulan lebih ini dia pendam dalam hatinya. Pelukannya semakin lama semakin erat untuk meluapkan rasa rindunya itu.
Laela awalnya mencoba untuk tetap menolak dan terus memberontak. Namun semakin Kabir memeluknya, Laela semakin terisak.
"Lepaskan aku Kabir, jangan membuatku menjadi pengkhianat, aku sudah bertunangan!" lirih Laela yang sebenarnya juga sangat bingung dengan perasaannya sendiri.
Tapi di saat dia mulai terhanyut dan berhenti memberontak, dia pun teringat pada Arman. Pria baik yang sudah menjadi tunangan nya, dan setelah Laela lulus nanti akan menjadi suaminya. Karena mereka akan menikah begitu Laela lulus kuliah nanti.
Mendengar kalimat yang diucapkan Laela, Kabir merenggangkan pelukannya pada Laela. Semakin lama semakin direnggangkan dan semakin lama Kabir semakin melepaskan Laela dari pelukannya.
Tanpa menunggu Kabir bicara, dan tanpa bicara apapun pada Kabir. Laela langsung mendorong Kabir hingga dia mendapatkan space untuk bisa lari dan keluar dari dalam toilet. Setelah Laela keluar dari toilet dirinya tidak langsung ke meja Dara dan Zahra. Laela malah pergi ke belakang restoran itu untuk meluapkan perasaannya yang campur aduk tak karuan. Laela berjongkok bersandar di dinding dan menangis sejadi-jadinya.
Seumur hidupnya, Laela tidak pernah, belum pernah merasakan perasaan seperti saat dia bersama Kabir tadi. Perasaan seperti saat akan menerima raport di sekolah, perasaan saat ingin membuka hadiah ulang tahun dari kedua orang tuanya. Perasaan seperti itulah yang Laela rasakan saat bersama Kabir tadi. Jantungnya benar-benar berdetak sangat cepat dan tidak bisa dia kendalikan.
Tak dapat Laela pungkiri saat Kabir mengatakan rindu padanya tadi. Hatinya seperti ingin mengatakan hal yang sama. Namun saat ini dia adalah tunangan Arman. Hal itu membuat Laela seperti tenggelam di air dan tak bisa bernafas. Jalan satu-satunya adalah dia benar-benar harus pergi menjauh sejauh-jauhnya dari Kabir. Agar tidak ada hati yang tersakiti.
"Tidak boleh Laela, tidak boleh... bang Arman sangat baik, ini tidak boleh Laela!" gumam Laela menguatkan keyakinannya sendiri agar tak goyah karena kehadiran Kabir.
Setelah menumpahkan semua risau dalam hatinya. Laela membersihkan wajahnya di wastafel yang ada di dekat pintu belakang restoran. Setelah mengatur nafasnya dengan tenang. Laela lalu kembali masuk ke dalam restoran dan berjalan dengan terus berusaha bersikap biasa di depan Dara dan Zahra.
Zahra dan Dara saling pandang karena melihat mata Laela yang merah dan sembab, hidungnya juga terlihat memerah. Zahra tahu betul kalau Laela habis menangis.
'Apa yang sudah Kabir lakukan pada Laela?' tanya Zahra dalam hatinya.
Melihat Laela yang mencoba untuk tersenyum pada Zahra dan Laela membuat Zahra semakin simpati pada Laela.
"Maaf Tante, Dara... em.. mesin pengeringnya sedikit bermasalah jadi...!"
Tapi sebelum Laela selesai menjelaskan, Zahra sudah bertanya dengan bahasa isyarat pada Laela. Laela yang tidak mengerti pun langsung menoleh pada Dara.
"Apa kamu baik-baik saja? apa terjadi sesuatu?" kata Dara mengartikan bahasa isyarat yang di sampaikan oleh Zahra.
Laela terlihat sangat tidak enak sudah membuat Zahra khawatir. Dengan cepat dia menggelengkan kepalanya. Dia berpikir sebentar lalu berkata.
"Tidak Tante, tadi itu mesin pengeringnya sedikit bermasalah... em ada debu... aku bersin-bersin. Jadi begini deh!" ucap Laela sambil menyilangkan kakinya.
Ciri khas Laela kala gadis itu berbohong pada seseorang, dia akan menyilangkan posisi kakinya. Kaki kanannya akan di letakkan di belakang kaki kiri dengan posisi menyilang.
Zahra lalu tersenyum, dia juga tak mau membuat Laela merasa tak nyaman. Setelah selesai makan, Dara pun mengantarkan Laela pulang. Sepanjang jalan Laela hanya diam sambil melihat ke arah kaca jendela mobil. Laela masih tak bisa melupakan apa yang terjadi padanya tadi. Kabir Haris Adnan, pria yang pertama menggandeng tangannya, pria yang pertama menciumnya, dan pria yang pertama memeluknya. Laela benar-benar merasa sangat terganggu dengan semua hal itu.
'Kalau kamu datang lagi, kenapa kamu pergi? semua sudah terlambat Kabir!' lirih Laela yang memejamkan matanya sekilas sambil menghirup udara dalam-dalam.
Apa yang dilakukan Laela itu tak luput dari perhatian Zahra. Zahra pun hanya bisa menghela nafasnya panjang.
***
Bersambung...
thanks ya atas karyanya
Mampir Thor 🙋
terimakasih author
👍👍👍👍👍👍