NovelToon NovelToon
NARA

NARA

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:747.8k
Nilai: 4.8
Nama Author: Hanna

Nara seorang gadis biasa dan sederhana terpaksa harus menikah dengan pria yang tidak pernah dia kenal sebelumnya karena sebuah surat wasiat dari kakeknya.

Dia harus rela berpisah dengan kekasihnya dan menjalani kehidupan pernikahannya yang bagaikan neraka.


Follow IG Author : @hanania442 😘

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31

Hari ini sudah tepat dua minggu Nara tidak kembali ke rumah setelah kejadian hari itu. Revan sudah mencobanya mencari keberadaannya di tempat yang biasa dia datangi, hasilnya nihil.

Revan juga sudah mengerahkan orang untuk melacak ponselnya, tetapi mereka menemukan ponsel Nara tepat di tepi pantai. Mungkin dia sengaja membuangnya atau ponsel itu terjatuh.

Rasa bersalah dan khawatir terus menghantui Revan. Bodohnya Revan tidak menyadari jika Nara saat itu berada disana sehingga Mona sampai melakukan tindakan gila.

“Tunggu... dari mana Mona tahu jika Nara juga menghadiri acara itu atau semua ini sudah dia rencanakan?”

Revan beranjak dari duduknya dan membuka pintu kamar Mona dengan kasar.

Amarahnya semakin meledak saat melihat Mona dengan santainya menikmati makanan ringan dan menonton siaran comedy di televisi dengan tertawa riang.

“Sayang, kemarilah sudah lama kita tidak menonton acara ini,” Mona menepuk sisi sofa meminta Revan bergabung bersamanya.

Revan menghampiri Mona. Dia mengambil gelas yang berisi jus yang tinggal setengah lalu melemparkan gelas

itu kearah televisi yang sedang di tonton Mona.

Layar televisi itu pun otomatis menghitam dan tidak menampilkan gambar apapun. Pencahan gelas menyebar dilantai di tambah dengan tumpahan jus orange yang menyeruak di kamar Mona.

Mona beranjak menatap Revan dengan kesal. “Jika kamu ingin menolak ajakanku, katakan saja tidak perlu

berlebihan seperti ini!”

Revan mengepalkan jari-jemarinya menahan gemuruh di hatinya, mengupulkan kesabaranya untuk menghadapi Mona.

“Katakan dimana Nara, aku yakin kau menyusun semua rencana busuk di balik hilangnya Nara” Revan mengeratkan rahangnya.

Mona terdiam. Memalingkan wajahnya acuh. “Pergilah, aku harus membersihkan kekacauan yang kau buat”

Revan menarik lengan Mona kasar. Terpancar diwajahnya Revan ingin rasanya mematahkan lengan kurus Mona.

“Lepas! Kau menyakitiku” Mona merintih kesakitan dan berusaha melepaskan cengkraman Revan

“Katakan dimana Nara, jika tidak....”

“Apa? Apa yang akan kau lakukan jika aku tidak mengatakan keberadaan perempuan itu. Kau ingin kita cerai?

Lakukan saja, maka wanita jalang itu akan menjadi topik utama di media. Semua orang akan menghujatnya karena dialah penyebab perceraian kita. Kini semua orang tahu jika aku adalah istri pertama mu bukan dia, kau lupa saat kita menikah walaupun itu hanya selembar kertas tapi disana terpampang jelas waktu dan tempat pernikahan kita”

Revan perlahan melepaskan cengkramannya. Terlihat lengan Mona memerah tercetak jelas jemari Revan disana.

Mona tersenyum sinis penuh kemenangan. “Kau jadi sangat kasar setelah bersama wanita itu”

Plak!

Sebuah tamparan mendarat di wajah Mona. Bagi Mona ini bukan sekedar tamparan tapi sebuah penghinaan.

“Hentikan omong kosong dari mulut kotormu itu. Aku bisa saja melakukan yang lebih gila dari sekedar menamparmu.”

Revan melangkah pergi meninggalkan Mona dan membanting pintu dengan sangat keras.

Mona tidak habis pikir. Bagaimana Revan terlihat sangat putus asa saat Nara menghilang.

“Lihat saja aku akan menghancurkan wanita itu sampai tuntas karena sudah berani merebut suamiku dan

aku akan menggambil semuanya yang memang seharusnya menjadi milik ku.”

Mona menyadari kesalahan terbesarnya adalah membawa wanita itu dalam kehidupannya. Maka dari itu Mona juga berkeyakinan bisa mengusir Nara secepatnya.

                               ***

“Apa lagi ini!? Kau selalu saja membuat masalah, tidak cukup kau menikahi wanita miskin yang melimpahkan semua biaya hidup keluarganya pada kita dan ternyata selama ini kau sudah menikahi Mona.” Mama Revan tidak henti-hentinya menghakimi Revan yang tengah terduduk lesu. Menundukkan kepalanya.

Revan tidak sanggup menatap kedua orang tuanya yang tengah mengunjunginya dan meminta penjelasan.

Di zaman yang serba canggih ini, berita sekecil apapun akan cepat menyebar keseluruh pelosok negeri hanya dengan satu sentuhan jari.

Video dan foto saat Mona mempermalukan Nara menyebar dengan cepat. Apalagi selama ini publik mengira Nara istri satu-satunya. Bahkan ada beberapa orang membuat group untuk mengumpulkan para penggemar Revan dan Nara sebagai pasangan pengusaha sukses dan wanita cantik yang sangat serasi dan harmonis.

“Entah bagaimana Nara, menghadapi semua masalah ini,” ucap Santoso.

“Kau hanya memikirkan menantu tidak berguna itu? Lalu, bagaimana dengan perusahaan kita yang akan mendapat dampak buruk karena pemberitaan ini.”

“Ck! Kita sudah bercerai kau hanya memiliki hak 2% di perusahaan itu jadi jangan banyak berkomentar,” Santoso membalas ocehan mantan istrinya dengan kesal. Dia semakin bersyukur sudah menceraikan istrinya, setiap melihat sifat buruknya.

“Ma, Pa. Maaf...maaf semua masalah

ini timbul karena kebodohanku,” ucap Revan

Mona menghampiri Revan. “Ini semua bukan salah Revan tapi kesalahan kalian berdua. Jika saja  kalian menyetujui pernikahan kami sejak awal semua ini tidak akan terjadi!”

“Lihat dirimu sebelum bicara. Apakah kau sudah pantas menjadi istri putraku?”

“Lalu, apakah anda pantas disebut seorang ibu? Bahkan selama ini anda hanya mementingkan uang dan uang”

Brakkk!!!!

Papa Revan menggebrak meja. Mereka terkejut. Mona dan mama Revan menghentikan perdebatan mereka.

“Hentikan omong kosong kalian berdua. Lidya, seharusnya kamu tidak memperkeruh suasan dan kamu Mona bantu Revan untuk mencari Nara!”

Santoso menepuk bahu putranya. “Sudahlah,

semua sudah terjadi. Saat ini kita harus mencari keberadaan Nara lalu kita akan mencari solusi untuk masalah ini.”

“Terima kasih, Pa”

“Besok, Papa akan mengunjungi keluarga Nara, mungkin saja Nara menghubungi mereka.”

Santoso menatap kearah wanita yang duduk di samping Revan sejak tadi “Mona, tolong jangan melakukan hal yang semakin memperburuk keadaan.”

“Tentu, Pa! Memperburuk keadaan atau tidak semua itu tergantung kalian. Jika kalian memperlakukan aku dengan baik dengan senang hati aku juga akan lebih menjaga nama baik keluarga kita!”

Santoso beranjak pergi dan Revan mengantar papanya sampai ke mobil dan melihat kepergian papanya sampai tidak telihat lagi. Saat mamanya menghampiri Revan, dia memilih untuk segera masuk ke rumah.

“Dasar dia lebih menyayangi papa tirinya dari pada ibu kandungnya sendiri,” Ibu Lidya menutup pintu mobilnya dengan kesal.

Saat dia akan melajukan mobilnya. Mona mengetuk kaca mobilnya. Lidya pun membuka kaca mobilnya.

Mona menundukkan tubuhnya agar sejajar dengan wajah Ibu Lidya.

“Jika Mama mau, aku bisa membersihkan nama baik Revan dan perusahaan, tapi ada syaratnya!” Mona menawarkan kesepakatan pada mertuanya.

“Aku tidak butuh kesepakatan apapun dari ular yang baru saja menetas. Aku sudah bisa membaca isi kepalamu itu,” Lidya menepuk-nepuk pipi  Mona dan melajukan mobilnya.

Mona mengeratkan rahangnya. Terpancar kekesalan di wajahnya karena telah gagal mencari sekutu.

“Pantas saja Revan lebih menghormati papa tirinya dari pada mama kandungnya,” Mona menggerutu seraya masuk ke rumah.

Saat Mona memegang handle pintu dan hendak masuk ke kamarnya, dia menyadari sesuatu.

“Kau, kemarilah!” ucapnya pada salah pelayan yang sedang membersihkan meja makan.

“Dimana pelayan yang sering bersama Nara?” tanya Mona penuh selidik.

“Dia sudah tidak bekerja lagi Nyonya, sudah seminggu yang lalu dia mengundurkan diri.”

Setelah menjawab pertanyaan Mona, pelayan itu undur diri dan kembali membersihkan meja makan.

“Baguslah, aku tidak perlu repot mengusirnya.

Begitu juga denganmu Revan, cepat atau lambat aku juga akan menghapus Nara di pikiranmu.”

Revan mengusap wajahnya kasar. Rasa frustasi sudah merasuki dirinya. Sudah berminggu-minggu orang yang dia tugaskan untuk mencari Nara masih belum mendapatkan kabar apapun.

Berita tentang rumah tangganya masih saja menjadi topik utama, walaupun sedikit berkurang karena Revan sudah membayar seorang untuk menghapus setiap berita yang menyudutkan Nara.

Revan berharap dengan meredupnya pemberitaan itu Nara segera keluar dari persembunyiannya. Namun, yang dia takutkan Nara tidak sengaja bersembunyi tapi ada seseorang yang menculiknya.

Mimpi buruk selalu menghantuinya. Mungkin wujud dari penyesalan atau karena terlalu memikirkan Nara.

Kini hari-harinya hanya di habiskan dengan bekerja lalu saat malam Revan akan menghabiskan dengan mengunjungi club malam milik sahabatnya. Pulang dengan keadaan mabuk sudah menjadi kebiasaannya.

Seperti saat ini dia berjalan dengan susah payah menaiki anak tangga menuju ke kamarnya. Melihat sekeliling berharap Nara telah kembali.

Revan menghembuskan nafasnya dan menghempaskan tubuhnya diatas ranjang. Mengamati langit-langit menerawang jauh.

Menyadari satu hal, bahwa dia hanya memiliki satu nama dihatinya.

‘Jika kau mencintai orang pertama, kau tidak mungkin mencari yang kedua. Maka pilihlah orang kedua’

Dulu kata-kata hanya omong kosong belaka. Sebuah pembelaan untuk orang-orang yang memilih untuk selingkuh dari pasangan mereka. Tetapi kini dia membenarkan hal itu. Dia telah jatuh cinta sepenuhnya pada Nara.

Sepertinya ini sudah terlambat, mungkin saja Nara memang sengaja pergi darinya dan mencari kebahagianya sendiri.

Revan tersenyum samar. Namun jauh dilubuk hatinya sedang menertawakan kebodohannya.

Rasa penyesalannya semakin menjadi saat tadi pagi bertemu dengan tante Sheryl. Tantenya mengatakan bahwa kemungkinan besar Nara sedang mengandung anaknya.

Ah, ya Revan juga diberitahu bahwa tante Sheryl memberikan alat tes kehamilan. Dia harus mencarinya mungkin saja Nara sudah menggunakannya.

Revan mencoba bangkit, tetapi pandangannya berputar dan kepalanya terasa sangat berat. Dia pun ambruk dan terlelap.

\*\*\*

“Jhon kau pasti tahu dimana Nara. Tolong katakan dimana dia,” ucap Revan yang sudah duduk bersimpuh dihadapan orang kepercayaannya itu.

“Tuan, tolonglah jangan seperti ini. Saya akan mencari nona Nara tanpa harus anda berlutut seperti ini,” Jhon ikut duduk bersimpuh di hadapan Revan.

Menatap iba. Tuannya yang selalu berpenampilan bersih dan rapi sudah berganti menjadi orang yang tidak peduli dengan penampilan.

Rambut acak-acakan dengan jambang yang semakin lebat tumbuh tak beraturan dan bau alkohol yang menyengat.

“Tuan, tenang saja. Saya akan segera membawa nona Nara kembali,” Jhon berusaha menyakinkan Revan yang terlihat sangat putus asa.

“Bagaimana jika semua ini ulah Mona? Dia bisa saja menyakiti Nara. Aku tidak ingin dia terluka.”

Revan meneteskan air matanya. Takut akan semua ke khawatiranya menjadi nyata.

Revan berdiri tertatih menuju kursi kerjanya. Memandangi foto pernikahannya. Dia tersenyum melihat senyum bahagia Nara saat itu berbeda dengannya jangankan untuk memberikan senyuman kearah kamera, dia memilih wajah acuh dan kesal.

Sepertinya aku perlu melakukan pemotretan ulang saat dia kembali nanti. Batin Revan

“Tuan tenang saja, saya sudah memastikan Mona tidak ada hubungannya dengan ini. Nona Nara pergi atas keinginannya sendiri dan dia dalam keadaan aman. Saya permisi, Tuan” Jhon menunduk memberi hormat lalu beranjak pergi.

Namun, saat dia hendak membuka pintu. Revan memanggilnya.

“Bagaimana kau begitu yakin Nara baik-baik saja? Kau sudah bertemu dengannya?” Tanya Revan penuh selidik.

Jhon membalikkan tubuhnya menghadap Revan. “Belum tuan, saya hanya memiliki keyakinan bahwa nona Nara dalam keadaan baik.”

Pertama kalinya Jhon berbohong kepada Revan. Bukan karena ingin berkhianat. Jhon merasa pilihan terbaik saat ini adalah merahasiakan keberadaan Nara. Melihat keadaan Revan saat ini bisa saja dia melakukan hal diluar kendali dan semakin menyebabkan Nara pergi semakin jauh.

Jhon keluar dari ruang kerja Revan dan berpapasan dengan Mona yang hendak menuju ke ruang kerja Revan.

“Wah, ternyata anjing kesayangan sudah datang. Bagaimana apakah majikanmu sudah ketemu?” tanya Mona dengan senyum sinisnya.

Jhon tersenyum menunduk hormat lalu pergi, mengacuhkan pertanyaan Mona.

Jhon tidak ingin menghabiskan waktu dan energinya untuk meladeni seekor ular yang sedang menebarkan racunnya.

Kini yang terpenting dia harus segera menemui Nara dan membawanya kembali kerumah ini. Walaupun Jhon sangat yakin kali ini tidak akan mudah membujuk Nara untuk pulang setelah semua yang terjadi.

Sebagai bahwahan Jhon kadang mengalami dilema. Disatu sisi dia ingin menjadi yang selalu diandalkan oleh Revan. Jadi tangan kanan orang penting menjadi kembanggan tersendiri baginya. Tetapi, disisi lain rasa iba pada Nara memaksanya untuk berbohong pada Revan.

1
Nai Christian Kolb
lanjut
Ira Wati
kalau aku pergi aja dari hadapan lelaki seperti itu
Na_ernaauk
aku mampir thor...
sejauh ini memang menarik ceritanya....
Nur Kholifah
mudah2han nara berjodoh sama alvian
Nur Kholifah
nara kamu kok bodoh amaat siih.mau maunya jadi mesin pembuat anak buat revan dan mona.sungguh bodooh
Nur Kholifah
revan mempertahankanmu hny untuk harta papanya
🌼stfaiza
lanjutin dong thor yg novel Raya...kan penasaran...knp kok gk lnjut...pdhl bagus lho thor😄😄😄😄
fina eva devanti
baca novel ini bawaannya emosi terus astagfirullah:(
Tatik Pkl
Asistennya Revan???? Ah tebak2 buah semangka 🤓🤓🤓
Tatik Pkl
Anak tiri ga tau diri...
farida ainur
bagus banget
Lanny Tan
Seru thor, jadi baper...

Mampir jg ke novelku ya : HARD TO SAY GOODBYE, ini bikin baper jg lho... Thx...
Zilvi Purnama
lanjut
Irna wisudawati
lanjut Thor...
Bentang Azza
monoton ceritanya gk seruuuu cwe nya kyk murahan
ᶠˡᵃ•Fit.ry_Hiatus☘️
Nunghu ceritanya si Sean Kak,.. 😁
Diajenk Yanti
jujur menurutku tdk ada 1 wanitapun yg mau berbagi suami, jika ada dia munafik
Vida Kasim
Ferdian. .aq padamu. .wkwkkkk
Vida Kasim
agak mendingan aq baca.nya...emosi berkurang hehehe
Vida Kasim
nara..kayaknya kmu terpikir mo kembali ke revan lg yh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!