NovelToon NovelToon
Mama Kembali: Kehidupan Kedua

Mama Kembali: Kehidupan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Wanita perkasa / Mengubah Takdir
Popularitas:21k
Nilai: 5
Nama Author: Tere Nusa

Tio Yong Ing menghabiskan seluruh hidupnya untuk keluarga.

Ia bekerja tanpa henti, menelan setiap hinaan, dan menyerahkan setiap rupiah yang ia punya — semua demi anak-anaknya. Hasilnya? Di usia 70 tahun, ia terbaring sendirian di panti jompo. Suaminya sudah tiada. Keenam anaknya tak pernah menjenguk. Keponakannya bunuh diri karena tak ada yang melindunginya.

Lalu Yong Ing meninggal.

Dan terbangun lagi — di usia 50 tahun, dengan semua ingatan tentang masa depan yang belum terjadi.

Kali ini, ia tahu siapa yang akan berkhianat. Siapa yang akan menderita. Dan kapan semuanya akan runtuh.

Kali ini, Ibu tidak akan mengalah lagi.

Langkah pertama? Merampas kembali seluruh keuangan keluarga. Langkah kedua? Menyelamatkan menantunya yang sedang sekarat melahirkan — karena di kehidupan sebelumnya, ia terlambat. Langkah ketiga? Membongkar pengkhianatan suami saudara iparnya sebelum terlambat.

Dan itu baru tiga hari pertama.

Di keluarga besar Tionghoa-Indonesia di Semarang, di mana nama keluarga adalah segalanya dan rahasia bisa membunuh — Yong Ing akan membangun kembali segalanya dari nol. Dengan sandal jepit di tangan kanan dan buku tabungan di tangan kiri, ia akan mengubah keluarganya dari pedagang kecil di Pecinan menjadi nama yang disegani di seluruh kota.

Tapi mengubah nasib enam anak yang sudah dewasa ternyata lebih sulit dari yang ia bayangkan. Terutama ketika mereka semua mulai curiga: *sejak kapan Mama jadi setajam ini?*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tere Nusa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Bab 011: Keluarga Tan Datang

"Tidak bagus."

Margaret hanya mengangguk.

Ia baru membawa Sophie keluar dari Ungaran, baru melewati Polsek, penginapan sempit, bus pagi, dan mata seorang anak yang masih takut pada udara terbuka. Tetapi rumah Lim tidak pernah menunggu satu masalah selesai sebelum melemparkan masalah lain ke meja.

"Bella," kata Margaret pelan.

Bella langsung mendekat. "Iya, Ma."

"Bawa Sophie ke kamarmu. Jangan banyak orang masuk. Ambil air hangat, roti, dan biarkan dia duduk di tempat yang membelakangi pintu."

Bella mengangguk. Ia tidak bertanya, tidak panik. Ia hanya menoleh pada Sophie.

"Sophie, ikut aku. Kamarku tidak ramai."

Sophie menatap Margaret dulu.

Margaret mengusap punggung tangannya dengan ibu jari. "Ci Margaret di ruang depan. Tidak jauh."

Baru setelah itu Sophie mengikuti Bella masuk.

Vanessa masih berdiri di dekat pintu, jelas ingin tahu dari mana gadis kurus itu datang dan kenapa rumah tiba-tiba seperti kedatangan badai baru. Tetapi sejak buku tabungan BCA terbongkar, rasa ingin tahunya tidak lagi berani keluar sembarangan.

"Buat teh," kata Margaret.

"Untuk Pak Chen?"

"Untuk tamu. Dan ambil lumpia yang tadi kubeli di terminal."

Vanessa berkedip. "Mama masih sempat beli lumpia?"

"Orang boleh capek. Tangan jangan kosong saat menghadapi besan."

Di ruang tamu, Robert duduk tegak di kursi rotan. Usianya sekitar lima puluhan, rambutnya disisir rapi, kemejanya bersih, dan sepatu pantofelnya mengilap. Wajahnya bukan wajah orang yang datang untuk bertamu. Itu wajah orang yang sudah menyusun kalimat sepanjang jalan.

Jason duduk di seberangnya, gelisah. Daniel berada di sisi lain, diam seperti biasa, tetapi matanya mengikuti Margaret saat ia masuk.

Margaret tersenyum sopan.

"Pak Chen, maaf membuat menunggu. Saya baru pulang dari Ungaran."

Robert berdiri sedikit, lalu duduk lagi. "Saya dengar. Tapi urusan saya juga tidak bisa ditunda."

"Kalau begitu kita bicara sambil minum."

Vanessa masuk membawa teh dan sepiring lumpia Semarang. Robert melirik makanan itu, agak tertahan. Ia mungkin tidak menyangka disambut dengan sopan setelah datang dengan wajah keras.

Margaret duduk.

"Silakan, Pak Chen."

Robert tidak menyentuh teh. "Ci Margaret, saya bicara sebagai orang tua Livia. Anak saya pulang kemarin dengan mata bengkak. Dia bilang di rumah ini sekarang semua uang harus diserahkan ke Anda. Bahkan uang belanja pribadi pun dia takut pegang."

Jason langsung menoleh. "Livia bilang begitu?"

Margaret mengangkat tangan, menahan anaknya.

"Lanjutkan, Pak Chen."

Robert menatapnya. "Saya tidak mau ikut campur terlalu jauh. Tapi Livia itu anak perempuan yang kami besarkan baik-baik. Dia bekerja, punya harga diri. Kalau setelah menikah semua uangnya dikontrol mertua, bagaimana dia bisa merasa aman?"

Kalimatnya rapi.

Tajam, tetapi dibungkus kain halus.

Margaret mengambil cangkir teh. "Saya setuju perempuan harus punya rasa aman."

Robert tampak sedikit lega.

"Tapi rasa aman berbeda dengan pintu keluar untuk berbohong."

Wajah Robert berubah tipis.

"Maksud Ci Margaret?"

"Maksud saya, rumah kami sedang merapikan catatan. Semua orang, bukan hanya Livia. Adrian sudah menyerahkan uang. Jason juga. Oscar juga. Vanessa bahkan sudah saya minta membenahi tabungannya."

Vanessa yang masih berdiri di belakang hampir menjatuhkan nampan.

Robert menangkap reaksi itu. Matanya menyipit sedikit.

"Kalau semua, kenapa Livia merasa tertekan?"

"Karena dulu rumah ini terlalu longgar," jawab Margaret. "Orang yang jujur merasa biasa saja saat diminta mencatat. Orang yang tangannya bersih tidak takut diminta membuka telapak."

Robert menahan rahang. "Tapi perempuan menikah tetap perlu uang sendiri. Saya tidak membesarkan Livia supaya dia minta uang kecil pada mertua setiap kali butuh sesuatu."

"Saya juga tidak membesarkan Jason supaya istrinya harus mengemis uang sabun," kata Margaret. "Yang saya minta bukan semua orang miskin di depan saya. Yang saya minta, uang rumah jangan hilang tanpa nama."

"Mungkin karena dia paling sering lembur."

Ruangan itu mendadak sunyi.

Jason menegang.

Robert meletakkan cangkir yang belum diminum. "Pekerjaan toko memang begitu. Stok opname, supplier, laporan."

"Betul." Margaret mengangguk. "Karena itu saya mengantar sarapan ke tokonya kemarin. Saya takut menantu saya kelelahan."

Daniel menatap istrinya. Ia mulai mengerti arah kalimat itu.

"Baik sekali," kata Robert, tetapi suaranya tidak lagi sekeras tadi.

"Saya hanya heran," lanjut Margaret. "Orang yang katanya semalaman membongkar stok bisa datang pagi dengan sepatu sangat bersih. Mungkin toko sekarang sudah sangat rapi, tidak seperti gudang biasa."

Jason menunduk.

Tangan Robert bergerak di atas lutut.

Ia pejabat kecil yang biasa membaca laporan orang. Ia tahu kalimat yang terlalu tenang sering menyimpan paku.

"Ci Margaret menuduh Livia?"

"Tidak. Saya hanya bilang Jason khawatir. Anak saya memang kasar, tapi kalau istrinya pulang larut, dia tetap suami. Wajar kalau dia ingin tahu siapa yang menjaga istrinya saat malam."

Jason mengangkat wajah.

Untuk pertama kalinya, ia tidak terlihat marah. Ia terlihat bingung dan terluka.

Robert melihat itu.

Margaret tidak menambahkan apa pun.

Kalau ia membongkar sekarang, Robert akan langsung membela anaknya. Kalau ia hanya membuka sedikit celah, laki-laki itu akan pulang membawa curiga. Curiga dari ayah sendiri sering lebih tajam daripada tuduhan mertua.

Teh mulai dingin.

Akhirnya Robert mengambil satu lumpia.

"Saya akan bicara dengan Livia," katanya.

"Bagus. Saya juga akan bicara dengan Jason. Anak-anak muda kadang perlu diarahkan dua sisi."

Robert menatapnya lama. "Ci Margaret ini keras sekali."

Margaret tersenyum.

"Kalau saya lembek, keluarga ini sudah habis dimakan orang."

Daniel menunduk, menyembunyikan napas berat.

Pertemuan itu berakhir tanpa suara tinggi. Margaret bahkan membungkus beberapa lumpia untuk dibawa Robert pulang.

"Pak Chen sering-sering mampir," katanya di depan pintu.

Robert menerima bungkusan itu dengan wajah yang lebih rumit daripada saat datang.

"Terima kasih."

Setelah motor Robert pergi, Daniel akhirnya bertanya, "Kenapa tidak kamu katakan saja langsung?"

Margaret melihat jalan depan rumah yang mulai sepi.

"Kalau mau menangkap ular, jangan injak ekornya."

"Kamu mau tunggu sampai kapan?"

"Sampai kepalanya keluar."

Malam itu, setelah rumah tenang dan Sophie tertidur duduk di sudut kamar Bella, Jason mengetuk pintu kamar Margaret.

Ia berdiri di luar seperti anak kecil yang baru sadar ada hantu di bawah ranjang.

"Ma..."

Margaret menatapnya. "Apa?"

Jason menelan ludah.

"Livia..." Suaranya pecah sedikit. "Dia benar ada orang lain di luar?"

1
🌸nofa🌸
keren banget kak, nambah pengetahuan tentang pengelolaan keuangan keluarga. makasih dah rutin update🙏
Fauziah Daud
mantap.. trusemangattt
Fauziah Daud
karen
Ida Kurniasari
lanjut thor😍
Dewiendahsetiowati
crazy up thor
Dewiendahsetiowati
wah Margaret asetnya sudah berkembang banyak
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
ini waktu up nya ngga salah liat kan ya/Shy/
Dewiendahsetiowati
mantab Margaret
Dewiendahsetiowati
belum mulai sudah tekor duluan,tapi tetap semangat Jason
Dewiendahsetiowati
Jason mulai bangkit lagi bersama Marco dan Toby
Dewiendahsetiowati
Margaret suka bener deh ngomongya🤣🤣
Dewiendahsetiowati
kasihan Jason
Dewiendahsetiowati
Ama the best deh aktingnya,Jason jadi bodyguard jadi tenaganya kayak Hulk dibutuhkan.Vanesa dan Margaret mulutnya bon cabe level 100.kelyarga kocak dan kompak🤣🤣
Dewiendahsetiowati
Oscar bikin ngakak 🤣🤣
Dewiendahsetiowati
ada main nih sama kakak iparnya
Dewiendahsetiowati
semua sudah berjalan kearah yang benar tinggal buang benalu yang ada dirumah👍👍
Dewiendahsetiowati
othornya taruh bawangnya kebanyakan,nyesek baca part Sophie😭😭😭
Dewiendahsetiowati
bagus Margaret tegas sama orang2 toxic
Dewiendahsetiowati
hadir thor
cinnamon
kapan up nya thor...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!