Bagaimana perasaanmu saat pulang dari perantauan karena dikabari kalau Papa meninggal, dan saat sampai mendapati kalau Sang Papa memiliki istri muda tanpa sepengetahuanmu?
Yang lebih mencengangkan, Si Istri Muda, adalah wanita dari masa lalumu. Saat itu, di sebuah club, dalam keadaan frustasi, dan dalam kondisi 'panas'.
Apakah kondisi keluarga seperti ini sehat? Saat akan tinggal serumah dengan si Ibu Tiri yang usianya 5 tahun lebih muda, seksi, dan dirimu tahu bagaimana wujudnya di balik pakaiannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sedih Membawa Senang
Dengan pandangan kosong, Ruby dan Randy duduk di atas kap mobil mereka sambil menonton pemadam kebakaran berberes.
Orang-orang dari sekitar rumah mereka juga mulai bubar menonton. Sambil mengucapkan turut berbelasungkawa, macam ada yang meninggal saja, sambil basa-basi ‘kalau butuh bantuan hubungi saja saya’, yang Ruby dan Randy tahu pasti kalau tiba hari H dan ditelpon dimintai tolong mereka akan menghindar sekuat tenaga.
Untung saja, rumah di komplek itu masing-masingnya cukup elit, dengan area resapan air yang luas. Sehingga jarak antara rumah yang satu dengan yang lain tidak terlalu berdempetan. Ala-ala rumah cluster.
Ruby dan Randy berpikiran, paling tidak, mereka tidak merugikan orang lain.
“Hey, Boss...”
“Apa Mah?”
“Inikah akhir dunia?”
“Bukan, Mah. Ini cuma kiamat kecil untuk keluarga kita. Lagi pula hanya setengah bangunan yang terbakar,”
“Jelas-jelas ini peringatan,”
“Sudah begitu membersihkan puingnya pasti setengah mati,”
“Ya ampun... tas-tas gue... yang dibeli pakai duit para Daddy...” keluh Ruby.
“Ya ampun... suit Kiton K-50 gueeee, itu diproduksi cuma 50 buah setahun loh, harganya bisa beli satu unit rumah cluster,” Keluh Randy.
“Baby!!!” seru Romeo sambil lari-lari menghampiri mereka, dia melompat turun dari mobil polisi yang mengantarnya pulang. Lalu ia ternganga melihat kondisi rumah yang setengahnya gosong. “Babyyyyyy!! Jangan bilang kamu kebakaaaaar!!” dia berlari masuk ke dalam, yang langsung dicegah Randy dengan setengah menggendongnya.
“Woy Nekat!! Belom padam bener itu apinya!” seru Randy.
“Siapa tahu masih bisa diselamatkan Om!” seru Romeo sambil meronta-ronta mau masuk ke dalam rumah.
“Baby itu siapa sih?” gerutu Randy.
“Asus ROG Zephyrus Duo 15 kuuuuuu!!” jerit Romeo dengan wajah yang sangat kuatir
“Ceile, laptop gaming ternyata,” cibir Randy, "Perasaan tadi pas ditelpon, nada suara kamu santai-santai saja. Kenapa sekarang berubah?"
"Tadi tuh Pak Heru kasih tau aku katanya bagian dapur aja yang kebakar dan pemadam kebakaran sudah otw. Terus sekitar setengah jam yang lalu, Pak Heru kirim fotonya karena api ternyata menyebar!! Aku ketahan di kantor polisi karena lagi dimintai keterangan Om!"
"Tapi laptop bisa beli lagi Meoooo," Randy menarik Romeo menjauhi bangunan rumah.
“Bukan sekedar laptop gaming om! Itu layarnya dobel! Kubeli dari duit hasil tiktok!!” seru Romeo sambil meronta.
“Ya ampun, kita lagi pusing masalah dokumen kebakar semua, ini mau bundir gara-gara laptop, apa kabar Christian Louboutin ku...” gerutu Ruby.
“Bangunan diasuransikan, dan semua dokumen bisa dicetak ulang. Yang penting kita tidak apa-apa,”
“Kenangan Om Raymond terbakar semua,”
“Biar saja, “ desis Randy terkesan cuek.
“Juga dokumen investigasi Alan dan Victoria,”
“Sudah tidak diperlukan,”
“Permisi Pak, Bu,” petugas pemadam menghampiri mereka, “Api sudah padam, area yang terbakar di tiga kamar bawah dan dapur, hangus sekitar 70%nya karena tampaknya bahan peledak dilemparkan melalui jendela yang terbuka.
“Peledak?” tanya 3R
Mas Pemadam memberikan kantong plastik yang isinya sisa-sisa dinamit.
“Mau diproses nggak? Itu Pak Pol masih di sini,” bisik Randy ke Ruby sambil melirik polisi yang tadi mengantarkan Romeo pulang, mereka berdiri untuk mengobrol dengan beberapa pemadam.
“Yaaaah, kita tahu kok siapa pelakunya. Kumpulkan bukti saja dulu,” gumam Ruby. “Ya ampun koleksi perhiasanku...” keluhnya lagi.
“Malam ini aku cari hotel buat kita menginap, bawa yang bisa dibawa,”
“Baby, mudah-mudahan kamu selamat...” isak Romeo.
**
“Mau marah, tapi capek,” gerutu Ruby sambil menjatuhkan tubuhnya di ranjang hotel selesai mengeringkan rambutnya dengan hairdryer.
Sudah pasti semuanya kesal dan sedih. Mereka kehilangan rumah yang selama ini mereka jaga. Apalagi Randy, segala kenangan masa kecilnya berada di rumah itu.
“Hm...” Randy hanya diam sambil mengutak atik ponselnya. Tampaknya ia sedang menghubungi orang-orang penting untuk perihal terbakarnya rumah mereka. Sudah pasti bukan konsleting, dan Randy sudah menunjuk pengacara untuk hal ini.
Tentu saja Pak Jamal.
Lebih ke dendam masa lalu. Dulu Randy agak sakit hati saat Pak Jamal bilang kalau ia pengacara Papanya tapi bukan pengacara Randy, karena si Papa membayarnya lebih mahal.
Dan sekarang, Randy bisa membayarnya lebih mahal dari Sang Papa. Pak Jamal hanya bisa menghela napas saat dikabari.
Apalagi Pak Jamal mengetahui hubungan dari semua tokoh. Jadi Randy tak perlu susah payah menjelaskan, hanya mengiriminya foto bukti dinamit, Pak Jamal sudah bisa langaung bekerja.
"Hei..." Ruby memeluk Randy dari belakang dan membelai otot perut pria itu.
Randy tertegun dan menghentikan ketikannya di ponsel.
"Aku butuh perhatian nih setelah kehilangan banyak hal..." bisik Ruby mulai merayu.
Randy mengangkat alisnya.
Kini Ruby memanggilnya dengan panggilan Aku-Kamu.
"Euphoria karena di hotel kali," desis Randy.
"Yaaa, dan mungkin juga karena kamu bisa diandalkan dalam banyak hal, aku tak perlu mengurusi sendiri," Ruby blak-blakan. Lagipula menurutnya apa lagi yang perlu disembunyikan dari Randy? Tak ada.
"Jadi aku kelihatan sangat jantan di mata kamu, begitu?"
"Hehe.."
"Lumayan lah caramu merayu. Lagipula kalau aku tidak bertanggung jawab, aku bisa dilempari pisau oleh mantan sugar baby..."
"Sekarang kamu Daddyku,"
"Kenapa bisa begitu?"
"Karena kamu membiayaiku,"
"Hm..." Randy menunduk lalu berpikir, "Bukan, kamu bukan Babyku," desisnya pelan.
Ia melepaskan pelukan Ruby dan berbalik badan ke arah wanita itu. Lalu menatap mata wanita itu. "Sugar hanya dipakai beberapa saat, dengan kontrak, dan tidak dimiliki sepenuhnya,"
"Ya?"
"Tapi kalau kamu, Aku berniat untuk menjalin hubungan denganmu selama mungkin sampai ujung hidupku,"
"Apa maksudmu?" mata Ruby membesar.
"Mau menikah denganku? Tidak manis di awal tapi aku akan menjagamu semaksimal tenagaku," kata Randy.
Ruby sampai ternganga tak percaya.
***
“Romeo, saya turut sedih. Kalau ada yang bisa-“
“Bisa dong bu, “ Potong Romeo. “Boleh lah ke sini buat ngobrol sama aku, lumayan makan malam di hotel gratis, yang punya hotel 12 Naga soalnya,”
“Saya sekarang mau tidur, soalnya besok kan kita kemping di Cibubur. Ketua Grup Angsa nggak bisa ikut jadi sudah digantikan dengan anak lain,” desis Bu Guru Erica sambil tersenyum maklum. Ketua grup Angsa yang dimaksud adalah Romeo. Dan besok memang jadwal Kemping untuk Hari Pramuka.
“Basa-basi terus...” gerutu Romeo. “Maghrib saja belom, sudah mau tidur, memangnya Bu Guru balita,”
Sore ini Romeo dan dua sejoli itu menginap di Hotel Opal milik Arthasewu Connor. Mereka diberi Penthouse, seluas 400m2 dengan 3 kamar tidur, dan bisa digunakan untuk 3 hari, dan yang paling penting, semua gratis.
Yang pasti setelah menginap di sini Randy harus kerja bagai kuda untuk mewujudkan obsesi Pak Artha dengan memberikan diskon bagi proyek-proyek yang akan berjalan. Tetap saja jatuhnya tidak gratis lah ya. Semua tahu Pak Artha pengusaha pelit.
Dan dalam keadaan sedih karena ternyata ‘si Baby’ ikut terbakar, Bu Guru Erica tiba-tiba video call, saat Romeo berendam di kamar mandi untuk menenangkan diri.
Anak itu bercerita kenapa dia bisa di kantor polisi, apa yang terjadi dengan Tante Amora, keadaan rumah mereka yang kebakaran, dan cerita lainnya.
"Kenapa jadi ngambek begitu sih Bu?" desis Romeo.
"Siapa yang ngambek?!" Nada suara Bu Guru Erica meninggi.
Romeo terkekeh.
"Kenapa ketawa. Hah?!"
"Astaga, kok jadi galak bu?" Gumam Romeo sampai mengernyit.
"Nggak apa. Saya tidur duluan,"
"Jangan dimatikan dulu," kata Romeo.
"Saya bilang, saya ngantuk,"
"Apa sih..." keluh Romeo, "Bilang saja ada apa? Aku dalam kondisi nggak bisa mikir maksimal. Laptop kebakar, semua data di sana, semua baju, buku koleksi, alat komputer lain, sertifikat penghargaan, sampai charge hape hangus semua,"
"Ah iya..." desis Bu Guru.
"Bu Guru cemburu?" tembak Romeo langsung. Dalam hatinya ia berpikir, kalau nggak cemburu ya sudah, kalau cemburu ya maju ke step berikutnya. Tidak ada yang dirugikan untuk pertanyaan ini.
Tapi...
Bu Erica hanya diam sambil menatap Romeo dengan sendu.
"Romeo," desisnya. "Kamu tahu sulitnya saya menjaga akal sehat atas pemikiran saya mengenai diri kamu?"
"Hm... Kalau begitu. Malam ini saja jangan anggap aku murid, dan jangan anggap aku berusia 11 tahun," kata Romeo.
"Dasar curang..." gumam Bu Guru Erica.
Romeo menaikkan alisnya. "Curang?"
"Saya tidak akan terjebak," kata Bu Guru Erica, masih mempertahankan prinsipnya.
Romeo menengadahkan kepalanya ke atas, bersandar di pinggir bathtub.
"Bu..." desisnya, "Ibu tahu betapa sulitnya menjadi aku? Terjebak di tubuh anak kecil dengan pemikiran orang dewasa,"
Bu Guru Erica menghela nafas panjang. Mereka berdua tahu, kemana ujungnya dari obrolan ini.
"Romeo... berhenti di sana," desisnya.
"Ya?"
"Saya akan berkemas dan menuju hotel. Kita makan malam di sana saja,"
ckckck emang berat godaan ikan peda bermerk Romeo
Romeo lebih suhu ternyata 🤣🤣🤣