Cinta pertama, sesuatu yang menurut orang tak bisa dilupakan dengan mudah, mungkin itu juga yang terjadi pada Alya.
-Kamu cinta pertamaku, ku harap aku dan kamu akan selalu menjadi KITA-
Alya khumaira.
Namun bagaimana jika Alya tau bahwa dirinya hanya menjadi bahan taruhan saja? Mampukah Alya melupakan segalanya?
Dan bagaimana jika suatu hari di masa depan ia bertemu kembali dengan cinta pertamanya?
Mampukah dia menghadapi Cinta sekaligus Kesakitannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nenah adja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Mau
Faris membawa Alya ke sebuah Mall dan membawanya ke toko Hape yang menyediakan berbagai merk, Alya ingin menolak tapi Faris terus memaksanya.
Saat Faris membawanya ke stand dimana Hape berlogo melon digigit Alya malah berbelok ke arah Hape yang biasa saja, dia mencari hape yang murah.
Sebenarnya hape nya masih bagus, tapi karena sudah terlanjur berbohong, jadi ikuti saja, dan jangan biarkan Faris merasa sudah memberikan banyak barang dengan harga mahal, sehingga Faris suatu saat bisa mengungkit dan memanfaatkan keadaan, maka Alya meminimalisir dengan membeli yang murah, jadi saat terjadi sesuatu Alya bisa dengan mudah menggantinya.
"Kok, yang itu Beib.. beli yang itu biar lebih bagus.." protesnya.
Alya menggeleng "Aku suka ini, warna nya bagus" Alya menunjukan Hape dengan harga dibawah dua juta.
Faris mengerut tak suka "Kan aku yang beliin kamu kok protes, lagian kalau mau yang warna itu disana juga ada" Alya menelan ludahnya, Alya memilih diam, saat Faris mengeretnya ke arah sebaliknya dan langsung menunjuk hape yang berwarna sama dengan warna yang tadi di tunjuk Alya.
Faris bahkan tak perlu repot melihat harga yang tertera, Alya membelalakan matanya saat melihat harganya, angka 12 di depan dengan enam nol dibelakangnya "Dua belas juta" Alya melihat kearah Faris yang biasa saja lalu menyerahkan kartunya pada penjaga toko.
Usai drama membeli hape, Faris kembali mengantar Alya pulang, hingga saat tiba di depan rumah Alya, Faris mencegah Alya saat Alya hendak keluar dari mobil.
Tiba-tiba jantung Alya berdebar kencang saat dengan cepat Faris menciumnya, dan melu mat bibirnya dalam, Nyaris saja Alya tenggelam dan ikut terbuai hingga tangan Faris tiba-tiba mendarat di buah da da nya, Alya tersadar lalu mendorong bahu Faris.
Faris memberengut tak suka, dia hendak protes tapi Alya lebih dulu keluar dari mobil dan terburu- buru masuk kedalam rumah.
Alya bersandar dibalik pintu lalu menormalkan detak jantungnya,"Ya ampun hampir aja.. kok bisa sih aku suka di cium dia" Alya memukul kepalanya, lalu menyentuh bibirnya dan seolah masih bisa merasakan bibir Faris di bibirnya.
Masih dengan hati berdebar Alya masuk kedalam kamar lalu menyimpan Hape pemberian Faris dengan hati-hati.. ya ampun jangan sampai gores nanti gantinya mahal, gumamnya dalam hati.
Alya mendesah untung jam segini Ibu masih di kios kalau tidak bisa bertanya macam-macam soal hape nya.
Alya melihat Hape miliknya yang tergeletak diatas meja belajar, dia sudah mengganti dengan nomer baru hanya ada kontak keluarganya disana, sehingga temannya maupun Faris tidak dapat menghubunginya.
Alya lalu melihat kearah hape pemberian Faris, dan mendesah "Kenapa satu bulan terasa lama"
Setelah hari itu Faris kembali menjemput Alya kini, kebiasaannya sudah kembali, menjemput dan mengantar. Alya selalu menghindar ketika Faris mengajaknya pergi jalan atau kencan kesuatu tempat dengan alasan harus belajar untuk ulangan, Alya juga tak pernah menghubungi Faris lebih dulu dan membuat Faris kesal karena Alya mengacuhkannya.
"Kamu gak kangen aku Beib, seenggaknya telpon kek, biar kita gak ketemu, akhir-akhir ini kamu sibuk belajar terus sampe chat aku juga gak di bales"
Tak dapat dipungkiri Alya masih merasa berdebar saat mendengar kata-kata dari Faris, jika saja Alya tak tahu itu palsu mungkin dia akan kelonjotan kerena senang tapi Alya tahu itu hanya tipu muslihat Faris agar mendapatkan sesuatu yang berharga darinya.
.
.
Alya baru selesai dengan ulangan kenaikan kelasnya dan Faris sendiri sudah melaksanakan Ujian akhirnya satu minggu sebelumnya, dia tak perlu takut tak lulus, selain dia anak pemilik sekolah dia juga cukup pintar, maka sudah di pastikan dia lulus.
Alya bernafas lega saat semua berhasil terlewati dan kini dia hanya tinggal mencari alasan lain saat Faris mengajaknya pergi, karena Ulangannya telah usai Alya tak bisa beralasan sibuk belajar lagi.
Alya menggigit bibirnya saat melihat Faris bersandar di mobilnya dan menunggunya.
Alya melihat kearah belakang dan tak sengaja bertemu mata dengan Sani, Alya menelan ludahnya kasar dia ingin sekali minta tolong agar Sani bisa membantunya, tapi dia juga sudah memutuskan menjaga jarak.
Sani melihat ketakutan di mata Alya meski dia tak tahu itu ketakutan untuk apa, Sani ingin bicara tapi dia takut Alya malah marah lagi.
Alya menunduk dan melangkah gontai menuju kearah Faris "Kenapa sih Beib lesu begitu, ulangannya susah ya?" jika saja itu perkataan Faris yang di ucapkan dengan tulus mungkin Alya akan semakin jatuh cinta, tapi sayangnya itu hanya tipuan, sayang Alya tak bisa membedakan raut Faris saat membual atau sedang tulus. Faris bahkan mengelus rambut Alya, lihat kan begitu meyakinkan
"Udah ah, kan hari ini hari terakhir. Ayo, aku mau ajak kamu ke suatu tempat"
Alya merasa ingin meraung dan mengatakan dia tidak mau ikut, atau jika perlu pura-pura pingsan saja biar Faris tidak jadi membawanya 'Eh, tapi gimana pas aku pura-pura pingsan dia ngelakuin itu lagi'..
Like..
komen..
vote..