NovelToon NovelToon
Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Tamat
Popularitas:475.6k
Nilai: 5
Nama Author: cilamici

Bercerita tentang seorang pemuda yang terlahir dari keluarga sederhana dan lulusan pesantren yang seringkali dipandang sebelah mata.


Naasnya, penilaian orangtua gadis yang dicintai Ridwan pun sama menganggap bahwa anak pesantren adalah tak jelas masa depannya.

Ridwan tentu saja, atas cintanya pada agama & pesantren, tentu saja ingin membuktikan bahwa semua itu salah.

Maka...

Mampukah Ridwan membuktikan bahwa anak santri juga memiliki kesempatan sukses yang sama seperti lulusan sekolah biasa?

Dan, bisakah Ridwan terus gigih mengamalkan ilmu yang telah ia peroleh selama ada di pesantren?

yuk kita bercerita tentang kisah yg dekat dg masyarakat kita sehari-hari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilamici, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31. Mampir Sebentar

"Mau ke mana to Is, tidak biasa-biasanya sore begini rapi sekali, ada kondangan to?"

Tanya Ibu yang tampak duduk di ruang TV saat melihat Iis melintas untuk meraih kunci motornya di atas meja TV.

"Mau cari buku Bu, sekalian sudah lama tidak jalan-jalan dengan Anisa. Belakangan dia lagi murung terus, kasihan takutnya nanti sakit, padahal peristiwa meninggalnya Uminya saja sepertinya masih menyisakan trauma pada diri Nisa."

Kata Iis.

Ibu mengangguk,

"Iya tadi Ibu lihat Anisa wajahnya makin tirus, kasihan memang."

ujar Ibu.

Iis tersenyum seraya kemudian menghampiri Ibunya untuk bersalaman.

"Pulangnya beli martabak telor ya Is."

Ibu memesan makanan kesukaannya.

"Enggih Bu, nanti inshaAllah Iis akan belikan."

Iis mencium punggung tangan sang Ibu, lalu ia pamit pergi.

Iis begitu keluar rumah tampak memakai helm nya, lalu bersiap naik ke atas motor saat tiba-tiba sebuah suara terdengar memanggil,

"Bu Guru Iis... Bu Guru Iis, sebentar."

Iis menoleh ke arah asal suara, yang di sana terlihat kini Mbak Wening yang setengah berlari ke arah Iis.

"Oalah Mama Ajeng, ada apa?"

Tanya Iis menunda melajukan motornya, Mbak Wening terlihat mendekat,

"Ibunya ada Bu Guru Iis?"

Tanya Mbak Wening.

"Ada di dalam Mama Ajeng,"

Jawab Iis sambil turun dari motornya,

"Ini ada kiriman dari Mbak Faizah, biasa jumat sore pertengahan bulan ngisi masjid untuk habis maghriban nanti bagi-bagi nasi berkat."

Kata Mbak Wening seraya menunjukkan dua tas kresek yang sepertinya berisi besek nasi berkat.

"Ooh enggih, nanti tek panggilkan Ibu."

Bu Guru Iis kemudian kembali masuk ke dalam rumah untuk memanggil Ibunya,

"Nopo Is?"

Tanya Ibu,

"Mamanya Ajeng, Bu, nyampein nasi berkat dari Mbak Faizah."

Kata Iis.

Ibu kemudian tampak berdiri dari duduknya, lantas mengikuti Iis berjalan keluar rumah menemui Mbak Wening,

"Eh Mbak Wening,"

Ibu tersenyum ramah, Mbak Wening menghampiri Ibu untuk memberikan satu nasi berkat titipan Mbak Faizah.

"Terimakasih Mbak, sampaikan salam untuk Mbak Faizah."

Ucap Ibu.

Mbak Wening tersenyum dan mengangguk,

"Enggih Bu, besok saya sampaikan, ini saya mau pulang."

Kata Mbak Wening,

"Lho, pulang naik apa Mbak?"

Tanya Ibu.

"Jalan kaki Bu, biasanya dijemput, tapi katanya tadi adik saya tiba-tiba diminta Pak Haji Imron menemani pergi ke tempat sahabat beliau yang sedang sakit."

"Oalah,"

"Saya antar saja Mama Ajeng, sekalian saya juga mau pergi."

Iis tiba-tiba menyela.

"Aduh ndak enak merepotkan Bu Guru,"

Kata Mbak Wening.

"Tidak apa-apa Mama Ajeng, sekalian kok, kan nanti ke jalan raya utama juga lewat rumah Mama Ajeng bisa."

Kata Iis.

"Enggih Mbak Wening, sudah ikut Iis saja, daripada jalan kaki kan capek, lumayan jauh lho, mana bawa nasi berkat kan."

Ujar Ibu.

Mbak Wening memandang ke arah Iis yang kemudian naik ke atas sepeda motornya,

"Ayok Mama Ajeng,"

Ajak Iis.

Mbak Wening akhirnya menurut meskipun terlihat malu-malu,

"Monggo Bu, ini aduh saya jadi ndak enak beneran."

Kata Mbak Wening, Ibu tampak tersenyum.

"Ndak apa Mbak, kan Iis sekalian jalan itu mau beli buku."

Ujar Ibu.

"Oh enggih sampun, monggo Bu, assalamualaikum..."

Mbak Wening pamit lalu naik ke boncengan,

"Waalaikumsalam, hati-hati nggih..."

Ibu mengiringi mereka menjauhi pelataran rumah,

Matahari kini terlihat telah condong di sebelah barat, terlihat kilaunya yang menyilaukan dari hamparan sawah yang terbentang hampir di sepanjang jalanan desa.

Mungkin jika Indonesia mampu bertahan menjadi wilayah yang lebih memajukan pertanian sebagaimana dulu di kala masa kejayaan Majapahit dan kerajaan besar lainnya, pastinya hamparan sawah akan tetap ada dan bisa menjadi negeri subur gemah ripah loh jinawi tenan.

Sayang sekali, industri pangan yang sebetulnya akan selalu dibutuhkan dunia justeru ditinggalkan oleh manusia yang tinggal di negeri ini dengan alasan mahalnya pupuk dan biaya ini itu tak berimbang dengan harga setelah panennya, ini membuat lahan pertanian semakin sempit, sawah dikeringkan dan dijadikan perumahan dan usaha lainnya.

Angin sore bertiup sepoi-sepoi dari arah sawah, terlihat padi-padi yang menjelang menguning, dan sebagiannya bahkan sudah dipanen kini meriap-riap.

Mbak Wening duduk di boncengan sambil memangku satu besek nasi yang akan ia bawa pulang.

Besek nasi yang selalu ditunggu Ajeng saat Jumat pertengahan bulan karena lauknya enak-enak.

"Bu Guru Iis nanti mengajar di tempat yang sama dengan Ridwan adik saya ya berarti? Sudah pernah ketemu belum Bu?"

Tanya Mbak Wening basa-basi bertanya,

"Oh Pak Ridwan, nggih sampun."

Jawab Iis dari depan Mbak Wening.

Tampak Mbak Wening tersenyum,

"Dari dulu itu cita-citanya memang ingin jadi Guru, Bu. Katanya supaya nantinya punya ilmu bisa bermanfaat."

Mbak Wening bercerita.

Iis tersenyum,

"Bu Guru Iis juga dulu cita-citanya jadi Guru to?"

Tanya Mbak Wening.

Iis tertawa kecil.

"Wah saya ingin jadi Guru setelah SMA, Mama Ajeng. Waktu kecil, belum terpikirkan seperti Pak Ridwan sudah punya cita-cita semulia itu. Saya dulu ya masih ikut-ikutan saja, kadang ingin jadi pilot, kadang ingin jadi polisi, kadang ingin jadi dokter."

Iis tertawa kecil, yang disambut Mbak Wening pula.

"Sama berarti dengan Ajeng, Bu. Kalau ditanya, hari ini sama besok dan lusa berbeda, tergantung baru nonton apa, baca apa."

Kata Mbak Wening.

"Nggih memang Mama Ajeng, inilah kenapa pentingnya anak-anak diarahkan membaca dan menonton sesuatu yang positif, karena memang itu berpengaruh sangat besar dalam pembentukan pola pikir, gaya hidup dan sebagainya."

Ujar Iis.

Mbak Wening mantuk-mantuk,

Tak lama, motor Iis akhirnya mendekati rumah Mbak Wening, tampak Ibu di halaman sedang menyapu halaman.

Melihat motor Iis menuju ke arahnya, dan Mbak Wening duduk di boncengan motor, membuat Ibu akhirnya menghentikan sejenak kegiatan menyapunya.

Iis menghentikan motornya, Mbak Wening terlihat turun dari boncengan untuk menghampiri Ibu dan bersalaman dengannya.

Tampak Iis melepas helm nya, dan turun juga dari atas motor dan menghampiri Ibu untuk bersalaman juga.

"Ibu, ini Bu Guru Iis, yang aku ceritakan Bu, yang Ibu guru baik dan sholihah, guru les nya Ajeng."

Kata Mbak Wening memperkenalkan Iis pada sang Ibu.

"Oalah, ini Bu Guru, ayu tenan yo."

Puji Ibu saat Iis mencium punggung tangannya.

"Monggo Bu, masuk dulu, masuk."

Mbak Wening mengajak Iis masuk ke dalam rumah, begitu juga Ibu.

"Aduh, maturnuwun, tapi ini saya mau jemput Anisa di toko emas nya, takut Anisa sudah nunggu Bu,"

Kata Iis.

"Oh sudah janjian sama Mbak Nisa?"

Tanya Mbak Wening.

Iis mengangguk sambil tersenyum.

**-----------------**

1
karyaku
hi kak mendadak menjadi istri ustadz jangan lupa mampir y
karyaku
hi kak mendadak menjadi istri ustadz jangan lupa mampir y kk
novita setya
beneran berfaedah ini novel..mengajarkan bnyk hal utamanya kebaikkan..😘
karyaku: hi kak mendadak menjadi istri ustadz jangan lupa mampir y kk
total 1 replies
novita setya
pitike mbak wening loh bakale mutung ga gelem kluruk nek ga disemangati sing nduwe..😄
karyaku: hi kak mendadak menjadi istri ustadz jangan lupa mampir y kk
total 1 replies
novita setya
akherat dijunjung dunia menggunung.
novita setya
Luar biasa
novita setya
itu yg cemburu sm iis & ridwan dijodohin sm pak hasan aja. julidman & julidawati
novita setya
nisa..koq gt sih. pke batasan juga dong biarpun sahabat. lagian jgn maruk..ada hati yg wajib dijaga
novita setya
ajeng gemesin
novita setya
iyaa gt aja terooos ketik hapus ketik hapus sampe gajah bs terbang koceng bs berteloor..
novita setya
kisahnya membumi bgt..bener2 ada disekeliling kita. enggak muluk2 enggak aneh2 & mengedukasi
Muhamad Taufikurrohman
mantap thor...ceritanya merakyat
Boma
apa ini ustad ridwan yg ada di cerita aras dan almira
Muhamad Ozil
bagus
ihsanul fikri
anisa selama ini didikte sampe hal2 kecil layaknya burung dalam sangkar dan punya kakak yang gak mau klah dan ambisius dan orang tua yang nggak peka. semoga kita bsa menjadi orang tua yang adil buat anak2 kita
ihsanul fikri
klau sekarang tinggal di viralin kasih label "penghina pesantren"
Yane Kemal
Senangnya membaca novel ini
Yane Kemal
Alhamdulillah
@tik jishafa
Masya Allah laki" sholeh selalu menjaga dan menghormati perasaan org" terdekatnya😍
Cila Mici: iya laki-laki sholeh mmg beda hihihi
total 1 replies
@tik jishafa
MasyaAllah cerita yg sangat bagus ada pelajaran yg bisa diambil dalam kehidupan sehari"...tentang perjalanan hidup manusia dgn Allah, ortu, lingkungan sekitar.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!