Disarankan untuk membaca "Pengantin Pengganti untuk Tuan Muda" dan "Remember Me, Baby" lebih dulu agar bisa memahami alur ceritanya. Terima kasih.
Raymond Dawson: "Jangan menangis lagi ... aku yang salah ... tolong maafkan aku. Kali ini, izinkan aku untuk mencintai dan menjagamu dengan benar."
Lorie: "Aku hanya ingin kehidupan yang biasa saja. Ingin mencintai pria yang sederhana, yang bisa membantuku mencuci piring dan mengurus anak."
Setelah melewati masalah yang rumit, akhirnya Raymond dan Lorie berkencan. Akankah hubungan itu mulus hingga ke jenjang pernikahan?
Lalu, bagaimana dengan Daniel Hill yang menginginkan cinta Dokter Ana? Apakah dia akan berhasil mematahkan teori cinta wanita itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biru Samudera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 31
Dari samping, Lorie memperhatikan gerak-gerik Amber sambil mengulum senyum. Semua keceriaan dan kegembiraan itu ... senyuman dan binar mata itu ... begitu mirip dengan Kinara. Amber benar-benar merupakan fotokopi ibunya, mulai dari karakter hingga wajah, tidak ada yang terlewat sedikit pun. Pantas saja Tuan Alex sangat memanjakan putri kecilnya itu. Bahkan jika harus menahan langit dengan kedua tangannya, sepertinya pria itu akan melakukannya jika demi Amber.
Lorie menghela napas pelan. Sorot matanya meredup sekilas. Lihat bagaimana Tuhan bercanda dengan manusia, merampas tapi juga memberi gantinya dengan sempurna.
“Apa kamu senang?” tanya Lorie ketika melihat wajah Amber yang begitu semringah.
Amber mengangguk cepat. Mata bulatnya bersinar terang meski cahaya dalam ruangan itu hanya remang-remang.
“Sangat senang. Terima kasih, Aunty. Aku mencintaimu ....”
Lorie mengulurkan tangan untuk mengusap rambut gadis kecil itu dan membalas, “Aku juga mencintaimu ....”
Ia ingin mengatakan bahwa Kinara pasti lebih mencintainya lagi, tapi ia tahu mungkin kalimat itu hanya akan membuat Amber bersedih, jadi pada akhirnya ia menelan kembali perkataan itu dan menemi Amber menonton, meski pikirannya mulai mengembara entah ke mana.
Kinara ... apa kamu marah pada Tuhan? Dia tidak adil, bukan? Dia merebutmu dari kami, dari anak-anakmu dan Tuan Alex tanpa belas kasihan, tapi menggantinya dengan kehadiran si kecil yang lucu dan imut ini. Dia juga merebut anakku yang masih begitu kecil, tapi Dia lalu menggantinya dengan Raymond Dawson. Bukankah itu tidak adil? Aku jadi tidak bisa marah kepada-Nya.
Kinara ... aku harap kamu beristirahat dengan tenang. Setidaknya kamu tidak perlu berjuang dalam kehidupan yang kejam ini.
Kinara, apakah surga itu nyata?
Apakah ... kamu bertemu dengan anakku?
Kalau benar begitu, tolong jaga anakku baik-baik, ya ... katakan padanya untuk menungguku di sana. Tapi, bukankah surga itu hanya untuk orang baik. Kamu orang baik, aku yakin kamu pasti punya tempat di sana. Begitu juga dengan anakku ...
Lalu, bagaimana dengan diriku?
Aku bukan orang baik.
Apa kamu tahu berapa banyak orang yang telah aku habisi nyawanya?
Aku sendiri sudah berhenti menghitungnya.
Nara ... menurutmu, apakah kita akan bertemu?
Bisakah aku bertemu denganmu dan anakku?
“Aunty?”
“Eh?”
“Kenapa menangis?”
“Oh ....”
Lorie mengangkat jarinya yang gemetar dan mengusap kelopak matanya yang basah. Sejak kapan ia menangis? Konyol ....
Amber meletakkan wadah popcorn dan menghampiri Lorie. Ia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar dan memeluk Lorie dengan erat sambil berkata, “Jangan sedih lagi, ya ... adik bayi sudah bertemu Mommy di surga. Mereka sudah bahagia. Aunty tidak boleh sedih ... kita harus tabah dan kuat.”
Jantung Lorie seperti diremas kencang. Bagaimana anak sekecil ini memiliki perasaan yang begitu sensitif? Bagaimana dia bisa mengetahuinya?
“Masih ada aku, jangan sedih lagi, ya,” bujuk Amber seraya menepuk-nepuk punggung Lorie perlahan.
“Hm. Ada kamu, Aunty tidak akan sedih lagi. Maaf, sudah membuatmu cemas,” balas Lorie dengan suara serak dan sengau. Ia berdeham dan menghapus sisa-sisa air matanya, berusaha untuk menguatkan hati dan tekadnya.
“Apa filmnya sudah selesai?” tanya Lorie.
“Sudah. Ayo, kita kembali ke kamar kalau Aunty merasa tidak nyaman.”
Gadis itu mengambil remot dan mematikan TV, juga membuka kembali kain gorden yang menutupi jendela. Cahaya keemasan menerobos masuk. Rupanya hari sudah menjelang senja.
“Tidak perlu. Aunty baik-baik saja, Sweetie. Apa lagi yang ingin kamu lakukan sekarang?”
“Ayo, kita ganggu kakak di halaman belakang!” seru Amber dengan bersemangat. Ia lalu menarik tangan Lorie sambil terkikik jail.
Mau tidak mau Lorie ikut tertawa. Ia tahu Amber sedang berusaha membuatnya tidak bersedih lagi, dan hal itu membuat hatinya merasa hangat dan manis secara bersamaan.
Hidup memang sebrengsek ini, tapi bukankah hidup yang brengsek pun tetap harus disyukuri?
Ada keluarganya di sini, ia tidak perlu larut dalam kesedihan yang berkepanjangan. Anak yang sudah pergi tidak bisa kembali, tapi anak-anak yang masih ada di sini, semuanya membutuhkan perhatian dan kasih sayangnya. Ia bersumpah akan menjaga dan merawat mereka dengan sepenuh jiwa dan raga.
Demi Kinara ....
Demi dirinya sendiri ....
***
jangan lupa like dan vote yaa..
thank you❤
ayolaaaaah..akhiri ini semua😭😭😭
dengan Keiko. ingat cerita tentang Kinara Lee
dari judul cerita yg sebelum-sebelumnya sama ...sangat menarik.
dah berapa tahun yaa...? aku cari di sebelah gak ada. sampai akhirnya kangen kembali ke sini langsung cari lagi judul ini. eh..ketemu.