Alara percaya, jika ia berhasil menikah dengan cinta pertamanya, ia akan menjadi orang paling bahagia.
Karena itulah ia rela meninggalkan kariernya sebagai desainer dan model demi menikah dengan Bagas, pria yang telah ia cintai sejak remaja.
Namun pernikahan impiannya berubah menjadi mimpi buruk.
Bagas selalu sibuk bekerja dan tak pernah membelanya saat ibu mertuanya menghina serta memperlakukannya seperti pembantu. Bertahun-tahun tidak memiliki anak membuat Alara dicap mandul. Hingga suatu hari, ibu mertuanya membawa seorang wanita muda ke rumah dan memaksa Bagas menikah lagi.
Saat itulah kesabaran Alara habis.
Ia memilih bercerai dan pergi dengan harga diri yang tersisa.
Semua orang mengira hidupnya akan hancur.
Nyatanya, Alara bangkit.
Ia kembali mengejar mimpi yang pernah ditinggalkan. Serta membalas rasa sakit hati yang ia rasakan selama ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Jung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Foto Wanita Lain
Rasa dingin di telapak tangan Alara tak juga hilang sejak semalam. Bayangan nama 'Nindy' yang tertera rapi di layar ponsel suaminya terus berputar, menjelma menjadi duri yang menyiksa setiap kali ia berkedip.
Pagi ini, Bagas berangkat kerja lebih awal dari biasanya, bahkan tanpa menyentuh kopi yang Alara sediakan. Pria itu hanya mengecup kilas keningnya dengan ketergesaan yang terasa hambar.
Untuk mengalihkan benaknya yang kian kusut, Alara memilih menyibukkan diri dengan membersihkan ruang keluarga. Ia mengelap vas, merapikan bantal sofa, hingga netranya tertumpu pada sebuah amplop manila cokelat besar yang tergeletak di atas meja sudut. Tampaknya milik Wendah yang tertinggal sebelum wanita tua itu pergi ke rumah kerabatnya pagi-pagi sekali.
Alara berniat memindahkannya ke dalam kamar sang ibu mertua. Namun, saat ia mengangkat amplop yang tidak terekat itu, beberapa lembar foto kertas tebal slip keluar dan jatuh berhamburan di atas lantai marmer.
Alara membungkuk untuk mengambilnya. Saat jemarinya menyentuh lembar pertama, gerakannya mendadak terkunci. Napasnya tercekat di tenggorokan.
Foto itu memperlihatkan Nindy sedang tertawa renyah di sebuah restoran mewah, duduk berdampingan dengan mertuanya yang tersenyum begitu semringah, sebuah senyuman yang tak pernah sekalipun mertuanya berikan untuk Alara selama lima tahun ini. Di lembar kedua, mereka tampak sedang berbelanja bersama di sebuah butik desainer terkemuka.
Namun, foto ketiga adalah foto yang benar-benar mematahkan sisa kepingan hati Alara.
Itu adalah foto di sebuah acara formal perusahaan Bagas dua bulan lalu. Acara yang kata Bagas hanya dikhususkan untuk jajaran direksi tanpa membawa pasangan. Di sana, Nindy berdiri anggun mengenakan gaun malam berwarna hitam, tepat di sebelah Bagas. Pria itu mengulas senyum tipis yang hangat.
Walau mereka tidak berangkulan, kedekatan fisik itu mempertegas satu hal bahwa Alara telah sengaja disingkirkan dari dunia suaminya sendiri.
"Bagus, kan?"
Suara langkah kaki yang mendekat membuat Alara tersentak. Ia menoleh, mendapati mertuanya sudah berdiri di ambang pintu ruang keluarga, menatapnya dengan dagu terangkat tanpa ada riak kepanikan sedikit pun.
Alara bangkit berdiri, tangannya bergetar hebat memegang foto-foto tersebut.
"Ibu ... apa maksud dari semua foto ini? Kenapa Nindy bisa menghadiri acara perusahaan Mas Bagas?"
Wendah berjalan mendekat, lalu merebut foto-foto itu dari tangan Alara dengan gerakan kasar. "Kenapa? Karena Nindy pantas berada di sana. Dia muda, cantik, berpendidikan, dan yang paling penting, dia berasal dari keluarga terpandang yang jelas bibit, bobot, dan bebetnya."
"Alara ini istri sah Mas Bagas, Bu!" Suara Alara meninggi, air matanya merebak di pelupuk mata.
"Bagaimana bisa Ibu membawa wanita lain ke lingkungan kerja suami Alara seolah dia yang memiliki posisi itu?"
Wendah mendengus sinis, menatap Alara dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan merendahkan.
"Istri sah yang mandul tidak ada gunanya di keluarga ini, Alara. Lima tahun aku bersabar melihat rumah ini kosong. Nindy jauh lebih sopan dan tahu cara menyenangkan hati orang tua. Kalau kamu punya harga diri, harusnya kamu sadar diri sekarang."
Kata-kata itu menghantam ulu hati Alara dengan telak. Ia meremas ujung blusnya, mencoba mempertahankan sisa-sisa harga diri yang terus diinjak-injak di rumah ini.
"Mas Bagas tidak akan membiarkan ini terjadi kalau dia tahu Ibu keterlaluan," bisik Alara, mencoba mencari perlindungan pada nama suaminya.
"Oh, ya?" Wendah tersenyum puas, sebuah senyuman yang membuat kuduk Alara meremang.
"Tanya saja sendiri pada suamimu nanti malam."
***
Pukul delapan malam, Bagas melangkah masuk ke dalam rumah. Langkah kakinya terdengar berat, mencerminkan kelelahan yang selalu ia jadikan perisai. Alara sudah menunggunya di ruang makan, duduk tegak dengan tiga lembar foto yang sempat ia sembunyikan siang tadi, tergelak di atas meja.
Bagas mengernyitkan dahi saat melihat foto-foto itu. "Apa lagi ini, Ra?" tanya Bagas, nadanya sarat akan nada jengah yang kentara.
"Kamu bilang kamu tidak tahu sejauh mana Ibu merencanakan ini, Mas," ujar Alara, suaranya parau namun menuntut.
"Lalu foto ini apa? Kenapa Nindy bisa datang ke acara perusahaanmu dua bulan lalu? Acara yang kamu bilang dilarang membawa istri?"
Bagas menghela napas panjang, melempar tas kerjanya ke atas kursi kosong lalu melonggarkan ikatan dasinya dengan kasar.
"Itu kebetulan, Alara. Ibu yang membawa Nindy ke sana tanpa sepengetahuanku awalnya. Karena mereka sudah terlanjur datang, tidak mungkin aku mengusir mereka, kan? Itu akan mempermalukan Ibu di depan kolegaku."
"Lalu kenapa kamu tidak bercerita padaku setelahnya?" Alara bangkit berdiri, menatap suaminya dengan tatapan terluka yang mendalam.
"Kenapa kamu menyembunyikannya, Mas? Kalian bahkan terlihat seperti pasangan serasi di foto ini, sementara aku memikirkanmu yang katanya sedang sibuk rapat di rumah!"
"Karena aku tahu reaksimu akan seperti ini!" Bagas membalas dengan suara yang meninggi, memecah kesunyian ruang makan.
"Kamu akan curiga, menuduh yang tidak-tidak, dan membesar-besarkannya! Aku sudah bertemu dia beberapa kali karena terpaksa menemani Ibu, tidak lebih. Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan, Ra. Kenapa kamu tidak bisa percaya padaku sedikit saja?"
Alara menggeleng pelan, air matanya luruh membasahi pipi. Kepercayaan itu sudah mengikis habis, menguap bersama setiap bantahan netral yang Bagas lontarkan.
"Bagaimana aku bisa percaya, Mas, kalau setiap kali ada masalah, kamu selalu memilih menghindar? Kamu bilang tidak ada apa-apa, tapi kamu membiarkan Nindy masuk semakin jauh ke dalam hidupmu!"
"Aku tidak menghindar, aku hanya lelah!" potong Bagas dingin, matanya menatap Alara dengan pandangan yang kian menjauh.
"Aku pulang ke rumah untuk istirahat, bukan untuk diinterogasi seperti kriminal. Sudahlah, aku mau ke kamar kerja. Tolong jangan ganggu aku malam ini."
Bagas berbalik dan melangkah pergi begitu saja, meninggalkan Alara yang kembali membeku dalam keheningan yang menyiksa. Setiap kali badai itu datang, Bagas tidak pernah berdiri di depannya untuk menjadi payung. Pria itu selalu memilih bersembunyi di balik kata 'lelah', membiarkan Alara basah kuyup oleh rasa sakit seorang diri.
Alara perlahan membereskan foto-foto di atas meja dengan jemari yang lemas.
Di saat dunianya terasa runtuh berkeping-keping, suara ketukan porselen terdengar dari arah pintu masuk ruang makan.
Wendah berdiri di sana, melipat kedua tangannya di dada sambil menatap Alara dengan senyuman kemenangan yang kian lebar. Tampaknya wanita tua itu sengaja menguping pertengkaran mereka sejak tadi.
Alara mengabaikannya, berniat melangkah melewati sang ibu mertua untuk kembali ke kamar atas dengan hati yang hancur. Namun, tepat saat langkahnya sejajar dengan mertuanya, wanita itu berbicara dengan nada sengaja yang diperkeras.
"Oh, ya, Alara. Besok malam, pastikan kamu memasak makanan yang paling enak," ujar Wendah, menjeda kalimatnya sejenak untuk memastikan Alara mendengarnya dengan jelas.
"Nindy akan datang makan malam di rumah ini. Sebagai tamu istimewaku. Dan sebagai calon bagian dari keluarga ini."
Langkah kaki Alara seketika membeku di tempat. Tubuhnya menegang, sementara darahnya terasa mendesir dingin dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ruang makan mewah itu mendadak terasa begitu sempit dan mencekik, seolah-olah seluruh dindingnya siap meruntuhkan hidup yang selama lima tahun ini ia pertahankan mati-matian.
Bersambung..
mga abs ni hkum krma dtng buat dia...dn buat bagas,slmt mnikmti pnyesalan......😛😛😛😛
Aku udh mmpir....slm knal....
aku udh ksel dr awal,gemes sm alara yg msih ngemis pnjlasan sm suami dn mrtua durjana....tp sykurlah krna skrng dia ush sdar....ttp smngt alara,abs ni km bkln jd orng sukses dn bhgia.....😘😘😘