Semua yang terjadi dalam kehidupan ini tidak pernah luput dari pengalaman masa lalu. Angin bertiup dan musim pun berganti, Andhra telah mencari jati diri yang entah dimana akan dia temui.
Kehidupan suram di masa lalu membuat hatinya dipenuhi oleh dendam.
Ozan yang selalu menemani, juga ada
keluarga yang selalu memberi, adik tiri yang berselimut mendung derita. Andhra mendapatkan semuanya bukan tanpa alasan.
Hingga masanya cinta masa lalu hadir dan membuat hidup Andhra berwarna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nafi', isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 31 Kepergian
Kekuatan terbesar adalah tetap bersandar pada Dia yang Maha Kuat. Jika hari ini kau kalah, lalu seperti apa hidupmu di hari esok? Kau harus bangkit dan terus berjalan. Karena tidak ada seorang anak manusia yang bisa berjalan jika tidak pernah jatuh.
💦💦💦💦💦
Ozan mondar-mandir di samping meja kerjanya. Dia menimang-nimang berkas yang berada di tangannya.
*Apakah, aku harus mengatakan ini kepada, Andhra?* pikir Ozan. "Tapi, biar bagaimanapun aku harus mengatakan ini kepada Andhra," gumamnya lagi.
Tadi malam, dia menghubungi seseorang untuk menyelidiki latar belakang orang yang di bayar Mella waktu itu. Dan dengan alasan apa yang membuat Mella membayar orang suruhan itu untuk menyabotase barang reproduksi kantor. Dan paginya, Ozan mendatangi rumah orang yang di bayar Mella sudah mati dalam keadaan gantung diri.
Dia membolak-balikkan berkas itu lagi, melihat sekali lagi apa yang ada di dalamnya. Ada foto korban gantung diri di sana. Dan beberapa foto lainnya. Tanpa sengaja, Ozan menjatuhkan foto foto itu.
"Tuan, ini berkas yang di butuhkan untuk meeting hari ini." Mella berhenti tepat saat jatuhnya sebuah foto di kakinya. Dia melihat Ozan tengah memunguti foto itu. Dan matanya kini berpindah pada sebuah foto yang di ambilnya sendiri.
Mella memperhatikan dengan seksama foto yang berada di tangannya. Matanya membulat sempurna saat melihat ada sebuah benda yang dia kenal berada di sana.
"Sepertinya, kau begitu terkejut dengan foto itu!" Ozan tersenyum sinis. Ozan berpikir, jika Mella terkejut karna anak buahnya telah gantung diri.
"Tentu saja," jawab singkat Mella, dia belum menyadari maksud dari ucapan Ozan yang secara tidak langsung menuduh dirinya. Mella sibuk memperhatikan lagi foto itu, tapi dalam sekejap Ozan merampas foto itu dan menyimpannya di dalam map.
"Apa yang, kau pikirkan saat ini?" tanya Ozan penuh selidik. Sedangkan Mella menatapnya nanar. Tatapan Ozan menunjukkan ketidaksukaan saat ini.
"Maksudmu?" kata Mella yang tidak mengerti dengan apa yang di maksud Ozan.
"Dia anak buah yang kau bayar waktu itu, bukan?" Ozan menyeringai. Mella mengingat sejenak wajah orang yang di temuinya saat itu, dan membandingkan dengan wajah di foto baru saja di lihatnya tiga menit lalu.
"Kenapa, pura pura lupa? aku tidak akan membiarkan, kau membuat Andhra semakin terpuruk. Kau dan ibumu sama sama rubah betina, menyusahkan orang saja."
Ozan menatap Mella dengan penuh kebencian. Lalu keluar dari ruangan itu dengan membanting pintu.
Mella mengusap dadanya pelan. Tak guna juga dia membela diri saat ini, Ozan selalu menuduh dirinya. Tapi bukan tanpa alasan memang, semua bukti jelas jelas mengarah kepada dirinya. Walau Mella tahu betul siapa yang merencanakan ini semua.
"Baiklah, kali ini aku tidak mau di jadikan kambing hitam lagi." Mella meremas map yang berada di tangannya, lalu pergi dari ruangan Ozan dan kembali keruangan nya sendiri.
"Sekarang bagaimana cara, aku membuktikan jika, aku tidak bersalah." Mella menekan kepalanya yang mendadak pening. Satu satunya orang yang bisa dia jadikan sebagai saksi hidup nyatanya sudah meninggal pagi ini. Lalu, wajahnya mendongak mengingat sesuatu.
"Ya, bukti itu. Itu adalah satu satunya bukti yang bisa aku berikan kepada Andhra jika aku tidak bersalah dalam hal ini." Mella nampak berpikir lalu menghubungi seseorang.
Sedangkan di ruang lain.
Andhra tengah sibuk memeriksa laporan keuangan hari ini. Setelah di rasa semua isi laporan sesuai, dia menandatangani berkas itu dan mengambil yang lainnya lagi.
Sedangkan dari luar, Ozan mengetuk pintu sang bos.
"Masuk!" suara menggema memenuhi ruangan. Nampaklah Ozan dengan membawa berkas yang di dapatkannya tadi pagi.
"Kau harus melihat ini, Ndhra!" kata Ozan sambil meletakkan map itu di hadapan Andhra. Ozan membuka berkas itu dan menunjukkan bukti yang dia dapatkan pagi ini.
Andhra nampak mengerutkan keningnya melihat foto yang di sodorkan Ozan.
"Ini adalah foto orang yang bunuh diri tadi malam. Dia adalah orang yang di bayar Mella, waktu itu. Dugaanku semakin kuat sekarang, bahwa Mella adalah dalang di balik semua ini. Dia ingin menyingkirkan bukti yang kita miliki agar, kita tidak semakin curiga kepadanya." Ozan mengakhiri ucapannya. Sedangkan Andhra memperhatikan foto itu dengan seksama. Andhra menopang dagu pada tangannya wajahnya terlihat tenang, walau pikirannya berkelana.
"Sekarang, apakah kau akan tetap membela dirinya." Ozan mulai kesal dengan sikap Andhra yang tidak pernah bersikap tegas terhadap Mella menurutnya.
"Aku akan pikirkan ini nanti." Andhra menutup berkas yang di sodorkan Ozan.
"Tapi, Ndhra...!"
"Aku tahu, apa yang kau khawatirkan saat ini, tapi percayalah kepadaku. Semua ini tidak seperti yang, kau lihat." Andhra tersenyum dan menepuk bahu temannya.
Ozan mendesah pelan mendapati kenyataan jika temannya tidak sependapat dengan dirinya. "Terserah kau saja, tapi aku berharap kau mempertimbangkan semuanya dan berhati-hati, aku melakukan ini bukan tanpa bukti."
"Iya, aku tahu, terima kasih Ozan," ucap Andhra. "Mana berkas untuk meeting hari ini?" Andhra mengalihkan pembicaraan.
"Aku akan mengambilnya," dengan langkah gontai Ozan keluar dari ruangan Andhra menuju tempat dimana Mella berada.
Sepeninggal Ozan, Andhra menghubungi seseorang. "Terus awasi kediaman korban pembunuhan itu, dan laporkan kepadaku apapun yang kalian lihat di sana, pastikan semua berada dalam pengawasan kalian, jangan lewatkan hal sekecil apapun." Andhra mengkhiri panggilannya.
"Aku tidak akan semudah itu terkecoh. Cantik sekali permainan yang kau buat. Kau pikir, aku tidak tahu, bahkan aku lebih profesional dalam memainkan peran, kita lihat saja siapa yang menang." Andhra tersenyum miring sambil memutar handphone di tangannya. Lalu menghembuskan nafasnya pelan.
"Baiklah, sekarang kita cari uang dulu." Andhra bangkit dari kursi kebesarannya dan berjalan pintu. Bersamaan dengan itu, Ozan ternyata sudah berada di depan pintu ruangannya.
"Apa sudah siap semuanya." Andhra meminta berkas yang berada di tangan Ozan.
"Sudah, kau hanya perlu mempelajarinya kita akan mulai meeting setelah jam makan siang," kata Ozan sambil melihat pergelangan tangannya.
"Baiklah, dimana Mella? kenapa, aku tidak melihatnya sejak tadi," mengedarkan pandangannya.
"Dia ada di mejanya." Ozan sebenarnya enggan menjawab.
"Ayo, kita makan siang dahulu!" ajak Andhra.
"Berkasnya, biar aku letakkan di meja kerjamu," pinta Ozan. Andhra pun menyerahkannya dan menunggu Ozan di depan pintu.
Setelah Ozan meletakkan berkas itu, dia bergegas menghampiri Andhra dan berjalan beriringan menuju lift. Saat melewati meja Mella, Andhra menoleh, tapi keadaannya sudah nampak kosong. Andhra melanjutkan langkahnya.
Kini mereka sudah sampai di lobi kantor. Andhra dan Ozan melihat Mella berjalan ke luar gedung perkantoran. Terlihat ada mobil berhenti tepat di hadapannya Mella pun masuk ke mobil itu dan menghilang di jalan raya.
"Hai, kau mau kemana?" mencegah Ozan yang hendak menyusul kemana arah Mella pergi.
"Kenapa? aku curiga kepadanya, kita harus tahu siapa yang bersama dengannya saat ini, dia patut untuk kita curigai." Ozan mengutarakan maksudnya.
"Sudahlah, biarkan saja."
Tapi sambil mengatakan itu, Andhra mengirim pesan kepada seseorang. *Baiklah, permainan kita mulai* batin Andhra.
To be continued....
ozan dilema donk,mw nolong yg mana dulu...
aq agak amnesia😊😊😊
abis malam jumatan khan
Salam dari
SI OYEN PACARKU BUKAN MANUSIA
🙏🙏🙏
salam dari jodohku Cinta Pertamaku 🙏🙏 by. Sri Ghina Fithri