NovelToon NovelToon
Belenggu Mafia Lapuk

Belenggu Mafia Lapuk

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Nikahmuda / Mafia / Tamat
Popularitas:2.2M
Nilai: 5
Nama Author: Neti Jalia

Warning! 21+


Evellyn seorang gadis muda berusia 17 tahun terpaksa melarikan diri dari rumah. Gadis yang bahkan belum lulus sekolah itu terpaksa melepaskan diri dari jerat sang ibu tiri yang ingin menjual dirinya, karena terlilit hutang judi disebuah pusat perjudian kasino.

Namun kesialan terjadi saat dirinya dalam misi pelarian diri. Gadis itu terjebak dalam situasi yang tidak kalah rumit dan menegangkan. Evelly terjebak diantara orang-orang yang menguasai dunia bawah tanah.

Akankah Evelly berhasil lolos?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neti Jalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31.Masih Ingusan

"Seharusnya kamu tidak boleh bersikap begitu pada Evellyn. Kamu menghargai keperawanannya dengan uang, kamu sudah menghinanya," ujar Zavier.

"Menghina apanya? gadis kecil itu malah menerimanya dengan senang hati. Bahkan minta dibuatkan ATM segala. Lagipula itu lebih baik bukan? aku tidak mungkin menikahi dia hanya karena hal sepele begitu,"

"Kenapa tidak mungkin? meski usia kalian terpaut jauh, tapi tidak ada larangan buat nikah dengan beda usia." ujar Dieogo.

"Tidak akan. Dia bukan seleraku, masih ingusan." Jawab Yansen.

"Masih ingusan tapi kamu embat juga, itu munafik namanya," timpal Diego.

"Jadi gimana solusinya? gadis itu semakin bertingkah sekarang. Dia malah berpacaran dengan bocah ingusan itu." tanya Yansen.

"Kenapa dia berpacaran kamu urusi? itukan nggak ada dalam perjanjian kalian? biarkan saja, mungkin dengan begitu hatinya bisa terhibur," ujar Zavier.

"Tidak bisa. Walau bagaimanapun aku ini walinya, aku memposisikan diri sebagai orang tuanya. Aku menentang anakku pacaran diusia dini."

"Alasan. Bilang saja kalau kamu itu cemburu, sok berlagak jadi orang tua. Orang tua nggak ada yang ngembat anaknya sendiri, kalaupun ada itu bina**ng namanya," ujar Owen.

"Kamu kok gitu Wen? aku kan sahabatmu, kok kalian malah membela gadis kecil itu?" tanya Yansen.

"Maaf ya Yan. Tapi kali ini kamu benar-benar sudah kelewatan. Aku tidak perduli kalau yang kamu gauli itu wanita peliharaanmu atau wanita bayaranmu. Tapi ini si bocil, gadis kecil muda belia yang sudah kita anggap seperti adik sendiri," ujar Zavier.

"Iya Yan. Kami nggak masalah kalau kamu cinta sama dia dan bertanggung jawab dengan perbuatanmu itu," timpal Diego.

"Kan aku sudah membayarnya, mau tanggung jawab apa lagi? aku nggak mau ya kalau kalian nyaranin aku buat nikahin dia, imposible banget itu," tutur Yansen.

Zavier, Owen, dan Diego hanya bisa menghela nafas panjang. Mereka tidak mengerti dengan pola pikir Yansen saat ini. Terutama luka yang ada ditangan pria itu. Yansen bukan tipe pria ceroboh yang bisa tergores pecahan gelas lumayan parah. Tapi saat itu terlalu kebetulan yang membingungkan. Evellyn tengah berkencan dengan Doni didalam rumahnya, lalu Yansen bisa terluka karena pecahan gelas. Bukankah itu sungguh kebetulan yang aneh? setidaknya itulah yang teman-teman Yansen pikirkan.

Dari balik pintu, Evellyn yang berniat ingin menjenguk karena gelisah, jadi mengurungkan niatnya itu saat mendengar semua ucapan Yansen. Berkali-Kali Yansen melukai hatinya dengan ucapannya yang tajam.

Evellyn bergegas pergi dari depan ruangan itu dengan air mata yang tumpah ruah. Saat ini dia hanya ingin bertemu dengan ayahnya, agar hatinya sedikit tenang.

"Kenapa dengan matamu nak?" tanya Andre.

"Tidak apa-apa," ucap Evellyn singkat.

Andre memperhatikan Evellyn yang tampak frustasi. Dia bisa merasakan kalau saat ini ada yang tidak beres dengan putrinya.

"Apa ini ada hubungannya dengan Yansen?" tanya Andre.

Evellyn jadi menoleh seketika saat mendengar ucapan ayahnya itu.

"Kenapa ayah jadi berpikir kesana?"

Andre menyunggingkan senyumnya. Mungkin putrinya lupa, bahwa dirinya pernah mengalami muda.

"Apa kamu menyukai pria matang itu?" tanya Andre.

"Tidak."

"Bibir dan wajahmu mengatakan berbeda."

Evellyn tertunduk, dia tahu dirinya paling tidak pandai berbohong. Terutama saat dihadapan sang ayah. Evellyn perlahan meletakkan kepalanya diatas pundak Andre.

"Tapi dia tidak menyukaiku."

"Tidak masalah. Tapi sebaiknya kamu pastikan dulu, apa kamu benar-benar menyukainya atau hanya sekedar mengaguminya."

"Aku tidak mengerti juga dengan perasaanku. Tapi saat dia bersawa wanita lain, hatiku menjadi tidak senang."

"Ayah tidak melarangmu untuk menyukai siapapun termasuk dia. Karena usiamu baru berusia 17 tahun, baru menyukai lawan jenis masih dianggap wajar. Kamu jangan terlalu memikirkannya, lambar lain perasaan suka itu akan hilang sendiri."

"Masalahnya dia sudah merenggut hal itu dariku ayah. Rasanya aku tidak bisa mencintai orang lain lagi." batin Evellyn.

"Pulanglah! nanti majikanmu mencarimu," ujar Andre.

"Aku nggak mau pulang. Lagipula dia saat ini sedang berada dirumah sakit."

"Yansen sakit?"

"Tidak tahu. Dibilang sakit, tapi mulutnya masih lancar untuk bergibhah."

Andre terkekeh mendengar ucapan Evellyn. Pria itu sangat hafal saat Evellyn sedang merajuk, semua perkataannya tidak ada yang bagus didengar.

"Yah."

"Hem?"

"Kalau ayah misalkan punya uang satu milyar, kalau mau usaha ayah pengen buka usaha apa?" tanya Evellyn.

"Satu milyar ya? emm...apa ya? sebenarnya sih ada usaha yang ayah pengen sejak dulu."

"Usaha apa?"

"Beli sebidang tanah yang agak luas. Terus buat peternakan ikan. Kamu tahu sendiri ayah hobi mancing, jadi pengenlah buka usaha yang berbau-bau ikan gitu."

"Do'akan moga Evellyn dapat rejeki nomplok Yah, jadi bisa mewujudkan semua keinginan ayah."

"Amiin." Jawab Andre.

"Ayah laper nih, kangen mie kocok buatan kamu."

"Ayah mau?"

"Emm." Andre mengangguk.

"Eve jadi pingin juga. Ayah tunggu bentar ya?"

"Ya."

Evellyn beranjak dari tempat duduknya dan pergi kedapur. Selang beberapa menit kemudian, Evellyn keluar dengan membawa dua mangkok mie kocok dan dua gelas es teh.

"Wahh...mantap ini."

"Tapi jangan keseringan ya Yah? perhatikan kesehatan Ayah."

"Ya. Ayah cuma makan mi instan satu minggu satu kali,"

"Baguslah."

Evellyn dan Andre menikmati makanan itu dengan lahap. Setelah itu Evellyn pergi tidur karena tubuhnya akhir-akhir ini mudah lelah.

Tring

Tring

Tring

Evellyn membuka matanya, karena suara ponselnya berdering.

"Ya kak?"

"Bocil kamu dimana?" tanya Zavier.

"Ada dirumah ayah. Ada apa kak?"

"Kamu nggak mau jengukkin Yansen dirumah sakit?"

"Besok saja."

"Kalau besok kemungkinan dia pulang. Sebenarnya sih dia nggak perlu dirawat. Tapi kami yang minta itu, soalnya dirumah nggak ada yang ngurusin kan? Ivanka orangnya begitu, sedangkan kamu sibuk ujian."

"Besok Eve pasti kesitu kok kak,"

"Bisa nggak malam ini kamu nginap dirumah sakit temanin dia?"

"Kenapa harus aku kak? kan ada Ivanka?"

"Dia nggak bisa. Katanya pusing kalau lama dirumah sakit,"

"Kalian?"

"Kami nggak bisa, soalnya ada pekerjaan yang harus kami selesaikan."

"Tolong ya eve?" sambung Zavier.

"Hah...baiklah. Aku akan bersiap kesana," ujar Evellyn dengan nada malas.

"Makasih bocil,"

"Sama-Sama kak,"

Zavier mengakhiri panggilan itu dengan tersenyum penuh arti.

"Gimana? apa dia mau?" tanya Diego.

"Tentu saja. Mereka berdua harus banyak bicara, jadi permasalahan diantara mereka cepat selesai." Jawab Zavier.

"Kalau sama si bocil sih yakin, tapi kalau Yansen, aku nggak yakin sama sekali. Pria itu temperamennya sangat buruk dan bermulut pedas. Aku takut Evellyn datang cuma buat nguras air matanya doang," ujar Owen.

"Haih...si Yansen emang suka kelewatan kadang-kadang. Udah tua tapi nggak ada perubahan," ujar Zavier.

"Ya kamu benar. Si kolot itu selalu menyamaratakan tiap orang yang dia ajak bicara, termasuk anak kecil sekalipun," timpal Diego.

"Emang parah tuh anak," ujar Zavier sembari terkekeh.

Sementara itu ditempat berbeda, Evellyn tengah bersiap-siap pergi kerumah sakit. Dia sudah membayangkan seperti apa situasi yang akan dia hadapi nanti. Namun dia sudah bertekad, bahwa dia akan menganggap dirinya sedang bekerja saat ini.

1
Febby fadila
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Febby fadila
udah mulai malas bacax, mafia kok nggak ada yg jelas 1 heran deee, beda banget sama cerita yg disebelah, mafiax bekerja sangat rapi dan cepat
Febby fadila
orland lebih licik daripada Yansen,,,
Febby fadila
kalian berempat itu terlalu bodoh mafia kok nggak bisa bijak dlm berpikir siii heran deee
Febby fadila
klw dsni kayakx orland yg lbih cerdik dan licik dari Yansen deee, orang² orland yg duluan cepat daripada orang² yansen
Febby fadila
hmmm makin menarik, orland juga yg menyelamatkan Evelyn kayakx,, waaahh butuh perjuangan besar buat Yansen untuk menemukan eve dari musuh bubuyutannya
Febby fadila
knp nggak di masukin Ivanka kedalam karung baru buang dia,
Febby fadila
kok lambat sekali siii Nemu kebenaranx,
Febby fadila
Ivanka cari mati ditangan Yansen rupanx
Febby fadila
ooo Ivanka jual² nama Yansen biar eve membenci Yansen,,
Febby fadila
aku sumpahi kamu Yansen tidak punya anak seumur hidup, bila perlu jonimu mati suri seumur hidup,,, kamu pikir harta dan tahtamu bisa membuatmu bahagia
Febby fadila
pasti ulah ivanka
Febby fadila
kabur saja dari situ Evelyn biar Yansen menyesal
Febby fadila
mantap eve sandiwara yg sukses,, 🤣🤣🤣🤣 panas Yansen ❤️‍🔥❤️‍🔥❤️‍🔥
Febby fadila
pasti eve bakalan hamil secara Yansen tidak pakai pengaman,,
Febby fadila
racun yang bikin ketagihan eve 😁😁😁😁
Febby fadila
awas aja kau Yansen jadikan eve seperti Ivanka,
klw Ivanka bukan perawan tua tp kek gadis rasa janda udah bolong semua
Febby fadila
iyalah wong Ivanka dia cuman bisa diranjang doang,,,
Febby fadila
bikin ngakak aku, Yansen seperti suami yg ketahuan selingkuh dari istrix 🤭🤣🤣🤣🤣
Febby fadila
uuuuhhh Yansen baik banget siiii,,, menolang tanpa terlihat orang² di sekitarnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!