Rate 21+
Nashira membuka mata, ia begitu terkejut melihat tubuhnya yang polos tanpa terutup benang sehelai pun. Ia menganggap kalau semalam ia telah memanggil seorang gigolo dan menemaninya tidur. Nashira pun meninggalkan beberapa uang di atas meja untuk lelaki itu. Lalu ia kabur.
Takdir kembali mempertemukan mereka berdua, akan tetapi Nashira tidak mengingat lelaki itu. Nashira yang terlilit hutang besar akhirnya dibantu oleh lalaki asing itu dengan imbalan mau menjadi pengantinnya.
“Aku akan membantumu, tapi kau harus mengabulkan tiga permintaan untukku,” ucap seorang lelaki bernama Akash Orion Atkinson.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Septiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Pengantin Tiba
Akash memasuki kamar pengantin yang dikhususkan oleh pihak hotel untuknya dengan Shira.
Begitu ia memasuki ruang kamar, semerbak wangi bunga mawar tercium tajam di hidungnya, telinganya mendengar suara kucuran air dari dalam kamar mandi sana. Ia tersenyum menyeringai, melangkah pelan mendekati tempat tidur.
“Haha, moment yang pas,” ucapnya seraya melonggarkan dasi yang mencekik di kerah bajunya.
Sedangkan itu, di kamar mandi, Shira masih sibuk membilas busa sabun yang berlumuran di tubuhnya. Ia benar-benar tengah menikmati hangatnya kucuran air dari shower yang membuat tubuhnya terasa lebih fresh dan tenang.
Setelah selesai, ia mengambil handuk putih yang menggantung di hanger. Melilitkannya di bagian dadanya. Lalu mengeringkan rambutnya yang sedikit basah menggunakan handuk kecil dan setelah itu, ia menyanggulnya menggunakan jedai.
Kakinya yang putih mulus bertelanjang tanpa alas kaki, ia ayunkan meninggalkan pintu kamar mandi. Sebelah tangannya sibuk menutup pintu kamar mandi. Dan saat ia menoleh ke arah lemari, tidak disangka ternyata Akash sudah berdiri di sana dengan satu tangan yang bersender di lemari menahan kepalanya yang setengah miring.
“A-Akash,” ucap Shira gugup dan malu, ia langsung memeluk tubuhnya sendiri, menutupi setengah dadanya yang leluasa untuk dilihat.
“Kau mandi jam segini ....” Sejenak Akash menoleh ke arah jam dinding yang menunjukan pukul 23.00 malam. “Apa kau bersiap untuk melayaniku?” tanyanya tersenyum miring.
Shira terperangah, kedua pipinya langsung memerah. Ia tidak berniat seperti itu, ia mandi hanya untuk menyegarkan tubuhnya sendiri, tidak bermaksud bersiap untuk malam pengantinnya dengan Akash. Tapi, entah kenapa saat Akash bertanya seperti itu padanya, ia bener-benar merasa malu.
“Ti-tidak, a-aku hanya ingin menyegarkan tubuhku saja,” jawabnya gugup dan menunduk.
Akash terkekeh kecil mendengar jawaban dari Shira, ia melangkah maju mendekati istrinya tersebut, lalu berhenti tepat di depan Shira. “Benarkah?" bisiknya sedikit membungkukan badan di sisi telinga Shira.
Hembusan nafas hangat dari mulut Akash, langsung membuat Shira merasa geli dan secar reflek ia memiringkan kepalanya karena merasakan panas dingin yang membuatnya bergidik.
“Kenapa? Kau sensitif dengan suaraku?” bisiknya lagi semakin membuat Shira memiringkan kepalanya, agar hembusan nafas Akash tak menyentuh telinganya.
"T-tidak, anu ... emh, a-aku akan ganti baju dulu," ucapnya gugup, lalu dengan cepat Shira melangkah melewati Akash, akan tetapi, tiba-tiba.
Bruk ... Shira terjengkang ke belakang, terjatuh ke dalam dekapan tubuh Akash akibat Akash yang menarik lengannya dengan kencang saat ia hendak melarikan diri.
Kedua tangan Akash memegang pinggang Shira agar wanita itu tetap terjaga keseimbangannya. Kedua mata mereka saling bertautan seiring dengan perasaan berdebar yang menyerang jantung mereka.
Dug, deg, dug, deg, begitu lah kira-kira bunyinya jika mereka bisa saling mendengarkan degup jantung mereka masing-masing.
Shira terperanjat, ia langsung membenarkan posisinya seperti semula, akan tetapi, Akash yang tidak ingin kehilangan moment ini, ia kembali menarik lengan Shira, membuat tubuh Shira terjatuh ke dalam dekapan hangatnya tubuh Akash.
"A-akash lepaskan, a-aku kedinginan, aku harus segera memakai baju," lirih Shira sedikit gemetar.
"Tidak perlu memakai baju, Shira, aku juga bisa menghangatkan tubuhmu." Akash berbicara sedikit serak dan pelan.
Dibalik kata-katanya itu, Shira dapat memahami apa yang dimaksud oleh suaminya tersebut. Shira semakin dibuat tidak tenang, apalagi saat menatap kedua netra suaminya tersebut.
"Apa kau ingin tahu caranya bagaimana?" tanya Akash. Shira yang semakin mengerti arah pembicaraan suaminya itu menuju ke mana.
Akash memandangnya penuh damba. Ia menginginkan adegan di atas ranjang itu diulang kembali. Perlahan Akash menarik pinggul Shira agar lebih dekat dengannya, sebelah tangannya mulai membelai lembut wajah Shira, membuat sekujur tubuh Shira merasa kaku dengan perasaan yang dibuat semakin tidak tenang.
Akash mulai mendekatkan wajahnya dengan wajah Shira, dari 10cm kini jadi 5cm, jadi 3cm lalu, perlahan keduanya saling memejamkan mata. Shira menahan nafasnya saat sentuhan bibir diantara keduanya saling menyatu.
Hangat, dan semakin terasa hangat saat aliran darah diantara keduanya semakin berdesir hebat, seiring dengan nafas yang kian memberat.
Akash melakukannya dengan lembut. Perlahan Shira merespon gerakan yang diberikan oleh suaminya itu, saat lidah milik Akash meminta untuk masuk, Shira pun perlahan membuka celah bibirnya, membiarkan lidah Akash untuk bermain di dalam mulutnya. Seiring dengan ciuman yang semakin memanas, Akash juga perlahan menggiring tubuh Shira ke atas tempat tidur yang penuh dengan taburan kelopak bunga mawar.
Lalu, keduanya pun terjatuh di tengah tempat tidur, masih dengan ciumannya yang tak terlepaskan. Akash perlahan memainkan sebelah tangannya di atas puncak piramida milik Shira, lalu tangannya yang jahil itu, perlahan menarik lilitan handuk di bagian dada Shira. Pelan, dan hampir saja dua gunung piramida itu terbuka, namun tiba-tiba, Akash merasakan sesuatu yang mengganggunya.
Drrrttt ... drrttt ... drrtttt .... Getaran yang berasal dari saku celananya itu membuat Akash berdecak kesal. Ia ingin mengabaikannya, akan tetapi getaran dan bunyi handphonenya itu sungguh sangatlah mengganggu. Dan dengan terpaksa, ia pun melepaskan ciumannya dengan Shira.
“Ada yang menelepon,” ucapnya sesaat setelah mereka melepaskan ciumannya.
Shira mengangguk memberi izin, ia langsung bangun, membenarkan handuknya dan menundukan kepala karena benar-benar merasa malu.
Sementara Akash, lelaki itu langsung merogoh saku celananya, di mana benda pipih itu masih terus aja bergetar membunyikan dering yang membuatnya kesal.
Dilihatnya, sebuah panggil masuk dari Edwin—sekretarisnya. Akash manautkan kedua alisnya, wajahnya tampak penuh tanda tanya.
“Ada apa dia meneleponku jam segini?” gumamnya dalam hati.
Akash masih membiarkan handphonenya berdering, lalu ia menoleh ke arah Shira. “A-aku harus mengangakat teleponnya dulu,” ungkapnya seolah meminta izin, Shira kembali mengangguk tanpa berkata apapun.
Akash pun keluar menuju balkon. “Awas saja kau Edwin, kalau bukan hal penting yang kau bicarakan, tamat riwayatmu!” gerutunya begitu kesal, langsung menggeser ikon berwarna hijau di layar ponselnya.
“Ya ada apa?” tanya Akash tanpa basa-basi.
“Apa?!” Wajah Akash tampak terkejut, kedua matanya membulat sempurna, seiring dengan sebelah tangannya yang mengepal erat menggantung di udara, setelah mendengarkan perkataan Edwin lewat telepon.
“Sialan! Kau tunggu lah di sana, aku akan mendatanginya sekarang juga!” serunya langsung menutup teleponnya dengan kasar.
Ia berdecak kesal, seraya menautkan kedua alisnya yang hampir menyatu. “Sialan! Selalu saja mencari gara-gara!” Wajahnya tampak menampilkan emosi yang begitu dalam.
“Awas saja kau! ... Kali ini, urusanmu bukan hanya menggangguku, tetapi kau telah menghancurkan malam pengantinku! Aku tidak akan membiarkan orang sepertimu hidup!” sungutnya pelan penuh penekanan.
Ia pun kembali menghampiri Shira, lalu mengambil jas yang sempat ia taruh di atas kasur.
Shira memandangnya heran. “Akash, ada apa?” tanyanya.
Akash menarik nafas pelan, mengembuskannya dengan pasrah. Meski dengan berat hati harus tega meninggalkan Shira di malam ini tapi ini adalah yang terbaik.
“Maafkan aku Shira, aku harus pergi,” ucapnya.
"T-tapi Akash." Shira tampak kecewa.
Akash tak bisa berlama-lama lagi, ia langsung berlari meninggalkan kamar begitu saja, membuat Shira yang melihatnya langsung melongo, seolah tidak percaya kalau suaminya akan meninggalkan dirinya begitu saja di malam pengantinnya.
"Akash tunggu!" teriak Shira, sia-sia, saat Akash sudah menghilang dibalik pintu kamar hotel.
Ia mencebikan bibirnya. Wajahnya meringsut kesal akibat ulah suaminya tersebut.
“Kurang ajar! Bisa-bisanya dia membuat aku terangsang seperti ini, dan dengan mudahnya dia pergi begitu saja meninggalkanku sendirian di sini!! Argh!” Shira dibuat kesal, karena bagaimana pun Shira juga seorang manusia yang memiliki naf*su, ia terlanjur menginginkannya, akan tetapi tidak disangka Akash akan pergi meninggalkannya begitu saja, bahkan tanpa kecupan di keningnya.
“Awas saja kau Akash! Lain kali, aku yang akan meninggalkanmu!” ucapnya geram langsung berdiri dan berjalan menghentakan kaki mendekati lemari.
Bersambung...
Dongkol gak sih, udah geer diajak begituan eh malah ditinggalkan haha, Shira ... Shira sabar ya neng.
krn ssuatu hal jd bakker tk bs menceraiknny,nampak bakker tw lw istri kedua ny jahat