Assalamu'alaikum...
Selamat datang di karya pertamaku.
Kisah seorang muslimah yang berasal dari keluarga sederhana.
Fatimah,ia rela bekerja keras demi adik kembarnya dapat melanjutkan sekolah.
Mengalami kekerasan dan pelecehan di pabrik,tak menyurutkan tekadnya.
Meskipun memiliki ilmu beladiri ia tak ingin menunjukkannya di hadapan orang lain.
Hingga kehormatannya hampir di jual oleh sepupunya sendiri.
Berawal dari memesan ojek melalui sebuah aplikasi online.
Perkenalannya dengan seorang pemuda rupawan namun tengil dan selengean.
Dialah Rojali pemuda jenaka yang ternyata menyimpan kisah kelam dalam hidupnya.
Sebagai putra yang terbuang,mampukah ia menyadarkan sang ayah?
🐾mohon kritik dan sarannya... 🐾
jangan lupa tinggalkan jejaknya... 🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chibichibi@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jadi nyamuk
✨Gaji dijemput dengan kerja, tetapi rezeky di jemput dengan taqwa.
Gaji bisa kita duga, tetapi rezeky itu tidak terduga.
Gaji hanya berupa uang, tetapi rezeky tak berbilang.
Gaji meskipun besar bisa saja terasa kurang, tetapi rezeky akan selalu cukup meski kadang tak seberapa.
Karena sehat, bahagia dan cinta disekitar kita, itu termasuk rezeky untuk kita.
✨
***~~~***
Barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri yang banyak.
(HR.Ahmad)
"Mi, ini obat-obatnya ayah, trus sama belanjaan barusan, Kakak mau mandi dulu ya udah basah juga ini bajunya, badan udah lengket juga. "
Kuletakkan semua barang itu di atas meja dapur.
"Ini belanjaannya banyak banget Kak, emangnya kamu punya duit? " tanya Ummi dengan raut muka yang bingung.
"Mi, Kakak ceritanya abis mandi aja gapapa kan? " kataku sambil menyampirkan handuk di pundak.
"Yaudah deh, kamu buruan mandi, abis itu solat . " Akhirnya Ummi mau bersabar juga.
Kemudian Ummi mengambil alpukat, membelahnya dan menyendok isinya, kemudian dipindahkan kedalam mangkuk.
Setelahnya, di siram dengan madu sumbawa asli.
"Dek, bikinin si abang ojol teh anget gih, kasian itu lagi neduh di teras," perintah ummi kepada Fadlan yang baru saja keluar dari kamar ayah.
"Emang Kakak mana? "
"Kok, aku yang bikinin? " tanya Fadlan sambil memeriksa kantong kresek di atas meja dapur.
"Kakak, lagi mandi, udah sono cepetan bikinin sekalian buat Kakak kamu juga, "perintah ummi lagi, kemudian berlalu dari ruang dapur ke arah kamar ayah, dengan membawa semangkuk daging buah alpukat dan air putih hangat.
Kemudian aku keluar dari kamar mandi, dan melihat Fadlan sedang di dapur.
" Lagi ngapain Dek? "tanyaku sambil mengeringkan rambutku dengan handuk kecil.
Fadlan pun menoleh, " Ni lagi bikinin teh manis buat tamu, "jawabnya sambil menuangkan gula.
" Kakak mau juga dong di buatin, "ucapku mendekatinya kemudian mengacak gemas rambutnya.
" Siap bos! " ucapnya sambil tertawa.
Kemudian aku pun berlalu ke kamar.
Ku lepas mukenaku setelah menunaikan empat rokaatku di waktu Ashar ini.
Ku kenakan kerudung instan,kemudian aku pun keluar dari kamarku hendak ke kamar ayah.
Aku menoleh sebentar ke luar, hujan lumayan deras.
Aku menyibak tirai dipintu kamar ayah, kemudian masuk.
Kulihat Ummi sedang menyuapi ayah dengan alpukat mentega yang tadi ku beli dipasar.
"Makan yang banyak ya Yah, biar cepet sehat lagi, abis itu diminum obatnya, " ucapku sambil menyiapkan obat yang akan diminum oleh ayah, sambil sesekali tersenyum ke arahnya.
"Iye anak botoh Ayah yang bawel, " selorohnya meski dengan suara yang agak lemah.
Tapi, itu membuat hatiku tenang, karena itu menandakan bahwa ayah sudah baik-baik saja.
Tiba-tiba si Fadlan melongok dari pintu kamar, sambil membawa nampan dan dua gelas teh panas, terlihat dari uapnya yang mengepul di atas gelas.
"Teh Kakak mau di taro dimana nih? " tanyanya
"Eh, udah jadi ternyata, " ucapku sembari menghampiri nya.
"Ma'aci ya Adek ganteng, "cubit ku gemas pada pipinya yang agak chubby.
" Ish, muji-muji aja,tapi gak pake nyubit,bisa gak? "ketusnya
" Ehehehe,jangan ngambek dah, entar kurang se'ons tuh kadar gantengnya, "ejekku lagi padanya(emang enak godain si gembuy)
" Tauk ah...!
Kemudian berlalu membawa nampan beserta isinya ke teras.
"Gimana tadi biaya berobat ayah Kak, abis berapa duit? " cecar ummi kepadaku setelah kepergian Fadlan.
Aku menyerahkan notanya ke ummi.
"Astagfirullah Kak, gede amat ini, kamu duit darimana? " pekik ummi seketika matanya membola, kemudian membekap mulutnya dengan satu telapak tangannya.
"Alhamdulillah, tadi Yusuf anaknya pak RW ngasi amplop isinya duit patungan dari Dewan Kepengurusan Masjid, " jawabku
"Alhamdulillah! "
Serentak mereka berdua mengucap syukur.
"Makanya tadi Kakak sekalian beliin Ayah alpukat sama Kakak belanjain macem-macem noh,biar nanti bisa bikin bubur buat makan malamnya Ayah, "
ucapku lagi memberi penjelasan.
"Syukurlah, semoga Allah balas jasa mereka dengan beribu kebaikan, " doa ayah dengan tulus, yang kemudian kami Aamiinkan.
"Nih, masih ada sisanya, beberapa lembar lagi. " Kuserahkan sisa uang beserta amplopnya ke Ayah.
"Ummi aje deh yang pegang, buat beli keperluan dapur, beberapa hari ini kan Ummi gak bisa bikin dagangan karena ngurusin Ayah, "ucap ayah lirih, tersirat penyesalan di nada suara nya.
" Iya Ayah, Ummi ikhlas kok ngelakuin ini semua, ini kewajiban Ummi Yah, "
"Yang penting Ayah kudu semanget biar bisa sehat lagi, biar kita bisa berjuang sama-sama lagi, "ucap ummi dengan senyum,sambil menggenggam tangan Ayah.
Mereka berdua saling menatap.
Ayah pun tersenyum simpul,kemudian di balas dengan Ummi yang mengusap-usap tangan Ayah.
Apa kabar aku, yang cuma bisa nyengir-nyengir liat adegan romantis ini.
(ck,berasa kek nyamuk kalo udah didepan pasangan ini, tetiba jadi anak yang gak di anggep keberadaannya)
" Ehermm... "dehemku mengingatkan mereka bahwa ada anak perawannya di sini.
Mereka berdua sedikit terperanjat kaget. (haish,saking serunya tuh pandang-pandangan)
" Maap ye Kak,kirain tadi Ayah lagi berdua aje ame Ummi, "kelakar ayah meledekku.
(nah kan, dibilang apa, aku tu di anggep gak ada)
" Lain kali gak usah live streaming, dah tau anaknya belom punya gaco'an, "gerutuku pura-pura merajuk dengan memanyunkan bibirku.
Yang kemudian menciptakan kekehan di bibir kedua pintu surgaku itu.
" Si Farhan mane Mi, perasaan kagak keliatan dari tadi? "Tanyaku
" Oh itu tadi die Ummi suruh ke warung beli mi ame telor, "jelas Ummi, sambil merapikan peralatan makan bekas ayah.
" Ujan deres gini,Ummi nyuru Farhan ke warung?! "pekikku kaget, soalnya diluar hujan benar-benar deras, aku hanya mengkhawatirkan adikku.
" Abis mau nyuruh siape lagi, Kak? "
"Kagak ada ape-ape yang bisa di makan dirumah, cuma ada nasi doang, " jelas Ummi kepadaku.
"Kakak tenang aje , tadi si Farhan keluarnya pake jas ujan, " warungnye juga kagak jauh pan, "kata ummi lagi
Aku hanya mengangguk perlahan sambil meyeruput teh manis yang sudah hangat.
Kemudian ummi memerintahkanku ke teras, untuk menemui pemuda itu.
Aku pun pamit pada ayah yang hendak kembali istirahat.
" Fadlan, udah solat Ashar belom? "tanyaku padanya yang sedang duduk di bale menemani pemuda berkaos superhero laba-laba.
" Udah dong Kak, pulang dari klinik aku langsung mandi, trus gantian sama Ummi, Farhan noh nyang belom, "kilahnya
" Hem...,Bang Rojali kalo mau solat, bisa diruang tamu, nanti biar di anter sama Farhan, "kataku tanpa ekspresi pada pengemudi ojol yang menurutku agak urakan itu.
" Eh, iya neng, maaf ya saya jadi ngerepotin. "
ucap rojali sedikit kikuk.
"Iya,iya,mending cepetan dikit deh,sebelom waktunya abis, " perintahku padanya.
Ia pun segera berdiri dan beranjak ke dalam bersama Fadlan.
Namun langkahnya terhenti di depan pintu.
"Kenapa Bang? " tanya Fadlan pada Rojali yang tiba-tiba terpaku sambil menatap kaosnya.
"Baju abang lembab dek, udah dipake dari pagi juga,"
"Takutnya udah kagak bersih,"
"Tar Abang solatnya kagak sah, gimana? "ocehnya dengan setengah berbisik pada Fadlan.
" Ck, itu aja di bikin pusing, "
"Tinggal mandi aja Bang, terus ganti deh tu baju ama celananya, " sahut Fadlan ikut berbisik-bisik.
"Ye, ni bocah,"
"Masalahnya Abang kagak bawa ganti, " ucapnya pelan sambil mengeratkan gigi.
"Bilang napa dari tadi, "
"Pake muter-muter segala, "
kata Fadlan sambil memutar bola matanya malas.
"Ye, kalo to the point malu dong ah, " ucap Rojali kembali berbisik.
Mereka berdua tidak tahu saja ada sepasang mata indah bola ping pong, yang sedang memperhatikan gestur dua lelaki beda generasi tersebut.
(Pada ngomongin apa sih, pake bisik-bisik segala, bukannya cepetan, lekasan, buruan)
"Gampang, entar Fadlan pinjemin kaen sarung, "
ucapnya sambil memperhatikan tubuh lelaki dewasa di sebelahnya.
"Kayaknya Fadlan juga ada kaos yang gede deh,"
"Muat deh kayaknya di badan Abang, paling ngepres body dikitlah," katanya sambil menyeret Rojali masuk kedalam.
"Kakaaakk...!! "
"Astagfirullah, Allahu Akbar! "
Yang mau visualnya Fatimah sama Rojali
"cung tangan"
kalo banyak nanti bakal otor pertimbangin buat ngasi visual.. hehehe
Jangan lupa like , komen dan kembang sekebon ya bebs.....
Aku zeyenk klean zemuahh💓