Kiran, seorang gadis cantik yang sederhana.
Dia tak menyangka bila pernikahannya dengan kekasih pilihannya tak berjalan baik-baik saja.
Begitu banyak lika liku yang harus dia hadapi setelah dirinya menikah dengan Dayat Saputra sang suami juga cinta pertamanya.
Ibu mertuanya yang kejam juga tak hentinya berusaha memisahkan mereka!
Akankah Kiran dapat bertahan dan mempertahankan keluarga kecilnya?
Atau akankah Kiran menyerah?
Penasaran?
Baca selengkapnya kisah mereka disini.....
.
.
Semoga kalian suka😁
Ini cerita pertama author, maaf kalo bahasa dan tanda baca masih kurang, masih proses belajar.
Mohon dukungannya yaa, jangan lupa tinggalin jejak bila kalian suka cerita ini.
Sebelumnya author berterima kasih untuk kalian yang bersedia membaca cerita ini😁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ellennola, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mas Danu?
Setelah dari 'Klik cafe', memberikan jajanan pasar yang kubeli tadi untuk Ayu dan rekanku disana, aku langsung bergegas pergi menuju cafeku yang lain untuk bertemu dengan klien yang ingin bekerjasama denganku.
Tentu sebelum pergi aku berpesan pada Ayu untuk menjaga cafe dengan baik, menghandle tamu yang datang sebaik dan seramah mungkin, agar tamu betah dan kembali makan diresto kami.
Aku juga berjanji bahwa aku akan segera kembali begitu urusanku diluar selesai kukerjakan.
"Mbak pergi dulu yah Yu, gaeeszz, kalian baik-baik disini, titip cafe sebentar yah, layani tamu sebaik dan semaksimal mungkin, mbak pergi ngga lama inih kok, nanti juga selesai urusan langsung balik kesini lagi, oke?",
ucapku seraya mengulurkan jajanan yang telah ku beli dipasar tadi.
Mereka langsung merubung saling berebut jajanan yang aku bawa.
Aku geli melihatnya.
"Jangan berebut begitu, semua jelas dapat bagian kok, mbak kan beli banyak",
aku sedikit terkekeh, tingkah mereka sungguh lucu sekali bagiku.
Dengan mulut yang masih penuh makanan mereka kompak menjawab :
"Beres mbak Ran, tenang saja, semua dijamin aman terkendali pokoknya mah"
"Mbak tak perlu khawatir, kami akan jagain cafe sebaik mungkin, apalagi mbak udah kasih penyemangat gini, makasih loh mbak udah dibeliin banyak jajan ginian, pake repot-repot segala, hehe",
ujar Ayu dan yang lain dengan begitu antusias dan senang.
"Iya-iya, yang serius yah kerjanya, nanti kalo ada apa-apa langsung kabari mbak"
"Iya mbak pokoknya beres lah",
ujar rekanku yang lainnya.
"Okelah kalo begitu, mbak percaya kalian, ya sudah, tak tinggal pergi dulu yah"
"Iya mbak Ran, hati-hati dijalan yah, moga urusannya lancar",
ucap mereka serempak.
Kuaminkan doa mereka, lalu melangkah keluar.
Aku melangkah pergi menuju sepeda motorku.
Aku memacu motorku dengan kecepatan sedang.
Tak berapa lama aku akhirnya sampai ditempat janji temuku dengan sang klien.
Rupanya klienku itu belum datang, syukurlah.
Aku pikir klienku sudah lama menungguku.
Kami berjanji bertemu disalah satu cafe milikku yang kuberi nama 'Ransa Cafe&Resto', cafeku saat ini masih lumayan sepi karna memang sekarang masih masuk pagi hari, sekarang memang baru pukul setengah sepuluhan, biasanya cafe ini selalu ramai saat sore dan juga malam hari.
Aku memilih duduk dikursi yang dekat dengan kolam ikan, sesekali aku melihat ikan-ikan berenang kesana kemari dengan riang gembira.
Sembari menunggu klienku datang, sesekali para karyawan silih berganti mengajakku mengobrol, semua karyawan memang sudah sangat mengenalku, tentu karna aku sering berkunjung kemari bersama Eri, tentu saja yang mereka tau aku hanyalah orang kepercayaan Eri.
Sebatas karyawan biasa seperti mereka, makanya begitu aku datang, mereka tak segan padaku, beberapa bahkan langsung mengajakku ngobrol, terutama para waiters meski aku tak seakrab bersama rekan di 'Klik Cafe' tempatku mengamati situasi, jadi tak banyak yang bisa diobrolkan, karna agak canggung.
Tapi aku tentu tetap memperhatikan keseluruhan karyawanku, tanpa pernah aku beda-bedakan, meski aku lebih sering berada di 'klik cafe' bersama ayu dan yang lainnya.
Mereka bertanya apakah aku sedang jadwal libur atau sengaja datang kemari atau ada keperluan yang lain, karna tak biasanya aku datang sendiri tanpa Eri bosku, disampingku.
Mereka juga sepertinya heran kalo sekedar makan disini kenapa aku juga tak datang bersama suamiku, mas Dayat.
Aku hanya berkata aku memang tengah disuruh Eri, bos mereka untuk melayani tamu pentingnya karna dia tengah sibuk mengerjakan pekerjaan lain.
"Wah hebat ya mbak Kiran, bisa jadi kepercayaan bu bos"
"Pasti enak ya mbak, punya gaji yang besar, bisa beli apapun yang mbak mau"
"Apalagi tiap ada event mbak selalu ikut serta sama bu bos, pasti bonusnya banyak mbak"
"Apalagi bu bos orang yang loyal, hehe"
kata mereka memujiku dan Eri.
"Iya alhamdulillah rejeki ngga kemana, hehe",
aku hanya menjawab sekenanya.
Mereka menawarkan padaku ingin memesan apa saja, aku hanya meminta segelas teh hangat saja dulu, tunggu klien datang baru aku memesan menu yang lain.
Mereka mengangguk mengerti.
Cuma butuh waktu sebentar, akhirnya teh hangat pesananku datang, aku langsung mengucap terima kasih pada Edi yang membawakan pesananku.
Tak lama klienku menelepon dan berkata bahwa dia akan masuk sebentar lagi, saat ini dia tengah berada diparkiran memarkirkan mobilnya.
Aku mengiyakan, kukatakan bahwa aku menunggu di meja dekat kolam ikan.
"Maaf mbak menunggu lama yah?"
"Tadi saya juga kebetulan ada sedikit keperluan, maaf ya",
sembari duduk berhadapan denganku.
Ya klienku memang seorang pria.
Aku yang tadinya menunduk akhirnya mendongakkan kepalaku.
Aku mencoba mengingat-ingat wajah pria didepanku.
Aahh, aku ingat!
Aku pernah melihat dia dari foto yang Abah tunjukan.
"Loh ini mas Danu kan? Tetangga Kiran dulu waktu kita masih kecil? Mas masih ingat Kiran ngga, anak abah Salam"
"Ngga nyangka ternyata klien Kiran rupanya mas Danu"
"Mas Danu apa kabar?", ucapku berbasa basi.
Karna sudah hampir 17th lamanya tak pernah bertemu.
Eri hanya berkata ada seseorang yang ingin ikut bergabung dalam kerjasama kami, tak memperjelas siapa orangnya.
Eri hanya memberi clue kalo dia seorang pria.
Aku tau itu mas Danu karna Abah Umi pernah sekali memperlihatkan wajah mas Danu kini setelah dia dewasa sebelum aku menikah dengan mas Dayat, karna mas Danu merupakan anak tetanggaku dulu, yang tak lain teman baik Abah.
Yang kutau orang tua mas Danu adalah orang berada, mereka menjalankan usaha properti.
Usaha mereka yang semakin maju akhirnya membuat mereka pindah rumah kedaerah perkotaan.
Sejak itu aku tak pernah lagi bertemu dengan mas Danu.
Aku dulu bahkan sampai menangis saat mas Danu berpamitan padaku.
Sejak itu aku tak tau kabarnya, meski Abah Umi sering kali bercerita mengenai keluarganya.
Hubungan Abah Umi memang sangat dekat dengan keluarga mas Danu, kuingat orang tua mas Danu juga datang saat pernikahanku kala itu.
Mereka memujiku yang katanya terlihat makin cantik saja juga sholehah, aku hanya tersenyum dan berterima kasih atas pujian yang orang tua mas Danu berikan kala itu.
Mas Danu sendiri hanya nitip kado saja, sebuah kalung yang cantik, aku sampai terkesima saat membuka kadonya.
Bahkan ada sepucuk surat kecil terselip dibawah kalungnya yang berbunyi :
"Maaf Ran, aku tak bisa datang keacara pernikahanmu dengan calon suamimu"
"Aku sungguh tengah sibuk mengurus bisnisku jadi tak sempat datang saat kamu menikah"
"Selamat menempuh hidup baru yah"
"Semoga kamu selalu diliputi kebahagiaan dalam rumah tanggamu"
"Teman masa kecilmu, Sandanu"
Bahkan mas Dayat langsung bertanya siapa Sandanu, apa dia memiliki perasaan padaku, mas Dayat pastilah heran kenapa mas Danu mesti memberiku barang mewah begitu, karna memang hadiahnya paling berbeda, lain dengan kado yang lainnya.
Aku hanya menjelaskan pada mas Dayat kala itu kalo mas Danu merupakan anak dari sahabat karib Abah, juga merupakan teman masa kecilku dulu, tapi setelah pindah rumah aku tak lagi berhubungan dengannya.
Mas Dayat pun paham dan mempercayai perkataanku. Disuruhnya aku menyimpan kalung pemberiannya dulu baru setelahnya mas Dayat menyuruhku untuk menjualnya, katanya dia cemburu melihat pria lain memberikan barang lebih mewah padaku dari barang yang mampu suamiku berikan.
Aku hanya mengangguk, tapi tak kujual, melainkan kusimpan saja hingga saat ini, karna aku menyukai modelnya.
"Hai Ran, iya mas inget kok sama kamu, malah mas kira kamu ngga bakalan inget sama mas lagi, apalagi kita sudah lama sekali tak bertemu"
"Alhamdulillah mas sehat, Kiran sendiri gimana?"
"Lama kita ngga berjumpa yah",
ujar mas Danu.
"Iya mas, hampir 17th yah kita tak bertemu, Kiran tak menyangka loh kalo mas Danu klien yang harus Kiran temui"
"Kiran baik mas, alhamdulillah"
"Mari kita bahas kerjasama kita",
kataku tak lagi berbasa basi.
Kami pun mulai membahas berbagai topik mengenai rencana kerjasama kami.
Mas Danu juga bercerita dia tengah membangun cafe baru lagi, dia bertanya pendapatku bagaimana baiknya, dia juga ingin aku ikut berinvestasi pada usaha barunya, agar kerjasama kami terus berlanjut sampai jangka panjang.
Setelah beberapa saat, akhirnya kami deal menjadi mitra usaha.
"Mas sudah makan?"
"Mau pesan menu apa? Nanti sekalian Kiran pesankan, kebetulan Kiran tadi baru minum saja",
tanyaku barangkali mas Danu lapar belum sarapan sepertiku.
"Boleh, terserah Kiran aja mau pesan apa, samain sama punya mas"
"Oke, tunggu sebentar ya mas",
ujarku, lalu mulai melambaikan tanganku memanggil Edi kembali yang tengah berjaga didekat pintu.
"Iya mbak Kiran mau pesan apa?"
"Aku pesan chicken katsu ricebowl 2, french fresh 2, sama mango jus 2"
"Oke, di tunggu sebentar tar yah", ujar Edi mencatat semua pesananku.
Lalu bergegas menuju dapur.
Disela menunggu mas Danu bertanya apa aku sudah memiliki momongan atau belum, kukatakan bahwa belum rejekiku, Alloh lebih sayang padanya.
Mas Danu mengerti, lalu berdoa semoga aku disegerakan dikasih lagi.
Mas Danu juga bercerita bahwa dia disuruh menikah oleh orangtuanya, hanya saja belum ada wanita yang cocok baginya.
Wanita yang ingin dia nikahi dan dia cintai menolak di jodoh kan dengannya dan memilih pria lain.
Aku hanya memberi suport padanya, dan berkata bahwa bila jodoh pasti tak akan kemana.
Pesananku akhirnya datang, kami lalu makan bersama.
Selesai makan aku berpamitan pada mas Danu bahwa aku harus kembali ke 'klik cafe', karna masih ada pekerjaan yang harus kukerjakan.
Mas Danu menawarkan untuk mengantarku, tapi aku menolak, kukatakan bahwa aku membawa sepeda motor.
Mas Danu maklum, dia juga ikut beranjak pergi, kami sama-sama keparkiran.
Aku kembali berpamitan padanya dan langsung meninggalkan "Ransa Cafe&Resto".
Pukul setengah dua siang aku sampai di'Klik Cafe.
Aku langsung menuju kasiran menemani Ayu disana.
Waktu terasa bergulir sangat cepat.
Sudah tiba waktunya untuk pulang saja, aku pun akhirnya kembali melajukan sepeda motorku pulang kerumah.
Sesampainya dirumah, mbak Kar mengajakku kebelakang rumah, katanya ada sesuatu yang mau mbak Kar katakan.
Keningku berkerut, apa begitu penting sampai harus sembunyi-sembunyi begini?
"Mbak Kiran, pokoknya mbak harus lebih hati-hati lagi sama Ibu, Ibu sekarang sudah mulai kelewatan"
"Tadi pagi, pas bibi mau masuk, ngga sengaja bibi liat Ibu lagi ngempesin roda mbak, sebelum nyuruh mbak kepasar"
"Bibi ngga bohong mbak, bibi liat sendiri"
Aku mengangguk, benar saja tadi pagi roda depan belakang kempes semua, rupanya ulah Ibu.
Aku hanya beristighfar banyak-banyak.
Cukup tau dulu saja.
Akupun berterima kasih pada mbak Kar.
Dan berkata bila bibi tau sesuatu untuk langsung mengatakannya padaku, kuberi beberapa lembar uang merah sebagai rasa terima kasihku karna sudah diperingatkan.
Sepertinya Ibu benar-benar sudah mulai menabuh genderang perang padaku.
Aku lalu masuk rumah seolah tak tau apa-apa.
.
.
.
.
Hai hai tolong dilike dan difavorit yah bila kalian suka part ini, atau kasih hadiah juga boleh.😂
Atas dukungannya author ucapin banyak terima kasih😁
#ngayalngarep
ini cerita.a bagus bgt tpi ndk d lanjutin sayanggg