NovelToon NovelToon
MENUNGGUMU JATUH CINTA

MENUNGGUMU JATUH CINTA

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Patahhati / Perjodohan / Tamat
Popularitas:460.5k
Nilai: 4.9
Nama Author: EmeLBy

Aku ingin menjadi satu-satunya tempat pulang yang paling kau rindukan.
Untuk kita saling merawat dan membenahi kepingan hati yang hancur karena cinta masa lalu mu.

Aku adalah satu-satunya jiwa yang bahkan tidak memperdulikan tekanan batinku sendiri demi cinta yang telah ditakdirkan untukku.

Aku akan menaklukan hatimu, melepas lelah mu, mengukir tawamu, membuang duka mu.
Hingga kita bahagia.

Kisah ini mengisahkan pengorbanan seorang istri dalam meyakinkan hati suaminya. Berperang dengan masa lalunya. Dan menerima perjodohan yang telah di atur matang oleh kedua keluarga berketurunan Ningrat.

Sanggupkah seorang Roro Dwini Hadiningrat memperjuangkan cintanya...?
Mari, ikuti kisah ku.

Terima Kasih🙏🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EmeLBy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30 : MENAMBAH CUTI

Bimo dan Dwini berada di rooftop sebuah gedung. Entah kapan Bimo melakukan pemesanan, sehingga malam itu suasana di sana begitu terlihat romantis dan mewah.

"Maafkan aku istriku" begitu bacaan yang dapat Dwini lihat dari sinar kerlap kerlip lampu yang terpasang di sana.

Dwini tidak bergeming. Kebetulan ia pun merasa lapar. Sehingga ia terlihat sibuk sendiri memotong daging steak yang telah tersaji di hadapannya. Sambil sesekali menatap indahnya kota Surabaya di waktu malam, dan memotong dengan seksama daging lunak panggang tersebut.

Sedetikpun tidak ia lemparkan pandangannya pada Bimo yang sebenarnya cari perhatian dengan istrinya yang tampak acuh padanya.

"Kamu nikmati saja pembalasan sakit hatiku mas Bimo. Terkadang cara kasar memang berguna untuk memberikan efek jera pada pria yang tidak mengerti arti sebuah pengorbanan wanita." Batin Dwini dalam hati.

Tak berselang lama, suasana romantis saat malam itupun, tidak berjalan sesuai harapan Bimo. Jangankan pujian dan ucapan terima kasih. Memandangnya pun Dwini seolah tidak sudi.

Tetapi, Bimo tidak patah arang, justru semakin ia belum mendapat maaf istrinya, ternyata justru semakin gigih ia berusaha melakukan usaha untuk mendapatkan senyum istrinya saja.

Mereka masih menginap di suite room hotel mewah itu, dan Bimo tau akan posisinya. Maka, malam itu ia kembali tidur di sofa. Seperti malam-malam sebelumnya.

Namun, sebelum ia menuju sofa. Ia mendekati Dwini. Berjongkok dan berkata : "Mbak... mas tidur di sofa ya. Mas takut khilaf lagi. Selamat malam istri cantikku sayang. Cup." Bimo mendaratkan ciuman di kening Dwini kemudian berlalu menuju sofa untuk beristirahat.

Jatuh lagi air mata Dwini. "Manis mas, mengapa semuanya berubah manis di saat hatiku terlanjur perih oleh sikapmu. Mengapa kamu tidak semanis ini, saat semuanya belum terjadi...?" Dwini menyimpan tangisnya dalam hati, ia sengaja memasukan wajahnya kedalam selimut, untuk menyembunyikan tangis penyesalannya. Ya, Dwini tidak benar-benar marah pada suaminya. Tetapi kali ini ia harus tegas, agar tidak lagi tertindas.

Pagi menjelang, suasana hati keduanya tentu lebih baik setelah keduanya dapat beristirahat dan tidur dengan nyenyak.

Cup... lagi kening Dwini di kecup sayang oleh suaminya, walau Dwini tidak bergeming untuk merespon kecupan itu.

"Pagi istri cantikku." Sapa Bimo dengan ceria.

"Mas kapan pulang ke Desa, bukannya cuti mas hanya 3 hari...?" tanya Dwini yang masih perhatian dengan pekerjaan suaminya yang tentu sulit untuk di tinggalkan, apalagi hari itu adalah hari Senin.

"Mas minta tambah cuti mbak."

"Mengapa...?" tanya Dwini sambil menyeduh Kopi untuk Bimo dan Coklat hangat untuknya.

"Karena hari ini, mas harus dapat rumah untuk istri cantik mas. Kan mba Dwi mau tinggal di sini, tentu tidak mungkin mbak terus tinggal di hotel." Jawabnya sambil menyambut secangkir kopi buatan istrinya tersebut.

"Tidak usah repot-repot, saya bisa sendiri mencarinya mas." Jawab Dwini sedikit ketus.

"Jangan...mbak itu tanggung jawabnya mas. Mbak Dwini mau rumah atau sebuah unit apartemen?" tanya Bimo sambil mengoleskan roti dengan selai coklat lalu menyodorkan untuk istrinya.

"Apartemen saja." Jawab Dwini dengan terpaksa mengambi roti yang sudah di olesi selai oleh suaminya.

"Mobil perlu...?" tanya Bimo lagi, bak menawarkan pisang goreng.

"Belum. Karena aku belum tau bekerja di mana. Bisa jadi aku hanya akan mengurung diriku saja di apartemen itu nantinya." Jawab Dwinu tanpa menatap wajah Bimo.

"Iya... terserah mbk Dwini saja. Asal hati mbak senang saja dan cepat memaafkan mas." Ucapnya yang tau istrinya adalah wanita mandiri dan dewasa.

Pukul 10 pagi, keduanya tampak sudah keluar hotel dan mulai mencari lokasi rumah juga mengecek aparteman. Bimo terlihat antusias mencari hunian untuk istrinya.

Berbeda dengan Dwini, sebenarnya ia lebih sibuk mencari lowongan untuk ia bekerja nantinya, sehingga beberapa lokasi yang Bimo tawarkan di tolaknya dengan bermacam alasan. Padahal karena lokasi tersebut tidak dekat dengan tempat-tempat yang ada yayasan sosialnya. Tempat yang mungkin saja nanti akan ia pilih untuk bekerja.

Setelah lebih dari setengah hari, akhirnya pilihan mereka jatuh pada sebuah unit Aparteman studio, sehingga kamar tidur hanya ada 1, kamar mandi 2, kithcen set, dan ruang tengah. Mungil, cocok untuk seorang jomblo.

"Bagaimana...?" tanya Bimo pada Dwini.

"Ya... oke. Dekat dengan keramaian pusat kota. Sehingga akan mudah kemana-mana." Jawab Dwini masih terdengar dingin

"Kita makan siang ya, lalu cek out dari hotel. Kemudian kita ke mall lagi."

"Ngapain, kan semalam sudah." Tolak Dwini.

"Sayang... lihat dapur itu kosong. Bahkan piring untuk kita makan saja tidak ada. Kita lengkapi sedikit perabotannya."

"Nanti saja mas, aku bisa sendiri." Dwini mulai egois. Padahal sesungguhnya ia pun kasihan pada suaminya. Apartemen itu tidak ia sewa, tetapi langsung ia beli, kebayangkan berapa nol yang geser pada rekening suaminya dalam waktu sehari.

"Mbak Dwi... pliiis jangan di tolak lagi. Tolong terima saja." Pintanya dengan memelas.

Akhirnya, Dwini pun tak berkutik, selesai makan siang yang hampir sore. Mereka tampak telah sibuk memilih segala perabotan rumah tangga layaknya suami istri yang ingin memulai hidup baru.

Hingga sore menjelang merekapun tiba di apartemen Dwini.

Dwini tampak mengeluarkan belanjaannya, mulai dari perabotan juga stok bahan makanan yang ia beli tadi. Bimo mandi dan telah menggunakan pakaian layak nya orang hendak bepergian.

"Mas, mau kemana?" taya Dwini.

"Pulang ke Desa." Jawab Bimo singkat.

"Apa mas ga capek, seharian tidak ada istirahat?" tanya dwini yang memang menyadari suaminya tidak ada istrirahat sedari pagi.

"Kenapa, mbak mau mas, tidur satu malam lagi menemani mbak malam ini?" godanya agak melupakan salahnya.

"Bukan begitu, mas ga ngantuk. Mas kan nyetir sendiri...?"

"Siapa bilang, di bawah sudah ada anak buahku yang ku minta datang, untuk menyetir untukku. Jadi mas tidur saja di jalan, agar besok bisa bekerja dalam keadan fit." Jawabnya sambil mendekati istrinya.

"Oh, syukurlah kalau begitu." Jawab Dwini mengangguk-angguk tanda setuju.

"Mbak Dwi... maafkan mas ya." Ujarnya sambil memeluk tubuh langsing istri yang mulai di cintainya itu.

"Beri aku waktu ya mas, semoga kita sama-sama bisa memperbaiki diri." Jawab Dwini melemah.

"Jangan lama-lama. Mas akan merindukan istri cantik mas ini." Bimo menggombal sambil mengecup kening istrinya.

"Mas berangkat." Pamitnya.

"Iya hati-hati di jalan." Jawab Dini sambil mencium pungung tangann suaminya.

Bagaimanapun kerasnya hati seorang Dwini, tetap lah baktinya sebagai istri yang telah melekat dalam hatinya itu akan selalu ia tunjukkan. Sudah menjadi akhlak.

Bimo tak kalah senang, walau ia tau betapa istrinya marah dengannya, tetapi menurutnya. Dalam sisi hati seorang Dwini, peluang maaf itu pasti masih ada untuknya.

Entah suka menantang atau suka tantangan namanya, sehingga Bimo merasa terpacu untuk merebut dan mendapat maaf dari istrinya.

Sungguh jika ada kata lebih dari kata menyesal, itulah yang kini ia rasakan. Betapa ia sangat menyia-nyiakan batu berlian yang telah teronggok di sebelahnya, namun ia toleh pun tidak untuk sekedar di pandang.

Semoga nasi belum menjadii bubur, sehingga pintu maaaf dan kesempatan itu masih ada untuknya.

Bersambung...

1
bunda n3
merajuk lah suamimu Dwi
Virgo Girl
Lupa niat awal ya Panda🤦‍♀️🤣
bunda n3
/Facepalm//Facepalm/
Shifa Burhan
contoh novel munafik adalah
*semua kesalahan suami diperjelas salah dan dibuat dicap kesalahan fatal dan harus dapat balasan dulu

tapi kesalahan istri malah dibenarkan dan dianggap bukan kesalahan

ini lah contoh pemikiran munafik wanita yang dibawa kedalam karya novel
Shifa Burhan
Bima dengan masalah lalu sudah dianggap kesalahan fatal

dsini dengan pria lain ketemuan, berintrkasi sebagai teman yang fakta sudah sangat keterlaluan dianggap hal biasa

emang susah kalau pemikiran wanita egois dibawa kedalam novel
bunda n3
malah Ayahnya Dwini yg peka
bunda n3
kenapa harus banting pintu segala Bu?
Virgo Girl
Hahaha.... Pak Poll klo ketemu kesayangan bs ngegombal gtu yaaa...😃😃
bunda n3
Bimo ga mau rugi
Virgo Girl
Huahahaha.... lucu banget deh... bikin reader senyam senyum, cekikika sndri kyk aku. Keren karyamu ini Kak 👍👍
Virgo Girl
Uwuuuu banget sih ahli tambang kita🤣🤣
Virgo Girl
Baru ketemu novel ini. Author lucu juga, bs tuh jajal. kontes SUCI...😃😃
bunda n3
Dwini hamidun
bunda n3
Bimo romantis juga
Virgo Girl
Pak irwan dah kayak marketing kartu kredit nihh...kejer target🤣🤣
Virgo Girl
Wadawwww.. . pak Irwan ternyata sang secret admirer Dwini🤣🤣
bunda n3
kan butuh tenaga mas Bimo
bunda n3
Hareudang
bunda n3
ternyata prank
bunda n3
Lagian Bimo juga tidak jujur dari awal, tau pernikahannya sedang tidak baik baik saja, knp tidak mengajak serta istrinya saat bertemu Renata
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!