NovelToon NovelToon
Sekretaris Kaku VS CEO Random

Sekretaris Kaku VS CEO Random

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rara_R

Raditya Baskara tahu cara mengelola bisnis mode bernilai miliaran, tapi dia sama sekali tidak tahu cara bersikap "normal". Dia adalah tipe bos yang bisa mendadak mengadakan lomba balap kursi roda di koridor kantor saat jam kerja hampir di mulai. Satu-satunya rem darurat dalam hidup Radit adalah Kirana, sekretarisnya yang super kaku dan selalu memandangnya dengan tatapan menghakimi.

​Namun, sebuah kesalahpahaman di hadapan media membuat mereka terjebak dalam rumor asmara. Demi reputasi saham perusahaan, mereka terpaksa mempertahankan sandiwara tersebut di luar jam kantor. Masalahnya, bagaimana cara menjalani hubungan pura-pura jika sang CEO selalu bertingkah ajaib, sementara sang sekretaris menanggapi gombalan romantis dengan analisis SWOT? Ini adalah kisah tentang lembur paling melelahkan, sekaligus paling membahagiakan dalam hidup Kirana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rara_R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Suasana hangat dan aroma kuah gurih di Warung Bakso Pak Kumis mendadak lenyap dari kesadaran Kirana. Suara Ibu Sofia yang mengalun dari pengeras suara ponsel Radit seolah menjelma menjadi dentang lonceng kematian bagi ketenangan yang baru beberapa menit lalu mereka rasakan.

Lima jam. Waktu yang tersisa begitu sempit, sementara lawan yang mereka hadapi kali ini bukanlah manusia yang bisa digertak dengan lencana polisi atau diancam dengan pasal pemerasan, melainkan sebuah sistem digital otomatis yang telah disetel untuk meledak tanpa kompromi.

"Bu, apa tidak ada cara untuk meretas akun email Baskoro secara paksa dari pusat data korporat?" Radit bertanya, suaranya kembali turun menjadi bariton yang dingin dan penuh kalkulasi. Dia mendorong mangkuk baksonya yang tinggal setengah ke samping, fokusnya beralih total.

"Masalahnya, Radit, Baskoro tidak menggunakan server email resmi Baskara Group," jawab Sofia dari seberang telepon, terdengar suara gemerisik kertas di latar belakang, menandakan wanita paruh baya itu juga sedang memeriksa laporan tim IT-nya. "Dia menggunakan layanan penyedia email luar negeri yang terenkripsi militer dengan peladen di Swiss. Tim IT kita sudah mencoba masuk, tapi sistem mereka mendeteksi percobaan peretasan dan langsung mengunci akses. Satu-satunya cara untuk membatalkan email terjadwal itu adalah dengan memasukkan kode verifikasi dua langkah yang dikirimkan ke ponsel pribadi Baskoro. Ponsel yang saat ini disita sebagai barang bukti di markas kepolisian".

"Kalau begitu, kita tinggal meminta pihak kepolisian untuk menyerahkan ponsel itu pada kita, atau meminta penyidik yang menanganinya untuk membuka kunci ponsel itu" sela Kirana, logikanya sebagai sekretaris utama yang terbiasa menyelesaikan birokrasi rumit langsung berjalan.

Di seberang telepon, Sofia menghela napas berat.

"Tidak semudah itu, Kirana. Begitu Baskoro ditetapkan sebagai tersangka kejahatan korporasi, semua barang bukti elektronik langsung disegel dan masuk ke dalam ruang penyimpanan khusus. Prosedur untuk membuka segel itu membutuhkan surat izin resmi dari pengadilan negeri, dan proses administrasinya memakan waktu minimal tiga hari kerja. Kita tidak punya waktu tiga hari. Kita hanya punya waktu kurang dari lima jam sebelum email itu meluncur ke meja redaksi media".

Radit mengepalkan tangannya di atas meja kayu warung bakso.

"Baskoro benar-benar sudah merencanakan ini sebagai jaring pengaman terakhirnya. Jika dia hancur, dia memastikan kita ikut hancur bersamanya".

"Betul. Ibu sedang mengusahakan jalur diplomasi dengan petinggi kepolisian, tapi kalian tahu sendiri bagaimana kaku dan ketatnya hukum mengenai barang bukti elektronik saat ini. Kalian harus memikirkan rencana cadangan jika Ibu gagal menembus birokrasi itu sebelum pukul tujuh malam. Ibu akan memberi kabar lagi dalam satu jam".

Sambungan telepon terputus. Kesunyian yang mencekam kembali menguasai meja mereka, sangat kontras dengan hiruk-pikuk suara mahasiswa yang sedang bersenda gurau di meja seberang.

Kirana menarik napas dalam-dalam, lalu kembali memakai kacamatanya yang sempat dia letakkan. Topeng profesionalnya, 'Sekretaris Robot', kembali terpasang sempurna dalam hitungan detik. Kepanikan tidak akan menyelesaikan masalah. Hanya data dan eksekusi taktis yang bisa menyelamatkan mereka saat ini.

"Radit, mari kita hitung dampak terburuknya," kata Kirana sambil mengeluarkan tablet kerjanya dari dalam tas. Jemarinya dengan cepat membuka folder analisis risiko komunikasi krisis. "Agensi media independen mana yang menjadi tujuan email Pak Baskoro? Apakah Ibu Sofia menyebutkan namanya tadi?".

Radit mengingat-ingat teks laporan singkat yang sempat dikirimkan tim IT ibunya ke ponselnya sesaat sebelum telepon tadi.

"Fakta Nusantara. Mereka terkenal sebagai media investigasi digital yang tidak bisa disuap dengan uang iklan, dan mereka memiliki reputasi menayangkan skandal eksklusif tanpa sensor. Jika draf kontrak itu mendarat di meja redaksi mereka pukul tujuh malam, berita itu akan tayang di situs utama mereka paling lambat pukul delapan malam".

Kirana mengetikkan beberapa analisis di layar tabletnya.

"Fakta Nusantara memiliki jangkauan pembaca bulanan sebesar dua puluh juta pengguna aktif. Begitu berita tentang pertunangan palsu CEO Baskara Group demi menutupi asal-usul anak koruptor ini naik, saham Baskara Holding diprediksi akan mengalami auto rejection bawah (ARB) pada pembukaan pasar hari Senin pagi. Kerugian valuasi bisa mencapai ratusan miliar rupiah hanya dalam waktu dua puluh empat jam pertama. Kita tidak bisa membiarkan email itu terkirim".

Radit bangkit dari kursi plastiknya, meletakkan beberapa lembar uang kertas di atas meja untuk membayar bakso mereka tanpa menunggu kembalian.

"Kita kembali ke kantor sekarang. Di jalan, aku akan menghubungi pengacara pribadi kita. Kita tidak bisa hanya menunggu jalur diplomasi Ibuku yang terhambat birokrasi".

Perjalanan kembali ke lantai eksekutif Baskara Group berjalan dalam keheningan yang tegang. SUV hitam yang dikemudikan Radit membelah jalanan dengan kecepatan tinggi, menyalip di antara himpitan truk dan kendaraan lain dengan presisi yang berbahaya. Di kursi penumpang, Kirana terus melakukan panggilan telepon dengan tim humas internal, menyiapkan draf pernyataan pers darurat seandainya bom waktu digital itu benar-benar meledak.

___

Pukul tiga sore. Dua jam telah berlalu sejak kabar buruk itu datang. Mereka kini berada di dalam ruang kerja CEO yang kedap suara.

Radit berdiri di depan dinding kaca, menatap pemandangan kota Jakarta yang mulai tertutup awan mendung. Di belakangnya, Kirana sibuk memeriksa arsitektur jaringan komputer kantor bersama kepala divisi IT, seorang pria berkacamata tebal bernama Roni yang tampak gemetar menghadapi aura dingin bos besarnya.

"Jadi, tidak ada celah sama sekali, Roni?" tanya Radit tanpa berbalik, suaranya terdengar seperti vonis hakim.

"M-maaf, Pak Radit," Roni menyeka keringat dingin di dahinya. "Peladen penyidik di Swiss menggunakan enkripsi zero-knowledge. Artinya, bahkan penyedia layanannya sendiri tidak bisa melihat atau membatalkan email terjadwal itu tanpa kunci enkripsi yang ada di dalam ponsel Pak Baskoro. Satu-satunya jalan keluar adalah fisik ponsel tersebut harus aktif, terhubung ke internet, dan kita menekan tombol 'batalkan pengiriman' dari dalam aplikasi resminya".

"Terima kasih, Roni. Kamu boleh keluar" sela Kirana sebelum Radit kehilangan kesabarannya dan memecat kepala IT tersebut karena frustrasi.

Setelah Roni keluar, Kirana berjalan mendekati Radit.

"Kita tidak bisa menembus peladennya, Radit. Dan kita juga tidak bisa mengambil ponsel itu dari ruang barang bukti tanpa melanggar hukum pidana pencurian. Jika kita nekat menyusup atau menggunakan orang dalam untuk mengambilnya, Pak Baskoro justru akan mendapat angin segar untuk menuntut balik kita atas manipulasi barang bukti".

Radit berbalik, matanya menyipit tajam.

"Lalu apa usulmu, Kirana? Menyerah? Membiarkan media menghancurkan apa yang sudah kita bangun selama lima tahun ini?".

"Tidak," Kirana menatap penuh Radit, matanya memancarkan ketegasan yang mutlak. "Jika kita tidak bisa menghentikan email itu dari sisi pengirim, maka kita harus menghentikannya dari sisi penerima".

Radit mengernyitkan dahi.

"Maksudmu... Fakta Nusantara?".

"Benar," Kirana mengangguk, dia menggeser layar tabletnya untuk menunjukkan profil pemilik agensi media tersebut. "Pemimpin redaksi sekaligus pemilik saham mayoritas Fakta Nusantara adalah Anwar Husada. Pria idealis, mantan jurnalis senior yang terkenal anti-korupsi. Alasan Pak Baskoro mengirimkan dokumen itu kepadanya adalah karena Baskoro tahu Anwar tidak akan bisa disuap dengan uang. Tapi Anwar Husada punya satu kelemahan".

"Apa kelemahannya?".

"Dia sangat menghargai kebenaran yang utuh," ujar Kirana dengan nada penuh penekanan. "Jika draf kontrak itu terkirim secara anonim dari akun Pak Baskoro, Anwar Husada hanya akan melihatnya sebagai sebuah skandal korporasi biasa. Tapi jika kita mendatanginya langsung sebelum pukul tujuh malam, membawa seluruh bukti konspirasi kejahatan Pak Baskoro, membawa rekaman suara Hendrawan Hartono, dan menjelaskan bahwa kontrak ini adalah bagian dari strategi kita untuk memancing para penjahat di dalam perusahaan... Anwar Husada tidak akan melihat ini sebagai skandal pertunangan palsu. Dia akan melihat ini sebagai kisah eksklusif tentang bagaimana seorang CEO muda dan sekretarisnya membongkar konspirasi busuk seorang Komisaris Senior".

Radit tertegun mendengar penjelasan Kirana. Seringai licik yang sempat hilang dari wajah tampannya perlahan-lahan kembali muncul, kali ini lebih tajam dari sebelumnya. Rencana Kirana bukan sekadar bertahan, melainkan membalikkan serangan 'counter-offensive' dengan mengubah potensi skandal menjadi berita kemenangan korporasi.

"Mengubah peluru musuh menjadi senjata kita sendiri," Radit bergumam, kepuasan terdengar jelas dalam suaranya. "Brilian, Kirana. Benar-benar brilian. Itulah mengapa aku tidak pernah bisa melepaskanmu dari posisi Sekretaris Utama".

Kirana mengabaikan pujian terselubung itu, meskipun pipinya terasa sedikit menghangat.

"Kita punya waktu dua jam sebelum jam kantor berakhir dan Anwar Husada meninggalkan meja redaksinya. Saya sudah mengatur jadwal pertemuan darurat dengan beliau atas nama Anda, Pak Radit. Pertemuan dijadwalkan pukul lima sore di kantor redaksi mereka di Jakarta Pusat".

Radit langsung meraih jasnya yang tergantung di sandaran kursi kerja.

"Apalagi yang kita tunggu? Aturan Baru Pasal 1 dibekukan untuk sisa hari ini. Kita punya sebuah agensi media yang harus kita taklukkan".

Pukul lima sore kurang sepuluh menit. SUV hitam Radit berhenti di depan sebuah gedung tua berarsitektur kolonial di kawasan Cikini, tempat markas redaksi Fakta Nusantara berada. Hujan mulai turun membasahi bumi Jakarta, menciptakan ketukan-ketukan ritmis di kaca mobil.

Radit dan Kirana melangkah masuk ke dalam gedung dengan langkah mantap. Kehadiran sang CEO muda pembawa perubahan di dunia korporat bersama sekretaris andalannya tentu saja langsung membuat ruang redaksi yang sibuk itu mendadak senyap. Para jurnalis muda di sana saling berbisik, penasaran dengan maksud kedatangan orang nomor satu di Baskara Group tersebut tanpa adanya konferensi pers resmi.

Mereka diantar masuk ke dalam sebuah ruangan kerja yang dipenuhi oleh tumpukan koran lama, buku-buku hukum, dan aroma asap rokok yang tipis. Di balik meja kayu jati tua, duduk seorang pria berusia awal enam puluhan dengan rambut beruban dan kacamata yang bertengger di ujung hidungnya. Anwar Husada.

"Pak Raditya Baskara. Dan... Nona Kirana Larasati," Anwar menyapa dengan suara serak khas perokok berat, dia bangkit berdiri untuk menjabat tangan mereka secara formal. "Suatu kehormatan sekaligus kejutan besar bagi saya saat ekretaris Anda mengatakan ada hal krusial yang menyangkut stabilitas nasional yang ingin Anda sampaikan secara eksklusif kepada media saya. Silakan duduk".

Radit dan Kirana duduk di dua kursi kayu di depan meja Anwar. Radit tidak membuang waktu untuk berbasa-basi, dia langsung meletakkan sebuah diska lepas 'flashdisk' berwarna perak di atas meja kerja sang pemimpin redaksi.

"Di dalam perangkat itu ada sebuah berita besar yang akan dikirimkan ke email redaksi Anda tepat pukul tujuh malam nanti, Pak Anwar," Radit membuka pembicaraan dengan nada suara yang tenang namun sarat akan otoritas. "Pengirimnya adalah akun anonim milik mantan Komisaris Senior kami, Baskoro, yang baru saja ditangkap polisi siang tadi".

Anwar Husada menaikkan sebelah alisnya, ketertarikan seorang jurnalis investigasi langsung terpancar dari matanya. Dia mengambil flashdisk itu, memutar-mutarnya di antara jemarinya.

"Oh? Dan dokumen apa yang begitu penting hingga seorang CEO harus mendatangi saya dua jam sebelum dokumen itu terkirim secara otomatis?".

"Sebuah draf kontrak pertunangan palsu antara saya dan Kirana Larasati" jawab Radit jujur, tanpa ada keraguan sedikit pun dalam suaranya.

Jawaban jujur yang teramat berani itu membuat Anwar Husada tertegun sejenak. Dia meletakkan kembali flashdisk tersebut, lalu menatap Radit dan Kirana bergantian dengan pandangan menyelidik yang tajam. "Jika Anda tahu dokumen itu akan merusak reputasi Anda, mengapa Anda justru mengakuinya di depan saya sekarang? Anda tahu saya tidak bisa disuap untuk menghapus berita, bukan?".

1
paijo londo
q salut sama keterusterangan Kirana tentang masa lalunya yg kelam tnpa kebohongan untuk mengatakan yg sebenarnya pada Radit itu yg membuat mereka kompak dan kerjasama mereka jadi sukses💪💪💪
paijo londo
🤔🤔q yakin pasti itu paman Radit yg pengen depak Radit dari posisi ceo
paijo londo
ternyata oh ternyata sifat random Radit menurun dari nyonya Sofia y🤭🤭
paijo londo
tuh kan Radit bos yg benar2 ajaib sifatnya🤭🤭🤭paling2 yang setress sekertarisnya karena hidupnya yg teratur jadi jungkir balik kenak mental karna Radit 🤣🤣
paijo londo
mampir thor biasanya kalo q baca novel lainnya yg bersifat ksku kayak kanebo kering tuhosnya ya🤔🤔laaa ini kebalik yg sifatnya ajaib tuh malah bosnya yg kyak kanebo kering sekertarisnya unik banget moga ceritanya seunik sifat bosnya y yang penuh keajaiban🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!