azalea menangis di sisi tubuh naima yang terbujur, kematian kakaknya menyisakan duka yang teramat dalam. matanya menatap nanar bayi merah di pangkuan kiano abang iparnya yang juga menangis tanpa suara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
empat
Azalea menatap Kiano yang menekuri makanannya dengan fokus, mereka makan dalam diam.
Azalea keheranan, mengapa Kiano mendadak mengacuhkannya. Sejak tadi pria itu lebih banyak diam, sejak pria itu mengurai pelukan mereka tadi.
"Masakanmu enak Za" puji Kiano tanpa mengalihkan perhatiannya dari piring.
"Ternyata kamu nggak bohong"
Azalea hanya tersenyum tipis, kepalanya mengangguk. "Jangan sungkan mau minta dimasakin apa yah Mas, aku akan masakin untukmu"
Pria itu mendongak, menatap Azalea sekilas dan kembali menekuri makanannya.
"Kamu nggak repot emangnya?kamu sibuk ngurusin Rara, ditambah sibuk masakin aku?"
Azalea tersenyum menggeleng, "Lagian aku nganggur mas, kitakan tinggal serumah dan anggap saja itu bayaranku akan gaji yang kamu siapkan untukku"
Kiano menatap Azalea sesaat, senyuman gadis itu menghangatkan hatinya. Ternyata walau tampilan Azalea tomboy, gadis itu sangat lembut.
"Aku tahu mas, kalau aku tidak akan bisa menggantikan mbak Naima dalam hati dan hidupmu, dan aku juga tidak berniat merebut posisinya dari hatimu. Tapi aku berharap kita bisa akur, paling tidak sebagai orangtua Rara"
Kiano tak menjawab, ia hanya mengamati Azalea. Gadis itu menatapnya lekat.
Kiano menghela nafasnya cukup berat, "Aku tahu Za, kalau kamu juga merasa terpaksa. Terima kasih mau berkorban untuk Rara"
"Mas Kian ngomong apaan sih" sungut Azalea cemberut.
"Aku tidak berkorban Mas, aku tulus. Aku menyayangi Rara, karena dia peninggalan terakhir kakakku"
"Tetap saja, Za. Makasih" ujar Kiano masih mengangguk. "Aku tak akan mengekangmu Za, jika kamu punya pacar lanjutkan saja, tapi hati-hati jangan sampai ketahuan ayah dan ibu"
Azalea mengerutkan keningnya, menatap Kiano heran. Mengapa pria ini berbicara seperti itu, seakan pernikahan mereka sebuah permainan.
"Mas Kian nggak serius kan?"
"Aku serius Za" sahut Kiano menatap Azalea lekat.
"Karena di antara kita tidak akan pernah ada cinta, aku tidak akan bisa mencintaimu"
Azalea melengos sekilas, walau dia tidak berharap ada cinta di antara mereka, entah mengapa ucapan Kiano sedikit melukai hatinya.
"Aku yakin aku tidak akan bisa mencintai lagi, seperti aku mencintai Naima"
Azalea tiba-tiba berdiri, Kiano sampai mendongak terkejut karenanya.
"Kenapa Za?"
Azalea menggeleng, tersenyum tipis. "Aku udah selesai makan Mas, aku ke kamar dulu mau buatin Rara, susu"
Azalea meninggalkan Kiano yang terdiam, mata pria itu hanya menatap sendu. Benar, ia tak bisa memberikan apapun pada Azalea, cintanya habis pada Naima.
Kiano menghela nafasnya kasar,perlahan berdiri memberesi meja makan dan membawanya ke wastafel.
Tangannya mulai mencuci piring, wajah tampannya masih terlihat sendu. Pria berusia 29 tahun itu terlihat sedih, rasa rindu dan sakit kehilangan Naima ternyata begitu menyiksanya. Sorot matanya masih menyiratkan rasa kehilangan yang begitu sakit.
Setiap malam yang ia bisa hanya memeluk pigura foto Naima yang terletak di nakas, setiap malam hanya tangis yang tertahan menyesakkan dadanya.
Kiano harus ikhlas, namun jujur rasa sakitnya sangat menyesakkan. Kiano berulangkali mengafirmasi dirinya sendiri bahwa ia sanggup, namun ternyata tidak.
"Mas.."
Kiano masih membasuh piring dengan isi kepala yang berisik,
"Mas Kiaaan"
Kiano menoleh kaget, tersentak dari lamunannya.
Wajah Azalea terlihat pias, gadis itu menggendong Rania yang rewel.
"Rara nggak mau minum susu Mas, badannya hangat"
Kiano menjatuhkan cangkir yang ada di tangannya, reflek menyentuh kening bayi mungil yang merengek itu.
"Iya Za, Rara panas. Ayo kita bawa ke rumah sakit"
Azalea mengangguk setuju, dengan lincah membawa Rania kembali ke kamar, ia ingin memakaikan bayi itu jaket.
"Biar aku yang urus Rania, kamu ganti baju dulu"
Azalea menyerahkan Rania dari pelukannya, dengan lincah ia berlari ke kamar hendak berganti pakaian sekalian menyiapkan semua perlengkapan bayi mungil itu.
Azalea tak lama, karena pada dasarnya dia bukanlah tipe gadis yang ribet dengan segala per-make-up-annya.
Malah Azalea yang menunggu Kiano di depan pintu kamar pria itu, saat Kiano keluar, ia cukup kaget.
Azalea berdiri tepat di depan pintu kamarnya dengan wajah cemas dan tangan yang penuh dengan bawaan.
"Rara aku yang gendong, atau Mas Kian?" tanyanya terburu-buru, "Atau aku yang nyetir mobil?"
"Kamu saja yang gendong Rara" ujar Kiano menyerahkan Rania yang semakin rewel.
"Oh sayang, anak Ibu" ujar Azalea menyambut Rania, dengan cepat ia mendekap bayi itu hangat, Kiano menoleh kaget ke arahnya.
"Ibu?"
Azalea yang sudah berjalan berhenti, menoleh. "Kenapa Mas?"
Kiano hampir menggeleng, namun akhirnya ia juga ikut berhenti. Menatap Azalea dengan sorot tajam.
"dulu Naima ingin dipanggil ibu, jika kami punya anak..."
Azalea menelan salivanya, melihat sorot mata pria itu, ada rasa sakit.
"Bisakah kamu mencari panggilan lain untukmu, Za!"
Azalea mengangguk,"Maaf Mas, harusnya aku ijin dulu padamu. Aku lupa kalau aku hanya ibu sambung Rania"
Azalea meninggalkan Kiano begitu saja, dia membuka pintu mobil dan duduk dengan tenang menunggu pria itu. Azalea meletakkan tas pakaian Rania ke bangku belakang.
Rasa sakit itu masih mencubit hatinya, Azalea sadar kalau dia hanyalah ibu sambung, dia juga sadar posisinya, bagi Kiano dirinya hanyalah istri bohongan.
Azalea tidak jatuh cinta, Azalea juga hanya menganggap Kiano hanyalah suami kakaknya. Namun ucapan dingin pria itu tadi sungguh menyakiti hatinya.
Azalea juga tahu jika dirinya tak seberhak itu dalam hidup Kiano, tapi tak bisakah pria itu juga mencoba memahami Azalea.
Pernikahan ini juga berat baginya, Azalea juga memiliki hidup dan keinginan, namun semua ia lupakan hanya karena Azalea tak tega melihat Kiano merawat Rania sendirian.
"Kamu tersinggung Za?" tanya Kiano sembari mengemudikan mobilnya hati-hati.
"Aku hany—"
"Nggak apa-apa Mas Kian" sambar Azalea cepat, ia sedang tak ingin membahas masalah ini.
Rengekan Rania lebih merebut fokusnya, tangannya sibuk mengusap kepala bayi itu lembut.
"Mas bisa buruan sedikit, Rara semakin rewel"
Kiano menoleh, menatap bayinya lekat. Dan dengan menambah sedikit kecepatan, Kiano fokus menatap jalanan malam.
Azalea langsung turun begitu mobil Kiano berhenti di depan UGD. Dengan langkah panjang setengah berlari, ia menuju pintu UGD yang Kiano buka lebar.
"Tolong anak saya" seru Azalea begitu seorang paramedis menyambutnya.
"Sejak Maghrib tadi nggak mau minum susu, dan sedikit rewel"
Paramedis bertubuh tambun itu mengangguk cepat, sementara Kiano yang berdiri di belakang Azalea dengan membawa tas perlengkapan Rania terlihat gugup berdiri.
"Sudah berapa hari bayi cantik ini demam, Bu?" tanya seorang wanita memakai jas dokter yang baru saja tiba dan memeriksa Rania.
Azalea terlihat berpikir, matanya berputar. "Sepertinya sejak sore tadi dok, tiba-tiba putri saya nggak mau minum susu"
Dokter cantik itu menatap Azalea dan Kiano bergantian," Apa debaynya minum susu bantu?"
Bersamaan Azalea dan Kiano mengangguk, keduanya menatap dokter itu dengan tatapan cemas.
"Kenapa susu bantu Bu?apa asi mamanya nggak lancar?"
Azalea sontak terbatuk-batuk, begitu juga Kiano. Keduanya salah tingkah dan memerah jengah.
"Usia dede bayi masih belum sebulan kan?harusnya asi mamanya masih lancar dong"
"Dok" seru Azalea menyela dokter cantik itu, kepala Azalea menggeleng pelan.
Dokter cantik itu menatap Azalea lekat, kemudian menatap Kiano yang kelihatan salah tingkah. Mulutnya terperangah sesaat tanpa mengeluarkan apapun, tetiba dokter itu mengangguk paham dan mengatupkan mulutnya.
"Baiklah Pak, Bu, biarkan kami observasi dulu yah"
Bersamaan Azalea dan Kiano mengangguk, menatap dokter cantik itu memeriksa Rania yang masih saja rewel.
Bersambung...
.