NovelToon NovelToon
Mahabbah Yang Ternoda

Mahabbah Yang Ternoda

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Perjodohan / Bad Boy
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mardzan J.

“Affan, aku ingin nafkah batin.”

“Kalau kamu menginginkannya, aku bisa mencarikan pekerjaan untukmu sebagai PSK. Dengan begitu, kamu bisa mendapatkan apa yang kamu mau.”

Hulya Anindita tidak pernah membayangkan pernikahan yang seharusnya menjadi awal kebahagiaan justru berubah menjadi neraka. Menikah dengan Affandy Frazendra tanpa pernah bertemu sebelumnya membuat Hulya harus menjalani rumah tangga dengan seorang pria yang bahkan tidak pernah menganggapnya sebagai istri.

Kebencian Affandy tidak berhenti pada sikap dingin dan pengabaian. Hulya harus menerima penghinaan, kekerasan, bahkan perlakuan kejam yang perlahan menghancurkan dirinya. Ironisnya, pernikahan itu justru terjadi atas keinginan Affandy sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mardzan J., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dibawa Pulang

Bugh!

Bugh!

Bugh!

Beberapa kali Affandy membenturkan kepalanya pada dinding toilet. Ia menyesal karena tidak lebih dulu melihat wanita yang akan dijadikan sebagai istrinya.

"Harusnya aku ketemu dulu sama dia. Sekarang aku nggak bisa ngapa-ngapain lagi. Dasar Hulya, aku akan pastikan kamu sengsara bersamaku."

"Bisa-bisanya kamu senyum sama ku."

"Aku nggak suka! Aku benci senyuman itu!"

[] [] []

Beberapa menit sudah berlalu. Para keluarga mulai khawatir karena Affandy belum datang juga.

"Panggil adik kamu tadi," bisik Fatir kepada Gerald.

Saat laki-laki itu hendak berdiri, Affandy kembali datang ke tengah-tengah semua orang. Ia duduk di samping Hulya dan memberikan senyuman palsu kepada semua orang.

"Maaf semuanya. Sudah membuat kalian menunggu."

"Gimana? Apa kamu masih gugup?" tanya Irwan.

"Enggak, Ayah."

"Kalau masih, kita pakai tulisan aja."

"Enggak usah. Andy siap kok."

Mereka tersenyum mendengar pengakuan dari pria itu. Kembali kedua laki-laki tersebut berjabat tangan untuk melangsungkan akad.

"Bismillahirrahmanirrahim ... Affandy Frazendra bin Fatir Zendra. Saya nikahkan dan kawinkan kamu dengan anak kandung saya, Hulya Anindita binti Irwan, dengan mahar uang sebesar lima ratus juta, dibayar tunai!"

"Saya terima nikah dan kawinnya Hulya Anindita binti Irwan dengan maskawin tersebut, dibayar tunai!"

"Sah?"

Irwan memandang ke seluruh sisi ruangan.

"Sah!"

Secara bersamaan, orang-orang mengatakan satu kata itu. Sekarang Affandy Frazendra dan Hulya Anindita sudah resmi menjadi sepasang suami istri. Hulya sangat bahagia. Ia tidak menyangka jodohnya adalah orang terdekatnya dulu.

"Affandy Frazendra semakin tampan saja," batin Hulya.

Saat yang dinantikan oleh semua orang pun tiba, ketika sepasang suami istri itu saling memasangkan cincin pernikahan. Tidak lupa juga Hulya mencium punggung tangan suaminya. Begitu juga dengan Affandy. Ia mengecup kening sang istri.

[] [] []

Sudah beberapa jam berlalu. Keluarga Affandy Frazendra menginap di rumah mertuanya untuk pertama kalinya karena besok pagi mereka akan segera pulang dan membawa menantu mereka.

Acara makan malam diwarnai dengan kebahagiaan dari kedua belah pihak keluarga. Hulya dan Affandy belum sempat mengobrol dari tadi karena pria itu sibuk berbicara dengan mertuanya.

"Anak kamu yang satu ini kapan nyusul?" tanya Liya.

Gerald hanya tersenyum simpul.

"Nggak tahu juga. Mungkin dia belum siap kali," ucap Maria.

"Bukan belum siap. Tapi Abang nggak punya pacar," sambung Affandy yang membuat semua orang tertawa.

"Mulai pintar ngejek, ya. Mentang-mentang udah punya istri," ucap Gerald.

"Istri apaan. Cantik juga enggak," batin Affandy sambil sekilas menatap wajah wanita itu.

"Ingat pesan Mama, ya. Harus nurut sama suami. Masak buat mertua kamu."

"Enggak usah repot-repot. Setelah kami sampai di Jakarta besok, mereka langsung pindah ke rumah mereka sendiri."

"Andy udah punya rumah?" tanya Irwan.

"Enggak, Ayah. Hadiah dari Mami sama Papi."

"Tapi kalian juga harus ingat. Kalian berdua harus cepat membalas hadiah kami itu," ujar Maria.

"Mami sama Papi mau hadiah apa?" tanya Hulya. "Nanti biar Hulya usahain."

Maria dan Fatir saling memandang. Kemudian wanita paruh baya itu kembali memandang menantunya.

"Bukan Mami sama Papi aja yang pengen hadiah itu. Tapi orang tua kamu juga."

"Maksudnya gimana?" tanya Liya kepada Maria.

"Kami mau hadiah cucu," ucap Maria sambil memandang kedua pengantin baru itu.

"Iya ... Itu hadiah yang paling tepat," sambung Liya.

"Jangan dipaksakan dulu. Mereka 'kan baru menikah," sahut Irwan.

"Lagian Hulya sama Andy kan baru ketemu. Mereka perlu mengenal lebih dalam lagi," sambung Fatir.

"Memang baru ketemu. Tapi 'kan dari dulu udah saling kenal," timpal Gerald. "Pokoknya Abang harus cepat dapat keponakan."

"Hehehe..."

Hulya hanya tersenyum mendengar perbincangan itu, sedangkan Affandy tidak. Untuk menyentuh Hulya saja ia tidak tertarik. Apalagi harus memiliki anak dari wanita itu.

Sungguh tidak mungkin!

[] [] []

Jam menunjukkan pukul sebelas malam. Kini pasangan pengantin itu sudah masuk ke dalam kamar mereka. Hulya sangat canggung berada bersama Affandy di dalam sana karena sebelumnya ia sama sekali tidak pernah berdekatan dengan laki-laki.

Masih mengenakan hijab, wanita itu duduk di samping Affandy yang sedang bermain ponsel di atas ranjang sambil bersandar pada sandaran ranjang.

"Kok aku dicuekin, sih?" batin Hulya.

Masih dalam keadaan duduk, Hulya menarik selimutnya untuk menutupi bagian kakinya. Sesekali ia menoleh ke arah suaminya yang sedang sibuk sendiri.

"Mas, Affan."

"Eummm..."

"Mas nggak tidur?" tanya Hulya.

"Belum ngantuk!"

"Jangan begadang, nanti sakit, tahu."

Affandy Frazendra menatap lekat wajah istrinya. Ia pun mematikan benda pipih itu dan meletakkannya di atas nakas. Affandy membenarkan posisinya, lalu berbaring membelakangi Hulya.

"Mas, Affan," ucap Hulya sambil menyentuh lengan suaminya.

"Apalagi?" tanya Affandy tanpa menoleh ke arah wanita itu.

"Kok tidurnya gitu?"

"Hulya! Kamu nggak perlu menunggu aku untuk menyentuh kamu. Aku lagi capek, kamu harus ngerti itu."

"Bukan ... Aku nggak bermaksud memintanya. Tapi aku mau bilang, Mas tidurnya jangan gini. Jangan membelakangi aku."

Affandy memutar badannya menghadap Hulya.

"Udah, 'kan?" Ia langsung memejamkan matanya.

"Ganteng banget," lirih Hulya.

Saat Hulya Anindita hendak membelai wajah suaminya, tiba-tiba saja mata pria itu terbuka.

"Kamu kenapa nggak tidur?" tanyanya.

"Tidur! Aku tidur sekarang."

Hulya juga ikut membaringkan tubuhnya. Ia terus saja memandangi wajah laki-laki tersebut. Tangannya terasa gatal, tidak sabar untuk menyentuh pria itu. Namun, ia tidak mau Affandy marah.

[] [] []

Menjelang pagi, Affandy Frazendra lebih dulu terbangun dari tidurnya. Ia kaget ketika mendapati dirinya sedang memeluk seorang wanita berhijab.

Bersamaan dengan itu, Hulya juga terbangun. Ia merasa malu karena ada tangan besar yang merangkul pinggangnya.

Affandy duduk dan sekilas mengucek matanya. "Kamu lupa apa yang aku bilang tadi malam? Aku lagi capek. Kamu jangan pancing aku untuk menyentuh kamu."

"Kan kamu yang meluk aku," ucap Hulya.

Affandy memasang raut wajah datar. "Aku mau ke kamar mandi. Kalau kamu mau ikut salat, kamu siap-siap."

Laki-laki itu berlalu pergi. Hulya merasa sangat bahagia. Untuk pertama kalinya ia salat bersama Affandy dan laki-laki itu menjadi imamnya.

[] [] []

Affandy dan keluarganya berpamitan kepada kedua orang tua Hulya. Suasana hatinya sungguh tidak baik saat ini karena wanita yang ia inginkan tidak sesuai dengan ekspektasinya.

"Mama, Ayah. Andy pulang dulu, ya."

"Jagain anak Mama, ya. Dia satu-satunya putri kami," ucap Liya.

Laki-laki itu hanya tersenyum simpul.

"Kalau kamu lagi nggak kerja, datang ke sini, bawa Hulya," sambung Irwan.

"Iya, Ayah."

"Liya, kami pulang dulu. Kamu nggak usah khawatir. Hulya akan baik-baik aja," ucap Maria.

"Hulya akan kami anggap sebagai anak kami sendiri," sambung Fatir.

"Jangan bandel. Turutin kata suami."

"Iya, Ayah."

Hulya Anindita tidak rela harus secepat itu berpisah dengan kedua orang tuanya. Ia masih belum bisa berjauhan dengan orang-orang yang menyayangi dirinya.

Hulya sangat berharap jika Affandy, laki-laki yang baru beberapa jam menjadi suaminya itu, bisa mencintai dirinya seperti kedua orang tuanya mencintainya.

1
azzura faradiva
Thor..., please pemain perempuannya jgn di bikin lemah/menye².harus ambil sikap tegas menghadapi suami durjana macam dia,cerai aja udah!!!!
Mardzan J.: sabar sabar, baru juga beberapa part
total 1 replies
Tamirah
Kok ada suami model gini jadi istrinya kok yo betah,mbok ya minta cerai aja
Mardzan J.: sabar, nanti juga ada waktunya.
total 1 replies
azzura faradiva
kasih karma tu laki biar pedangnya karatan(impoten) biar ga banyak tingkah
Mardzan J.: sabar lho🤣🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!