NovelToon NovelToon
Mas Abi Dan Dua Anak Bandelnya

Mas Abi Dan Dua Anak Bandelnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Duda / Diam-Diam Cinta
Popularitas:14.2k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

"Mas Akball itu mobilan Aqil balikin ngga!" teriak sebuah suara cempreng dari arah ruang tengah.

"Bukan! Ini punya Mas Akbar! Kemarin Aqil udah main yang warna merah, sekarang Mas yang biru!" balas Akbar

Sejak perceraiannya tiga tahun lalu, Abi memang mantap untuk tidak mempekerjakan ART. Ia ingin merawat dan membesarkan kedua buah hatinya dengan tangannya sendiri, meski statusnya sebagai duda beranak dua sering kali menguras energi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4

"Minum dulu air hangatnya," titah Bu Marni seraya meletakkan dua gelas teh.

Kedua bocah itu langsung meminumnya nurut, tidak berani banyak bertingkah di depan sang nenek.

Abi keluar dari arah dapur membawa satu mangkuk besar sup ayam dan piring-piring plastik. Ia mendudukkan diri di lantai, berseberangan dengan ibunya.

"Nih, makan dulu. Biar badannya ndak kedinginan lagi," ujar Abi lembut, menyendokkan nasi dan kuah sup hangat ke piring Akbar dan Aqil.

"Mas masih kedinginan, Mas?" tanya Bu Marni pada Akbar.

Akbar menggeleng cepat. "Nggak, Nenek. Sudah hangat... supnya enak."

"Aqil juga ndak dingin lagi, Nenek!" sahut Aqil bersemangat, mulutnya sudah belepotan kuah sup. "Burung Aqil juga sudah ndak hangat... eh, ndak dingin!"

Pfft. Abi yang baru saja menyendok nasi ke mulutnya mendadak tersedak hebat. Ia terbatuk-batuk sampai wajahnya memerah, bergegas meraih gelas air putih di sampingnya.

Bu Marni menatap anaknya penuh curiga, lalu beralih menatap si bungsu. "Burung apa toh, Aqil? Siapa yang ngomong gitu?"

Aqil menunjuk ayahnya polos dengan sendok plastik. "Tadi pas di motor, Aqil bilang sama Ayah kalau burungnya Aqil kedinginan ditiup angin. Terus kata Ayah mau dimarahin Nenek..."

Mata Bu Marni seketika melotot, pandangannya beralih menembus Abi yang sedang berpura-pura sibuk mengunyah nasi.

"Abimanyu!" panggil Bu Marni tajam.

"Apa, Bu? Kan Abi ndak ngapa-ngapain," sahut Abi membela diri dengan wajah tanpa dosa. "Wong emang Aqil sendiri yang celetuk di jalan..."

"Ya kamu itu! Anak-anak cuma pakai celana dalam basah diajak naik motor jalanan desa, ya jelas kedinginan! Harusnya kemeja kamu yang dilepas, dipakai buat mungkus badan mereka, bukannya malah dibiarin angin-anginan!" omel Bu Marni.

"Aduh, Bu... sakit," ringis Abi sambil mengusap lengannya. "Baju Abi juga basah kena lumpur tadi pas nangkep mereka. Kalau dipakai malah tambah kedinginan anak-anak."

Akbar melirik ayahnya yang baru saja dimarahi, lalu berbisik pelan ke arah Aqil. "Kan... kata Ayah apa, Nenek galak kalau dimarahin."

"Mas Akbar! Nenek dengar ya!" seru Bu Marni, yang seketika membuat Akbar langsung menutup mulutnya rapat-rapat dan pura-pura sibuk mengunyah wortel.

......................

Di atas kasur busa yang terbentang lebar, pertengkaran kecil kembali pecah di antara dua jagoan kecil Abi.

"Akbar duluan yang di sebelah kanan Ayah! Kiri itu tempatnya Aqil!" seru Akbar sambil berusaha menarik selimut.

"Ndak mau! Aqil mau di kanan Ayah juga! Di kanan ada Ayah, di kiri ndak ada siapa-siapa, takut!" balas Aqil tidak mau kalah. Bocah tiga tahun itu ngotot mendorong bahu kakaknya agar bergeser.

"Ya kan kanan Akbar, Aqil di kiri! Muka Aqil hadap ke Ayah aja biar ndak takut!" Akbar melipat tangannya di dada.

"Ndak mau, mau di kanan! Ayah, Mas Akbar nakal!" jerit Aqil mulai merengek, matanya sudah berkaca-kaca siap meledakkan tangisan malam.

Abi yang baru saja selesai menutup pintu dapur dan hendak merebahkan badan, melangkah masuk ke kamar sambil menghela napas panjang. Wajah lelahnya terlihat makin pasrah melihat kedua anaknya yang saling tarik ujung bantal.

"Aduh... ada apa lagi ini? Sudah malam, kok malah pada ribut?" tanya Abi seraya mendudukkan diri di pinggir kasur.

"Ini, Yah! Aqil rewel mau di sebelah kanan Ayah terus!" adu Akbar.

"Aqil mau dekat Ayah!" sahut Aqil tak mau kalah sambil memeluk paha Abi erat-erat.

Abi menggelengkan kepala. Tanpa membuang waktu, ia menggeser tubuhnya tepat ke tengah-tengah kasur, membelah pertikaian dua saudara itu.

"Sudah, sudah. Biar fair, Ayah tidur di tengah," pukas Abi tegas. Ia membaringkan badannya, lalu menarik Akbar ke sisi kanannya dan merangkul Aqil di sisi kirinya. "Mas Akbar di kanan, Aqil di kiri. Beres, kan?"

"Tapi Aqil mau di kanan, Yah..." cicit Aqil masih cemberut sambil memanyunkan bibirnya.

"Mas Akbar juga mau meluk tangan kanan Ayah!" imbuh Akbar, masih mencoba mengulur tangan menyeberangi dada Abi.

Kedua bocah itu mulai bergeliat, bergerak ke sana kemari mencoba menyeberang dan berebut posisi, membuat kasur berderit dan suasana kamar tetap gaduh. Abi memejamkan mata sejenak, mengumpulkan sisa kesabarannya yang sudah tipis setelah seharian bekerja di sawah dan memandikan mereka.

"Masih mau ribut terus?" suara Abi mendadak berubah tenang tapi berbobot tajam.

Akbar dan Aqil seketika menghentikan pergerakan mereka.

Abi mengacak rambutnya sendiri hingga berantakan, lalu bangkit duduk tegak di atas kasur. Ia menatap kedua putranya bergantian dengan wajah serius yang dibuat-buat.

"Kalau belum mau diam dan masih berebut terus, ya sudah. Besok kita semua pindah ke rumah kita yang satunya lagi," ujar Abi.

"Nanti kalian tidur sendiri-sendiri di kamar masing-masing. Rumah yang ini kita jual saja. Gimana?"

Seketika itu juga, keheningan mencekat kamar tersebut.

Mata bulat Aqil membelalak panik. "Ndak mau! Ndak mau dijual, Yah!" jeritnya kaget, langsung menubruk dada Abi dan memeluk leher sang ayah erat-erat seolah tak mau dilepaskan. "Aqil ndak mau tidur sendiri!"

Akbar tak kalah panik. Ia ikut memeluk pinggang Abi dari samping dengan raut wajah takut luar biasa. "Jangan dijual, Ayah! Akbar mau tidur sama Ayah sama Aqil di sini! Akbar diam, Akbar janji ndak berebut lagi!"

"Beneran? Ndak mau dijual rumahnya?" tanya Abi.

"Ndak mau, Ayah! Ndak boleh dijual!" sahut Aqil hampir menangis di ceruk leher Abi.

"Ya sudah. Makanya kalau dibilangin Ayah itu nurut. Sekarang meram, tidur," titah Abi lembut seraya kembali merebahkan badannya, melingkarkan kedua lengan kekarnya untuk merangkul erat tubuh kecil Akbar dan Aqil di kanan dan kirinya.

Napas Akbar dan Aqil terdengar makin teratur dan halus. Tubuh mungil mereka yang hangat menempel erat di kedua sisi tubuh Abi, seolah takut jika sewaktu-waktu sang ayah benar-benar menghilang.

Abi tersenyum tipis dalam kegelapan. Perlahan dan sangat hati-hati, ia melepas rangkulan lengannya dari tubuh kedua putranya, meletakkan bantal guling di sisi mereka agar tetap merasa hangat dan terlindungi. Setelah memastikan Akbar dan Aqil tidak terbangun, Abi bangkit berdiri pelan-pelan tanpa menimbulkan suara.

Ia melangkah keluar dari kamar, menutup pintunya dengan sangat perlahan hingga berbunyi klak kecil.

Abi berjalan menuju teras depan, membuka pintu kayu panggung lalu mendudukkan diri di anak tangga teratas.

Angin malam desa berembus cukup dingin, membawa aroma tanah basah dan desir daun kelapa. Abi merogoh saku celananya, mengeluarkan sebungkus rokok kretek dan sebuah korek api kayu.

Crek.

Nyalakan api kecil menerangi separuh wajah tegasnya selama beberapa detik sebelum akhirnya padam. Suara hisapan halus terdengar saat ujung rokok itu menyala kemerahan. Abi mengepulkan asap tipis ke udara malam, membiarkan gulungan asap itu menghilang perlahan dibawa angin.

Abi bukan perokok berat. Ia sangat jarang menyentuh batang tembakau itu biasanya hanya pada momen-momen tertentu, seperti malam ini, ketika lelah di tubuh dan benaknya bertemu di satu titik sunyi.

Mengasuh dua anak sendirian di usia 29 tahun tentu bukan hal yang mudah. Ada kalanya ia merasa kelelahan yang luar biasa. Namun, melihat dua pasang mata polos yang sangat bergantung padanya, rasa lelah itu selalu berganti menjadi hangat yang tak terelakkan.

Abi menghisap rokoknya sekali lagi, meresapi keheningan malam desa sebelum akhirnya bersiap memadamkan puntungnya dan kembali masuk menemani kedua buah hatinya tidur.

1
Fitri Yah
hahahaa .. iso ae ni mas abi 😄
Lisa
Cocok banget nih Abi & Kayla 👍👍😊
D_wiwied
wehehe mas Abi dah mulai berani ya,, godain Kayla terus tuh sampe merah merona wajahnya 😁😆
D_wiwied: masih malu2 tuh mereka
total 2 replies
D_wiwied
sudah tau pas-pas an aja masih kami kejar Din, ga ada harga diri banget sih, gatau diri jg ya kamu
D_wiwied
cieee mas duda senyum2 sendiri pasti keinget kejadian tadi di pematang sawah ya kaaan, awas ati2 lho mas bentar lg bakal muncul benih2 ikan eeh benih2 cinta 😆🤣🤣
D_wiwied
wehh ternyata mas duda bisa bercanda jg ya, malah godain kayla.. gek dibantuin mas jangan digodain terus 😆😂
D_wiwied
kakak Kayla panutan, mas Akbar aja bs nurut.. pertanyaannya kamu dah siap blm Kay seandainya jd ibu mereka 😆😁
Lisa
Abi ini Kayla jatuh malah digodain sih..
Fitri Yah
hahahhaa ...
Fitri Yah
good bi .... hempaskan wanita itu jauh2 👍👍
D_wiwied
jangan2 si mantan nih
D_wiwied
ya ampun kenapa ada bawang dimatakuuu 😭😭😭
Lisa
Mantan istrinya Abi ini seenaknya aj mau mengambil Akbar & Akil..jelas aj Abi g mengijinkan..
D_wiwied
cieee yg khawatir, lupa deh kalo lg ngambek 😆😆
D_wiwied
wkwkwk pengen ketawa liat kelakuan anak2 nya mas Abi tp ntar si Aqil mlh nangis kenceng lagi 😆😆🤣🤣🤣
Sartini 02
bagus jalan ceritanya, sering2 up ya
Lisa
Cpt sembuh y Akil..
Fitri Yah
jadi sediihh bacanya /Sweat/
falea sezi
lanjut cpet nikah sat set
Tang Bin
jodoh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!