Kehidupan yang tidak mudah harus aku jalani. Aku Nisya. wanita usia 29 tahun, seorang Ibu dari 3 orang anak. Awal pernikahan hidup kami baik-baik saja dengan ekonomi yang cukup. namun, setelah tiga tahun menikah dan gaji suami ku jauh lebih besar di banding sebelumnya, ia mulai berubah. Mabuk, judi hingga perselingkuhan mewarnai rumah tangga kami. Bahkan uang bulanan yang biasanya lebih dari cukup itu kini berubah menjadi serpihan kenangan. Ya.. Suamiku, Gani. Kini memberikan nafkah kepada kami dengan asal-asalan, bahkan tak jarang ia justru memberikan makian disaat aku meminta hak kami.
"Kerja kalau mau uang tuh, kerjaannya minta terus. Kamu gak tau kan kalau kerja itu capek, kamu taunya hanya minta saja!" selalu kata itu yang terucap.
Mulai dari situ, hidupku aku rubah. Aku tak ingin lagi berleha-leha. aku ingin merubah hidupku bagaimana pun caranya.
Mari ikuti kisah perjalanan aku mengubah hidupku kali ini😊
Fb : Adivahalwahasanah
Ig : @Adivahasanah
Tt : A.H Hasanah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amie.H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
Satu bulan, dua bulan, hingga akhirnya kami sudah enam bulan menempati rumah itu. Tibalah saat dimana liburan tiba. Dirumah, keluarga suami sudah datang untuk berlibur. Awalnya aku tidak keberatan, tapi semakin hari mereka semakin terlihat semena-mena padaku dan juga anak-anakku. Bahkan Mas Gani sama sekali tidak ada niat membela kami di depan keluarganya.
"Bun... Ibu hari ini minta di masakin rendang daging sapi ya..." kata Mas Gani padaku yang tengah mencuci piring di wastafel.
"Boleh... Mana uangnya, mumpung masih pagi dan anak-anak juga belum bangun biar aku beli kepasar dagingnya" kataku menadah tangah pada Mas Gani.
"Uang? Emang uang di kamu habis?" tanyanya membuatku menyeritkan kening.
"Uang di aku? Mas, kamu tau kan berapa sisa uang gaji kamu beberapa bulan ini. Bahkan aku udah pakai untuk belanja satu minggu ke depan seperti biasanya, kana rencananya minggu depan aku mau ke rumah mama. Tapi karna keluarga kamu datang, belanjaan aku yang harusnya untuk satu minggu itu habis dalam waktu tiga hari Mas. Sekarang kamu bilang Ibu minta di buatkan rendang dan kamu menanyakan uang di aku? Mas, kamu yang bener aja dong" kataku dengan wajah tak enak pada Mas Gani.
"Yaampun Bun... Mereka kan jarang loh kesini, masa kesini pas liburan aja mau makan rendang gak kamu buatin!" jawabnya membuatku menghela nafas.
"Bukan aku ngga mau buatin Mas, tadi kan aku udah minta uangnya sama kamu untuk beli daging. Mana sini, biar aku beli dagingnya dan aku buatin redang buat Ibu kamu. Kalau pakai uang aku, maaf aja aku gak bisa. Aku rasa sayang uang ratusan ribu hanya untuk bikin rendang satu kali makan, kamu pikir dengan adanya keluarga kamu yang banyak itu cukup buat rendang hanya satu kilo?" kataku dengan nada kesal.
"Kok kamu jadi perhitungan gitu sih. yang cari uang itu aku loh yang datang kerumah ini juga keluarga aku, Ibu aku loh mertua kamu!! Jangan suka perhitungan sama keluarga sendiri!" kata Mas Gani.
"Aku bicara apa adanya Mas, kamu tau sendiri kalau kita aja menghemat. Aku bahkan menekan pengeluaran kita dengan memberikan anak-anak protein dengan bahan-bahan yang murah, bahkan kita bisa makan daging aja hanya setengah kilo perbulan untuk kita bertiga. Tapi kamu seenaknya aja bicara begitu sama aku, udahlah aku malas bicara sama kamu. Kalau kamu mau aku masakkan rendang untuk keluargamu, silahkan beli daging dan bumbunya. Aku tidak akan mengeluarkan uang untuk hal yang sia-sia, toh nanti juga aku dengan Adila nggak akan kebagian makan rendang seperti lauk-lauk yang biasanya!" kataku yang langsung meninggalkan Mas Gani.
"Apa maksud kamu?" tanyanya menangkap tanganku yang hendak meninggalkannya didapur.
"Apa maksud aku? Kamu ternyata beberapa hari ini benar-benar pura-pura buta ya Mas. kamu tau, Aku bahkan Dila sama sekali gak pernah makan satu tempat dengan kalian. Apa kamu gak pernah engeh kalau setiap kalian makan aku dan Dila nggak pernah ada?" tanyaku pada Mas Gani yang terdiam terlihat berfikir.
"Bukannya kalian udah makan duluan? Ibu bilang kalian udah makan sebelumnya" kata Mas Gani membuatku tersenyum kecut.
"Makan duluan? Bagaimana mungkin aku makan duluan sementara semua lauk ada didepan kalian, bahkan setelah masak aku membangunkan kamu dan juga mandi. Aku keluar kamar bersama Adila saat kalian sudah selesai makan, piring berantakan bahkan lauk pun sudah habis. Apa kamu mikir apa yang aku dan Adila makan? Nggak, kamu justru langsung pergi kerja dan membiarkan aku membereskan sisa makanan itu sendiri. Sendiri Mas!" kataku dengan wajah emosi.
"Tapi... Kak Rika bilang dia yang akan beresin semua bekas makan itu!" kata Mas Gani. Aku berdecih sinis.
"Apa kamu liat kalau kakak kamu itu yang beresin semuanya? Ini aja kamu bangun lebih pagi, kamu liat apa mereka semua yang tergeletak di ruang tamu itu sudah bangun? Mas, Mas jangan naif dengan melihat kesalahan mereka tapi kamu limpahkan ke aku!" kataku memandang Mas Gani dengan tatapan tajam.
"Terus permintaan Ibu....."
"Aku nggak peduli. Hari ini kamu off kan? Silahkan hari ini kamu yang mikir untuk makan mereka, karna semua bahan masakan di kulkas sudah habis bahkan sampai kebagian frozen karna setiap hari mereka mengemil makanan itu! Ohya... Hari ini aku mau kerumah Mama sampai masa liburan habis!" kataku yang langsung menepis tangan Mas Gani dan meninggalkannya menuju kamar. Aku membereskan pakaian milikku dan juga anak-anak kedalam koper kecil yang sudah aku siapkan jauh hari.
"Kalau ngga ada kamu, siapa yang akan buatkan mereka makanan disini Bun?" tanya Mas Gani yang tiba-tiba sudah berada di dalam kamar.
"Kamu lah! Aku bukan pembantu keluargamu Mas, sudah cukup tiga hari mereka semena-mena sama aku dirumahku sendiri. Satu lagi, selama aku pergi kerumah Mama kamar akan aku kunci begitu juga kamar Adila!" kataku membuat Mas Gani membelalakan mata.
"Kenapa begitu? Kamu nggak percaya ada mereka dirumah ini?" tanya Mas Gani. Aku tersenyum sinis.
"Iya.. Bukan hanya nggak percaya tapi juga nggak suka dengan tingkah mereka yang kurang ajar. Mereka memang tamu, seharusnya mereka tau diri tidak mengobrak abrik apa yang bukan milik mereka terutama keponakan kamu itu yang nggak bisa di atur!" kataku tegas pada Mas Gani.
"Kenapa sih harus pake kaya gitu, dirumah ini kan nggak ada apa-apa juga!" katanya. Aku memutar bola mata malas.
"Dirumah ini memang nggak ada apa-apanya, tapi aku nggak suka saat aku pulang nanti kamar terlihat beratakan apalagi semua yang aku susun ini berubah dari tempatnya!" kataku. Mengingat Ibu mertua yang sedari dulu selalu mengomentari tataan dirumah ku yang sebelumnya.
"Terus nanti aku tidur dimana dong? Kamar Adila nggak usah di kunci lah, nanti aku biar tidur disana!" kata Mas Gani.
"Nggak bisa, apalagi kamar Adila. Yang ada nanti mainan kesukaannya hilang dibawa keponakan kamu!" kataku dengan tegas. Mas Gani menghembuskan nafas kasar.
"Pikirkan lah lagi Bun... Apa kata mereka kalau kamu pergi kerumah mama disaat mereka masih ada dirumah, seolah kaya mengusir mereka secara halus. Lagian aku ngga ada di rumah setiap hari karna harus kerja, nanti bagaimana dengan makan mereka" kata Mas Gani.
"Itu urusan kamu dan juga mereka, aku nggak peduli. Toh beberapa hari ini juga mereka nggak peduli aku dan anakku makan apa setelah masakanku mereka habiskan, masa aku juga yang harus repot memikirkan mereka makan apa dirumah ini." kataku dengan nada kesal.
"Kamu keterlaluan bun.. Aku udah berusaha bicara baik-baik malah kamu tetep kekeh dengan keputusan kamu itu, yasudahlah terserah kamu. Kamu emang nggak pernah suka sama keluarga aku!" kata Mas Gani yang langsung keluar dari kamar.
"Gimana mau respek sama keluarganya kalau tingkahnya aja begitu, belum lagi kata-katanya yang merendahkan aku. Kamu pikir aku akan diam aja kaya dulu Mas, oh tidak. Aku nggak akan diam aja setelah diinjak-injak sama mereka!" kataku bergumam sambil menyelesaikan perkerjaanku.
setelah semua selesai, aku membangunkan Adila di kamarnya.
"Kakak, bangun yuk kita ke rumah Uti!" kataku membangunkan Adila dengan pelan.
"Ke rumah Uti? Sekarang bun, emang Oma sama yang lainnya udah pulang?" tanyanya sambil mengucek kedua matanya.
"Belum, tapi nggak apa-apalah kita tinggal kerumah Uti aja. Lagian ada Ayah dirumah hari ini" kataku yang langsung di angguki oleh Adila.
Ia pun bangun keluar kamar dan menuju kamar mandi, aku membereskan kasur Adila dan beberapa tatanan barang agar lebih rapi. Setelah semua selesai aku keluar kamar itu, tak lupa aku mengunci pintu kamar dan mencabut kuncinya.
"Bun... Bajunya dimana? Kok kamar kakak di kunci?" tanya Adila yang sudah selesai mandi dan memakai handuk.
"Ayok di kamar Bunda.. Habis ini bunda juga mau mandiin Adik Hawa, biar kita cepet pergi kerumah Uti sebelum mereka bangun. Kita sarapan dirumah Uti aja nggak apa-apa kan kak?" tanyaku yang langsung di angguki Adila.
"Nggak apa-apa bun.. Tapi, apa Ayah nggak ikut kerumah Uti bun?"
Bersambungg
*****
Hayoo hayooo... Konfliknya udah mulai keluar nih, ada yang punya pengalaman diginiin nggak sama keluarga suami dikehidupan nyata. Kalau ada share yaa ke outhor, jangan lupa DM yaaa... Like, komen, vote dan share yaa🙏😊🥰