NovelToon NovelToon
Bos Galak Jadi Papa

Bos Galak Jadi Papa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Single Mom / Pernikahan rahasia / Pernikahan Kilat / CEO / Romansa
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: uutami

"Lu ngapain tidur di samping gue?"

Gimana jadinya, kalau tiba-tiba bos mu yang galak kebangun di samping kamu tidur? Nggak kebayang, kan? Mana malah disalahpahami sama warga dan dikira udah berbuat mesum. itulah yang terjadi sama Galuh. Seorang single Mom yang berjuang untuk bertahan hidup. Yuk baca...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 4

BAB 4

Galuh berlari tergesa menuju ruang guru. Satu tangannya memegang sepatu yang talinya sudah putus, kakinya melangkah tidak beraturan. Napasnya memburu begitu masuk ke ruangan itu.

"Arkan!"

Matanya langsung mencari sosok putranya. Arkan duduk di sudut ruangan dengan wajah tertunduk. Ada lebam samar di pipi kanannya. Di hadapannya duduk seorang anak laki-laki lain yang wajahnya jauh lebih parah, memar di mana-mana dan bibirnya berdarah. Di samping anak itu duduk seorang wanita yang wajahnya merah padam menahan amarah.

"Bu Galuh," sapa wali kelas pelan.

Galuh langsung berlutut di depan Arkan.

"Arkan... kenapa? Apa yang terjadi?"

Arkan mendongak, matanya berkaca-kaca namun tak ada air mata yang jatuh.

"Teman-teman bilang Arkan tidak punya Ayah, Bu..."

Galuh mengusap pipi anaknya dengan lembut.

"Terus?"

"Arkan bilang Arkan punya Ayah. Tapi mereka tertawa. Lalu Adit mendorong Arkan. Jadi, aku pukul saja dia."

Wanita di samping Adit langsung menegakkan badan.

"Jadi begitu cara didik anakmu? Berani sekali memukul orang sampai begini!"

Galuh menoleh tenang.

"Saya tidak mengajarkan memukul duluan, Bu. Tapi saya mengajarkan anak saya untuk membela diri."

"Dihina apa? Anak saya cuma bicara jujur!"

"Bicara jujur tidak perlu diikuti dengan dorongan dan ejekan jahat."

"Cih, orang miskin memang gampang tersinggung," cemooh ibu Adit sambil melipat tangan di dada. "Minta maaf sekarang. Atau kau akan dapat masalah. Aku tidak akan diam saja anakku diperlakukan seperti ini!"

"Saya tidak akan menyuruh anak saya minta maaf jika dia tidak bersalah," tegas Galuh.

"Kamu ini!" Ibu Adit bangkit berdiri, tangannya terangkat seolah hendak menampar.

Suasana mendadak tegang. Wali kelas berusaha menahan.

"Bu... tenang dulu Bu..."

"Siapa yang bilang dia tidak punya Ayah?"

Suara berat dan dalam tiba-tiba terdengar dari ambang pintu. Semua orang serentak menoleh.

Galuh terbelalak.

Ranu berdiri tegak di sana, tatapannya tajam menyapu seluruh ruangan. Langkah kakinya mantap mendekat. Jantung Galuh berdegup kencang. Ia tak menyangka pria itu akan menyusul ke sini.

"Ayah!"

Arkan langsung melompat turun dari kursinya. Ia berlari kecil menuju Ranu dan memeluk erat kaki pria itu. Wajahnya langsung berseri-seri.

Ranu berjongkok sebentar, mengusap kepala Arkan sekilas, lalu mengangkat tubuh mungil itu ke dalam gendongannya. Ia berdiri kembali, menatap tajam ke arah ibu Adit yang masih terbelalak.

"Saya Ayahnya."

Ibu Adit mundur selangkah, tertegun melihat wibawa yang terpancar dari pria asing itu.

"Dan saya lihat tadi tangan Ibu hampir menyentuh istri saya?" lanjut Ranu dingin. "Coba saja kalau sampai menyentuh seujung rambutnya. Saya pastikan kalian akan saya seret ke jalur hukum sampai tidak bisa berbuat apa-apa lagi."

Suaranya rendah namun penuh ancaman yang tak bisa dianggap remeh.

"Kami... kami hanya menuntut keadilan," sahut ayah Adit yang sejak tadi diam akhirnya bersuara. "Anak Bapak memukul anak kami sampai begini."

"Anak berkelahi itu hal biasa," jawab Ranu tenang. "Nanti mereka juga akan rukun kembali dan bermain bersama. Tapi bagaimana dengan alasan mereka berkelahi? Apakah Bapak sadar anak Bapak menghina status keluarga kami dan melakukan perundungan duluan?"

Ayah Adit terdiam.

"Arkan hanya membela diri," lanjut Ranu tegas. "Kenapa yang disalahkan selalu korban? Jika Adit meminta maaf karena telah menghina dan mendorong Arkan, maka Arkan pun akan meminta maaf karena telah membalas pukulan. Adil, bukan?"

Wali kelas mengangguk setuju.

"Itu benar sekali, Pak."

Ibu Adit masih tampak tak terima. "Tapi..."

"Tidak ada tapi-tapi," potong Ranu. "Atau kita luruskan di kantor polisi sekarang juga?"

Melihat ketegasan Ranu, akhirnya ayah Adit menarik napas panjang. Ia menatap putranya.

"Adit... minta maaf."

Adit menunduk takut. "Maaf ya Kan... aku tidak seharusnya bicara begitu."

Arkan menoleh ke arah Ranu. Ranu mengangguk pelan.

"Arkan juga minta maaf ya Dit. Arkan tidak seharusnya memukul sekeras itu. Tapi jangan bilang aku tidak punya Ayah lagi."

Adit mengangguk. "Iya. Kita main lagi ya besok."

"Iya!"

Suasana yang tadinya panas perlahan mereda. Ranu melangkah keluar membawa Arkan dalam gendongannya, diikuti oleh Galuh yang masih diam seribu bahasa.

Sesampainya di dalam mobil, Arkan terus tersenyum lebar tak henti-hentinya. Ia memeluk leher Ranu erat sekali.

"Ayah datang! Ayah tahu saja Arkan sedih!"

Ranu menatap ke luar jendela. "Kebetulan saja lewat."

"Tapi Ayah hebat sekali. Tadi Ayah berani sekali bicara pada mereka."

Ranu sedikit tersenyum tipis. "Ayah bangga sama Arkan. Arkan berani melawan orang yang salah. Ayah senang Arkan tidak lari ketakutan."

Arkan tersipu malu namun wajahnya makin berseri. "Benarkah Ayah bangga?"

"Iya. Bahkan Arkan berani membalas lebih keras. Bagus."

Galuh hanya diam menatap mereka dari kursi penumpang depan. Hatinya berdesir aneh. Di kantor pria ini begitu dingin, galak, dan menyebalkan. Namun di sini, walau kata-katanya masih singkat dan tatapannya masih kaku, ada kehangatan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.

Mobil berhenti di depan rumah panggung itu. Bu Burhan sudah menunggu di beranda dengan wajah cemas. Begitu melihat Arkan digendong Ranu, wajahnya langsung lega.

"Ranu... Galuh... apa tidak ada apa-apa?"

"Tidak ada apa-apa, Bu. Arkan baik-baik saja," jawab Ranu menyerahkan Arkan kepada neneknya.

"Terima kasih. Terima kasih sudah datang," ucap Bu Burhan tulus.

Ranu hanya mengangguk singkat. "Kita harus kembali ke kantor, Galuh. Masih banyak pekerjaan yang belum selesai."

Galuh menatap sedih ke arah ibunya. "Iya, Pak."

Perjalanan kembali ke kota terasa panjang. Galuh menghela napas pelan. "Dari sini ke kantor butuh waktu hampir dua jam, Pak."

"Itu konsekuensi pilihanmu," jawab Ranu datar. "Kau yang memutuskan pulang saat jam kerja."

Galuh membalikkan badan, menatap ke luar jendela dengan wajah cemberut. Ia tak berani membantah lagi.

Matahari sudah mulai terbenam saat mereka tiba kembali di gedung perkantoran. Hanya ada mereka berdua yang tersisa di ruangan itu. Keheningan menyelimuti. Ranu sibuk dengan tumpukan berkasnya, Galuh mengetik dengan teliti di meja kerjanya. Kadang suara kertas yang bergesekan terdengar, kadang suara ketikan keyboard memecah sunyi. Tidak ada percakapan. Namun entah mengapa rasa canggung tadi siang perlahan menghilang.

****

"Apa? tadi Ranu ke sini?"

"Iya, pak. Sama Galuh sama Arkan juga."

Pak Burhan menoleh ke arah Galuh yang baru pulang. "Benar, begitu?"

"Iya, pak."

"Terus?"

"Ya udah."

"Udah? Dia tidak menunggu bapak? Dia tidak mengatakan apapun? Bagaimana kamu bisa ketemu Ranu lagi?"

Galuh menghela napasnya. Entah, haruskah dia cerita pada orang tuanya jika suami dadakannya ini adalah bosnya sendiri?

"Haaahh, Galuh." Pak Burhan merasa sedih. "Bapak tau kalian menikah dengan cara seperti ini, tapi... Bukankah sebaiknya pernikahan ini jelas mau dibawa ke mana?"

Galuh menunduk, mengigit bibirnya.

"Kamu ada nomornya?"

Galuh langsung mengangkat kepalanya.

"Berikan nomor nya ke bapak. Bapak mau bicara sama dia."

"Pak..."

Tapi wajah pak Burhan benar-benar tak bisa dibantah. Galuh tak tahu harus bagaimana lagi. Dengan terpaksa dia memberikan nomor Ranu.

"Halo? Assalamualaikum."

Galuh diam, meremas tangannya di pangkuan.

"Besok pagi, datanglah ke rumah. Ada yang mau bapak katakan padamu, Ranu."

Galuh menutup matanya, pikirannya sudah kemana-mana. Bagaimana jika Ranu marah? Bagaimana jika dia nanti malah dipecat? Bagaimana dia akan menghidupi Arkan nanti?

"Ohh... Ya Tuhan..."

Semalaman, Galuh tak bisa tidur.

Keesokan paginya, Ranu benar-benar datang. Galuh sendiri yang membukakan pintu. Wajah Ranu sangat tidak ramah, membuat Galuh menunduk. Tak berani menatap. Ia hanya mengisyaratkan Ranu masuk.

"Sudah datang?"

Pak Burhan baru keluar dari dalam.

"Galuh, buatkan minum."

Galuh mengangguk. Lalu masuk lebih ke dalam. Tepat saat itu Arkan keluar, baru selesai mandi.

"Ayah!?" serunya senang. Dia langsung mendekat dan memeluk Ranu.

"Arkan! Cepat pakai baju. Nanti terlambat ke sekolah," kata pak Burhan.

"Yah... Arkan mau sama Ayah," ucap bocah itu dengan wajah cemberut yang menggemaskan.

"Arkan!" panggil Galuh.

Arkan masuk lagi dengan lemas.

"Silahkan duduk," ucap Pak Burhan.

Ranu duduk.

"Apa kamu tau kenapa bapak memintamu kemari?"

Ranu diam.

"Ini tentang pernikahan kalian. Apa rencanamu?"

1
ᴍɪᴍɪ💋🅢🅐🅛🅢🅐🅑🅘🅛🅐👻ᴸᴷ
karyawan julid bukannya kerja malah ghibahin istri bosnya pula minta dihempaskan ke planet Mars kyaknya klo tau faktanya bakal nyesel tuhh mereka🤣
𝐈𝐬𝐭𝐲
Ranu omes...🤣🤣🤣
Sri Wahyuni
gaassss juga kak up nya😍
Cinta_manis: siap kak. tunggu ya🙏😍
total 1 replies
Sri Wahyuni
wah sudah dapat lampu Hijau....gasss Ranu 🤣
Cinta_manis: iya, tuh 🤭
total 1 replies
delis armelia
kirain udh mau gol gawang
Cinta_manis: 🤭🤭🤭 nanti ya kak
total 1 replies
Sastri Dalila
😅😅
Cinta_manis: makasih komennya kak🙏
total 1 replies
𝐈𝐬𝐭𝐲
pasangan yg bikin gemes🤣🤣
eh malah bumer udah minta mantunya cepetan hamil, ayo di gas ranu jgan kelamaan 😂😂
Cinta_manis: 🤭🤭🤭 iya tuh
total 1 replies
imel
pelan pelan Buu🤣🤣🤭
Sastri Dalila
🤣🤣🤣
delis armelia
ayo ranu gol gawang
ᴍɪᴍɪ💋🅢🅐🅛🅢🅐🅑🅘🅛🅐👻ᴸᴷ
Wkwkwk mama Anggun langsung gercep to the point suruh bikin Galuh hamil setelah dijulidin mamanya Cindy emang bener sih harus buktikan ya Ma kalo anak Mama bibitnya premium sekali semburrr langsung jadi kembar nnti🥳
Kiki Sugiarti
bagus ceritanya saya suka
Cinta_manis: makasih kaka bintang 5nya😍
total 1 replies
sutiasih kasih
up banyak" thor
Cinta_manis: 😭😭😭tunggu ya kak. next time dicoba🙏
total 1 replies
𝐈𝐬𝐭𝐲
lanjuut thor ceritanya bagus bgt aku suka..😍
Cinta_manis: makasih kak😍🙏
total 1 replies
sutiasih kasih
lanjutkan thor....
double up
Cinta_manis: heheh, tunggu ya, kak. doblenya🙏
total 1 replies
sutiasih kasih
ap g makin klepek" nntinya si Ranu.... dpt istri hatinya baiknya g ktulungan...
Cinta_manis: makasih komennya kak😍
total 1 replies
Sastri Dalila
👍👍
Cinta_manis: makasih kk🙏
total 1 replies
Rahma Lia
lanjut kesini setelah Yuda,,
Sastri Dalila
👍👍👍
Cinta_manis: cihuy! makasih bintang 5nya kak😍🫰
total 1 replies
Sastri Dalila
🤣🤣
Cinta_manis: kena juga si Ranu 🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!