Lima orang tewas dalam malam yang sama.
Setelah perang berdarah antara dua klan mafia terbesar—Dark Blood dan Darkness—pecah, semuanya berubah menjadi neraka. Dark Blood, klan yang dipimpin Anneta, jatuh ke tangan Joe, pemimpin Darkness yang terkenal kejam dan haus kekuasaan. Di malam kehancuran itu,
Anneta mati tertembak panah.
Sahabat sekaligus inti Dark Blood, Naura dan Viona dibunuh tanpa ampun. Sementara Luna dan Leo, saudara kembar yang koma, tewas terbakar di rumah sakit.
Dunia menganggap kisah mereka telah berakhir. Tapi ternyata… kematian bukanlah akhir.
Kelimanya terbangun di tubuh orang lain—anak-anak SMA yang hidupnya sangat kacau. Mereka hidup kembali dengan wajah baru, nama baru, namun dengan masa lalu yang belum selesai.
Akankah mereka mampu melanjutkan kehidupan di tubuh baru mereka? Yuk baca kisahnya agar tidak penasaran!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nongnong , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TERBONGKAR
"Iya, benar. Dia yang nyelamatin gue."
"..."
"Aleta yang bebasin gue dari makhluk itu dan bawa gue keluar dari sungai."
Untuk pertama kalinya sejak bertemu kembali, ekspresi Viana berubah menjadi kosong. Otaknya seperti berhenti bekerja.
'Tunggu! Apa? Aleta? Nyelamatin Aura? Pasti ada maunya nih.'
Pak Kades mengusap wajahnya pelan. Sementara beberapa warga mulai terlihat bingung.
Dan Aleta, untuk pertama kalinya sejak muncul dari balik semak-semak, gadis itu akhirnya membuka mulut.
"Udah selesaikan teriak-teriaknya? Boleh gue bicara sekarang?"
"Silakan."
"Gue belum sempat jelasin semuanya," ujar Aleta datar. "Sebenarnya gue sama Aura bisa sampai di sini karena dikejar seekor ular yang ukurannya cukup besar."
Beberapa warga langsung saling pandang.
"Ular?"
"Ular apa?"
Belum sempat Aleta menjawab—
Kresek!
Kresek!
Suara semak-semak kembali terdengar. Kali ini jauh lebih keras dari sebelumnya. Seluruh warga langsung menoleh ke sumber suara. Jantung mereka berdegup kencang.
Kresek!
Deg!
Dari balik semak-semak, seekor ular putih perlahan muncul. Tubuhnya sangat besar. Sisiknya berwarna putih pucat dan berkilau terkena cahaya sore. Lidah bercabangnya menjulur keluar beberapa kali sambil menatap ke arah rombongan warga. Beberapa orang langsung mundur ketakutan.
"Itu..."
"Sial!"
"Ular putih!"
"Apa kita bunuh saja?" tanya salah seorang warga panik.
"Jangan!"
Pak Kades dan Viana menjawab hampir bersamaan. Keduanya saling menatap. Pak Kades tampak terkejut mendengar jawaban Viana yang bisa kompak dengannya, begitu pula Viana.
"Kenapa?" tanya salah satu warga lainnya.
"Dia penjaga hutan ini," ucap Pak Kades dan Viana lagi-lagi bersamaan.
"Lalu bagaimana?" tanya warga lain.
Pak Kades segera mengalihkan pandangannya ke arah ular tersebut. Wajahnya berubah serius.
"Lari!"
Tanpa menunggu perintah kedua, seluruh warga langsung berhamburan.
"Ayo!"
"Cepat!"
Aura yang masih terlihat lemah segera ditarik oleh Aleta.
"Jangan sampai tertinggal!" ucap Aleta memperingatkan.
Mereka semua berlari menjauh dari lokasi itu. Namun beberapa detik kemudian, Aleta menyadari sesuatu. Ia langsung menoleh ke belakang. Mata gadis itu langsung membelalak saat melihat Viana yang masih berdiri di tempatnya.
"Viana!" panggilnya.
Seolah tak mendengar, Viana bahkan tidak bergerak sedikit pun. Sementara ular putih itu perlahan mendekatinya.
"Viana, lo ngapain?!" teriak Aleta lagi.
Mendengar teriakan itu, warga yang sedang berlari ikut menoleh. Satu per satu langkah mereka melambat. Mereka terkejut melihat Viana masih berada di sana. Bahkan kini jarak antara dirinya dan ular putih itu hanya tinggal beberapa meter.
Namun anehnya...
Viana sama sekali tidak terlihat ketakutan. Tatapannya justru tertuju lurus pada sang ular, seolah sedang menunggunya. Ular putih itu terus mendekat hingga akhirnya berhenti tepat di hadapannya.
"Viana!" teriak Aura lemah.
Ssshhh...
Desisan panjang keluar dari mulut sang ular, kepalanya terangkat tinggi, hingga jarak wajah mereka kini hanya beberapa sentimeter. Beberapa warga bahkan menutup mata mereka. Mereka yakin ular itu akan menyerang. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Perlahan, ular putih tersebut menundukkan kepalanya. Seolah memberi penghormatan.
Dengan tenang, Viana mengulurkan tangannya. Usapan lembut mendarat di kepala sang ular. Ular itu tidak melawan, ia justru bergerak mengitari tubuh Viana dengan anggun. Tubuhnya yang besar melingkar di sekitar gadis itu tanpa sedikit pun melilit atau menyakitinya. Pemandangan itu membuat semua orang tercengang.
"Mustahil..."
"Aku tidak percaya dengan apa yang kulihat..."
Bukan hanya warganya, bahkan Pak Kades pun tampak terkejut. Beberapa saat kemudian, ular putih itu melepaskan lingkarannya. Ia kembali menatap Viana sesaat sebelum akhirnya berbalik dan menghilang ke dalam hutan. Semua mata lalu tertuju pada Viana yang akhirnya berjalan ke arah mereka.
"Bagaimana kau melakukannya?" tanya salah seorang warga. Viana menggaruk tengkuknya pelan.
"Aku pawang ular."
"Apa?!"
"Kau bercanda?"
"Aku serius."
Pak Kades menatapnya lekat-lekat. Sementara itu, Aura dan Aleta saling bertukar pandang. Mereka berdua jelas merasakan kejanggalan yang sama. Sejauh yang Aura tahu, Viana tidak pernah berinteraksi dengan ular. Bahkan gadis itu biasanya akan berteriak histeris hanya karena melihat cicak.
Lalu sejak kapan ia menjadi pawang ular?
Namun tak satu pun dari mereka mengutarakan kecurigaannya. Perjalanan pulang pun dilanjutkan. Sepanjang jalan, suasana terasa jauh lebih tenang dibanding sebelumnya. Meski begitu, Aura terus memperhatikan Aleta diam-diam.
Entah kenapa gadis itu juga terasa berbeda. Saat itulah sesuatu menarik perhatiannya. Seekor kupu-kupu hitam terbang melintas. Lalu seekor lagi. Dan satu lagi.
Mata Aura membelalak saat menyadari kupu-kupu itu tidak terbang sembarangan. Mereka mengikuti Aleta, bahkan beberapa di antaranya terus berputar mengelilingi gadis itu sepanjang perjalanan. Aleta tampaknya juga menyadari hal tersebut.
"Mereka keliatan suka banget ama lo," celetuk Viana yang berada di belakang keduanya.
"Gue juga suka mereka," jawab Aleta sambil tersenyum tipis. Tangannya terangkat perlahan, membiarkan seekor kupu-kupu hinggap di ujung jarinya. Kupu-kupu itu mengepakkan sayapnya pelan.
Entah kenapa, pemandangan ini terlihat begitu alami. Seolah kupu-kupu itu memang mengenalnya. Mata Aura bergantian menatap Aleta dan kupu-kupu yang terus mengelilinginya.
'Aneh. Seingat gue, Aleta ga pernah suka kupu-kupu. Dia benci serangga. Dia juga pernah berteriak kesal karena ada kupu-kupu yang hinggap di rambutnya saat kegiatan sekolah. Tapi sekarang... kenapa tatapannya kelihatan lembut banget pas natap kupu-kupu itu.'
Sementara itu, Aleta tampak menyadari tatapan Aura. Ia mengulurkan satu jari dan membiarkan kupu-kupu itu berpindah ke punggung tangannya, lalu menatap balik Aura.
"Kenapa lo natap gue kayak gitu?" tanya Aleta.
Aura menggeleng cepat, membuat Aleta tersenyum tipis melihat nya. Pemandangan itu membuat Aura membeku sesaat.
'Senyuman itu... rasanya familiar.'
Aura merasa seolah ia pernah melihatnya di wajah seseorang. Namun ia tidak ingat milik siapa.
...****************...
Setelah makan malam sederhana bersama keluarga Pak Kades, mereka duduk di ruang tamu. Pak Kades yang sejak tadi diam akhirnya membuka pembicaraan.
"Viana."
"Ya, Pak?"
Pria itu menatapnya serius.
"Sebenarnya bagaimana kau bisa tahu bahwa ular putih itu adalah penjaga hutan?"
Aura dan Aleta langsung ikut menoleh. Mereka juga penasaran dengan jawabannya.
"Aku indigo," jawab Viana dengan santai.
Lia yang sedang meminum teh tiba-tiba tersedak.
"Uhuuk... Uhukk... Hah?"
"Maksudku, aku bisa melihat dan merasakan hal-hal yang tidak bisa dilihat orang biasa. Tapi, kemampuan ku masih belum cukup baik. Aku masih belum bisa membedakan yang mana manusia asli dan bukan."
Pak Kades menatapnya cukup lama. Entah percaya atau tidak.
"Bukankah ular itu memang penjaga hutan itu sejak dulu?" tanya Viana pada Pak Kades.
Pak Kades mengangguk sebagai jawaban. Setelah itu, mereka kembali mengobrol di ruang tamu. Pak Kades dan Lia sesekali ikut menanggapi cerita mereka. Tanpa disadari, waktu terus berlalu hingga malam semakin larut.
Melihat ketiga gadis itu kelelahan, Lia akhirnya mempersilakan mereka beristirahat di kamar putrinya yang sedang kuliah di luar kota.
Kamar itu cukup luas untuk ditempati bertiga. Begitu pintu tertutup, suasana langsung berubah. Aura yang sedang merapikan selimut mendadak merasakan hawa tidak enak. Sementara Viana baru saja duduk di tepi tempat tidur. Di hadapan mereka, Aleta berdiri sambil menatap Viana tanpa berkedip.
Deg!
Viana langsung menelan ludah.
'Jangan-jangan... dia mau bully kita lagi?'
Secara refleks, Viana merapatkan kedua bibirnya. Ia bahkan sudah menyiapkan berbagai kemungkinan di kepalanya. Namun beberapa detik kemudian, Aleta akhirnya membuka suara.
"Sejak kapan lo jadi indigo dan pawang ular?"
Deg!
Pertanyaan itu membuat tubuh Viana menegang. Tatapan Aleta terlalu tajam. Seolah sedang menginterogasinya. Alih-alih menjawab, Viana justru menyipitkan matanya.
"Sejak kapan lo suka kupu-kupu?" tanya Viana. Kini giliran Aleta yang terdiam.
"Lo belum jawab pertanyaan gue," ucap Aleta dingin.
"Lo juga."
Aura yang melihat keduanya saling menatap langsung menghela napas panjang.
"Gue ngerasa kalian berdua sangat mencurigakan."
"Lo juga mencurigakan," sahut Viana.
"Gue?" Aura menunjuk dirinya sendiri.
"Iya."
"Kenapa?" tanya Aura.
"Lo nanya kita kayak polisi."
"Tapi lo juga bertingkah kayak orang yang lagi nyembunyiin sesuatu," ucap Aleta sambil menunjuk Viana.
"Stop!" Aura langsung mengangkat kedua tangannya. "Gue pusing."
Aleta dan Viana akhirnya menoleh ke arah Aura yang menatap keduanya bergantian.
"Jawab satu pertanyaan gue."
"Apa?" tanya Viana.
"Sekarang tahun berapa?" tanya Aura.
"2008."
"2008."
Jawaban kompak itu langsung keluar dari mulut Aleta dan Viana secara bersamaan.
"Salah," ucap Aura datar, membuat kening keduanya langsung berkerut.
"Bukannya emang 2008 ya?" tanya Viana.
"Lihat kalender." Aura menunjuk ke arah dinding kamar. Aleta dan Viana refleks menoleh. Mata keduanya langsung tertuju pada kalender yang tergantung tidak jauh dari jendela.
"2026!" seru keduanya.
"Kenapa kaget?" tanya Aura heran. Sementara Viana masih menatap kalender itu dengan tatapan tak percaya.
"Ini serius tahun 2026?" tanyanya sekali lagi.
Aura mengangguk.
"Kalau nggak percaya, tanya aja langsung sama pemilik rumah."
Viana perlahan duduk kembali di tepi Pikirannya benar-benar sibuk saat ini.
'2026? Itu artinya... Gue terlahir kembali bukan hanya di tubuh yang berbeda. Tapi juga di masa depan!'
Jantung Viana berdegup semakin cepat.
'Kalau memang delapan belas tahun udah berlalu... Trus apa yang terjadi pada dunia yang gue tinggalin? Dark Blood gimana?Darkness gimana? Apa cuma gue yang ngalamin hal ini? Atau ada orang lain yang ikut terlahir kembali?'
Perlahan, Viana mengangkat kepalanya. Tatapannya langsung bertemu dengan Aura.
"Jawab jujur! Siapa kalian berdua sebenarnya?" tuntut Aura tegas.
Deg!
"Apa maksud lo, Au...?"
"Gue udah ngerasa aneh dengan sikap kalian yang berbeda dari biasanya. Mulai dari Viana yang tiba-tiba ngaku indigo. Bukannya lo sendiri yang bilang kalau cuma gue yang boleh tahu soal itu? Lo gak mau orang lain sampai tau karena takut dijauhi atau dimanfaatkan."
Deg!
"Gue lupa..."
'Ingatan pemilik tubuh ini memang buruk.' gerutu Viana dalam hati.
"Gue nggak percaya sama lo. Kedua, Aleta makan kelopak bunga langka di hutan," lanjut Aura.
Deg!
"Lo tahu?" tanya Aleta sedikit terkejut.
"Hmm..." Aura mengangguk pelan. "Sekarang jujur! Gue janji nggak bakal marah."
Hening.
Viana dan Aleta saling pandang. Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara. Hingga akhirnya Viana menghela napas panjang.
"Kalau Gue bilang yang sebenarnya, lo mungkin nggak akan percaya."
"Coba aja," ucap Aura. Viana menatap Aura lekat-lekat sebelum memulai.
"Sebenarnya... Gue adalah Viona. Gue pernah mati di tahun 2008 dan hidup kembali di tubuh asing ini di tahun 2026. Gue dulunya seorang anggota Mafia. Gue mati karena peperangan antara dua klan. Hanya itu yang bisa gue bilang. Gue harap ini bisa jadi rahasia kita bertiga."
Deg!
Aura membeku.
"Sejak kapan..."
"Saat Gue nolong lo, sebelum kita berdua terjatuh ke dalam sungai terlarang," jawab Viana.
"Gue tahu kedengarannya gila, tapi itu kenyataannya," lanjut Viana lagi.
"Jadi... lo Viona..." lirih Aura
"Maaf..."
Hap!
Tanpa aba-aba, Aura langsung memeluk Viana erat membuat gadis itu terkejut.
"Au?"
"Vi... Ini gue... Naura."
Deg!
Seketika mata Viana membelalak. Ia buru-buru melepaskan pelukan mereka untuk melihat wajah Aura.
"Se-serius?"
Aura mengangguk mantap. "Gue berada di tubuh ini setelah gue pingsan."
Beberapa detik kemudian, Viana langsung memeluknya lagi.
"Nauraaa!"
"Viooo!"
Keduanya berpelukan sambil tertawa dan hampir menangis di saat yang bersamaan.
"Wait." Viana tiba-tiba melepaskan pelukan itu dan menoleh ke arah Aleta.
"Jangan bilang..." Ia menunjuk wajah Aleta. "Lo Anneta?"
Viana memicingkan matanya curiga. Sementara Aleta hanya memutar bola matanya malas.
"Bukan."
"Hah? Serius?" tanya Aura sedikit terkejut.
"Kalau bukan Anneta, lalu siapa yang punya kepribadian seaneh itu?" tanya Viana.
"Kepribadian aneh?" ulang Aura bingung.
"Iya kan cuma Anneta yang suka makan kelopak bunga aneh? Cuma Anneta juga yang sering didekati kupu-kupu."
"Gue makan kelopak bunga karena penasaran rasanya, bukan karena gue aneh," balas Aleta datar. "Dan kupu-kupu itu datang karena nyium wangi parfum mahal gue."
Aura mengangguk setuju.
"Ada benarnya juga. Parfum Aleta emang langka dan mahal. Kalau ga salah, cuma ada lima botol di dunia."
Viana menoleh.
"Lo ingat sedetail itu, Au?"
"Iya. Emangnya lo nggak ingat? Dulu Aleta pernah pamer ke satu sekolah."
Viana menggeleng.
"Gue nggak ingat."
"Gue juga nggak," sahut Aleta.
Aura terdiam sejenak.
"Ingatan pemilik tubuh ini nggak lengkap, bikin kesal aja," gerutu Viana.
"Wait! Kalau lo juga ga ingat, berarti lo sama kayak kita berdua dong. Jadi siapa lo sebenarnya?" tanya Viana pada Aleta.
Aleta menyandarkan tubuhnya ke sandaran ranjang.
"Anneta."
"Anneta?" ulang Viana bingung. "Maksud lo Anneta teman—"
"Ya, memang Anneta pemimpin kalian, dodol."
"..."
"..."
"APA?!" Teriak Viana nyaring hingga menggema di seluruh kamar.
Plak!
"Aduh!" Viana terkejut sekaligus kesakitan saat Aura tiba-tiba memukul bahunya.
"Kecilin suara lo, orang rumah udah tidur."
"Kok nyalahin gue? Aleta sih lama banget ngakunya!" ucap Viana kesal.
"Salah sendiri tadi bilang gini..."
"Jangan bilang..." ucap Aleta meniru suara Viana.
"Ya... Ya... Teman kalian yang satu ini selalu salah," ucap Viana mengalah.
mana dipanggil honey lagi /Doge/