Diantha dan Althaf saling mengenal dan menjadi sahabat di bangku SMA..
di sekolah, mereka benar benar tidak terpisahkan, bahkan satu sekolah mengira mereka pacaran.
sebenarnya mereka sama sama memiliki perasaan cinta, hanya saja , mereka sepakat untuk selalu menjadi sahabat dan tidak akan pernah pacaran, agar persahabatan mereka langgeng..
Sayangnya Diantha tidak sanggup untuk menahan perasaannya lagi hingga membuat jarak di antara meraka..
bagaimana kisah Diantha dan Althaf dalam cinta yang rumit dan persahabatan yang ingin di jaga..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liana29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masa Orientasi
Kringgggggg!....
Bel panjang yang dinanti-nanti akhirnya berbunyi, memotong jalannya kegiatan tepat setelah absen terakhir selesai.
"Baiklah, anak-anak, materi orientasi kita tunda dulu. Sekarang waktunya istirahat selama tiga puluh menit. Silakan beristirahat dan saling mengenal lebih dekat," tutup Pak Gunawan sambil tersenyum lalu melangkah keluar kelas.
Begitu punggung Pak Gunawan menghilang di balik pintu, kelas yang tadinya hening langsung pecah oleh keriuhan. Kursi-kursi beritme seret, disusul suara tawa dan derap langkah kaki yang terburu-buru menuju kantin.
Di tengah hiruk-pikuk itu, Diantha berpura-pura sibuk merapikan buku tulisnya, padahal fokusnya sama sekali tidak ada di sana.
Perlahan, matanya bergerak, mencuri pandang ke arah barisan meja di dekat jendela—tempat Althaf duduk.
Deg..
Jantung Diantha serasa melompat. Althaf tidak sedang mengobrol dengan teman sebangkunya, tidak juga bersiap ke kantin.
Cowok itu justru sedang menopang dagu dengan satu tangan, menatap lurus ke arah Diantha.
Bukannya memalingkan wajah karena tertangkap basah, Althaf malah menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan maksud menggoda. Matanya yang jenaka seolah berkata, “Ketahuan ya, dari tadi ngeliatin?”
Pipi Diantha terasa panas..
Ia buru-buru menunduk, merutuki kecerobohannya sendiri. Aduh, kok bisa ketahuan, sih? batinnya panik
Ia pun berpura-pura sangat tertarik pada kotak pulpennya.
Namun, kepanikan Diantha belum selesai. Dari sudut matanya, ia melihat bayangan seseorang bergerak mendekat. Langkah kaki itu terdengar santai, melewati deretan bangku yang mulai kosong karena ditinggal penghuninya ke kantin.
Tap..Tap.. Tap..
Langkah itu berhenti tepat di samping meja Diantha.
"Hai, Nggak ke kantin?"
Suara berat itu membuat Diantha mendongak..
Althaf sudah berdiri di sana, memasukkan satu tangannya ke saku celana abu-abunya.
Senyum menyebalkan , tapi harus diakui, sangat manis , masih betah bertengger di bibirnya.
"E-eh? Nggak, belum lapar," jawab Diantha agak gugup, berusaha keras menjaga suaranya agar tetap terdengar biasa saja.
Althaf menarik kursi kosong di sebelah Diantha tanpa permisi, lalu duduk menyamping menghadapnya.
"Bagus deh. Berarti gue nggak perlu rebutan kursi sama orang lain buat kenalan sama lo." kata-katanya seperti seorang playboy sejati.
Diantha mengerutkan kening, mencoba bersikap defensif untuk menutupi rasa salah tingkahnya.
"Kan tadi pas absen udah tahu nama masing-masing." ucap Diantha yang masih belum berani menatap lama teman barunya itu
"Itu kan versi formalnya Pak Gunawan," sahut Althaf santai, tubuhnya sedikit condong ke depan. "Kalau yang ini versi gue. Lagian..." Althaf menggantung kalimatnya sengaja, matanya menyipit jenaka.
"...daripada ngeliatin dari jauh terus, mending ngobrol langsung dari dekat begini kan? Nggak capek apa matanya lirik-lirik sembunyi?"
" Aduuhh" batin Diantha..
rasanya ingin menghilang ke bawah meja saat itu juga. Ternyata dugaannya benar, Althaf tahu dari tadi dia sedang mencuri pandang!
" tapi kan dia duluan yang menarik perhatian dengan senyum senyum saat aku masuk kelas " seru Diantha dalam hati..
"ekhm.. Siapa juga yang lirik-lirik? Geer banget," elak Diantha sambil memalingkan muka, meski rona merah di pipinya sama sekali tidak bisa menyembunyikan kebenaran.
Althaf terkekeh pelan, suara tawa yang terdengar renyah di telinga Diantha. "Oke, oke, anggap aja gue yang salah lihat. Jadi, salam kenal ya, Diantha," ucapnya tulus, mengulurkan tangan kanan di depan meja Diantha, menunggu sambutan hangat yang akan memulai cerita mereka di sekolah baru ini.