Sebuah kerajaan terbesar punya misi menangkap semua petarung liar untuk kedamaian. Namun semua perguruan seni bertarung pedang menolaknya. Karena mereka tahu kalau kerajaan ingin mengatur masyarakat dengan menguasai sumber daya.
Sepasang pendekar pedang ini menjadi penyelamat untuk melawan sebuah kerajaan besar. Mereka melakukan perjalanan bersama untuk mengumpulkan rahasia teknik pedang tersembunyi dan dua pedang Sakti.
Pedang Zen Xi di Desa Win, lalu pedang Zoi Chu di Desa Hon. Namun mereka harus melewati rintangan dan tempat untuk bisa sampai di tujuan. Lalu mereka kembali untuk mengalahkan Kerajaan Sinpor.
Setelah masalah Kerajaan Sinpor selesai, kisah cinta mereka berdua sempat mendapatkan penolakan dari orang tua perempuan, karena perbedaan kelas sosial. Namun mereka berdua punya cara agar mereka berdua bisa menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Firdaus Rangkuti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Musuh Datang
"Firasat buruk." Rio melihat api unggun, lalu Jinsin diam melihatnya berdiri penuh tegang.
"Sebaiknya kita pergi." Mereka bersiap mengemasi perbekalan. Saat Rio ingin mematikan api unggun memakai pasir, musuh berdatangan berdiri mengepung mereka berdua dari segala arah.
"Sial, kita terlambat." Rio melempar tumpukan pasir, lalu berlari di depan api unggun.
"Bagaimana ini, musuh mengepung." Jinsin melengketkan punggung Rio sambil berbisik.
"Tenang, kita akan lawan." Rio mulai menghitung jumlah musuh berdiri mengelilingi mereka.
"Macam bisa saja kau." ucap Jinsin ekspresi mau muntah.
"Siapa kalian!" ucap Zoi pimpinan prajurit Kerajaan Sinpor ke 23, berdiri di depan mereka berdua memakai seragam yang sama. Sesaat, mereka berdua diam.
"Kami, kami pengembara." ucap Rio bingung jawab.
"Pengembara apa?"
"Bo*** kali kau, menjawab saja tidak bisa." ucap Jinsin bisik Rio.
"Kalau bisa, kau jawab lah pertanyaan mereka itu." Rio panik melihat musuh, dan bersiap mengeluarkan pedang untuk menyerang.
"Kami, pengembara jauh, tuan. Kami mau melanjutkan perjalanan boleh kah kami pergi?" Jinsin mengangkat kedua tangan setinggi bahu melihat pimpinan musuh dengan wajah kasihan.
"Tidak boleh, periksa mereka!" Zoi menyuruh ke empat bawahan maju mendekati mereka.
"Mereka datang, bagaimana ini. Pasti ketahuan." Jinsin bisik Rio sedang menghitung jumlah musuh yang banyak sampai kepalanya pusing karena hitungannya di potong terus. Saat mereka mulai memegang tubuhnya, Rio melawan para pemeriksa itu dengan mendorongnya hingga terlentang.
"Hey, hey. Apa'an kalian ini." teriak Zoi memergoki mereka melawan. Dua petarung mengeluarkan pedang dan bersiap untuk menyerang.
"Rio." panggil Jinsin. Lalu Jinsin menoleh ke wajah Rio serius ingin melawan mereka semua. Musuh berusaha menyentuh bagian tubuh Jinsin tanpa menggunakan pedang, tapi Rio terus mendorong mereka.
"Mereka melawan. Cepat tangkap Mereka berdua!" teriak Zoi. Lalu para petarung berlari menyerang mereka.
"Rio, mereka datang. Kamu sanggup melawan mereka semua?" tanya Jinsin berdiri di lindungi Rio di belakang punggungnya. Rio tidak menanggapi pertanyaan Jinsin karena sedang fokus melihat musuh mulai berjalan mendekat dari segala arah dengan posisi gerakan para musuh penuh waspada. Lalu Rio menangkis.
"Tik, Tik." suara pedang di gesek dan di tekan.
"Aaaaah...." Rio menebas kedua pria itu hingga terluka di bagian lengan berteriak kesakitan tergeletak.
"Hiiikh.. hati-hati mereka petarung luar biasa. Atur posisi kalian untuk menangkapnya. Segera tarik yang sedang terluka ke tempat aman." teriak Zoi memberi perintah. Pedang itu melayang dan tertancap ke tanah di depan pimpinan musuh.
"Aaaaah."
"Aaaaa."
Rio menebas ke empat musuh hingga terjatuh dengan berputar cepat mengitari tubuh musuh.
"Bos, sepertinya mereka tangguh. Bagaimana ini." tanya bawahan berdiri di belakangnya.
Pimpinan musuh diam memperhatikan gerakan tubuh Rio. Satu per satu para petarung berhasil di kalahkan Rio. Tubuh musuh prajurit Kerajaan Sinpor yang terluka di tarik ke tempat aman. Para musuh terus berkurang. Rio yang masih bertarung, mulai mengeluarkan keringat, darah musuh membasahi pedangnya. Rumput sekitarnya semula rapi berubah menjadi percikan darah dan berselemak tidak beraturan.
Jinsin masih berdiri di lindungi oleh Rio dari belakang. Namun dia melihatnya mulai kelelahan karena sudah banyak musuh di kalahkan sendirian. Saat petarung mulai mendekati Jinsin dari samping. Tubuh seorang petarung di tangkap Jinsin dengan mencekik lehernya menggunakan lengan kanan. Lalu Rio melempar pedang sandera ke arah pimpinan musuh tanpa mengenainya. Pimpinan musuh diam menatap wajah mereka berdua.
"Mundur semua, kami punya sandera!" teriak Rio mengarahkan pedang ke para musuh masih menyerang.
"Mereka berdua petarung." ucap Zoi melihat ekspresi sinis.
"Biarkan kami pergi." Beri jalan, cepat!" Jinsin berteriak kepada para musuh supaya menjauh. Para musuh masih bingung, ingin menyerang, mundur atau bertahan.
"Bos, bagaimana." tanya bawahannya.
"Kalau kalian ingin pergi. Bertarung dengan aku sekarang juga, berani?" teriak Zoi menantang mereka berdua.
"Rio, sebaiknya jangan. Kita harus pergi dari sini. Mereka akan membawa bala bantuan nantinya." Jinsin memberitahu Rio sambil menekan leher sandera. Rio diam menatap wajah Zoi, pimpinan musuh yang sudah berani menantangnya.
"Sial, Rio terpancing." ucap Jinsin.
Jinsin mulai menendang kaki Rio agar sadar. Pimpinan mulai di berikan pedang besar oleh bawahan. Ekspresi sombong seolah siap menantang Rio untuk bertarung. Rio menatap sekelilingnya penuh amarah, namun Rio menutup mata sejenak dengan wajah penuh percikan darah campur keringat dengan napas terengah-engah. Lalu membuka matanya melihat pimpinan musuh dan meludah ke arah kiri depan dengan tatapan mata merendahkan.
"Cuuihh..." Jinsin meludah.
"Aku menolak!" biarkan kami lewat sekarang!" teriak Jinsin.
"Hmm." Zoi kaget sedikit mendengar ucapan Rio. Lalu tidak menanggapi ucapannya untuk membiarkan pergi.
"Jinsin, kita mundur. Kita akan lolos dari kejaran mereka. Tetap pegang sandera itu." bisik Rio kepada Jinsin di dengar sandera. Namun Rio mengambil kain dan menyumpel mulut sandera agar tidak bisa bicara atau berteriak.
"Baik, Rio." Jinsin tersenyum kepada Rio karena mau mendengar arahannya sambil memegang sandera. Rio menebas empat petarung terjatuh dan terluka. Lalu menusuk satu petarung terlentang di hadapan pimpinan musuh dengan pedang hingga mengeluarkan banyak darah muncrat di wajahnya.
"Mereka membunuh!" teriak salah seorang prajurit musuh. Pimpinan kaget melihat Rio bertarung serius. Mereka berdua bergerak perlahan keluar dari kepungan para musuh dengan menebas satu demi satu para musuh yang masih menyerang mereka dengan membawa sandera.
"Bos, bagaimana selanjutnya?" tanya bawahan.
"Biarkan mereka lewat. Rawat yang terluka." ucap pimpinan musuh memberi perintah. Saat Rio dan Jinsin mulai keluar dari garis kepungan para musuh. Sandera yang hidup langsung di lempar kepada musuh yang terakhir mengikutinya hingga mereka terjatuh bersama.
"Ayo lari."
"Iya." Rio dan Jinsin berlari bersama keluar dari hutan sambil tertawa bahagia karena sudah berhasil lari dari musuh.
"Haahahaha...."
Jinsin tertawa sambil berlari memegang tangan kanan Rio. Setelah itu mereka berhasil keluar dari hutan dan berhenti berlari berdiri di depan sebuah rumput tanpa hutan dengan matahari indah mulai terbit di hadapan mereka berdua. Saat mereka melanjutkan perjalanan, pimpinan musuh bersama ke empat bawahan berdiri melihat mereka dari kejauhan.
"Hey!" Zoi berlari cepat menyerangnya. Rio menangkis, tapi terlempar cukup jauh. Tubuhnya masih berdiri walaupun kedua kaki menyeret ke tanah.
"Apa, orang ini kuat." Jinsin kaget berdiri di depan pimpinan musuh.
"Selanjutnya kau!" teriak Zoi, pimpinan musuh.
"Ting.."
"Ah hah. Kuat sekali. eeeeee."
Jinsin menangkis, namun kaget karena harus menahan kekuatan Zoi sampai wajah sesak. Rio menyerang wajahnya, namun dapat di tangkis. Jinsin selamat karena pedang di arahkan kepada Rio. Jinsin berlari menjauhi pria besar itu. Daya serang membuat dia mencari celah di tubuhnya.
"Cuma ini kekuatan kalian, payah sekali." Zoi menangkis serangan Rio dengan mudah. Lalu Rio mundur agak jauh darinya.
"Rio, ke sini!" Jinsin memanggilnya dan Rio berlari menghampirinya.
"Bagaimana ini, Rio?" Jinsin bertanya kepada Rio melihat Zoi, memegang pedang.
"Kita harus menyerang bersama." ucap Rio menatap Jinsin.
"Dia kuat sekali, kau saja sampai terpental jauh. ucap Jinsin mengocehi Rio.
"Benar, itu sebabnya kita serang bersama." ucap Rio memberi saran. Zoi adalah seorang kapten prajurit ke 23 yang memimpin 50 bawahan yang bermarkas di dalam hutan saat Rio mengintip lokasinya.