NovelToon NovelToon
Wanita Miskin Pengganti Nyonya Mahesa

Wanita Miskin Pengganti Nyonya Mahesa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Duda
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Quin

Nadira, gadis miskin dari desa, datang ke kota demi biaya pengobatan ibunya. Hidupnya berubah ketika ia menemukan seorang wanita tewas di pinggir jalan dan tanpa sengaja menjadi tersangka pembunuhan karena DNA-nya ditemukan di tubuh korban.

Korban itu adalah Nayla Adiprana, istri Mahesa Adiprana, pengusaha kaya yang dipenuhi duka dan amarah. Sebagai hukuman, Mahesa memaksa Nadira menikah dengannya dan hidup menderita di rumahnya.

Namun seiring waktu, Mahesa mulai melihat ketulusan Nadira yang merawat putranya dengan penuh kasih. Saat benih cinta tumbuh, kebenaran mengejutkan terungkap.

Akankah Nadira memaafkannya atau justru Nadira akan menjauh darinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 4

Nadira memasuki sebuah kamar yang besar dan indah. Para pelayan yang mengantarnya mendorong tubuhnya masuk ke dalam hingga ia tersungkur ke lantai.

" Dasar wanita licik, membunuh istri tuan besar untuk menjadi nyonya di keluarga Adiprana. Jangan harap kamu akan kami anggap seperti nyonya Nayla. Kamu hanya seorang pembunuh dimata kami!."

Kedua pelayan yang mengantar Nadira ke kamar itu langsung pergi begitu saja. Mereka terlihat sangat membenci Nadira.

Nadira menyentuh dadanya, kemudian ia menghela nafas berat. Pipinya bahkan bengkak karena mendapatkan tamparan keras dari ibu Mahesa.

" Ya Allah, mengapa nasib ku seperti ini? Bagaimana kabar ibuku?." Ucap Nadira sambil mengingat Ibunya. Nadira sangat khawatir, ia takut berita tentang dirinya sampai pada ibunya di desa.

"Semoga saja ibu belum tahu tentang kejadian yang menimpaku." Nadira berdoa penuh harap.

Nadira memandang sekelilingnya, kamar itu sangat indah. Banyak sekali perlengkapan wanita dan pria di sana. Nadira memandang meja rias yang begitu sangat menyilaukan. Banyak sekali make up di sana.

Nadira tak berani melangkah lebih jauh, ia hanya berdiri di tempatnya saat terjatuh tadi. Nadira menelan ludah dengan susah payah. Tubuhnya sangat lemah karena belum makan sejak dua hari yang lalu. Ia hanya minum air putih itu pun pemberian seorang polisi wanita yang kasihan melihatnya.

Nadira tak ingin makan apapun sekarang, Nadira hanya ingin di bebaskan dari semua tuduhan dan pernikahan hukuman ini.

"Aku harus mencari jalan keluar untuk kabur!." Gumam Nadira. Ia tak bisa terus berdiam diri menunggu ajal menjemputnya. Masih ada ibunya yang harus ia jaga.

"Kalau aku kabur dan pulang ke desa, sepertinya mereka tidak akan menemukanku." Gumam Nadira yakin.

Nadira keluar dari pintu kamar, Nadira celingak celinguk melihat apakah ada orang di sana atau tidak. Nadira melihat tak ada orang, ia langsung berjalan cepat untuk mencari jalan keluar.

"Mau kemana kamu?."

Deg

Langkah Nadira terhenti, ia sangat kenal suara itu. Suara itu milik Mahesa.

Nadira menelan ludah dengan susah payah.

" Ikut aku!."

Nadira meringis saat Mahesa menarik lengannya dengan kasar dari belakang. Pria itu berjalan dengan sangat cepat.

Nadira menahan rasa sakit di lengannya karena cengkraman Mahesa. "Mau apa kamu?." Tanya Nadira panik.

Mahesa tak menjawab, ia mendorong tubuh Nadira masuk ke dalam kamar. Nadira terpental ke lantai dingin kamar besar itu.

Nadira melihat Mahesa mengunci pintu kamar. Nadira gemetar ketakutan.

Mahesa melangkah mendekati Nadira, ia berjongkok dengan tatapan tajam. " Aku akan melakukan apa yang seharusnya aku lakukan. Sudah beberapa hari ini aku menahan diri untuk tidak menyiksamu!."

Deg

Nadira merasakan kekhawatiran besar sekarang, apalagi saat ini ia melihat tatapan penuh kebencian dari Mahesa.

"Tolong jangan siksa aku, aku bukan pembunuh." Mohon Nadira dengan penuh harapan.

" Tidak ada yang bisa menyelamatkanmu!. Tenang dan nikmati saja."

Mahesa melonggarkan ikat pinggangnya, melepaskan ikat pinggang itu dan merentangkannya tepat di hadapan Nadira.

"Apa yang akan kamu lakukan?." Tanya Nadira. Ia beringsut mundur dengan ketakutan.

Mahesa menyeringai licik, "Berbalik!." Titahnya.

" Tidak!." Nadira menggeleng cepat. Air matanya mulai membasahi pipinya. Tubuhnya bergetar ketakutan.

Mahesa menghela nafas kasar, ia memukul ikat pinggang di tangannya ke lantai hingga menimbulkan suara nyaring. Mahesa menarik lengan Nadira kemudian memaksanya untuk berbalik.

" Jangan!." Nadira tak berdaya.

"Bajumu terlalu tebal!." Mahesa menarik baju Nadira dari belakang membuat bajunya sobek. Terlihat punggung Nadira yang polos dan hanya ada seutas tali di sana.

Nadira mempertahankan sisa baju yang melekat di dadanya dengan tangan. Ia menangis dengan histeris.

"Bahkan aku belum menyentuhmu, kamu sudah menangis seperti ini!. Bagaimana kamu bisa dengan tega membunuh istriku?." Mahesa mengangkat dagu Nadira. Sekarang ia berada tepat di belakang Nadira.

"A...aku bukan pembunuh. Tolong lepaskan aku!." Lirih Nadira. Badannya benar benar bergetar hebat sekarang.

"Tidak ada ampunan bagi seorang pembunuh!."

PUK

PUK

PUK

Nadira merasakan sakit di punggungnya saat mendapatkan cambukan ikat pinggang dari Mahesa.

"Akhhhhh...Ibu...." Teriak Nadira yang tersungkur di lantai dingin kamar itu. Tak ada yang mendengar teriakannya.

Sementara itu Mahesa terlihat sangat puas.

" Sayang! Lihat dia! Aku sudah menghukumnya hari ini! Kamu harus melihatnya!." Bagaikan orang gila, Mahesa berbicara pada foto Nayla yang berada di dinding kamar itu. Fotonya sangat besar.

Nadira yang merasakan sakit di punggungnya perlahan mulai kehilangan kesadaran. Nadira menutup kedua matanya. "Ibu..."

Mahesa akan melayangkan beberapa pukulan lagi, tapi ia melihat Nadira sudah tak bergerak. "Sudah mati?."

Mahesa meletakkan ikat pinggang di tangannya, kemudian memeriksa nafas Nadira. "Hanya pingsan!." Ujarnya.

"Sial! Padahal aku belum puas!." Teriak Mahesa frustasi.

Mahesa tak punya pilihan, ia menggendong tubuh Nadira ke atas ranjang. Kemudian Mahesa menghubungi dokter pribadi keluarga untuk datang.

" Sangat lemah!." Ucap Mahesa.

Mahesa menunggu kedatangan dokter dengan gelisah. Mahesa tidak ingin wanita bernama Nadira itu mati. Terlalu cepat baginya untuk bebas dari hukuman.

Tak berselang lama seorang wanita paruh baya datang. Dengan cepat ia langsung memeriksa keadaan Nadira.

Matanya membelalak melihat luka lebam di punggung gadis yang hanya mengenakan bra itu.

"Apa yang sudah kamu lakukan padanya tuan? Dia sangat lemah kenapa anda menyiksanya?." Tanya Serli sang dokter pribadi keluarga Adiprana.

" Dia sudah membunuh istriku. Aku hanya memberikan sedikit pelajaran tapi dia malah pingsan." Terlihat Mahesa bicara dengan dingin.

" Jadi dia...yang membunuh nyonya Nayla?." Ucap Serli.

Serli mulai memeriksa keadaan Nadira lebih dalam. Ia kemudian mengetahui penyebabnya.

" Wanita ini kekurangan nutrisi. Dia belum makan beberapa hari. Jika tidak segera mengisi perut dengan makanan, dia akan mati malam ini!."

Deg

Mahesa menegakkan tubuhnya, " jangan biarkan dia mati!."

Serli merasa heran dengan kekhawatiran dimata Mahesa. " Bukankah setelah dia mati anda sudah berhasil membalas dendam atas kematian nyonya Nayla?."

Mahesa gelapan, kemudian tatapannya kembali dingin dan datar.

" Hukumannya belum setimpal. Dia tidak boleh mati!. Pastikan dia hidup!." Mahesa berjalan keluar kamar.

Serli menggeleng pelan. " Kasihan sekali gadis ini, dia sangat tertekan. Lukanya juga mulai bengkak." Serli mengoleskan salep di punggung Nadira.

"Tidak mungkin seorang gadis lemah seperti dia membunuh nyonya Nayla. Aku juga dengar beritanya, tapi sepertinya gadis ini orang baik. Wajahnya teduh, matanya sayu dan dia seperti memendam masalah besar. Semoga saja Tuhan memberikan keadilan."

Serli telah selesai mengoleskan obat dan memberikan perban pada luka Nadira. Ia meninggalkan kamar itu. Di luar, Serli bertemu dengan Mahesa. Pria itu berdiri di ambang pintu.

" Beri dia makanan jika ingin dia bertahan hidup. Juga oleskan salep pada lukanya setiap salepnya mengering!. Jangan terlalu membencinya, saya takut nanti tuan akan mengalami hal lain."  Serli berlalu meninggalkan Mahesa yang diam membisu.

"Tidak akan ada hal lain yang terjadi!." Ucap Mahesa dengan dingin.

Ia kembali memasuki kamar, memperhatikan Nadira yang masih tidak sadarkan diri.

"Pelayan!." Teriak Mahesa.

Seorang pelayan datang. "Ada apa tuan?."

"Antar makanan ke kamar ini sekarang!."

Mahesa memperhatikan Nadira dengan seksama. Namun beberapa saat kemudian ia langsung mengalihkan pandangannya pada foto Nayla.

1
NN
lanjut
Quin: okeyy best👍😍
total 1 replies
Ma Em
Semoga kebenarannya segera terungkap agar Nadira bisa cepat bebas dari siksaan Mahesa , dan bisa pulang kerumah ibunya .
Quin: terimakasih 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!