NovelToon NovelToon
Obsesi Papa Mertua

Obsesi Papa Mertua

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Dark Romance / Cinta Terlarang
Popularitas:31.3k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

Dua minggu pernikahan menjadi neraka bagi Freya Arunika. Ia baru menyadari dirinya hanya dijadikan tumbal saat memergoki perselingkuhan suaminya, Sean Ravindra, dengan Bianca—adik tirinya sendiri. Sejak rahasia itu terbongkar, hidup Freya sepenuhnya terkekang.
Namun, takdir berputar liar ketika Ravael, ayah kandung Sean sekaligus sosok penolong masa lalu Freya, kembali dari luar negeri. Jatuh cinta pada pandangan pertama tanpa tahu identitas Freya, obsesi Ravael justru semakin membara setelah mendapati wanita itu adalah menantunya.
Kini, Freya terjebak di antara dua pria sedarah: suami kejam yang membencinya, dan papa mertua berkuasa yang terobsesi memilikinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33.

"Aku menerima tantanganmu, Freya. Aku tidak akan menyentuhmu sampai kau sendiri yang memohon padaku," bisik Rafael rendah. Nada suaranya begitu tenang, namun menyiratkan keyakinan yang absolut.

​Freya membuang muka, menatap ke luar jendela mobil. Jalanan kota bergulir cepat, membawa dirinya kembali ke tempat yang paling ingin ia hindari. Sisa perjalanan mereka dihabiskan dalam keheningan yang menyesakkan.

​Sesampainya di mansion Ravindra, pintu mobil dibukakan oleh pengawal. Rafael turun terlebih dahulu, lalu dengan sigap membuka pintu di sisi Freya. Tanpa memanggil pelayan atau perawat, Rafael mengulurkan kedua tangannya untuk mengangkat tubuh Freya.

​"Jangan sentuh aku! Panggil Bi Sofi saja," tolak Freya ketat, tubuhnya menegang menjauh.

​"Bi Sofi sedang menyiapkan kamarmu di dalam. Diamlah jika kau tidak ingin jatuh," jawab Rafael datar.

​Tanpa memedulikan protes Freya, Rafael menyelipkan lengannya di bawah lutut dan punggung wanita itu, lalu mengangkatnya dengan mudah.

Freya merasakan kebas di bagian bawah tubuhnya, membuat kakinya terkulai layu tanpa daya. Kenyataan itu menghantam dadanya kembali, memaksanya untuk diam mencengkeram kemeja Rafael demi keseimbangan.

​Rafael membawa Freya masuk ke dalam mansion, namun langkahnya tidak mengarah ke kamar lama yang pernah ditempati Freya bersama Sean. Pria itu melangkah menuju paviliun lantai dasar yang baru saja direnovasi total.

​"Ini kamarmu yang baru," ujar Rafael sembari mendudukkan Freya di atas ranjang king-size yang empuk.

​Freya mengedarkan pandangan. Kamar itu sangat luas, didesain tanpa undakan tangga, dan dilengkapi dengan fasilitas yang ramah untuk kursi roda. Di sudut ruangan, sebuah kursi roda elektrik baru sudah terparkir rapi.

​"Aku memindahkan seluruh barangmu ke lantai dasar agar kau tidak kesulitan," lanjut Rafael, berdiri tegak di samping ranjang.

​"Terima kasih atas fasilitasnya, Tuan Ravindra. Sekarang, silakan keluar," ucap Freya dingin, sengaja menggunakan nama formal untuk menegaskan jarak di antara mereka.

​Rafael menyipitkan mata. "Kau tidak perlu sekaku itu, Freya. Aku sudah mengusir orang-orang yang menyakitimu."

​"Tapi kau belum mengusir dirimu sendiri dari hidupku," sahut Freya cepat, matanya menatap Rafael lurus dengan kilat permusuhan. "Kau dan Sean sama saja. Dia menghancurkan fisikku, dan kau menghancurkan jiwaku."

​Mendengar itu, rahang Rafael mengeras. Langkahnya maju satu belah, mencondongkan tubuhnya ke arah Freya hingga bayangannya mengurung wanita itu.

​"Pikirkan lagi, Freya. Jika bukan karena aku, kau mungkin sudah mati di kamar itu malam itu. Dan mansion milik ibumu sekarang masih dikuasai oleh Leticia," ucap Rafael, suaranya dalam dan penuh penekanan. "Aku memberikanmu keadilan yang tidak bisa kau dapatkan sendiri."

​"Keadilan?" Freya tertawa sumbang, air mata kemarahan menggenang di pelupuk matanya. "Kau menyelamatkannya hanya untuk mengurungku di sini, kan? Kau melakukannya demi egomu, bukan demi aku! Jangan berlagak menjadi pahlawan setelah apa yang kau lakukan padaku!"

​Keheningan kembali merayap di antara mereka. Rafael menatap wajah pucat Freya yang bergetar menahan amarah dan tangis. Keberanian wanita itu di tengah keterbatasannya justru membuat obsesi di dalam dada Rafael semakin berkobar.

​"Terserah apa penilaianmu," ucap Rafael akhirnya, menegakkan kembali tubuhnya. "Mulai besok, tim fisioterapi terbaik akan datang ke sini setiap pagi. Kau harus patuh mengikuti latihan jika ingin kakimu kembali bergerak."

​"Aku akan latihan. Bukan untukmu, tapi agar aku bisa segera pergi dari rumah terkutuk ini," desis Freya tajam.

​Rafael hanya memberikan senyuman tipis yang sarat akan arti, lalu membalikkan tubuhnya. "Istirahatlah. Bi Sofi akan membawakan makan malammu."

​Begitu pintu kamar tertutup rapat, Freya langsung ambruk ke atas kasur. Ia memeluk bantalnya erat-erat, membiarkan tangisnya yang tertahan sejak di mobil akhirnya pecah.

***

Keesokan paginya, pintu kamar Freya diketuk perlahan. Bi Sofi masuk bersama seorang wanita paruh baya berambut pendek yang mengenakan jubah putih dokter. Wajahnya ramah namun memancarkan ketegasan profesional.

​"Selamat pagi, Nyonya Freya. Saya Dokter Diana, spesialis rehabilitasi medik yang ditunjuk oleh Tuan Rafael untuk memimpin terapi Anda," sapa dokter wanita itu dengan suara lembut.

​Freya yang sedang bersandar di kepala ranjang hanya menatapnya datar. "Selamat pagi."

​Dokter Diana mendekat, meletakkan tas medisnya di meja, lalu duduk di kursi samping ranjang. "Saya sudah mempelajari seluruh rekam medis dan hasil operasi tulang belakang Anda dari rumah sakit. Hari ini kita akan memulai evaluasi awal untuk melihat sejauh mana respons saraf motorik Anda."

​"Untuk apa? Kaki saya mati rasa. Dokter di rumah sakit bilang ini paraplegia," ucap Freya pahit, memalingkan wajah.

​"Paraplegia akibat trauma seperti ini bisa bersifat sementara jika kita melatihnya dengan konsisten, Freya," sahut Dokter Diana tenang. Ia membuka selimut yang menutupi kaki Freya. "Saya tahu Anda mengalami masa yang sangat sulit. Tapi jika Anda menyerah sekarang, otot-otot kaki Anda akan mengecil, dan peluang Anda untuk berjalan lagi akan benar-benar hilang."

​Kata-kata 'berjalan lagi' menyentak ego Freya. Ia menoleh kembali, menatap Dokter Diana dengan mata berkaca-kaca. "Apakah saya benar-benar bisa berjalan lagi, Dok?"

​"Tubuh manusia punya kemampuan luar biasa untuk pulih, tapi itu butuh kerja keras dari Anda sendiri. Bagaimana? Anda mau berjuang bersama saya?" tanya Dokter Diana, memberikan senyuman penyemangat.

​Freya mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Ya. Saya mau. Saya harus bisa berjalan lagi."

​Dokter Diana mulai melakukan pemeriksaan rangsangan. Ia menekan beberapa titik di paha dan betis Freya menggunakan alat khusus. "Rasanya bagaimana?"

​"Tidak terasa apa-apa, Dok," bisik Freya, menggigit bibir bawahnya menahan kecewa.

​"Tidak apa-apa, ini baru hari pertama. Kita mulai dengan latihan pasif untuk melancarkan sirkulasi darah dulu," Dokter Diana kemudian membantu menggerakkan kaki Freya secara perlahan.

​Di tengah sesi latihan yang melelahkan itu, pintu kamar terbuka. Rafael melangkah masuk dengan kemeja hitam yang lengannya digulung. Aura intimidasinya langsung memenuhi ruangan.

​"Bagaimana perkembangannya, Dokter Diana?" tanya Rafael, berdiri di ujung ranjang sambil menatap Freya.

​Dokter Diana menegakkan tubuh, menatap Rafael dengan profesional. "Evaluasi awal menunjukkan respons sensorik yang masih sangat minim, Tuan Ravindra. Namun, Nyonya Freya memiliki semangat yang bagus untuk pulih. Kami akan menjadwalkan terapi fisik intensif tiga kali seminggu."

​"Lakukan yang terbaik. Sediakan semua alat yang diperlukan di kamar ini," titah Rafael mutlak.

​"Tentu. Tapi selain terapi fisik, Nyonya Freya juga membutuhkan lingkungan yang tenang dan bebas dari tekanan mental agar proses pemulihannya optimal," ucap Dokter Diana, seolah memberikan sindiran halus karena ia tahu ada ketegangan yang tidak beres di dalam rumah ini.

​"Dia aman di sini," jawab Rafael dingin.

​Freya yang sejak tadi diam, langsung menatap Rafael dengan benci. "Aku tidak butuh kehadiranmu di sini, Rafael. Tolong keluar. Aku harus melanjutkan terapiku dengan Dokter Diana."

​Dokter Diana melirik keduanya bergantian, menyadari ada tembok permusuhan yang tebal.

​Rafael tidak marah mendengar usiran itu. Ia justru melangkah mendekati sisi ranjang Freya, membuat Freya reflek memundurkan tubuhnya semampunya.

​"Aku hanya ingin memastikan kau mengonsumsi obatmu, Freya," ucap Rafael, mengabaikan tatapan tajam wanita itu. Ia berbalik menatap Dokter Diana. "Hubungi saya secara personal jika ada kendala dalam terapinya."

​"Baik, Tuan," jawab Dokter Diana.

​Setelah Rafael melangkah keluar dan menutup pintu, Freya mengembuskan napas lega yang panjang. Tubuhnya yang tegang perlahan rileks kembali.

​Dokter Diana kembali duduk di dekat Freya, menatapnya dengan pandangan penuh simpati yang dalam. "Dia tampaknya sangat mengontrolmu, Freya. Apa kau baik-baik saja?"

​Freya menatap Dokter Diana dengan mata yang bergetar. Untuk pertama kalinya, ia merasa menemukan seseorang yang bisa ia percayai di rumah terkutuk ini. "Dokter... tolong bantu aku sembuh secepat mungkin. Hanya dengan kaki ini, aku bisa keluar dan lepas dari jeratan pria itu."

*

*

*

komen lanjut. Kita lanjut 😉

1
Mita Paramita
lanjut Freya 💪💪💪
Reni Anjarwani
makin seru up doubel trs thor😍😍
MissSHalalalal: lanjut besok ya 🙏
total 1 replies
Reni Anjarwani
makin seru up doubel trs thor
Mita Paramita
lanjut Thor bikin Freya naksir berat sama Rafael atau cemburu 🤣🤣🤣
+62
lanjutkan papa.. harus jual mahal donk 🌚
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up trs
Kasmawati Ambosakka
lanjut
MissSHalalalal: update besok ya kak🙏
total 1 replies
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
MissSHalalalal: update besok ya kak
total 1 replies
Mita Paramita
kumpul keluarga klan Ravindra mungkin mau ngelamar Freya 😍😍😍
MissSHalalalal: maunya gitu sih. tapi Freya mau GK nih
total 1 replies
Mita Paramita
kumpul keluarga klan Ravindra mungkin mau ngelamar Freya 😍
Sh
Met holiday, biar pulang bawa ide segudang, fresh menghadapi dunia persilatan 🤣
MissSHalalalal: yg ada pulang-pulang cape kak. 🤭😄
total 1 replies
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
+62
plok2 lagi sama papa🥺
Sh
suka tapi tokoh wanita selalu sengsara,kapan bahagia nya
Kamsia
y ktnya bawa appun gak bisa ini ad penjaga bnyak lepas sudah freya di bawa.
+62
ah papa🌚
Reni Anjarwani
lanjut thor makin seru bgt thor
Mita Paramita
Rafael tanggung jawab banget jagain Freya 💪 kasian tuh masa gak dikasih kesempatan kedua🤣🤣🤣
MissSHalalalal: kesempatan dalam kesempitan nih😄
total 1 replies
+62
🌚
Piyah
langsung nikah aja freya
Sh: belum boleh, baru aja diwawancara ga ada hubungan asmara,koq tiba tiba nikah
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!