NovelToon NovelToon
Perisai Sang Mafia

Perisai Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Lisa

Reigan Douglas hanya bisa patuh saat Kakek memaksanya menikahi Hana—gadis "kampung" bermata bulat. Pernikahan itu terasa datar dan mati. Bagi Reigan, kehadiran wanita itu hanya akan membatasi geraknya sebagai penguasa Odelgard.

Namun, segalanya berubah ketika sebuah peluru melesat dan nyaris menembus pelipisnya. Reigan pun menyadari satu fakta yang menghantam egonya: peluru penyelamat itu berasal dari senjata milik Vesper—sniper legendaris yang ternyata adalah Hana, istrinya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 4 Dua Andalan

Gedung Valerius berdiri tegak di jantung distrik Odelgard, sebuah monumen kaca dan baja yang tampak mendominasi cakrawala. Bagi masyarakat awam, ini adalah pusat perusahaan logistik terbesar di Ethendore. Namun bagi mereka yang tahu cara kerja dunia bawah, gedung ini adalah takhta dari kekaisaran Douglas.

Reigan masuk ke dalam gedung Valerius dengan di dampingi Nico disampingnya. "Marco?" tanya Reigan yang tidak melihat tangan kanannya yang lain.

"Maaf, Tuan. Dia sudah ada di atas." Nico menunduk saat bicara. Sesekali ia membetulkan letak kacamatanya yang sebenarnya tidak miring.

Nico sudah bersamanya selama bertahun-tahun. Kebiasaan pria itu untuk meminta maaf atas segala hal, bahkan untuk hal-hal yang tidak memerlukan kata maaf seperti baru saja, sudah menjadi bagian dari rutinitas pria ini. Namun, itu hanya dilakukannya di depan Reigan. Di luar ruangan ini, Nico dikenal sebagai 'Mesin Informasi' yang tidak punya rasa kasihan.

Ia adalah otak di balik setiap langkah strategis Reigan. Dari mulai melacak pengkhianatan di pelabuhan, hingga detail remeh seperti memastikan seprai sutra di apartemen Hana diganti tepat waktu sesuai perintah Kakek Douglas—Nico mengurus semuanya dengan efisiensi yang mengerikan. Jangan remehkan dia hanya karena tampilan pecundang di balik kacamata itu.

Kepala Reigan mengangguk tipis. Ia teringat pengkhianat yang ia tembak mati di Dermaga Tujuh semalam. Pria itu sudah menjadi mayat sebelum sempat memohon ampun, tapi rupanya darah di pelabuhan belum cukup untuk menyumbat kebocoran di Valerius.

Dia berjalan dengan gagah dan aura tidak tertandingi seperti biasanya. Ia tidak menyapa siapa pun. Para staf yang berpapasan dengannya secara otomatis menunduk dan memberikan jalan seolah-olah kehadiran Reigan baru saja menyedot oksigen dari ruangan tersebut.

Penjaga di depan lift menunduk hormat ketika melihat Reigan muncul di lorong. Tanpa menunggu perintah, pria itu menekan tombol untuk naik ke lantai teratas gedung ini.

Lantai teratas gedung itu hanya bisa diakses oleh satu lift khusus yang memerlukan pemindaian retina. Begitu pintunya berdenting terbuka, Reigan melangkah keluar dengan langkah lebar yang konstan.

Di depan pintu Ek yang kokoh, berdiri pria bertubuh kekar lebih pendek dari Reigan. Dia Marco.

"Selamat pagi, Bos." Tubuhnya membungkuk sedikit.

Reigan hanya mengangguk. Langkahnya tidak berhenti. Lalu mendorong pintu kantornya yang kedap suara dan berjalan masuk.

Nico dan Marco  segera menyusul di belakang, menutup pintu dengan bunyi klik yang nyaris tak terdengar. Mereka langsung berdiri di depan meja kerja Reigan dengan posisi tegak sempurna.

Reigan melemparkan jasnya ke sofa kulit di sudut ruangan, lalu duduk di kursi kebesarannya. Ia menatap Nico datar.

"Katakan padaku, Nico. Kenapa aku masih harus membahas soal pengkhianatan setelah aku meledakkan kepala pris itu semalam?" tanya Reigan, suaranya sedingin es. Kesal.

"Maafkan saya, Tuan. Tapi sepertinya mandor yang Anda eksekusi di pelabuhan hanyalah ujung dari benang yang kusut," ujar Nico.

Kening Reigan mengerut. "Berikan aku datanya."

"Maaf. Ini datanya," Nico mengaktifkan layar. "Informan kita di Dermaga Tujuh dieksekusi dengan satu tembakan di dahi. Sniper profesional. Maafkan saya karena tim keamanan tidak mendeteksi posisi penembak tepat waktu. Pelurunya berjenis kaliber 338 Lapua Magnum—bukan jenis yang digunakan faksi jalanan biasa."

"Lalu dengan mandor yang aku habisi?"

"Analisis data komunikasi satelit menunjukkan bahwa mandor itu menerima koordinat pertemuan bukan dari faksi luar, melainkan dari server internal gedung ini."

Rahang Reigan mengeras. "Maksudmu tikusnya masih ada di dalam gedung ini?"

"Maaf, Tuan. Benar. Seseorang di level manajerial telah memberikan kunci enkripsi kita kepada pihak ketiga. Pengkhianat di pelabuhan semalam hanyalah pion lapangan. Tikus yang sebenarnya memberikan alamat apartemen Anda masih bersembunyi di balik meja kerja di gedung ini." Nico bicara.

Apartemen? Aku tidak melihatnya karena Hana menutup tirainya dengan rapat tadi malam.

Reigan mengetukkan jarinya di atas meja. Keheningan di ruangan itu terasa mencekam. Foto sniper yang membidiknya di apartemen tadi mala, kini tergeletak di mejanya. Itu adalah bukti bahwa musuh masih satu langkah di depan.

Reigan memindai foto-foto di layar tablet. Rahangnya mengeras saat melihat ketepatan tembakan itu. "Siapa saja yang tahu jadwal kedatangan informan itu ke dermaga?"

"Hanya tiga manajer operasional dan tim inti, Tuan. Maafkan saya, tapi saya sudah mengamankan riwayat komunikasi mereka dalam enam jam terakhir."

"Aku tidak ingin ada tikus yang tersisa saat matahari terbenam, Nico. Aku tidak peduli berapa banyak orang yang harus diseret Marco ke ruang bawah tanah untuk menemukan namanya."

"Siap Bos Reigan." Marco membusungkan dadanya. "Aku sudah mulai menyisir riwayat logistik para manajer senior pagi ini, Bos. Apa aku lanjutkan?" Sorot mata Marco tampak bersemangat ingin menghancurkan seseorang.

Reigan memutar kursinya menghadap jendela besar yang menghadap pelabuhan di kejauhan. Lalu berputar lagi menghadap Marco dan Nico.

​"Ya. Lanjutkan Marco. Lalu, cari siapa yang baru-baru ini membeli peluru kaliber 338 di pasar gelap," perintah Reigan.

"Siap, Bos," ujar Marco. "Aku pergi." Marco beranjak keluar dari ruang kerja Reigan.

Nico berdiri tegak di samping meja, menunggu instruksi selanjutnya. "Maafkan saya Tuan."

"Siapkan jadwal makan siang, Nico. Aku butuh laporan lengkap tentang protokol lama kakek yang kau sebutkan tadi," ujar Reigan akhirnya.

"Baik, Tuan. Maafkan saya, akan segera saya siapkan."

Keduanya orang penting. Nico adalah mesin yang bekerja dengan sempurna, dan keberadaan Marco adalah pedang yang siap menebas. Mereka duo andalan kekuatan Douglas.

***

Lantai bawah tanah gedung Valerius adalah wilayah di mana logika Nico tidak lagi berlaku. Di sini, yang ada hanyalah insting predator dan rasa sakit yang nyata. Udara di sini dingin, berbau beton basah dan samar-samar tercium aroma karat logam.

Jika Nico melakukan pencarian berdasar data, Marco berdasarkan lapangan.

Marco berdiri di tengah ruangan yang hanya diterangi satu lampu neon di langit-langit. Ini bawah tanah. Jadi meskipun masih siang, suasananya gelap.

Dia sudah menanggalkan jasnya, hanya mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku. Marco tidak butuh tablet atau data digital. Ia hanya butuh pria yang kini terikat di kursi besi di depannya: Boris!

Boris, sang manajer logistik, tampak gemetar hebat. Wajahnya pucat pasi, peluh dingin membanjiri keningnya meski suhu ruangan sangat rendah.

"Marco... tolong, aku bisa jelaskan..." suara Boris terputus-putus.

Marco tidak menyahut. Ia perlahan merapatkan sarung tangan kulitnya, menarik talinya hingga terdengar bunyi klik yang tajam. Ia menatap Boris dengan sorot mata datar. Jenis tatapan seseorang yang sudah terbiasa melihat orang memohon nyawa. Ya, dia Algojo milik Reigan.

"Nico melihat datamu bersih di komputer, Boris," suara Marco berat dan serak. Ia melangkah perlahan mengelilingi kursi Boris.

1
Riri
cemburu bang...😄
Idah Faridah
dtunggu thor up nya
Idah Faridah
ternyata hana bukan perempuan biasa👍
Lady Ve: Terima kasih Sudah mampir untuk baca🙏
total 1 replies
Riri
reigan ketagihan dialog sama Hana...
Riri
aura gadis desa itu...
Riri
POV Marco: dikira jaman purba
Riri
😂😂😂
Riri
kayak horor punya suami kek Regan
Kusyanti Handayani
thorrr llamnnjuttt lah
E F
lanjuttttt thor dobleeeee🙏💪😍
E F
lanjuttt thor💪😍
Lady Ve: Terima kasih tetap baca.
total 1 replies
Anonim
❤️❤️❤️
Kusyanti Handayani
semangat ladyyyy lanjooootttt
E F
tq thor🙏😍
semangattttt
lanjutttt😄💪
Anonim
❤️❤️❤️
pawon ngebul
kakak othor pokoknya getar hrs update biar g getir nungguinya😩🥺🥺🥺🥺🙏🙏🙏🙏
Lady Ve: 🤣🤣🤣🤣. iya tenang ....
total 1 replies
Kusyanti Handayani
bikin bedebar hanaaaa
Kusyanti Handayani
lanjuttttt
Herlin
Hana..... Sangaaar
Lady Ve: 🔥🔥🔥🔥🔥
total 1 replies
E F
tq thor🙏😍
lanjuttt
smangattt💪😄
Lady Ve: Terima kasih😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!