NovelToon NovelToon
Belunggu Pernikahan

Belunggu Pernikahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Maya sabir

"Dia hanya memiliki aku, Maya. Sedangkan kau? Kau punya segalanya. Berhentilah bersikap menjijikkan dengan menuduhnya yang bukan-bukan!"

Kata-kata itu menjadi cambuk harian bagi Maya. Di rumah itu, dia adalah orang asing di tengah keluarga yang "sempurna". Arlan, suaminya, telah memindahkan seluruh pusat dunianya kepada Sarah dan anak almarhum adiknya.

Setiap kali Maya mencoba membela diri dari fitnah halus yang disebarkan Sarah, Arlan akan menatapnya dengan kebencian murni. Bagi Arlan, Maya adalah beban, sedangkan Sarah adalah amanah suci. Ketidakadilan itu semakin kelam ketika Arlan mulai memperlakukan Sarah layaknya seorang istri, dan membuang Maya ke sudut tergelap dalam hidupnya.

Ini bukan lagi tentang cinta, melainkan tentang pengabdian yang salah arah dan kehancuran seorang istri yang dipaksa menyaksikan suaminya mencintai bayangan orang lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

"Besok pastikan semuanya sempurna. Aku tidak ingin malu di depan relasi bisnisku karena kau bekerja setengah hati," tambah Arlan tanpa menoleh, jemarinya kini sibuk mengusap puncak kepala Dion yang sedang asyik dengan tab-nya.

Maya hanya mengangguk kecil, lalu kembali berbalik menghadap wastafel. Air yang mengalir dari keran menutupi suara gemertak giginya. Sempurna. Arlan menginginkan kesempurnaan, dan Maya akan memberikannya ,namun bukan kesempurnaan yang pria itu bayangkan.

Malam itu, gudang yang pengap berubah menjadi ruang kerja dadakan bagi Maya. Di bawah cahaya lampu yang berkedip, ia mulai membongkar tumpukan pakaian yang dibuang Arlan. Ia mencari satu gaun yang sengaja ia sembunyikan di dasar koper , gaun hitam silk pemberian almarhum adik Arlan saat pernikahan mereka dulu.

"Kau berhutang nyawa padanya, Mas. Dan kau menggunakan rasa bersalah itu untuk menghancurkanku," bisik Maya pada kegelapan.

Ia mengambil ponsel lamanya yang layarnya retak, satu-satunya benda yang tidak sempat disita Arlan karena terselip di saku jaket tebal. Dengan tangan bergetar, ia mengirimkan satu pesan singkat kepada seseorang dari masa lalunya seorang detektif swasta yang pernah ia bantu secara finansial saat awal pernikahannya.

“Cari rekaman CCTV di jalan melati, setahun yang lalu. Jam 11 malam. Saat kecelakaan itu terjadi. Aku tahu ada sesuatu yang Sarah sembunyikan. "

Maya lalu kembali menelfon setelah memutuskan telfonnya dari sang detektif,kali ini ia menelfon seorang teman lama yang kini bekerja sebagai seorang pengacara. Maya ingin mengakhiri rumah tangganya.

Maya menarik napas panjang, menekan deretan angka yang sudah sangat hafal di luar kepala. Setelah nada sambung ketiga, suara berat dan tenang menyahut di seberang sana.

"Halo, Maya? Ada apa menelepon malam-malam begini?" suara itu milik Bram, teman masa kuliahnya yang kini dikenal sebagai pengacara perceraian paling dingin di ibu kota.

"Bram... aku butuh bantuanmu. Aku ingin mengakhiri ini semua," bisik Maya, suaranya parau namun stabil. Matanya menatap bayangan dirinya di cermin gudang yang retak." Aku ingin bercerai." Suara Maya tercekat saat mengucapkan kata itu,tapi mengingat perlakuan Arkan pada nya ia memantapkan dirinya untuk mengakhiri pernikahan ini. Sekalipun ia tak mendapatkan harta Gono gini is tak peduli, keinginan nya hanya satu berpisah dan menjalani kehidupan nya sendiri .

"Aku tidak akan menuntut apapun darinya, Bram. Ambilkan saja kebebasanku," sambung Maya, suaranya kini setajam belati. "Aku ingin kamu segera membuat kan draft perceraian itu sesegera mungkin."

Bram terdiam sejenak di seberang sana, seolah sedang menimbang risiko dari rencana gila sahabatnya itu. "Arlan pria yang punya segalanya, Maya. Dia bisa menghancurkan reputasimu dalam semalam jika kau tidak hati-hati."

"Dia sudah menghancurkan hidupku, Bram. Reputasi tidak ada artinya bagi orang yang sudah dianggap mati di rumahnya sendiri. Tolong, bantu aku."

"Baiklah, jika itu keputusan mu. Persiapkan dirimu, Maya. Ini akan menjadi perang yang panjang."

Setelah mematikan telepon, Maya menggenggam ponselnya erat-erat. Tidak ada lagi air mata.

Maya menarik napas dalam-dalam, membiarkan udara gudang yang berdebu memenuhi paru-parunya. Untuk pertama kalinya dalam setahun, ia merasa oksigen itu benar-benar miliknya. Tidak ada lagi Maya yang meratapi nasib. Maya yang rapuh telah terkubur bersama pecahan bingkai foto di lantai tadi.

Ia melirik jam dinding tua di atas pintu gudang. Pukul tiga pagi. Waktunya bekerja.

Keesokan harinya, rumah besar keluarga Dirgantara tampak seperti istana dalam dongeng. Karpet merah terbentang, rangkaian bunga lili putih kesukaan Sarah, yang ironisnya dibeli dengan uang Arlan yang seharusnya untuk biaya rumah sakit ibu Maya menghiasi setiap sudut.

Maya bekerja tanpa suara. Ia menyiapkan hidangan pembuka hingga hidangan utama dengan ketelitian seorang profesional. Arlan sempat masuk ke dapur sekali, hanya untuk memastikan Maya mengenakan seragam pelayan yang ia siapkan.

"Ingat, jangan sampai ada noda sedikit pun pada pelayananmu. Kau adalah pelayan malam ini, bukan istriku," bisik Arlan tajam sebelum berlalu pergi.

Maya hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya. "Tentu, Mas. Semuanya akan sangat berkesan."

Pukul tujuh malam, para tamu undangan mulai memenuhi aula. Mereka adalah orang-orang berpengaruh: rekan bisnis, pemegang saham Dirgantara Group, dan para sosialita. Bisik-bisik mulai terdengar saat mereka melihat Maya istri sah sang CEO berjalan mondar-mandir membawa nampan berisi gelas champagne dengan seragam pelayan yang menghina.

"Lho, Maya? Kenapa kau mengenakan celemek?" tanya Nyonya Wijaya, istri rekan bisnis senior Arlan, saat Maya menyodorkan nampan berisi minuman.

Suasana ruang tamu seketika hening. Arlan, yang sedang memegang gelas wine di samping Sarah, membeku. Ia menatap Maya dengan tatapan memperingatkan sebuah ancaman bisu agar Maya tetap pada perannya.

"Mbak Maya sedang ingin membantu, Tante," sahut Sarah dengan suara yang dibuat selembut sutra. Ia mendekat dan merangkul lengan Arlan. "Katanya, dia ingin menebus kesalahan karena selama ini jarang turun ke dapur. Benar kan, Mbak?"

Maya menatap Sarah, lalu beralih pada Arlan. Arlan tampak bangga dengan kebohongan Sarah. Pria itu bahkan tersenyum tipis, seolah-olah pengabdian paksa istrinya adalah sebuah kemenangan baginya.

"Ya," jawab Maya tenang, suaranya terdengar jernih di tengah kerumunan.

* * *

Keesokan harinya, suasana rumah kini berubah,Maya memutuskan untuk tidak lagi menjadi pelayan di rumahnya sendiri. Pagi-pagi sekali ia meninggalkan rumah itu untuk menjenguk ibunya yang masih dalam perawatan pasca operasi.

Maya tidak lagi peduli pada tumpukan piring kotor atau daftar menu sarapan yang biasanya diminta Sarah. Dengan langkah mantap, ia melewati ruang tengah tanpa menoleh pada Arlan yang sedang menyesap kopi paginya.

"Mau ke mana kau? Pekerjaanmu belum selesai," tegur Arlan dingin, matanya tetap tertuju pada koran bisnis di tangannya.

Maya menghentikan langkahnya tepat di depan pintu besar itu. Ia berbalik, menatap Arlan dengan sorot mata yang tak lagi mengandung keraguan. "Aku mau menjenguk ibuku. Dan soal pekerjaan rumah... panggil saja jasa pembersih. Bukankah uangmu banyak?"

Arlan tersentak. Ia menurunkan korannya, menatap Maya dengan kening berkerut. "Kau membantahku? Ingat posisimu, Maya. Kau sedang dalam masa hukuman."

"Hukuman?" Maya tertawa getir. "Hukuman untuk kesalahan yang tidak pernah kuperbuat? Mas, simpan saja obsesimu menjadi hakim untuk Sarah mu itu. Aku pergi."

Di rumah sakit, Maya memeluk ayahnya erat. Kondisi ibunya jauh lebih baik, sebuah kelegaan yang memberinya kekuatan tambahan untuk menyelesaikan apa yang sudah ia mulai. Namun, ketenangannya terusik saat sebuah mobil mewah berhenti di lobi rumah sakit.

Arlan turun dari mobil dengan wajah yang memerah padam. Ia melangkah lebar menghampiri Maya di ruang tunggu.

"Berani sekali kau mematikan ponsel dan mengabaikan perintahku!" geram Arlan saat sudah berdiri di hadapan Maya. Ia tidak peduli pada tatapan orang-orang di sekitar mereka.

"Ponselku mati karena kau memblokir akses listrik di gudang semalam, Mas. Dan perintahmu? Aku bukan budakmu," jawab Maya tenang, suaranya pelan namun menusuk.

"Pulang sekarang. Sarah sedang sakit kepala dan kau harus mengurus Dion!" Arlan mencengkeram pergelangan tangan Maya, hendak menyeretnya keluar.

"Lepaskan!" Maya menyentak tangan Arlan dengan kasar. "Dengar, Arlan Dirgantara. Sarah punya tangan dan kaki. Dia punya uang yang kau berikan setiap hari. Jika dia sakit, panggil dokter. Jika Dion butuh pengasuh, sewa sepuluh orang sekaligus. Jangan pernah lagi menjadikanku tameng untuk kemalasan wanita itu."

Arlan tertegun. Ini bukan Maya yang ia kenal. Maya yang ia nikahi adalah wanita yang lembut dan selalu mengalah. "Kau... kau benar-benar sudah tidak punya rasa hormat pada suamimu?"

"Suami?" Maya menatap Arlan dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan meremehkan. "Suami adalah pelindung, bukan penindas. Suami adalah orang yang paling percaya pada istrinya, bukan yang paling pertama melempar fitnah. Kau kehilangan rasa hormatku di detik kau membiarkan Sarah mengenakan bajuku dan membuang barang-barangku ke gudang."

"Aku melakukan itu demi kebaikanmu! Agar kau belajar empati!" bela Arlan, meski suaranya kini terdengar goyah.

"Empati?" Maya maju satu langkah, menekan dadanya sendiri. "Kau bicara soal empati sementara kau membiarkan istrimu dipermalukan di depan relasimu semalam? Kau membiarkanku memakai celemek pelayan sementara wanita itu bertingkah seperti nyonya? Di mana empatimu saat aku memohon biaya operasi ibuku?"

"Maya, jaga bicaramu..."

"Tidak. Mulai sekarang, aku tidak akan menjaganya lagi. Simpan harga dirimu untuk Sarah, karena bagiku, kau sudah tidak punya harga apa-apa lagi . Dan satu hal lagi..." Maya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang membuat Arlan merinding.

" Sebaiknya kita bercerai saja."

Maya berbalik dan masuk kembali ke ruang perawatan, meninggalkan Arlan yang terpaku di tengah lobi. Pria itu menatap tangannya yang baru saja disentak, merasakan sebuah kekosongan yang aneh. Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa bukan Maya yang sedang ia hukum, melainkan dirinya sendiri yang sedang kehilangan segalanya.

1
Rini Yuanita
hadwch...udh bgus...maya mw pergi...ech mlah d bikin amnesia....skip dech thor...ujung² ny ttp balikan sm arlan😄😄😄
Bang Ipul
Cerita gak bermutu
Bang Ipul
jadi laki sok percaya diri sekali lo
Bang Ipul
bikin emosi deh
Nessa
hadeuhh 🤦🏻‍♂️🤦🏻‍♂️🤦🏻‍♂️
Nessa
baru awal bab udah menguras emosi
ㄒ丨乇
misi
partini
🙄🙄🙄🙄🙄
partini
wah Maya very good,,bikin Arlan kering kerontang biar mamposs
partini
enak benar nyalahi orang lain ,ayo Maya be strong be smart jadi wanita tangguh dan sukses bikin dunua mereka jungkir balik
maya: makasih KK sudah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!