Aurel, gadis sederhana dari desa Kembang, datang ke Jakarta demi menggantikan ibunya yang sakit. Hidupnya berubah saat ia bekerja di rumah keluarga kaya dan tanpa sengaja terlibat dalam kehidupan Arvano—pria dingin yang tak peduli wanita selain ibunya.
Perasaan yang seharusnya tidak ada— justru tumbuh di antara mereka.
Namun perbedaan status menjadi tembok besar yang memisahkan. Penolakan, penghinaan, dan masa lalu yang tersembunyi mulai menguji hubungan mereka.
Saat semuanya perlahan membaik dan kebahagiaan hampir tergenggam— sesuatu yang tak terduga terjadi.
Aurel menghilang.
Diculik oleh seseorang yang ingin menghancurkan hidupnya.
Dalam keputusan dan waktu yang terus berjalan, Arvano harus memilih—
Menyelamatkan wanita yang ia cintai?
atau kehilangan segalanya untuk kedua kalinya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bila Official, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4. Jatuh Dipelukan yang Salah
Siang itu, rumah besar milik keluarga Arvano terasa lebih hidup dibanding pagi tadi.
Cahaya matahari masuk dari jendela-jendela besar, memantul di lantai marmer yang bersih. Udara terasa hangat, tapi tetap nyaman karena sejuknya pendingin ruangan. Tidak ada suara gaduh hanya langkah kaki pelan dan sesekali bunyi peralatan dapur dari kejauhan.
Aurel baru saja selesai membersihkan ruang tamu ketika suara Indah memanggilnya dari arah tangga.
“Aurel.” Aurel langsung menoleh dan mendekat cepat. “Iya, Bu?”
Indah berdiri dengan wajah tenang, tapi terlihat sedikit serius. “Tolong bersihkan gudang ya. Sudah lama tidak dirapikan.”
Gudang. Aurel sedikit menelan ludah. “Iya, Bu.”
Indah mengangguk ringan. “Kalau ada barang yang sudah tidak dipakai, kamu susun saja di atas lemari yang penting rapi.”
“Iya, Bu.” Tanpa banyak bertanya, Aurel langsung menuju gudang. Langkahnya sedikit ragu, karena entah kenapa kata gudang selalu terasa menyeramkan.
Begitu pintu gudang dibuka. “Ck, banyak banget…” gumam Aurel pelan.
Ruangan itu tidak terlalu gelap, tapi penuh barang.
Kotak-kotak lama, perabot yang sudah tidak terpakai dan beberapa barang bahkan terlihat berdebu.
Aurel menarik napas panjang. “Bismillah.”
Ia mulai bekerja, satu per satu barang dipindahkan. Debu mulai menempel di tangannya. Sesekali ia batuk kecil, tapi tetap dilanjutkan.
Semakin lama gudang itu mulai terlihat lebih rapi.
Barang-barang dipisahkan yang masih dipakai di bawah, yang tidak dipakai disusun ke atas lemari besar di sudut ruangan.
Aurel mengangkat satu kotak cukup besar.
“Ini juga harus ke atas.” melihat ke arah lemari yang tinggi dan tidak ada kursi.
Aurel mengedarkan pandangan. “Duh nggak ada apa-apa ya.” Ia menggigit bibir.
Kalau tidak diselesaikan, nanti dimarahi. Akhirnya Ia mencobanya.
Aurel berdiri di depan lemari, mengangkat kotak itu setinggi mungkin. Kemudian berjinjit.
Sedikit lagi, Sedikit lagi
Tangannya hampir sampai.
“Eeh…!” Keseimbangannya goyah. Kakinya terpeleset sedikit dan dalam sepersekian detik, tubuhnya jatuh ke belakang.
“Aagh—!” Namun Ia tidak jatuh ke lantai. Ada tangan yang menangkapnya. Kuat, cepat, dan tiba-tiba Aurel sudah berada dalam pelukan seseorang. Tubuhnya menegang, matanya membesar dan ketika Arvano mendongak, Aurel langsung membeku.
Wajah itu sangat dekat, terlalu dekat. Tatapan dingin itu kini tepat di depannya.
Tidak ada yang bergerak, tidak ada yang bicara.
Hanya detak jantung Aurel yang terdengar keras di telinganya sendiri.
Arvano sedikit mengernyit. “Kalau mau ambil sesuatu, pakai kursi.” Suaranya datar, tanpa emosi.
Tapi cukup membuat Aurel langsung tersadar. “I-iya… maaf.” Aurel buru-buru menjauh. Wajahnya langsung merah.
Arvano tidak berkata apa-apa lagi. Dia hanya menatap sekilas lalu berbalik dan keluar dari gudang. Seolah kejadian itu tidak terjadi apa-apa.
Tapi bagi Aurel itu sangat berarti. Ia berdiri diam beberapa detik. Jantungnya masih berdebar.
“Kenapa sih aku ceroboh banget.” gumamnya pelan. Langsung menggeleng cepat. Terus kembali bekerja, kali ini lebih hati-hati.
Setelah gudang selesai, Aurel kembali ke dapur.
Feni sudah ada di sana, mencuci piring.
“Kamu sudah selesai?” tanya Feni.
“Iya, Bi.” sahut Aurel tersenyum.
“Bagus. Sini bantu cuci piring.” Aurel langsung ikut berdiri di sampingnya.
Air mengalir. Piring-piring disusun rapi. Suasana terasa tenang sampai ada yang—
Tok tok tok. Suara pintu depan.
Feni berhenti. “Aurel, kamu lanjut dulu ya.”
“Iya, Bi.” Feni berjalan ke depan.
Tak lama terdengar suara pintu dibuka. “Eeh, Mas. Silakan, masuk dulu.” Ucap Feni.
Aurel sedikit menoleh, penasaran. Beberapa pria masuk. Suara mereka terdengar santai. Tertawa kecil.
Feni kembali ke dapur.
“Itu teman-temannya Mas Arvano,” katanya.
Aurel mengangguk. “Oh.”
Tak lama, suara langkah kaki Arvano terdengar.
Dia keluar, lalu berkata singkat ke teman-temannya.
“Tunggu dulu.” Nada suaranya tetap datar. Kemudian Dia berjalan lagi ke dalam.
Feni mulai menyiapkan minuman. “Aurel, tolong antarkan ini ya.” “Iya, Bibi.” Aurel mengambil nampan berisi minuman. Tangannya sedikit gugup, karena ini pertama kalinya ia bertemu tamu.
Aurel melangkah ke ruang tamu. Di sana, tiga pria duduk santai. Begitu melihat Aurel, mereka langsung memperhatikan.
Aurel menunduk sedikit. “Permisi” Ia meletakkan minuman satu per satu.
Salah satu dari mereka tersenyum. “Eeh, baru ya?”
Aurel mengangguk. “Iya.”
“Siapa namanya?” Ucap Alga. “Aurel.”
“Gue Alga,” katanya santai. Yang lain ikut menyusul.
“Devon.”
“Fero.”
Aurel sedikit tersenyum canggung. “Salam kenal.”
Mereka terlihat ramah. Berbeda dengan bayangan Aurel.
Setelah selesai, Aurel pamit. “Saya ke dapur dulu,”
“Iya, santai aja,” kata mereka.
Aurel berjalan cepat kembali ke dapur, tapi karena sedikit gugup Ia tidak melihat seseorang dari arah depan.
Bruk!
“Aagh!”
Tubuhnya kembali kehilangan keseimbangan dan lagi Ia jatuh. Tepat ke pelukan seseorang. Untuk kedua kalinya. Aurel langsung tahu, tanpa perlu melihat. "Ini, Mas Arvano." kata didalam hati Aurel.
Teman-temannya yang melihat langsung terdiam.
Mata mereka membesar seolah tidak percaya karena belum pernah.
Tidak pernah. Mereka melihat Arvano menangkap seseorang seperti itu.
Aurel langsung menjauh. “Maaf! .....Maaf saya nggak sengaja” Wajahnya merah padam. Ia langsung pergi tanpa berani melihat lagi.
Arvano tetap diam. Sementara di belakangnya, ketiga temannya saling pandang. Sunyi beberapa detik.
“Van.” ucap mereka dengan barengan.
Arvano tidak menjawab.
“Lu, kenapa?” Arvano menoleh sedikit.
“Kenapa apa?” Devon menyeringai.
“Lu nangkep dia.” Fero ikut menimpali.
“Refleks sih tapi tetep aja aneh.” Alga menyipitkan mata. “Lu biasanya kalau ada orang jatuh paling cuma minggir.”
Arvano diam.
Kemudian Arvano berkata singkat. “Dia kerja di sini.”
“Itu bukan jawaban,” kata Devon.
Arvano menatap mereka satu per satu.
Tatapannya kembali dingin. “Minumannya dingin.”
Di dapur, Aurel bersandar sebentar di dinding.
Jantungnya masih berdebar. “Ya ampun, malu banget.” Ia menutup wajahnya sebentar.
Dua kali jatuh di orang yang sama dan itu bukan orang biasa. Itu Arvano.
Aurel menghela napas panjang. “Fokus, Aurel.... fokus.”
Feni melihatnya dari samping. “Kenapa?”
Aurel langsung gelagapan. “Enggak apa-apa, Bi.”
Feni tersenyum kecil.
Beberapa saat kemudian, Aurel mendekat lagi.
“Bibi” Ucap Aurel.
“Hm?” Sahut Feni
“Itu tadi teman-temannya Mas Arvano ya?”
“Iya.” Sahut Feni.
“Sekantor?”
“Iya. Mereka kerja bareng di PT Argas.” Ucap Aurel sambil tersenyum.
Aurel mengangguk pelan. “Ooh…”
Ia menatap ke arah ruang tamu. Pikirannya kembali ke kejadian tadi dan entah kenapa, ada perasaan aneh yang tidak bisa dijelaskan.
Sementara itu, di ruang tamu, percakapan masih berlanjut.
Alga bersandar santai.
“Van… serius deh. Itu siapa sebenarnya?” Ucap Devon penasaran.
Arvano diam.
Devon menambahkan, “Lu bahkan nggak pernah segitu refleksnya sama siapa pun.”
Fero tersenyum tipis. “Atau ada yang beda?”
Arvano akhirnya berdiri. “Ada kerjaan.”
“Lari dari pertanyaan,” kata Alga sambil tertawa.
Arvano berhenti sebentar, kemudian berkata pelan.
“Dia cuma anak baru yang gantikan Ibunya.” dan berjalan pergi. Tapi, entah kenapa langkahnya sedikit lebih lambat dari biasanya.
Seolah ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.
Sesuatu yang bernama Aurel.
Kemudian Temannya Pulang semua.