Lampu kristal yang menggantung di ruang tengah kediaman keluarga Arkatama tidak pernah benar benar mampu menghangatkan dingin yang membeku di antara Kyna dan Julian. Lima tahun pernikahan seharusnya menjadi perayaan tentang kesetiaan namun bagi Kyna itu adalah lima tahun pengabdian dalam sunyi yang mencekam. Tepat pada malam peringatan pernikahan mereka sebuah kebenaran pahit terkuak melalui celah pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Di sana di bawah kucuran air yang menderu Kyna mendengar suaminya menggumamkan satu nama yang selama ini menjadi hantu tak kasat mata dalam hidup mereka yakni Elara sang cinta pertama yang baru saja menginjakkan kaki kembali di tanah air.
Julian adalah pria yang membangun tembok es di sekeliling hatinya namun bagi Elara pria itu bersedia menjadi api yang menghangatkan. Setiap kali Julian pergi dengan alasan membantu seorang teman yang sedang kesulitan Kyna hanya mampu menjawab dengan seulas senyum tipis dan kata kata pendek yang menyembunyikan luka...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Tulus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sisa Rasa di Balik Pintu yang Terkunci
Di dalam ruang privat yang masih menyisakan kehangatan palsu Elara dengan cepat membaca situasi lalu menyela di saat yang tepat demi mencairkan ketegangan yang membeku di udara.
Perempuan itu menyentuh lengan Julian dengan gerakan lembut sembari membujuk pria itu agar tidak gusar atas ucapan teman temannya yang dinilai hanya mencemaskan masa depan sang presiden direktur.
Julian menghela napas panjang lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku mantel dengan gerakan yang teramat tenang seolah kepergian istrinya yang terluka bukanlah sebuah masalah besar yang harus merusak malam perayaannya. Bagi Julian Kyna tidak akan pernah bisa pergi jauh karena selama lima tahun terakhir perempuan pincang itu tidak memiliki dunia lain selain rumah besar yang menjadi sangkar emasnya.
Melihat respons Julian yang acuh tak acuh William kembali meloloskan gumaman tentang betapa murah hatinya Elara dan betapa ruginya hubungan mereka yang harus kandas di masa kuliah dahulu.
Elara berpura pura memelototi William dan menegurnya karena dianggap terlalu lancang mencampuri urusan pria yang sudah beristri namun di saat yang sama sepasang matanya menyiratkan kesedihan mendalam yang sengaja dipamerkan di hadapan Julian.
Di bawah pendar lampu kristal Julian hanya terus menggoyangkan gelas anggurnya membiarkan pusaran cairan merah itu mencerminkan bagaimana ia selalu menikmati peran sebagai penengah yang adil di antara lingkaran sahabatnya tanpa pernah benar benar membela Kyna.
Sementara itu di belahan kota yang lain seluruh dinding pertahanan Kyna runtuh begitu pintu kamar hotel tertutup rapat di belakang tubuhnya yang lelah.
Isak tangis yang ia tahan sepanjang jalan kini meledak menjadi raungan sunyi yang memilukan di tengah keheningan kamar yang asing.
Bayangan William yang memperagakan langkah timpangnya dengan tawa terbahak bahak terus berputar di pelupuk matanya bagaikan rekaman kutukan yang enggan berhenti.
Selama ini Kyna selalu memilih menutup mata dan telinga dari setiap bisikan miring para sahabat suaminya karena ia tidak ingin membebani Julian yang sudah bekerja keras di luar sana namun kini ia tersadar betapa naifnya pemikiran tersebut.
Pusaran ingatan kelam tentang gosip gosip lama yang pernah ia dengar selama lima tahun terakhir kini kembali datang menerjang pikirannya tanpa ampun.
Kalimat kalimat kejam tentang bagaimana dirinya dianggap sebagai beban yang memalukan bagi seorang pengusaha sukses seperti Julian terus bergema merobek sisa sisa harga dirinya.
Dengan jemari yang bergetar hebat Kyna membuka sebuah folder rahasia di ponselnya yang selama setengah dekade ini tidak pernah berani ia sentuh sebuah folder berisi rekaman video masa lalunya saat masih menjadi penari utama di universitas.
Ketika salah satu video berputar Kyna menyaksikan dirinya yang dulu begitu lincah melompat tinggi dan melakukan gerakan split sempurna di udara dengan wajah yang bersinar penuh rasa percaya diri di bawah siraman cahaya panggung. Air matanya mengalir semakin deras membasahi bantal hotel saat ia menyadari betapa mahalnya harga yang harus ia bayar hanya untuk menyelamatkan seorang pria yang kini menganggap cacat fisiknya sebagai sebuah aib.
Julian yang dulu berlutut memohonnya untuk menjadi istri dengan sebuah cincin berlian besar kini telah berubah menjadi sosok asing yang paling kejam dalam hidupnya.
Setelah berjam jam tenggelam dalam duka yang mencekam Kyna akhirnya bangkit dan membasuh wajahnya berulang kali di depan cermin kamar mandi mencoba mencari kembali sisa kewarasan yang ia miliki.
Menatap pantulan matanya yang bengkak dan tak bernyawa ia berbisik pada dirinya sendiri bahwa malam ini adalah kali terakhir ia diizinkan menangis karena besok ada sebuah ujian besar yang akan menentukan kemerdekaan hidupnya.
Satu satunya hal yang ia syukuri dari kesepian panjang selama lima tahun ini adalah keputusannya untuk terus belajar bahasa asing demi membunuh waktu luang yang membosankan di saat Julian selalu pulang larut malam dengan alasan kesibukan kantor.
Kesadaran tentang penolakan Julian sebenarnya sudah Kyna ketahui sejak ia tidak sengaja mengantarkan makanan ke kantor suaminya beberapa tahun lalu.
Saat itu di balik pintu kubikal yang sedikit terbuka ia mendengar Julian mengeluh kepada sahabatnya tentang betapa bingungnya ia menghadapi antusiasme Kyna setiap kali ia pulang ke rumah. Pertanyaan retoris dari sahabat Julian tentang kehidupan ranjang mereka dijawab dengan keheningan yang mengonfirmasi bahwa Julian tidak pernah menyentuh istrinya sendiri sejak malam pernikahan mereka.
Kyna ingat betul bagaimana hancurnya perasaan dia saat mendengar alasan jujur dari mulut Julian yang mengatakan bahwa ia langsung kehilangan gairah setiap kali melihat bentuk kaki Kyna yang mengecil akibat kecelakaan.
Kata kata Julian kala itu bagaikan jarum beracun yang tertanam di lubuk hati Kyna menggerogoti jiwanya setiap hari hingga membuat ia bersumpah untuk tidak akan pernah lagi menginjakkan kaki di gedung perusahaan suaminya.
Makanan yang ia masak dengan penuh cinta berakhir di tempat sampah malam itu bersamaan dengan matinya harapan Kyna untuk bisa dicintai secara normal oleh suaminya.
Kini dengan tiket ujian yang sudah tercetak di tangannya Kyna tahu bahwa waktu untuk membayar semua air mata ini telah tiba dan ia tidak akan membiarkan siapa pun menghalangi langkah kakinya menuju pintu keluar dari kehidupan Julian.
...***...
Pukul empat pagi ponsel Kyna yang semula mati mendadak bergetar sekali setelah ia mengaktifkannya kembali untuk memeriksa alarm ujian besok pagi.
Sebuah pesan teks masuk dari nomor Julian bukan berisi permohonan maaf melainkan sebuah lampiran foto jadwal keberangkatan pesawat atas nama Elara untuk liburan ke sebuah pulau pribadi minggu depan.
Di bawah foto tersebut Julian menuliskan sebaris kalimat dingin yang meminta Kyna untuk menyiapkan setelan jas terbaiknya karena Julian ingin Kyna ikut hadir dalam pesta pelepasan Elara esok malam tepat setelah ujian bahasa asingnya selesai dilaksanakan.
Kyna menatap layar itu dengan senyum getir menyadari bahwa Julian sedang menyiapkan panggung penghinaan berikutnya tanpa tahu bahwa besok malam adalah momen terakhir ia bisa melihat sosok istrinya di negara ini.