Diselingkuhi saat hamil besar, ia hampir kehilangan segalanya, termasuk anak yang belum sempat ia peluk.
Di titik terendah hidupnya, seorang pria asing menyelamatkannya.
Berbahaya. Dingin. Dan tidak pernah memberi tanpa imbalan.
Satu syarat.
Satu ikatan yang tak bisa ia tolak.
Demi bertahan… demi anaknya, ia menerima.
Lima tahun berlalu.
Hidup yang ia bangun perlahan terasa utuh, hingga masa lalu datang kembali, menuntut apa yang dulu ia abaikan.
Namun kali ini, ia bukan wanita yang sama.
Dan pria di sisinya…
bukan seseorang yang bisa disentuh tanpa konsekuensi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Mansion Keluarga Fan
Siang itu, Jean Fan duduk bersama putranya, Darius Fan, serta mertuanya, Mike Fan, kepala keluarga.
Suasana meja makan terasa tegang.
“Di mana istrimu? Kenapa dia tidak ikut denganmu?” tanya Mike tajam.
Darius menjawab santai, “Kakek, Alyssa sering menolak datang kalau ada acara keluarga seperti ini.”
Jean langsung menyela dengan nada sinis.
“Pa, anak itu tidak tahu diri. Dia bukan menantu yang baik. Menurutku, lebih baik Darius menceraikannya saja setelah dia melahirkan. Anak itu biar kita yang rawat.”
Mike menatap menantunya tajam.
“Sebagai seorang ibu, kau juga seorang wanita. Jika itu terjadi pada putrimu, apakah kau rela?”
Jean terdiam.
Darius mendecak pelan.
“Kakek, jangan salahkan Mama. Mama hanya tidak suka Alyssa yang tidak patuh. Dia tidak bisa melakukan apa pun. Seharian di rumah hanya makan, tidur, dan menonton.”
Mike menatapnya lebih dalam.
“Darius, dulu kau yang bersikeras ingin menikahinya. Kenapa sekarang kau berbicara seperti ini?”
Darius tersenyum sinis.
“Sebelum menikah, dia pintar mencari uang dan menjaga penampilan. Setelah menikah? Dia berubah jelek dan membosankan. Mana mungkin aku masih tertarik padanya?”
Wajah Mike langsung mengeras.
Jean kembali menimpali,
“Pa, sekarang Darius sudah punya wanita yang lebih cocok. Dia sedang dalam perjalanan ke sini. Saya yakin Papa akan menyukainya. Dia banyak membantu Darius di perusahaan.”
Brak!
Mike menghentakkan meja dengan keras.
“Kau ini ibu macam apa?” suaranya meninggi. “Anakmu sudah salah besar, tapi kau malah mendukungnya? Seharusnya kau menuntunnya kembali ke jalan yang benar!”
Jean terdiam, sedikit panik.
“Kakek, jangan marah,” sela Darius..“Vanessa ... wanita itu ... Kakek juga kenal. Dia sekretarisku. Selain cantik, dia juga pintar. Bisnis keluarga kita butuh orang seperti dia.”
Mike mendengus keras.
“Bisnis keluarga Fan masih punya putraku. Tidak serendah itu sampai harus bergantung pada wanita luar seperti kalian!”
Jean mengerutkan kening.
“Pa, Darius adalah cucu Anda. Penerus tunggal keluarga ini. Kalau bukan diserahkan padanya, lalu kepada siapa?”
Mike menatap mereka satu per satu. “Kalian lupa satu hal,” ucapnya dingin. “Aku punya dua putra.”
Suasana langsung berubah.
“Dia sudah kembali,” lanjut Mike. “Dan akan mengambil alih posisi tertinggi di perusahaan.”
Mata Darius membesar.
“Apa?” suaranya meninggi. “Tapi Paman memilih jalan yang berbeda! Dia tidak pernah tertarik dengan bisnis keluarga. Kenapa sekarang diberikan padanya?”
Jean menghela napas, lalu berkata dengan nada menekan,
“Pa, adik ipar sudah memiliki bisnis sendiri di luar. Papa juga tahu… dia seorang gangster. Ke mana pun dia pergi selalu dikawal. Kalau sampai para investor tahu, bukankah itu akan menghancurkan citra perusahaan kita?”
Suasana langsung menegang.
Namun Mike tetap tenang.
“Kemampuan Darius tidak bisa dibandingkan dengannya,” jawab Mike dingin.
“Putraku itu memang keras kepala dan sulit diatur. Tapi setidaknya, dia bisa menyelesaikan masalah.”
Tatapannya beralih ke Darius, lalu kembali ke Jean. “Selama Darius di perusahaan… apa yang benar-benar bisa dia lakukan?” lanjutnya tajam.
“Dia sudah diberi kesempatan. Bahkan mengikuti berbagai pelatihan. Tapi apa hasilnya?”
Darius mengepalkan tangan.
“Pada akhirnya,” kata Mike dengan suara berat, “tetap putraku yang harus pulang… mengambil alih… dan menyelesaikan semua masalah perusahaan.”
Darius mengepalkan tangannya, mencoba menahan emosi.
“Kakek, aku masih muda. Aku masih perlu belajar,” ucapnya. “Aku berjanji… akan menjadi lebih baik dan mengambil alih posisi Papa.”
Mike tertawa dingin.
“Kalau dulu bukan karena pamanmu mengalah pada ayahmu,” katanya tajam, “apa kau pikir ayahmu layak duduk di posisi direktur?”
Ruangan langsung hening.
“Seharusnya yang menjadi direktur utama adalah pamanmu, bukan ayahmu,” lanjut Mike. “Apalagi dirimu.”
Wajah Darius menegang. Jean juga terdiam.
“Skandal ayahmu tidak ada habisnya,” sambung Mike tanpa ampun. “Kemampuannya pun jauh di bawah pamanmu. Keduanya adalah anak kandungku… tapi tidak tahu kenapa, ayahmu tidak mewarisi kecerdasan seperti adiknya.”
Jean langsung menyela, mencoba membela.
“Pa, Darius masih muda. Karena itu dia butuh wanita yang cerdas untuk membantunya,” ujarnya cepat.
“Kami akan segera mengurus perceraian dengan Alyssa dan menikahkannya dengan Vanessa. Dengan begitu, ke depan Papa tidak perlu khawatir lagi.”
Mike langsung menatapnya tajam. “Menikah? Bercerai?” ulangnya dingin. “Alyssa sedang hamil besar, dan kau ingin mengusirnya begitu saja?”
Nada suaranya semakin berat.
“Jean, di mana hatimu? Kau juga pernah hamil. Seharusnya kau berpikir sebelum membuat keputusan."
Jean terdiam, tapi Darius kembali angkat bicara.
“Kakek, Vanessa jauh lebih baik dari Alyssa. Nanti setelah Kakek bertemu dengannya, Kakek pasti akan menyukainya.”
Seketika—
“Luar biasa.”
Suara dingin memotong.
Semua orang menoleh.
Seorang pria berjalan masuk dengan langkah tenang namun menekan.
Lucien Fan.
“Istrimu sudah hamil besar,” lanjutnya dengan tatapan tajam ke arah Darius, “tapi yang kau pikirkan justru wanita lain.”
Langkahnya berhenti di tengah ruangan. Aura dinginnya langsung memenuhi seluruh tempat.
“Sepertinya,” ucapnya pelan, “kau benar-benar tidak tahu arti tanggung jawab. Terhadap seorang istri saja bisa kau abaikan. Bagaimana mungkin kau mampu mengurus perusahaan besar milik keluarga."
ayooooo