Mikayla tidak hanya dikhianati.
Ia dihancurkan.
Dipaksa menikah menggantikan kakaknya, lalu dikhianati oleh suaminya sendiri bersama wanita yang seharusnya ia lindungi. Lebih kejam lagi, keluarganya sendiri merampas masa depannya membuatnya kehilangan satu hal yang paling berharga bagi seorang wanita.
Setiap hari diberi obat agar tidak bisa mengandung, Rahimnya dibuat tidak berfungsi, Namun mereka lupa satu hal, wanita yang mereka hancurkan tidak benar-benar mati.
Dua tahun kemudian, ia kembali dengan identitas baru sebagai Michelle Ad Lynne lebih cerdas, lebih dingin, dan jauh lebih berbahaya. Dengan kekuatan finansial triliunan dan kecerdasan yang terasah, ia tidak datang untuk meminta keadilan.
Ia datang untuk menghancurkan.
Sedikit demi sedikit, segala yang dia bangun mulai runtuh tanpa peringatan. Tanpa ampun, kenyataan itu menghantamnya keras seperti pisau yang terus-menerus menebas luka lama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 羽菜, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 Harta karun
Sore itu, Elang pulang lebih awal dari biasanya. Wajahnya tampak tenang seperti hari-hari lain, bahkan terlalu tenang untuk seseorang yang diam-diam sedang menyusun sesuatu di belakang.
Mikayla yang sedang duduk di ruang tengah hanya melirik sekilas, lalu kembali menutup bukunya pelan. Ia tidak lagi bertanya lebih dulu. Tidak lagi menunjukkan ketertarikan yang berlebihan. Semua sikapnya kini terasa pas sewajarnya seorang istri, tidak kurang, tidak lebih.
Elang mendekat, melepaskan jasnya, lalu duduk di hadapannya. “Mika,” panggilnya lembut, nada suaranya dibuat serendah mungkin, seperti dulu saat ia masih ingin terlihat meyakinkan.
Mikayla mengangkat wajahnya. “Iya, Mas?”
“Aku mungkin harus ke luar kota beberapa hari ke depan. Ada proyek baru yang harus aku tangani langsung,” ujarnya sambil menatap Mikayla, seolah mencoba membaca reaksinya.
Tidak ada yang berubah di wajah Mikayla.
Ia hanya mengangguk kecil. “Ke mana?”
“Bali,” jawab Elang singkat. “Cuma sebentar, paling tiga atau empat hari.”
Satu detik, hanya satu detik Mikayla terdiam, namun itu cukup untuk menguatkan semua yang sudah ia ketahui.
Villa itu dan pertunangan itu.
Semuanya terjadi di tempat yang sama. “Oh…” Mikayla tersenyum tipis. “Proyek besar, ya?”
Elang mengangguk, tampak lega karena tidak melihat kecurigaan di wajah istrinya. “Lumayan penting. Aku nggak bisa diwakilin.”
“Tentu,” jawab Mikayla tenang. “Mas kan memang harus turun langsung kalau urusannya penting.”
Kalimatnya terdengar wajar.
Elang bahkan sempat tersenyum, merasa semuanya masih berada dalam kendalinya. “Kamu nggak apa-apa aku tinggal?” tanyanya lagi, kali ini dengan nada yang terdengar seperti perhatian.
Padahal Mikayla tahu itu hanya formalitas, ia menggeleng pelan. “Aku baik-baik saja. Lagipula, aku juga ada beberapa hal yang ingin aku urus.”
“Hal apa?” tanya Elang refleks.
Mikayla menatapnya sejenak, lalu tersenyum samar. “Hal kecil saja. Mungkin nanti aku juga akan keluar sebentar.”
Elang tidak terlalu memikirkan jawabannya. Baginya, selama Mikayla tetap di tempatnya tenang, patuh, tidak banyak bertanya maka semuanya aman.
“Ya sudah, jaga diri baik-baik ya,” ucapnya sambil mengusap kepala Mikayla, gestur yang dulu terasa hangat, kini hanya terasa menjijikkan.
Mikayla tidak menolak, ia membiarkannya, membiarkan sandiwara itu tetap berjalan sampai waktunya tiba. “Aku selalu jaga diri kok, Mas,” balasnya pelan dan kali ini, kalimat itu bukan sekadar jawaban.
Melainkan janji.
Elang berdiri, lalu berjalan menuju kamar untuk bersiap. Sementara Mikayla tetap duduk di tempatnya, menunggu sampai langkah pria itu benar-benar menghilang dari pandangan.
Begitu suasana kembali sunyi, senyum di wajahnya perlahan memudar, digantikan oleh sesuatu yang jauh lebih dingin.
Permainan sudah jelas, panggungnya sudah ditentukan dan para pemain… sudah mengambil posisi masing-masing. “Pergilah, Mas,” gumamnya pelan.
Tatapannya mengarah ke lantai atas, ke arah kamar tempat Elang bersiap. “Siapkan pesta pertunanganmu…” Senyum tipis kembali muncul di bibirnya. “…aku akan menyaksikan dan mencatat siapa saja yang mengkhianatiku, mereka semua akan mendapatkan balasannya.”
___
Begitu pintu depan tertutup dan suara deru mobil Elang menghilang dari halaman, senyum manis di wajah Mikayla luntur seketika. Ia segera mengambil tisu dan mengusap bibirnya dengan kasar, ekspresi muak tak lagi ia sembunyikan. "Lombok? Atau hanya pindah ke bangsal VIP di rumah sakit?" desisnya tajam.
Mikayla tahu benar, Elang tidak sedang pergi ke luar kota untuk urusan proyek. Itu adalah alibi klasik agar dia bisa menghabiskan waktu sepenuhnya untuk merayakan "kebangkitan" Naura tanpa perlu khawatir Mikayla memergokinya di rumah sakit
Mikayla tidak membuang waktu. Dengan Elang yang pergi selama seminggu, ini adalah kesempatan emas baginya untuk bergerak tanpa pengawasan.
Penggeledahan Kamar Ibu Mertua.
Sore harinya, saat sang ibu mertua pergi arisan, Mikayla masuk ke kamar wanita yang telah merusak rahimnya itu, dengan tangan yang dibalut sarung tangan tipis agar tak meninggalkan sidik jari, ia memeriksa laci nakas. Di balik tumpukan botol suplemen mahal, ia menemukan apa yang ia cari, Strip pil KB yang sudah digunting-gunting dan dipindahkan ke dalam botol vitamin yang biasa diberikan kepadanya. Mikayla memotret semuanya, lalu mengambil satu sampel pil untuk dibawa ke laboratorium melalui bantuan Rasya.
Mikayla menyalakan laptop kerjanya. Berkat keahliannya di bidang perbankan, ia berhasil meretas masuk ke akun bersama yang selama ini dikelola Elang. Ia menemukan aliran dana yang sangat besar keluar dalam tiga bulan terakhir biaya perawatan intensif "pasien tanpa nama" di rumah sakit yang sama tempat ia bertemu Rasya.
"Ternyata kamu menggunakan uang hasil jerih payah kita untuk membiayai wanita yang membuatku disebut pembunuh, Mas?" Mikayla mencatat semua nomor rekening tujuan tersebut.
Ia memeriksa portofolio saham pribadinya. Sebuah perusahaan rintisan di bidang fintech yang ia beli sahamnya tiga tahun lalu baru saja melakukan Initial Public Offering (IPO). Nilai asetnya melonjak drastis. Kini, Mikayla memiliki cukup uang tunai untuk membeli sebuah apartemen atas namanya sendiri tanpa perlu bantuan siapapun
Mikayla tidak berhenti sampai di situ. Setelah memastikan semua data tersimpan rapi, ia menutup laptopnya perlahan, lalu bersandar sejenak di kursi kerja. Pikirannya bergerak cepat, menyusun potongan demi potongan menjadi satu gambaran yang utuh, pengkhianatan, manipulasi, dan aliran uang yang selama ini tersembunyi kini mulai menunjukkan bentuknya.
Ia kembali membuka ponselnya, menatap deretan foto yang baru saja ia ambil dari kamar ibu mertuanya. Bukti itu jelas, terlalu jelas untuk dibantah. Sudut bibirnya terangkat tipis, bukan karena puas, tapi karena akhirnya ia memiliki sesuatu yang nyata untuk dilawan.
Malam harinya, ia keluar rumah dengan penampilan sederhana, jauh dari kesan mencolok. Tidak ada yang akan menyangka bahwa wanita yang selama ini dianggap lemah itu sedang membawa potongan kunci untuk menghancurkan sebuah keluarga besar.
Sesampainya di kamar, ia tidak langsung beristirahat. Ia kembali membuka laptop, kali ini fokus pada data rekening yang tadi ia temukan. Jarinya bergerak cepat, menelusuri aliran dana satu per satu, mencocokkan waktu transfer dengan riwayat perawatan di rumah sakit dan disanalah pola itu terlihat.
Mikayla mencatat semuanya dengan rapi. Nomor rekening, tanggal, nominal, hingga pihak penerima. Setiap detail menjadi bagian dari puzzle yang kini hampir lengkap. “Pasien tanpa nama…” gumamnya pelan. “Atau lebih tepatnya… seseorang yang terlalu penting untuk diungkap.”
Ia berhenti sejenak, lalu membuka file lain data kepemilikan aset yang dikirim Reno sebelumnya. Villa di Bali, dana gelap, dan sekarang pembiayaan rahasia.
Semuanya saling terhubung dan di tengah semua itu, ada satu nama yang terus muncul, meski tidak pernah ditulis secara langsung.
Naura.
Mikayla menutup laptopnya lagi, kali ini dengan lebih mantap. Ia berdiri, berjalan menuju jendela, menatap gelapnya malam di luar sana, angin berhembus pelan, tapi pikirannya jauh dari tenang, Ia tidak hanya melawan pengkhianatan rumah tangga, tapi ia sedang membongkar sesuatu yang jauh lebih besar.
Perlahan, ia kembali ke meja, mengambil ponselnya, lalu mengetik pesan baru. “Aku butuh data pasien itu. Semua identitasnya. Jangan ada yang terlewat.”
Beberapa detik hening.
Lalu balasan muncul. “Kamu sudah siap kalau jawabannya lebih buruk dari yang kamu kira?”
Mikayla tidak langsung membalas, tatapannya kosong sejenak, namun bukan karena ragu, melainkan karena ia sudah tahu jawabannya.
“Aku sudah melewati yang terburuk.”
Pesan itu terkirim.
Ia meletakkan ponselnya, lalu membuka kembali catatan rencananya. Kini ada tambahan baru langkah konkret untuk keluar dari rumah itu. Apartemennya adalah tempat teraman, karena apartemen itu is beli sebelum menikah dengan elang, tempat di mana ia tidak lagi harus berpura-pura.
Ia membuka situs properti, memilih dengan cepat, tanpa banyak pertimbangan emosional. Lokasi strategis, keamanan tinggi, dan yang terpenting atas namanya sendiri.
Mikayla menutup layar, lalu menarik napas panjang. Untuk pertama kalinya, ia merasa memiliki kendali penuh atas hidupnya sendiri. “Pelan-pelan…” bisiknya.
Senyumnya tipis, tapi penuh arti. “Satu per satu… aku ambil kembali semuanya.”
Dan malam itu, tanpa ada yang menyadari, seorang istri yang selama ini dianggap lemah, telah resmi memulai langkahnya untuk pergi, bukan untuk lari, tapi untuk memastikan, saat ia kembali nanti, tidak ada yang tersisa dari mereka.