NovelToon NovelToon
MANTAN JENDERAL MENANTIKAN PERNIKAHAN

MANTAN JENDERAL MENANTIKAN PERNIKAHAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Yorozuya Rin

Pada tahun kesembilan pemerintahan Huangdi, Jenderal Shen meninggal di Qi Huai. Kaisar saat itu memberinya gelar kehormatan anumerta sebagai Marquis Yongqing.

Pada bulan kedua belas tahun yang sama, Nona Shen kedua, yang telah menemani neneknya ke pegunungan untuk melakukan ritual Buddha selama lima tahun, kembali ke rumah. Hal pertama yang dihadapinya saat tiba adalah hukuman berlutut di aula leluhur.

Di aula leluhur, sesepuh keluarga Shen memarahinya, menyuruhnya untuk tidak bertindak sembrono di masa depan dan untuk dengan patuh menunggu para sesepuh mengatur pernikahan untuknya.

Perjalanan penantian pernikahan mantan jenderal pun dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yorozuya Rin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menantang Awan Bergerak.

Angin malam menderu pelan di luar, membawa serpihan salju yang sesekali menghantam kisi jendela.

Di dalam kamar, cahaya lampu minyak bergoyang, menciptakan bayangan panjang yang menari di dinding.

Shen Yue berdiri di depan lemari, membongkar pakaian dengan gerakan agak tergesa namun tetap hati-hati, sementara Shen Fuyan duduk santai di dekat meja, satu tangan menopang dagu, matanya mengamati ruangan tanpa sungkan.

Ruangan itu lebih menyerupai dunia pribadi yang terasing dari keluarga Shen.

Aroma kayu segar dan pernis memenuhi udara.

Di mana-mana terdapat balok kayu, cetak biru dengan garis-garis rumit, serta alat ukir yang tersusun rapi namun tampak sering digunakan.

Rak-rak tua dipenuhi benda-benda aneh, bunga kayu yang tampak hidup, miniatur bangunan yang begitu detail, hingga senjata kecil seperti busur dan kotak anak panah.

Tatapan Shen Fuyan perlahan bergeser lalu berhenti.

Tiga busur tergantung di dinding.

Dua di antaranya familiar, busur panjang militer, dan busur berat milik pemanah elit.

Namun yang ketiga…

Alisnya mengernyit.

Bentuknya aneh. Tali-tali bersilangan seperti anyaman, dan di bagian tengahnya terdapat mekanisme seperti roda kecil.

“Itu… busur?” tanyanya.

Shen Yue menghentikan gerakannya.

“…Kurasa begitu.”

“Kurasa?” Shen Fuyan menoleh, tajam.

Shen Yue menunduk sedikit, suaranya mengecil.

“Aku membuatnya berdasarkan Catatan Karya Jenius. Bentuknya benar… tapi bahannya tidak.”

Ia menarik napas pelan.

“Busur itu seharusnya menggunakan batu gao dan baja. Tapi bahan seperti itu… hanya tersedia di Departemen Manufaktur Militer.”

Shen Fuyan langsung berdiri.

“Batu gao?” ulangnya pelan, namun nadanya berubah. “Itu terlalu berat.”

“Ya…” Shen Yue mengangguk, tampak ragu.

“Tapi menurut buku itu… busur ini justru lebih efisien. Akurat. Dan jangkauannya sangat jauh.”

Ia menelan ludah.

“Busur berat biasa bisa mencapai seratus langkah… tapi ini…”

Ia berhenti sejenak, lalu berkata lirih—

“…satu li.”

Tangan Shen Fuyan langsung mencengkeram bahu Shen Yue.

“Satu li?!”

Suaranya hampir memecah keheningan malam.

Shen Yue panik, langsung melirik ke arah pintu, wajahnya pucat. Namun halaman tetap sunyi.

Shen Fuyan tidak peduli.

Matanya justru menyala.“Satu li…” gumamnya.

Ia berpikir cepat, lalu bertanya, “Buku itu langka?”

“Tidak. Dijual bebas.”

Jawaban itu membuat suasana berubah.

Jika teori ini benar, mengapa militer tidak menggunakannya?

Atau… memang sengaja tidak digunakan?

Shen Fuyan perlahan melepaskan bahunya.

“Jalan Kekaisaran,” katanya tiba-tiba. “Seberapa lebar?”

“Empat puluh lima zhang,” jawab Shen Yue tanpa berpikir.

“Kurang dari setengah li…”

Senyum tipis muncul di bibir Shen Fuyan.

“Busur biasa hanya efektif dalam dua puluh satu zhang. Itu sebabnya pembunuh tak bisa menyerang kereta kaisar dari pinggir jalan…”

Ia menoleh, matanya tajam.

“Tapi kalau ada busur dengan jangkauan satu li”

Shen Yue menegang.

“Membunuh di Jalan Kekaisaran… akan semudah bernapas.”

Keringat dingin merembes di punggung Shen Yue.

Tanpa berkata lagi, Shen Fuyan mengambil pakaian pria dari tangannya dan masuk ke balik tirai.

Tak lama kemudian, ia keluar sosoknya kini lebih ramping, gesit, dan sepenuhnya menyerupai pemuda bangsawan.

Ia melangkah ke jendela.

“Namanya?” tanyanya santai.

Shen Yue ragu, lalu berbisik,

“…Busur Matahari Terbenam.”

Tanpa komentar, Shen Fuyan langsung melompat keluar jendela.Malam menyelimuti ibu kota.

...----------------...

Salju menutupi atap-atap, memantulkan cahaya bulan yang redup. Dari kejauhan, kota tampak sunyi namun ketenangan itu menipu.

Shen Fuyan bergerak cepat di atas atap, langkahnya ringan meski licin.

Tujuannya kediaman Pei Yuling di Jalan Fude.

Rumah keluarga Pei berdiri megah di antara para bangsawan. Bahkan dari luar, aura kekayaan dan kekuasaan terasa jelas.

Shen Fuyan berjongkok di atap, mengamati.

“Kalau benar setampan yang mereka bilang…” gumamnya, “tidak terlalu buruk.”

Ia berhenti.

Lalu tersenyum tipis.

“Tapi tetap saja… bukan pilihanku.”

Ia melompat turun, menyelinap mendekati jendela.

Di dalam, Pei Yuling berdiri di depan meja.

Jubah hijau bambunya jatuh rapi, gerakannya tenang, terkendali. Wajahnya tampan, namun dingin seperti seseorang yang tak mudah disentuh dunia luar.

Menarik.

Namun tiba-tiba

Pintu terbuka.

Seorang pelayan wanita masuk, membawa sup panas.

“Tuan Muda…” suaranya lembut, nyaris menggoda.

Tangannya menyentuh bahu Pei Yuling.

Shen Fuyan mengangkat alis.

Namun “Keluar.”

Suara Pei Yuling dingin.

Tanpa ragu.

Pelayan itu langsung pucat, lalu diseret keluar.

Sunyi kembali.

Shen Fuyan mengerutkan kening.

“Sulit,” pikirnya.

Hingga

ia melihat lukisan di tangan Pei Yuling.

Seorang wanita.

Matanya langsung berbinar.

“Ah… jadi ini.”

Setelah Pei Yuling tidur, Shen Fuyan menyelinap masuk.

Satu lukisan.

Dua.

Tiga.

Semuanya wanita yang sama.

Ia hampir tertawa.

“Kalau ini bukan kekasihnya… aku salah besar.”

Dengan puas, ia pergi.

Namun

Sret!

Anak panah melesat, nyaris menyentuh pipinya.

Alarm malam berbunyi.Shen Fuyan langsung berlari.

Namun panah demi panah terus mengejar akurat, konsisten, tak meleset arah.

“Ini…”

Ia mengerutkan kening.

“Bukan kebetulan.”

Saat mencapai Gang Ren‟an, panah terakhir melemah dan tersangkut di pohon.

Langit gelap, awan menutup bulan.

Kesempatan.

Ia menghilang.

Namun pikirannya bekerja.

Arah panah tidak berubah.

Jaraknya… terlalu jauh.

Ia melompat ke atap dan melihat

Menara Qitian.

Matanya menyipit.

Ia kembali, mengambil anak panah.

Dingin.

Berat.

“Batu gao…”

Jantungnya berdetak lebih cepat.

Alih-alih takut,

ia tersenyum.

“Menarik.”

Ia menutup wajahnya, lalu berlari ke arah menara bahkan sengaja berdiri di tempat terbuka.

Menantang Awan bergerak.

Bulan muncul.

Dan di atas menara, seorang pria berdiri.

Jubah perak putihnya berkibar, rambutnya panjang, wajahnya dingin dan tak tersentuh.

Seperti makhluk dari dunia lain.

Namun, Shen Fuyan hanya tersenyum.

Bukan kagum.

Melainkan tertarik.

Ada dorongan dalam dirinya untuk menyeret sosok setinggi itu… turun ke dunia kotor ini.

Dan melihat… apakah ia masih bisa tetap setenang itu.

1
Nurhasanah
suka banget sama karakter cwek yg badas nggak menye2 🥰🥰🥰 lanjut thor
Nurhasanah
lanjut thor 🥰🥰🥰
Sri Yana
tolong perbanyak episode nya, ceritanya semakin menarik....
Zhou Yan: maaf ya othor hanya bisa up 1 ep sehari, karena othor punya 4 cerita on going, lumayan menguras emosi kalo harus up lebih dari 1 episode. /Sob/
Jadi selagi nunggu othor up cerita lagi, kakak bisa baca cerita on going othor lainnya ya, 🙏🤭🤭
total 1 replies
Nurhasanah
karya yg bagus di tunggu lanjutan nya 👍👍👍
Nurhasanah
lanjut thor ... makin seru 🥰🥰🥰
Mydar Diamond
lanjuutt 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!