WARNING! Sebelum mulai membaca, tolong baca tagar dahulu. Karena di sini area bebas JULID, dilarang mengomel hanya karena keinginan Anda tak sejalan dengan pemikiran Author.
•
Cinta itu menuntun dirinya untuk membuat keputusan paling kejam, memilih satu diantara dua wanita. Di antara tangis dan perih dua wanita yang lain, ia tetap mempertahankan wanita yang ia cinta.
Setelah keinginan diraih, takdir kembali lancang menuliskan jalannya tanpa permisi. Sekali lagi ia kehilangan, tapi kali ini untuk selamanya.
Terombang ambing dalam amarah, serta sempat menjauh dari-Nya. Tapi sepasang tangan kecil tetap meraih dirinya penuh cinta, tulus tanpa berharap imbalan jasa.
Apakah tangan kecil itu mampu menuntun Firza kembali ke jalan-Nya?
Lantas bagaimana dengan dua wanita yang pernah disakiti olehnya?
Mampukah Firza memantapkan hatinya pada cinta yang selama ini terabai oleh keegoisannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#4
#4
Beberapa jam sebelumnya.
“Resha, kamu mau kemana lagi?” tanya Nyonya Yu, karena putrinya sering keluar rumah belakangan ini.
“Mau ke dokter, Ma.” Sambil menjawab, Resha mengambil syal serta memakai masker untuk menutupi sebagian wajahnya.
“Tapi jadwalnya masih lusa.”
Dengan terburu-buru Resha menyambar tas punggungnya, “Terlalu lama, Ma. Aku harus bergegas, tak ada banyak waktu, aku harus merebut kembali lelaki yang seharusnya tetap milikku.”
“Jangan egois, Nak, mereka bahkan sudah punya anak.” Nyonya Yu bersikeras menahan kepergian putrinya.
Resha menghempaskan tangan Nyonya Yu dengan emosional, “Aku tak peduli, Ma. Memang siapa wanita itu? Dia bahkan tak berjuang mendapatkan Firza, tapi bisa berdiri di sisinya dengan status sebagai istri. Itu nggak adil, Ma! Nggak fear!” jerit Resha frustasi.
Air matanya berlinang, dengan kasar ia menyibak rambut yang pernah rontok total sebelumnya, kini kembali tumbuh, namun, tak seindah dan selebat dahulu. “Aku yang lebih dulu mencintainya, aku hampir mendapatkannya, hingga— hingga— penyakit sialan ini datang, menghancurkan segalanya,” sambungnya dengan putus asa.
“Tapi kamu sembuh, kan? Jangan menghancurkan dirimu dengan melakukan hal yang konyol. Kamu cukup bersabar sebentar lagi, dokter bilang hanya tinggal membersihkan sisa-sisa sel kanker di tubuhmu. Sedikiiit lagi,” bujuk Nyonya Yu dengan suara rendah dan pelan, karena melawan Resha tak bisa dengan suara tinggi, dia terlalu keras kepala.
Tapi Resha menggeleng, “Tidak, Ma. Aku harus bergerak cepat,” katanya, tanpa menghiraukan peringatan mamanya yang berusaha menghalangi langkahnya.
“Resha! Resha!”
Sia-sia saja ia berteriak, karena Resha sudah berlari keluar dari apartemen mereka.
•••
“S-s-sha,” kata Firza, terbata.
Di hadapannya, Resha mematung diam, tak menyangka akan bertemu Firza, padahal ia datang untuk kontrol rutin, serta mengambil obat dari dokternya.
Belum saatnya, ia belum siap bertemu Firza saat ini, saat tubuhnya masih ringkih, ia tak mau Firza mengasihaninya karena penyakitnya semata. Ia tetap serakah menginginkan janji cinta sejati yang dahulu mereka ikrarkan.
Ting!
Pintu lift terbuka, Resha segera berlari, dan Firza yang masih tertekan di tempatnya segera ikut menyusul keluar. Tapi di luar terlalu ramai, dan Resha menghilang dengan cepat seperti tak pernah terlihat.
Firza terus mencari, pandangan matanya menyapu sekitaran, ada orang-orang yang berjalan tenang, dan ada pula orang-orang yang wajahnya penuh kekhawatiran. Tapi orang yang Firza cari tak juga ia temukan, padahal banyak hal ingin ia tanyakan.
Langkah kaki Firza hampir mengelilingi seluruh area lobi depan rumah sakit tersebut, di halaman rumah sakit, dan juga tempat parkir, yang mungkin Resha datangi karena tak mungkin ia datang ke rumah sakit dengan berjalan kaki. Tapi semuanya nihil.
Nafas dan jantung Firza saling berlomba, karena lagi-lagi ia tak berdaya. Tapi kali ini ia tak menyerah, apapun yang terjadi dirinya harus bertemu dan meminta penjelasan pada Resha.
Kenapa dulu tiba-tiba menghilang?
Kenapa tak pernah berkabar?
Apakah janji cinta yang dulu, hanya pemanis bibir semata?
Firza menghampiri mobilnya, pria itu bergegas keluar dari tempat parkir dan menjalankan mobilnya menuju tempat yang tak seharusnya ia tuju. Sementara ia melupakan tujuan utama yang seharusnya ia dahulukan, yakni pulang ke rumah serta mengambil pakaian ganti untuk anak istrinya.
Setelah memacu mobil seperti sedang kehilangan arah, Firza pun tiba di rumah keluarga Yu. Pria itu turun guna bertanya pada security yang berjaga di depan rumah, “Siang, Pak. Apa Resha sudah tiba di rumah?”
Security yang sedang berjaga saling pandang, “Maaf, Pak. Di rumah ini tak ada yang bernama Resha.”
“Bapak jangan bercanda, ya! Saya kenal dengan baik pemilik rumah ini, jadi jangan menutupi apapun dari saya!” bentak Firza, nada suaranya naik beberapa tingkat karena emosi yang tak bisa ia kendalikan.
Salah satu security yang tampak tak suka dengan bentakan Firza, langsung berdiri dan mengacungkan tongkat pemukul di hadapan Firza. “Kami ini sudah bekerja hampir satu tahun disini, kalau bapak pikir pekerjaan kami hanya candaan, maka kami tak akan tinggal diam!”
“Sudah-sudah, biar aku yang bicara dengannya.” Rekan security itu dengan bijak menengahi, agar keributan tak berkelanjutan. Maka mereka pun menepi, agar bisa bicara secara pribadi.
“Pemilik lamanya sudah menjual rumah ini, jadi sekarang rumah ini sudah dihuni pemilik baru. Begitu kronologinya, Pak,” tutur security.
“Apa?! Dijual, Pak?” ulang Firza, setahunya, keluarga Yu bukanlah keluarga yang kekurangan finansial, hingga harus menjual rumah peninggalan keluarga mereka secara turun temurun. “Alasannya apa, Pak?”
Security itu menggeleng, karena ia hanya bertugas di pintu depan, jadi urusan internal ia tak paham sama sekali.
“Lalu, apa bapak tahu, kemana keluarga yang dahulu menempati rumah ini?”
“Sayang sekali, Pak. Itu, pun, saya tak tahu.”
Lemas rasanya tubuh Firza, karena tak bisa mendapatkan jawaban dari rasa penasarannya.
Hingga dering ponsel, mengembalikan kesadaran dirinya. “Iya.”
“Bang, Assalamualaikum.” Ersha yang menghubunginya.
“Waalaikumsalam, iya, Er?”
“Abang, masih lama?”
“Astaghfirullah,” ucap Firza dalam hati. Karena melihat Resha ia jadi melupakan niat utamanya meninggalkan rumah sakit pagi ini.
“Aduh, iya, maaf, barusan Abang ketiduran.”
“kalau bisa, Cepat, ya, Bang. Barusan Abizar muntah di pangkuanku, dan aku gak punya baju cadangan lagi.”
Firza pun pamit tanpa suara pada sang security, “I-iya, Sayang. Sebentar lagi Abang on the way ke rumah sakit lagi.”
“Iya, Bang. Aku tunggu. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
•••
Satu jam kemudian, Firza pun tiba kembali di rumah sakit. Jangan ditanya ia mengemudi dengan kecepatan seperti apa, yang penting bisa cepat sampai di rumah sakit.
Abizar yang masih membuka mata, langsung mengarahkan kedua tangannya pada sang ayah. “Yayaaah—” katanya dengan suara lirih.
Sebelum menggendong Abizar, Firza meletakkan tas berisi pakaian, serta kresek lain yang berisi makanan. “Ini pakaian gantinya, maaf, ya, kalau terlalu lama. Aku juga beli makanan.”
“Abang sudah makan?”
“Belum, kamu makan duluan saja, karena Abizar butuh banyak ASI darimu.”
Ersha tersenyum hangat, perhatian kecil ini sangat berharga, dan karena ini pula, Ersha mati-matian menyangkal bahwa suaminya masih memiliki rasa pada wanita dari masa lalunya.
Setelah Ersha masuk ke kamar mandi, Firza membawa Abizar ke balkon kamar, agar putranya bisa menikmati udara segar. Tangan dan tubuhnya fokus memeluk Abizar yang sedang manja, tapi pikirannya mengembara kemana-mana memikirkan pertemuan singkatnya dengan sang mantan kekasih.
Kenapa mendadak ia jadi semunafik ini, lisannya mengucapkan kata sayang pada istrinya. Padahal kepalanya sedang memikirkan Resha, Resha, dan Resha.
toh sama" single