Empat tahun Inara menjadi ibu susu bagi Zidan. Selama itu pula, ia mendapatkan cinta dari Reno, ayah Zidan, bahkan mereka berencana untuk menikah.
Namun semuanya berubah saat Zoya, mantan istri Reno sekaligus ibu kandung Zidan, kembali dengan niat menebus kesalahan. Sejak saat itu, kehidupan Reno dan Zidan perlahan berpusat pada Zoya. Sementara Inara justru merasa tersisih dan selalu menjadi pihak yang disalahkan.
Inara tidak pernah tahu di mana letak kesalahannya, hingga membuat Reno yang dulu mencintainya kini berubah dingin.
Apa yang sebenarnya terjadi? Akankah Inara memilih bertahan atau justru akan pergi karena merasa sudah tidak dipilih lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Suara itu membuat semua orang yang berada di ruangan langsung menoleh ke arah pintu.
Reno, Zoya, dan Inara sama-sama terdiam ketika melihat sosok Altaf berdiri di sana. Tangan kanannya masuk ke saku celana, sementara tangan kirinya menggandeng Baba yang melangkah santai tanpa rasa takut sedikit pun, seolah suasana tegang di dalam ruangan bukan hal yang mengganggu dirinya.
Tatapan Reno langsung mengeras.
“Kamu kenapa ada di sini?” tanyanya dingin. Rumah yang sejak tadi terasa seperti medan perang itu kini terasa seperti pasar yang bebas siapapun masuk.
Altaf melirik sekilas kondisi ruangan sebelum menjawab santai, “Aku lihat ada drama yang cukup menarik. Pintu juga kebetulan tidak ditutup.”
Reno hampir meledak mendengar jawaban itu, tetapi Altaf tidak memberinya celah untuk menyela.
“Sekarang bukan waktunya marah karena aku masuk tanpa izin,” lanjutnya datar, tatapannya bergeser pada Reno dan Zoya bergantian. “Lebih baik selesaikan masalah kalian.”
Zoya yang sejak tadi masih memegang ponsel langsung mematikan siaran langsungnya. Wajahnya sedikit berubah, ia jelas mengenali nama Altaf.
Bagaimanapun juga, ia tahu siapa pria itu. Sebelum pergi ke luar negeri, ia pernah mencoba bergabung dengan salah satu agensi milik perusahaan Altaf, meski tidak pernah berhasil masuk. Nama itu cukup besar untuk tidak diabaikan.
“Pak Al…” Zoya tersenyum kaku. “Kenapa Anda ada di sini?”
Altaf mengangkat sebelah alis. “Kamu kenal saya?”
“Tentu saja.”
Namun senyum Zoya tidak bertahan lama. Ia segera mengalihkan perhatian kembali pada Inara.
“Pak Al, Anda jangan sampai tertipu,” ucapnya cepat. “Dia melakukan apa yang saya katakan tadi. Ini bukan fitnah, ini fakta.”
Inara yang sejak tadi menahan emosi akhirnya mengembuskan napas pelan. Ia lelah, benar-benar lelah.
“Jadi sekarang aku dituduh merebut suami orang?” tanyanya pelan, suaranya tidak tinggi, tetapi terdengar jelas.
Zoya langsung menyilangkan tangan di dada. “Masih mau pura-pura tidak tahu?”
Inara tidak menjawab. Tatapannya justru beralih pada Reno.
Lelaki itu berdiri di sana. Beberapa kali ia memang sempat menegur Zoya, tetapi tidak pernah benar-benar membantah tuduhan yang diarahkan kepadanya, dan itu sudah cukup bagi Inara.
“Mas,” ucapnya pelan.
Reno menoleh.
“Kalau istrimu merasa aku merebut kamu, aku kembalikan kamu padanya.”
Kalimat itu membuat kening Reno langsung berkerut.
“Dan untuk rencana pernikahan kita… aku sudah memikirkannya baik-baik.”
Reno langsung merasa tidak nyaman.
“Kita batalkan saja semuanya.”
Ruangan langsung hening. Zoya nyaris tidak menyembunyikan senyum kecil di sudut bibirnya, sementara Reno hanya menatap Inara dengan sesuatu yang sulit dijelaskan, campuran kaget, takut, dan tidak siap kehilangan.
“Ra…” suara Reno pelan, nyaris tertahan.
Namun sebelum suasana sempat memburuk, suara kecil lebih dulu terdengar.
“Mama Ala…”
Zidan berdiri masih dengan mata berkaca-kaca. Wajahnya jelas tidak memahami apa yang terjadi, tetapi ia cukup mengerti satu hal, orang-orang dewasa di depannya sedang bertengkar tentang dirinya.
“Mama Ala nggak mau Idan lagi?”
Air mata langsung jatuh dari matanya. Membuat Inara tersentak. Dadanya terasa sesak melihat anak itu menangis, tetapi sebelum ia sempat melangkah, Baba sudah lebih dulu maju.
“Tante Inara masih punya aku,” kata Baba polos, berdiri di samping Inara dengan dagu terangkat bangga. “Kalau Tante sedih, aku temenin.”
Lalu ia melirik Zidan.
“Jadi kamu gak usah bikin Tante sedih. Tante juga gak butuh anak nakal sepertimu."
Kalimat polos itu membuat Zidan semakin terisak. Dan saat itu juga, kesabaran Reno benar-benar habis.
“Hai!” bentaknya keras. “Jaga omongan kamu!” Reno mengacungkan jari telunjuknya ke arah Baba.
Tubuh kecil itu langsung bergetar. Baba refleks memeluk erat Inara, mencari perlindungan.
Melihat itu, wajah Altaf langsung berubah tegang.
“Reno!” bentaknya. “Kamu bikin anakku ketakutan!”
Reno tidak langsung menjawab. Napasnya tidak beraturan, dadanya naik turun. Pikirannya sudah terlalu penuh hingga sulit membedakan mana yang harus ia tangani lebih dulu. Inara, Zoya, Zidan, semuanya bertumpuk di kepalanya. Ia mengusap wajahnya kasar, frustrasi.
“Aku sudah gak bisa mikir jernih…” gumamnya pelan, lebih seperti pada dirinya sendiri.
Semua yang ia rencanakan terasa berantakan. Awalnya ia pikir kejutan yang ia bawa akan memperbaiki keadaan, membuat Inara kembali melunak. Tapi semuanya justru berbalik kacau sejak Zoya masuk, dan sekarang situasi semakin tidak terkendali karena anak kecil yang dibawa Altaf ikut terseret di dalamnya.
Rahang Reno mengeras. Tangannya mengepal.
“Semua ini… berantakan.”
Lalu suaranya naik lagi, lebih keras, dipenuhi ledakan emosi yang sudah tidak bisa ia tahan.
“Kalian semua pergi dari sini!”
Inara mengembuskan napas berat. Tanpa banyak bicara, ia langsung menggendong Baba lalu melangkah keluar dari ruangan itu.
Zidan yang melihat Inara pergi bersama Baba langsung berteriak panik.
“Mama Ala…”
Suaranya bergetar, membuat dada siapa pun yang mendengar terasa sesak.
Sementara itu, Zoya hanya menarik sudut bibirnya pelan. Tanpa rasa bersalah, ia mendekati Zidan dan berjongkok di hadapannya.
“Kan Mama Ara tidak mau Zidan lagi,” ucapnya pelan, tapi menusuk. “Jadi sekarang Zidan cuma punya Bunda Oya.”
Zidan langsung menangis dan memeluk kaki Reno yang masih berdiri dengan emosi yang belum reda.
Melihat itu, tatapan Reno langsung berubah tajam ke arah Zoya.
“Cukup,” suaranya rendah tapi penuh tekanan. “Kamu bikin Zidan takut, Zoya.”
Zoya mengangkat bahu ringan.
“Aku cuma bilang fakta.”
“Fakta?” Reno tertawa hambar, tapi tidak ada sedikit pun kehangatan di sana. “Kamu anggap ini semua permainan?”
Ia melangkah setengah, rahangnya mengeras.
“Ini semua karena kamu. Kalau kamu gak datang dan bikin kekacauan, Inara gak akan pergi, dan Zidan gak akan seperti ini.”
Zoya justru tertawa kecil, seolah tidak tersentuh sama sekali oleh amarah itu.
“Ren,” ucapnya pelan, “kamu itu kayaknya butuh istirahat… atau mungkin ke psikolog. Ingatanmu mulai selektif.”
“Zoya!”
“Jangan teriak,” potong Zoya tenang. “Aku masih bisa dengar kok.”
Zoya menatap Reno lurus tanpa senyum, sorot matanya kali ini benar-benar dingin.
“Kamu lupa ya?” ucapnya pelan, tapi setiap kata terasa menekan. “Aku bukan satu-satunya penyebab semua ini. Kamu sendiri yang membuka ruang untuk semuanya terjadi.”
Reno mengepalkan tangannya. Rahangnya mengeras, dadanya naik turun menahan emosi yang mulai tidak terkendali. Ia ingin membantah, ingin memotong ucapan itu, tetapi kata-katanya seperti tertahan di tenggorokan, tidak menemukan jalan keluar.
Zoya tidak memberinya kesempatan untuk tenang.
“Aku punya video tadi,” lanjutnya tanpa berubah nada. “Kamu tahu aku seperti apa. Kalau kamu tetap memaksakan perceraian ini, aku bisa membuat Inara semakin dibenci publik.”
Mata Reno langsung menajam.
“Zoya, kamu berani?”
Zoya justru tertawa kecil, ringan, seolah ancaman itu bukan apa-apa baginya.
“Apa sih yang tidak berani aku lakukan, Ren?” balasnya tenang. Ia melangkah sedikit lebih dekat, lalu menatapnya langsung, tanpa ragu sedikit pun.
“Kamu tahu aku cuma mau kamu dan Zidan.”
Senyumnya perlahan memudar, digantikan sesuatu yang lebih dingin. “Dan kalau aku tidak bisa mendapatkan itu… orang lain juga tidak akan bisa.”
Hening sesaat menggantung di antara mereka, sebelum tatapan Zoya bergeser sekilas ke arah pintu yang tadi dilewati Inara.
"Termasuk dia."
Run inara run