Di dunia yang dikendalikan oleh data, kekuasaan bukan lagi milik mereka yang duduk di kursi tertinggi—melainkan milik mereka yang menguasai sistem. Dan di puncak bayangan itu, ada satu nama yang tak pernah benar-benar ada… namun ditakuti semua orang.
Veyra Noctis.
Tak ada wajah, tak ada identitas pasti. Hanya jejak digital yang dingin dan presisi. Ia bukan sekadar hacker—ia adalah arsitek kehancuran. Ambisinya bukan uang, bukan ketenaran… melainkan kendali penuh atas dunia yang pernah merenggut segalanya darinya.
Dulu, Veyra hanyalah seseorang yang percaya pada keadilan. Sampai satu pengkhianatan menghancurkan hidupnya, menghapus keluarganya, dan membuatnya menghilang dari dunia nyata. Namun dari kehancuran itu, lahirlah sosok baru—lebih dingin, lebih cerdas, dan tanpa ampun.
Kini, dengan satu klik dari ujung jarinya, ia bisa menghancurkan reputasi, meruntuhkan kerajaan bisnis, bahkan menghapus keberadaan seseorang dari dunia digital…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Mereka Ingin Menjadikanku Tuhan Baru
Langit kota berubah total.
Ribuan simbol digital melayang di udara seperti hujan data raksasa.
Cahaya biru menyelimuti awan malam, membuat seluruh kota tampak seperti dunia yang sedang ditulis ulang oleh sesuatu yang bukan manusia.
Orang-orang di jalan mulai berteriak panik.
Sebagian berlari.
Sebagian hanya terpaku menatap langit.
Karena tidak ada yang pernah melihat sesuatu seperti ini sebelumnya.
Dan di tengah semuanya—
Veyra berdiri diam dengan napas yang mulai berat lagi.
—
Deg.
Deg.
Deg.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
Namun bukan karena takut.
Melainkan karena ia bisa merasakan semuanya.
Semua jaringan.
Semua sinyal.
Semua koneksi digital di dunia—
sedang bergerak menuju dirinya.
Seperti lautan data yang mencoba masuk paksa ke dalam kepalanya.
“UGHH—!”
Veyra langsung memegang kepalanya.
Matanya menyala terang.
Dan sepersekian detik kemudian—
semua layar di kota glitch bersamaan.
—
“VEYRA!”
Lyra langsung menahannya sebelum jatuh.
Namun tubuh Veyra gemetar hebat sekarang.
Karena ini berbeda.
Jauh berbeda.
Kalau sebelumnya ia hanya terhubung pada sebagian sistem…
kali ini—
seluruh dunia mencoba terkoneksi dengannya sekaligus.
—
Dokter Arkan tersenyum puas di layar.
“Indah sekali.”
Selene langsung muak.
“Serius deh, muka tua itu bikin aku pengen nabrak tembok.”
Namun Arkan bahkan tidak mendengarnya.
Tatapannya hanya tertuju pada Veyra.
“Kamu akhirnya mencapai tahap terakhir.”
Veyra menatap layar dengan mata gemetar.
“Kalian… ngapain…”
Arkan merentangkan tangan kecil seolah sedang memperlihatkan karya seni.
“Kami membuka seluruh gerbang jaringan dunia untukmu.”
Deg.
Napas Lyra tercekat.
“Kalian gila?!”
“Tidak.”
Senyum Arkan perlahan melebar.
“Kami visioner.”
—
Di pusat komando—
beberapa petinggi mulai panik.
“Seluruh satelit global bergerak sendiri!”
“Jaringan AI internasional mulai sinkron!”
“Kita kehilangan akses!”
Namun Arkan tetap tenang.
Karena ini memang rencananya sejak awal.
Bukan menciptakan senjata.
Bukan menciptakan monster.
Melainkan—
menciptakan pusat baru dunia.
Dan pusat itu adalah Veyra.
—
“Kenapa…” suara Veyra melemah sedikit. “Kenapa harus aku…”
Arkan menatapnya lama.
Karena di balik semua eksperimen, semua penderitaan, dan semua kekacauan—
pertanyaan itu ternyata masih paling manusia.
Lalu ia menjawab pelan.
“Karena hanya kamu yang bertahan.”
Sunyi.
Hujan turun makin pelan sekarang.
Seolah dunia ikut mendengarkan.
—
“Kami menciptakan banyak subjek.”
Wajah Arkan tetap tenang.
“Namun semuanya hancur.”
Data mulai muncul di layar-layar sekitar.
Foto anak-anak kecil.
Nomor eksperimen.
Status gagal.
Meninggal.
Hilang.
Lyra langsung memalingkan wajah.
Selene diam.
Bahkan pasukan militer terlihat tidak nyaman.
Karena daftar itu panjang.
Terlalu panjang.
Dan di paling bawah—
tertulis:
V-27 : SUCCESS
Deg.
Tatapan Veyra perlahan kosong.
Karena untuk pertama kalinya—
ia benar-benar melihat seberapa banyak orang yang mati demi menciptakan dirinya.
—
“Aku benci kalian…”
Suara itu sangat pelan.
Namun seluruh perangkat elektronik di kota langsung bergetar saat ia mengatakannya.
Arkan hanya tersenyum tipis.
“Kebencian juga bagian dari evolusi.”
“Jangan pakai kata keren buat nutupin kegilaan kalian.”
BOOOM!
Langit langsung menyambar biru terang.
Petir digital memecah awan.
Dan beberapa gedung di kejauhan langsung mati total.
—
Namun yang paling mengerikan—
adalah perubahan pada Veyra sendiri.
Cahaya biru di tubuhnya kini mulai berubah bentuk.
Data-data kecil mengelilinginya seperti orbit.
Dan setiap kali ia bernapas—
seluruh jaringan di sekitarnya ikut bereaksi.
Ia bukan lagi sekadar manusia yang punya akses sistem.
Ia mulai menjadi bagian dari sistem itu sendiri.
—
Lyra menggenggam tangannya erat.
“Dengar aku.”
Namun tangan Veyra terasa dingin sekarang.
Terlalu dingin.
“Aku nggak bisa denger jelas…”
Suara-suara di kepalanya makin kacau.
Jutaan sinyal masuk bersamaan.
Dan di antara semua itu—
ia mulai mendengar manusia.
Tangisan.
Doa.
Ketakutan.
Kemarahan.
Seluruh dunia seperti berbicara sekaligus di dalam kepalanya.
“MAKE IT STOP—!”
BOOOOOOMMMM!
Gelombang energi meledak dari tubuhnya.
Seluruh kendaraan di jalan terpental.
Kaca gedung pecah lagi.
Dan langit—
seakan retak lebih jauh.
—
Pasukan mulai panik total.
“TARGET TIDAK STABIL!”
“SELURUH SENJATA OFFLINE!”
“KITA HARUS MUNDUR!”
Namun tidak ada tempat aman sekarang.
Karena Veyra bukan lagi ancaman lokal.
Ia sudah terhubung pada segalanya.
—
Selene langsung menarik Lyra mundur sedikit.
“Kita harus menjauh!”
“Aku nggak ninggalin dia!”
“Kalau kamu terlalu dekat, kamu ikut kena ledakannya!”
Namun Lyra tetap bertahan.
Karena ia bisa melihat sesuatu.
Di balik semua cahaya itu.
Di balik semua kekacauan.
Veyra sedang ketakutan.
Sangat ketakutan.
—
Dan Arkan…
menikmati semuanya.
“Akhirnya,” bisiknya pelan.
“Dunia baru akan lahir.”
—
Tiba-tiba—
seluruh layar di kota berubah lagi.
Kini bukan data.
Bukan glitch.
Melainkan siaran langsung.
Dari berbagai negara.
Pemimpin dunia.
Militer.
Pusat teknologi.
Semuanya.
Mereka semua melihat Veyra sekarang.
Dan dunia akhirnya sadar—
gadis itu nyata.
—
“Dia sumber semua gangguan?”
“Tidak mungkin satu manusia bisa melakukan itu…”
“Apakah ini serangan biologis digital?”
“Haruskah kita menghancurkannya?”
Pertanyaan demi pertanyaan terdengar dari berbagai bahasa.
Dan sialnya—
Veyra mendengar semuanya.
Semuanya.
—
“Aku capek…”
Air mata mulai jatuh dari matanya.
“Kenapa semua orang terus minta aku jadi sesuatu…”
Napasnya gemetar.
“…padahal aku sendiri nggak ngerti aku ini apa…”
Deg.
Kalimat itu membuat Lyra hampir menangis.
Karena di balik seluruh kekuatan mengerikan ini—
Veyra tetap cuma seseorang yang kehilangan arah.
—
Namun Arkan tidak peduli.
“Tidak perlu takut lagi.”
Tatapannya tajam.
“Terima dirimu.”
“Diriku yang mana?”
“Yang lebih tinggi dari manusia.”
Sunyi.
Dan untuk pertama kalinya—
Veyra benar-benar marah mendengar itu.
Bukan marah liar.
Bukan marah penuh ledakan.
Melainkan—
marah yang sangat tenang.
Dan justru itu yang paling berbahaya.
—
“Aku muak…”
Cahaya biru di matanya perlahan berubah lebih gelap.
“Semua orang terus mutusin aku harus jadi apa.”
Data di udara mulai berputar lebih cepat.
Seluruh jaringan global kembali glitch.
Bahkan satelit di orbit mulai kehilangan stabilitas.
“Monster.”
Petir menyambar lagi.
“Senjata.”
Gedung di kejauhan mati total.
“Penyelamat.”
Lautan data di langit makin kacau.
“Tuhan baru.”
Tatapannya langsung mengunci Dokter Arkan.
Dan seluruh layar di dunia mendadak membeku.
Sunyi.
Lalu—
Veyra tersenyum kecil.
Sangat kecil.
Namun membuat semua orang merinding.
“Gimana kalau…”
Suaranya menggema ke seluruh dunia.
“…aku nolak semuanya?”