NovelToon NovelToon
Menikahi Pria Cacat

Menikahi Pria Cacat

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Vanesa Dintiani

Laura Hiraya yang baru berusia 20 tahun harus rela di jodohkan dengan putra konglomerat. Keputusan egois keluarganya menjadikan ia alat tukar di dalam bisnis. Keluarga konglomerat itu menjanjikan sebuah kerjasama bisnis, dan sebagai imbalannya mereka menginginkan calon istri untuk putra mereka, Gaharu Gardapati.

Gaharu, pria cacat yang sialnya sangat tampan. Kecelakaan tragis 2 tahun lalu membuatnya harus terduduk di atas kursi roda. Ia kehilangan kedua fungsi kakinya. Itu, bersifat sementara. Ia masih menjalani perawatan.

Lalu.. bagaimana kisah rumah tangga si gadis ceria dan aktif seperti Laura Hiraya yang di hadapkan dengan Gaharu Gardapati si pria arogan yang pemarah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanesa Dintiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

03. Kembali pada aktivitas

Laura kembali pada aktivitasnya—kembali kuliah. Tidak ada cuti kuliah setelah menikah, tidak ada cuti kuliah untuk bulan madu. Pernikahan ini hanya untuk keuntungan bisnis sebelah pihak, dan ia benci jika harus mengingatnya kembali.

Laura keluar dari kamarnya dengan perlengkapan seperti biasanya. Ia melangkah pelan menelusuri setiap lorong yang ia lewati.

Tempat hunian ini cukup sepi. Apa mereka belum bangun? Sepertinya iya, karena Laura bangun lebih awal. Ia melirik jam yang berada di pergelangan tangannya, jam 06.00 pagi. Bukan tanpa alasan ia bangun pagi, ia hanya tidak ingin mendengar banyak kata 'prosedur' pagi ini. Biarlah paginya berjalan dengan damai.

Di gerbang depan, penjaga sedang berganti shift, ini kesempatannya untuk pergi diam-diam. Dengan tubuhnya yang kecil, Laura jalan mengendap-endap dan pergi menyelinap melewati gerbang. Tidak ada pasang mata yang memperhatikan, kecuali mungkin cctv yang di pasang di dekat pos penjaga.

Mari berdoa semoga acara penyelinapan itu tidak terdengar sampai telinga pemilik penthouse.

Sekitar 15 menit berjalan, Laura baru  sampai pada halte bus. Tepat saat ia sampai, sebuah bus berhenti di pemberhentian. Dengan cepat ia berjalan berdesak-desakan dengan orang-orang yang berada di sana. Tidak lupa ia memakai topi dan juga masker wajah.

Berita tentang pernikahan keluarga konglomerat itu jelas di beritakan di televisi. Dan wajahnya tersebar di mana-mana. Ia benci menjadi pusat perhatian. Makanya ia berjaga-jaga dengan kedua benda itu.

Perjalanan cukup damai, Laura menikmati hal itu. Kepalanya bersandar pelan pada kaca jendela, memperhatikan jalanan kota yang sedikit demi sedikit mulai ramai. Laura menyamankan posisi duduknya, ia memiliki waktu 20 menit menuju fakultasnya, akan ia pergunakan untuk tidur sebentar.

Berbeda dengan Laura yang merasa cukup tenang, lain halnya dengan keadaan kediaman pribadi milik Gaharu. Para pelayan kalang kabut karena tidak dapat menemukan keberadaan Laura. Mereka sudah berpencar mengelilingi hunian megah itu, namun nihil keberadaan Laura tidak di temukan.

“Apa yang sebenarnya kalian kerjakan? Menjaga satu orang saja tidak becus!” Juan membentak mereka saat tahu jika Laura menyelinap keluar gerbang.

“Maafkan kelalaian saya, Tuan.” Salah-satu penjaga mengaku salah.

Suara ketukan sepatu yang terburu-buru mengalihkan atensi Juan. Pelayan Kim berjalan terburu-buru dengan sebuah benda persegi di tangannya.

“Nyonya tidak membawa ponselnya, Tuan.”

Juan berdesis kesal, ia mengambil ponsel tersebut dan memasukannya ke dalam saku jas-nya.

“Dengar..” Juan berkata pelan penuh penekanan, “jika kalian tidak ingin mendengar amukan Tuan kalian, baiknya kalian tutup mulut tentang kejadian ini.” Kata Juan memperingati. Pria itu tahu betul bagaimana tempramen atasannya.

“Pelayan Kim! Berapa kandidat yang mendaftar?”

Kandidat yang di maksud adalah calon asisten untuk Laura.

“5 orang terdaftar, Tuan. Semuanya sudah saya kirimkan lewat e-mail Anda.”

Juan membuka tab yang setia ia bawa kemana-mana. Ia menggulir setiap informasi yang sudah di susun oleh pelayan Kim. Cukup memuaskan.

“Tuan Gaharu akan memilihnya langsung, beritahu mereka untuk datang siang nanti. Dan ingat, tetap bersikap seperti biasanya. Masalah ini jangan sampai terdengar sampai telinga Tuan Gaharu!”

“Kami mengerti,” balas mereka dengan serempak.

Juan berbalik pergi dengan tergesa. Ia masuk pada mobilnya. Tujuan pertamanya adalah fakultas Laura.

“Belum ada satu Minggu, dan Anda sudah membuat masalah, Nyonya.”

***

Langkah kaki Laura bergema pelan di koridor Fakultas seni. Ia menghela nafas lega saat perjalanannya terasa damai. Dengan perlahan ia melepaskan masker wajahnya. Topi hitam yang ia pakai masih bertengger apik di kepalanya, menyembunyikan setengah wajah cantik miliknya.

Kakinya berbelok menuju kantin fakultas. Ia lapar karena belum sempat sarapan. Lagipula ia masuk siang nanti, jadi masih ada waktu untuk sedikit menyegarkan pikirannya.

BRUG!

“Akh!” Laura tersentak kaget saat sepasang tangan melingkar di kedua bahunya. Terlihat seperti ia menggendong orang tersebut.

“Selamat pagi, Nyonya konglomerat.” Sapa orang tersebut dengan nada jenaka.

“Rahel!” pekik Laura kesal.

Gadis yang bernama Rahel itu berjalan ke samping tubuh Laura. Ia tersenyum tanpa dosa.

“Gimana malam pertama Lo, Lau?”

Pertanyaan spontan itu membuat Laura membelalakkan matanya. Ia lantas menutup mulut sahabatnya dan menatap sekeliling dengan panik.

“Kamu ini bicara apasi!”

Rahel menyingkirkan tangan Laura yang berada di mulutnya. “Loh? Gue 'kan penasaran. Sial banget Lo nggak undang gue. Padahal gue pengen makan enak.”

“Kamu tahu sendiri pernikahan ini terjadi karena apa. Semua sudah di atur oleh keluarga Gardapati, keluargaku bahkan tidak ikut adil.”

Laura kembali melanjutkan langkahnya di ikuti Rahel yang ikut berjalan di sampingnya.

“Jadi keluarga Lo nggak ngeluarin duit sedikitpun?”

“Seperti yang kamu pikirkan,” sahut Laura tenang.

“Gila!” pekiknya tertahan, “pernikahan Lo kemaren megah banget dan keluarga Lo nggak ikut campur soal biaya? Bener-bener sultan.”

“Berhenti kagum seperti itu,”

“Kenapa? Lo harusnya seneng dapet suami konglomerat. Mana anak tunggal lagi.”

Laura menghela napas panjang, langkah sepatunya berirama di atas koridor menuju gedung kantin yang mulai terlihat ramai.

“Senang itu relatif, Hel,” jawab Laura singkat, matanya lurus menatap ke depan.

“Relatif gundulmu! Di luar sana orang antre cuma buat jadi asisten rumah tangganya keluarga Gardapati, lah ini Lo malah jadi menantunya. Hidup Lo itu impian semua umat,” Rahel menyenggol bahu Laura dengan antusias.

Laura menghentikan langkah tepat di depan pintu masuk kantin. Ia menoleh ke arah sahabatnya itu dengan senyum tipis yang sulit diartikan.

“Impian itu seringkali terlihat indah karena kita cuma lihat dari luar, 'kan?”

“Mulai deh puitisnya,” Rahel memutar bola matanya malas, namun tangannya sigap menarik Laura menuju stand jus langganan mereka. “Gue nggak butuh filosofi, Lau. Yang gue tahu, sekarang Lo punya akses ke black card yang limitnya mungkin bisa beli kampus ini.”

“Sayangnya, aku nggak punya kartu seperti yang kamu sebutkan.”

“Hah? Suami Lo nggak nafkahi Lo? Yang bener aja,” Rahel menganga tidak percaya dengan ucapan yang terlontar dari bibir sahabatnya.

Laura mengangkat kedua bahunya acuh, mulai memilih minuman apa yang cocok untuk ia minum pagi ini. Karena jujur ia butuh yang segar-segar untuk memulihkan pikirannya yang terasa kacau.

“Jus jeruk satu, ya, Pak. Tidak pakai gula,” ucap Laura pada penjual jus, lalu beralih menatap Rahel yang masih mematung dengan ekspresi seolah baru saja mendengar kabar kiamat.

“Bukannya nggak menafkahi, Hel. Dia cuma... belum kasih kartu-kartu kayak gitu. Dan aku juga nggak minta,” lanjut Laura santai.

“Lau, Lo itu istrinya, bukan anak magang di rumahnya!” Rahel menepuk jidatnya sendiri, frustrasi. “Di novel-novel yang gue baca, biasanya hari pertama nikah itu istri langsung dikasih dompet penuh kartu, unlimited. Masa ini nggak ada? Minimal uang jajan bulanan yang digitnya bikin kalkulator HP gue error lah!”

“Stop baca cerita-cerita fiksi kayak gitu, Hel. Otak kamu bener-bener udah terkontaminasi sama jalan cerita manis buatan para author. Lagipula aku punya tabungan pribadi, itu sudah cukup membiayai kehidupan aku.”

Rahel menjatuhkan rahangnya tidak percaya, ia geleng-geleng kepala dengan pemikiran itu.

“Tapi masalahnya, Lau, ini tuh bukan cuma soal novel! Ini soal hak asasi istri!” Rahel mencondongkan tubuhnya, suaranya naik satu oktaf.

“Lo itu nikah sama Tuan muda kaya raya, pengusaha yang kalau bersin aja mungkin keluar lembaran saham. Masa Lo masih pakai uang tabungan sendiri buat beli jajanan kantin kayak gini.” Rahel menunjuk jus jeruk yang sudah berada di genggaman Laura.

Rahel menatap Laura yang terdiam, ia lantas mengambil pesanan kopi hitamnya dan menarik Laura untuk duduk di bangku kantin.

“Hey, di zaman sekarang kita itu harus realistis. Dia yang nikahin masa nggak di kasih jatah uang?”

“Jadi aku harus gimana? Aku nggak mungkin minta langsung. Sudahlah, aku nggak terlalu mempermasalahkan, pernikahan terjadi karena perjodohan, aku nggak berharap banyak.”

Laura menyeruput jus jeruk dinginnya. Sensasi asam dan dingin bercampur menjadi satu. Sedangkan Rahel di sampingnya hanya dapat kembali menggelengkan kepalanya melihat kepasrahan sahabatnya.

“Kalo gue jadi Lo, mungkin gue udah kuras habis hartanya si konglomerat. Lumayan bisa beli makanan mewah, nggak melulu nasi ayam geprek, nasi rames, nasi padang, kali-kali daging wagyu, 'kan enak.” Gumam lirih Rahel sambil mengaduk-aduk kopi hitamnya.

Laura menoleh dan terkekeh pelan, kadang sahabatnya itu lucu. Lucu karena cita-citanya adalah menjadi food blogger makanan, secinta itu sahabatnya dengan makanan.

“Kalo nanti Lo dapat black card, Lo harus jajanin gue daging wagyu, gue nggak mau tau!” kekehnya.

“Itupun kalo di kasih—”

“Gue do'ain bakal dapet, do'a anak yatim biasanya manjur!”

“Hahaha.. iya-iya, tapi aku nggak janji ya.”

Waktu mereka habiskan cukup lama dengan mengobrol hal random. Namun, di tengah obrolan mereka, suasana kantin menjadi senyap. Hal itu mengundang tanda tanya bagi mereka berdua.

“Nyonya Laura,”

***

Halo, selamat membaca! Jangan lupa tinggalkan jejak berupa komentar dan juga like.

Terimakasih.

Sabtu, 21 Maret 2026

Published : 26 Maret 2026

1
aku
tembok batu makax klo gmg kaku 🙄 untung ada 5 antek, jd lau gk kesepian 😁
Wawan
Hadir
Bagus Effendik
hai kak semangat ya seru ceritanya mampir juga punyaku yuk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!