“Satu benua? Jangankan satu benua… seluruh isi bumi akan kuhadapi jika adikku tersakiti.”
Di dunia murim yang terbelah antara ortodoks dan unorthodoks, kekuatan menentukan segalanya—dan belas kasihan hampir tidak pernah ada.
Fang Yi dan Fang Yu hanyalah dua saudara yatim piatu yang lahir tanpa nama besar, tanpa perlindungan, dan tanpa tempat untuk pulang. Dunia sejak awal sudah menolak keberadaan mereka. Bahkan sebelum mereka memahami arti benar dan salah, keduanya telah dicap sebagai benih kejahatan karena bayang-bayang masa lalu keluarga mereka yang misterius.
Bagi dunia murim, mereka adalah ancaman yang harus dimusnahkan.
Namun bagi Fang Yi, hanya ada satu hal yang penting—melindungi adiknya.
Selama mereka bersama, hinaan, pengkhianatan, dan bahaya hanyalah rintangan yang harus dilewati. Tetapi ketika sekte-sekte besar mulai memburu mereka, rahasia lama keluarga mereka perlahan bangkit dari kegelapan.
Rahasia yang cukup untuk mengguncang seluruh benua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fandi Pradana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Artefak Kuno (1)
“Aku harus segera pergi dari sini. Aku juga harus segera bertemu orang itu supaya bisa meluruskan kesalahpahaman yang terjadi ini… dan sebelum aku semakin diburu.”
Sore kian menggelap. Peng Lin yang telah berjalan puluhan kilometer tampak tidak merasakan kelelahan sedikit pun. Justru semangatnya semakin membara dalam tujuannya menuju wilayah Goryeo. Setelah merasa jaraknya dengan Desa Giok Seribu Awan sudah cukup jauh, ia memutuskan untuk bermalam di tengah hutan.
Ia mengumpulkan ranting-ranting kering yang berserakan di tanah, menyusunnya perlahan, lalu menyalakan api unggun. Setelah api menyala stabil, ia mencari dahan pohon yang cukup panjang untuk dijadikan tempat duduk.
“Aku lupa tidak membawa makanan apa pun untuk malam ini. Haruskah aku pergi berburu?”
Ia menunduk, menatap nyala api yang menari di hadapannya. Cahaya jingga itu memantul di matanya, memperlihatkan sorot tekad yang tak goyah.
Di sisi lain, tiga pemuda dari Sekte Pedang Bambu bergegas menuju utara, ke arah Goryeo, demi mengejar Peng Lin.
“Hyung, bagaimana kalau kita istirahat sebentar? Energi milikku hampir terkuras habis sejak kita berlari tanpa henti dari Desa Giok Seribu Awan.”
Yao Shi berbicara sambil tetap berlari menggunakan teknik kaki khas Sekte Pedang Bambu. Wajahnya sedikit pucat, dan tangannya mulai gemetar karena kelelahan. Yan Qing pun merasakan hal yang sama. Ia menyadari bahwa perjalanan ke Goryeo akan sangat menguras tenaga. Jika mereka bertemu Peng Lin dalam kondisi lemah, pertempuran tak terhindarkan—dan mereka bisa kalah dalam sekejap.
“Yao Shi benar, Hyung. Mengapa kita tidak beristirahat sebentar untuk makan dan minum?” tambah Yan Qing.
“Ck… berhenti.”
Wang Seo mendecakkan lidah, lalu memperlambat langkahnya hingga akhirnya berhenti.
“Baiklah. Kita istirahat sebentar sampai energi kalian pulih. Yao Shi, nyalakan api. Yan Qing, carilah beberapa ranting tambahan untuk api unggun. Aku akan pergi ke sungai untuk menangkap ikan.”
“Baik, hati-hati, Hyung,” jawab mereka hampir bersamaan, nada khawatir terselip di suara masing-masing.
Wang Seo segera bergerak menuju sungai terdekat. Sementara itu, Yao Shi dan Yan Qing mulai mengerjakan tugas mereka.
Suasana hutan yang sunyi membuat bunyi ranting patah dan gesekan dedaunan terdengar jelas. Setelah api mulai menyala kecil, Yao Shi memecah keheningan.
“Hei, Qing… menurutmu Hyung Seo tidak terlalu berlebihan?”
Yan Qing yang sedang menyusun kayu berhenti sejenak. Ia lalu duduk di dekat api.
“Kamu mungkin tidak tahu, karena kamu baru satu tahun bersama kami.”
“Maksudmu?”
“Hyung tidak selalu seperti ini,” lanjut Yan Qing pelan. “Kalau kamu tahu masa lalunya, kamu mungkin akan mengerti kenapa ia begitu ambisius menangkap Peng Lin.”
Yao Shi menatapnya serius.
“Apa yang terjadi? Memang benar aku baru setahun bergabung, tapi bukan berarti aku tidak peduli. Ceritakan padaku.”
Yan Qing menghela napas.
“Cerita ini dimulai Dua tahun yang lalu, saat Hyung masih berusia sembilan belas tahun dan baru saja diangkat menjadi murid dalam sekte, dan pada saat itu pula… keluarganya dibantai.”
“Apa?” Yao Shi terkejut. “Siapa yang melakukan itu?”
“Orang yang sedang kita kejar sekarang, Peng Lin.”
Yao Shi terdiam.
“Meski belum ada bukti pasti siapa dalang sebenarnya,” lanjut Yan Qing, “Hyung yakin bahwa pelakunya adalah Peng Lin. Sejak kejadian itu, ia berubah. Ia diliputi amarah dan dendam. Segala sesuatu yang berkaitan dengan Peng Lin selalu memicu emosinya.”
Api unggun mulai membesar. Yao Shi mengeluarkan kendi kecil berisi alkohol yang ia bawa, lalu menuangkannya sedikit ke dalam cawan kayu.
“Seluruh warga desanya dibantai dalam satu malam,” kata Yan Qing melanjutkan. “Tak satu pun ada yang selamat. Orang pertama yang melihat desa itu terbakar adalah Ji Ban. Ia sedang mabuk ketika melihat kobaran api dari kejauhan. Lalu ia segera berlari ke sekte terdekat dari tempatnya yakni sekte kita—Sekte Pedang Bambu.”
“Lalu?”
“Para tetua langsung dikerahkan. Murid-murid yang sedang dalam pengasingan pun dipanggil kembali. Lalu Pemimpin sekte mengirim surat ke Aliansi Murim. Aliansi Murim dengan sigap menyelidiki desa itu dan menemukan bekas luka akibat pedang besar.”
“Jadi memang Peng Lin?”
“Aliansi sebenarnya ragu,” jawab Yan Qing. “Mereka menilai mustahil satu orang membumihanguskan seluruh desa sendirian. Tapi bagi Hyung… keraguan itu tak berarti. Baginya, Peng Lin adalah pembunuh orang tua dan seluruh warga desanya.”
Krak!
Tiba-tiba terdengar suara kayu patah dari belakang mereka. Yao Shi dan Yan Qing langsung berdiri, tangan terulur ke gagang pedang masing-masing.
“Santai saja. Ini aku.”
Wang Seo muncul dari balik semak-semak, membawa tiga ikan segar yang masih bergerak.
“Oh… itu kamu, Hyung,” Yao Shi menghela napas lega.
“Kamu memang selalu bisa diandalkan, Hyung,” ujar Yan Qing sambil tersenyum. “Aku sudah sangat lapar. Dan Yao Shi di sini malah menyembunyikan alkohol darimu.”
“Eh? Bukan begitu, Hyung!” Yao Shi tergagap. “Aku hanya membawanya untuk berjaga-jaga saja.”
Wang Seo menatapnya tajam. Alisnya menukik, tangannya mengepal.
“Beraninya kamu—”
Yao Shi menelan ludah.
“Berikan padaku… sekarang.”
Tanpa membantah, Yao Shi segera menyerahkan kendi setengah kosong itu.
Wang Seo menatapnya beberapa saat, lalu tiba-tiba tersenyum tipis.
“Beraninya kamu minum tanpa Hyung kalian. Mari kita minum bersama setelah makan. Alkohol lebih nikmat saat perut sudah kenyang.”
Ia tertawa pelan. Yao Shi dan Yan Qing saling pandang, lalu ikut tertawa. Melihat Hyung mereka yang biasanya serius bisa tersenyum seperti itu terasa aneh sekaligus menenangkan.
Malam semakin larut. Di bawah langit gelap, dua kelompok itu—Peng Lin dan tiga pemuda Sekte Pedang Bambu—seolah sedang bermain kejar-kejaran seperti tikus dan kucing.
Di rumah Fang Yi, Fang Yu baru saja terbangun setelah tidur sejak sore. Ia melihat kakaknya duduk di sampingnya, melamun sambil memegang manik berbentuk pedang yang entah terbuat dari apa.
“Hmmm… Kakak, kepalaku pusing,” ucap Fang Yu setengah sadar sambil mengusap matanya.
“Kakak membawakanmu gulali,” jawab Fang Yi lembut. “Makanlah sedikit sebelum tidur lagi. Kakak akan ke depan sebentar.”
Ia mengelus dahi adiknya dengan senyum hangat penuh kasih sayang.
Setelah memastikan Fang Yu mulai memakan gulalinya, Fang Yi berdiri dan menuju ruang depan. Sensasi yang ia rasakan sebelumnya tak mungkin sekadar kebetulan. Pertemuannya dengan penjual manik-manik itu terasa seperti takdir.
Ia menatap manik berbentuk pedang di tangannya.
Satu hal kini ia yakini—mungkin ia bisa belajar seni bela diri.
Di dunia murim, ahli bela diri dikenal sebagai pendekar. Sejak kecil, Fang Yi tidak pernah memiliki minat menjadi pendekar. Namun tanpa disengaja, ia bertemu sosok misterius yang mungkin seorang ahli bela diri tersembunyi.
Faktanya, manik yang kini berada di tangannya bukan benda biasa. Itu adalah artefak kuno penyucian tubuh—sebuah pusaka yang mampu menyempurnakan fisik pemiliknya. Konon, siapa pun yang memilikinya dapat memahami teknik pedang hanya dengan sekali melihat, lalu menirukannya dengan sempurna.
Fang Yi belum menyadari sepenuhnya apa arti benda itu.
Namun malam itu, takdirnya sebagai seorang pendekar perlahan mulai bergerak.