Tujuh tahun Sheilla mencintai Ardhito dalam diam, sejak masa SMA yang polos hingga dewasa. Namun di tahun kedelapan, takdir justru memberinya luka. Akibat jebakan salah sasaran di sebuah kamar hotel yang dirancang teman-teman Ardhito, keduanya terpaksa menikah demi menutupi skandal.
Pernikahan yang Sheilla dambakan berubah menjadi neraka. Ardhito yang merasa dijebak melampiaskan amarahnya melalui pengabaian dingin dan kekerasan fisik (KDRT). Di tengah sisa-sisa cintanya yang hancur, Sheilla harus memilih: terus bertahan sebagai martir cinta yang tak terbalas, atau mengumpulkan keberanian untuk pergi dan menyembuhkan dirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocolate_coffee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Isak yang Tak Terdengar
Malam itu, langit Jakarta seolah ikut berduka. Hujan turun begitu deras, menghantam kaca jendela apartemen dengan suara berisik yang menyakitkan. Namun, bagi Sheilla, badai di luar sana tak ada apa-apanya dibandingkan kehancuran yang terjadi di dalam dadanya.
Setelah tamparan itu, Ardhito pergi begitu saja. Ia menyambar kunci mobil dan keluar rumah, mungkin menuju tempat Valerie, meninggalkan Sheilla yang masih bersimpuh di lantai dapur yang dingin.
Sheilla tidak langsung bangun. Ia menyentuh pipinya yang membengkak, lalu perlahan jemarinya turun menyentuh dadanya. Di sana, ada rasa sakit yang begitu hebat, sebuah rasa sesak yang membuatnya sulit untuk sekadar menghirup oksigen.
"Tuhan..." rintihnya pelan. Suaranya pecah, hilang ditelan suara guntur.
--
Tangisan itu akhirnya pecah. Bukan tangisan histeris yang meraung-raung, melainkan tangisan yang dalam, sunyi, dan penuh dengan keputusasaan. Tubuh Sheilla berguncang hebat. Ia meringkuk seperti janin di atas lantai, memeluk dirinya sendiri karena tidak ada lagi lengan yang bersedia mendekapnya.
Setiap isakan yang keluar dari mulutnya terasa seperti menarik duri dari tenggorokannya. Ia menangisi tujuh tahun masa mudanya yang ia habiskan untuk memuja pria yang kini menghancurkannya. Ia menangisi harapan-harapan kecilnya tentang sarapan pagi yang hangat, tentang tawa di ruang tengah, dan tentang sebuah pengakuan cinta yang ternyata hanyalah fatamorgana.
"Kenapa harus aku?" bisiknya di sela isak tangis yang menyesakkan. "Apa salahku kalau aku mencintaimu, Dhito?"
Air matanya membasahi lantai, bercampur dengan debu dan sisa-sisa harga diri yang telah lama ia lupakan. Sheilla teringat masa SMA, saat ia sengaja pulang terlambat hanya demi melihat Ardhito bermain basket di lapangan. Ia teringat bagaimana ia menyimpan setiap bungkus cokelat pemberian Ardhito yang sebenarnya diberikan kepada semua orang. Semua kenangan manis itu kini berubah menjadi racun yang membakar nadinya.
--
Dengan sisa tenaga yang ada, Sheilla menyeret tubuhnya menuju kamar mandi. Ia menyalakan lampu, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia benar-benar menatap dirinya di cermin.
Ia tidak mengenali wanita di depannya. Matanya sembab dan merah, pipinya lebam keunguan, dan bibirnya pecah. Namun yang paling mengerikan adalah binar di matanya yang telah padam. Wanita di cermin itu tampak seperti raga kosong yang jiwanya sudah lama mati.
"Kamu bodoh, Sheilla," ucapnya pada bayangannya sendiri. Suaranya terdengar seperti bisikan kematian. "Kamu mencintai monster, dan kamu berharap dia akan berubah menjadi pangeran hanya karena kamu bersikap baik?"
Ia tertawa kecil, sebuah tawa getir yang kemudian berubah menjadi tangisan lagi. Tangisannya kali ini lebih menyayat hati, sebuah ratapan atas pengkhianatan terhadap dirinya sendiri. Ia menyadari bahwa selama ini, orang yang paling menyakiti Sheilla bukanlah Ardhito, melainkan dirinya sendiri yang membiarkan dirinya diinjak-injak atas nama cinta.
--
Sheilla menyalakan kran air bathtub hingga penuh, lalu masuk ke dalamnya dengan pakaian lengkap. Air dingin itu menusuk kulitnya, tapi ia membutuhkannya untuk mematikan rasa sakit di hatinya. Ia membenamkan wajahnya ke dalam air, berharap suara tangisnya tenggelam sepenuhnya.
Di bawah air, dalam keheningan yang menyesakkan, Sheilla akhirnya menyerah. Ia menyerah pada mimpinya. Ia menyerah pada Ardhito.
Saat ia kembali muncul ke permukaan untuk mengambil napas, matanya menatap botol obat tidur di atas wastafel. Sejenak, pikiran gelap itu melintas. Namun, bayangan ibunya yang tersenyum hangat tiba-tiba muncul di benaknya.
"Enggak," bisiknya dengan suara gemetar hebat. "Aku nggak boleh mati untuk orang yang bahkan nggak akan menangis di pemakamanku."
Malam itu, di tengah isak tangis yang belum juga mereda, Sheilla menyadari satu hal. Penantiannya telah berakhir. Bukan karena Ardhito akhirnya mencintainya, tapi karena hatinya sudah terlalu hancur untuk bisa mencintai siapa pun lagi termasuk dirinya sendiri. Ia harus pergi, atau ia akan benar-benar lenyap.
To Be Continue...
-- Hallo terimakasih sudah selalu memberikan support kepada Author, Sehat selalu untuk kalian semua ya. Dukung selalu Author setiap harinya, dan jangan lupa komen selalu agar author makin semangat buat uploadnya hihi --