NovelToon NovelToon
Hanya Seorang Figuran

Hanya Seorang Figuran

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Mengubah Takdir / Transmigrasi ke Dalam Novel
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Vaestra

Renazia Putri Maharaja, adalah salah satu orang yang beruntung di dunia. Selain pintar dan cantik, wanita yang baru saja menginjak umur 27 tahun itu, juga memiliki keluarga yang sangat sayang padanya, serta teman yang banyak.

Ditambah dengan kesuksesannya di dunia desainer, membuat orang-orang iri padanya.

Namun, semuanya hilang dalam semalam, ketika Rena tiba-tiba terbangun di tempat yang asing dengan tubuh yang berbeda, dengan nasib yang berbeda juga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vaestra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

empat

"Nyonya! Nyonya tidak boleh ke sini!"

Rena sangat terkejut ketika Via tiba-tiba berlari ke arahnya sambil berteriak. Dia berbalik, dan menatap Via dengan alis sebelah terangkat. Apalagi, saat melihat raut wajah wanita itu. Seolah, Rena sedang memasuki tempat terlarang.

"Nyonya, ayo kembali ke dalam." Dengan pasrah, Rena mengikuti Via kembali masuk ke dalam mansion.

Seperti biasa, setelah Dante berangkat kerja, Rena segera melakukan kegiatannya. Yaitu, keliling mansion. Dan, dia menemukan sebuah bangunan yang sepertinya, adalah gudang. Letak bangunan itu, cukup jauh dari bangunan utama.

Rena mencoba membuka pintu bangunan itu. Tapi, ternyata terkunci.

Dan, sekitar bangunan itu, ada jejak ban mobil yang mengarah ke hutan. Hampir saja, Rena mengikutinya jika, Via tidak muncul.

"Nyonya, lain kali, tolong beritahu saya, kalo nyonya ingin jalan-jalan. Biar saya temani. Tempat ini, cukup luas sehingga kadang, membuat beberapa orang tersesat," ucap Via sambil menaruh gelas yang berisikan jus buah ke depan Rena.

Rena mendengus. Namun, dia juga membenarkan perkataan Via. Bangunan mansion ini, memang cukup luas. "Iya-iya." Rena mengambil minuman jus itu dan meneguknya. Rasa buah segar, segera membasahi tenggorokannya.

"Tapi, bangunan tadi, itu bangunan apa? gudang?"

Via terlihat menghindari tatapan mata Rena, dan dia terlihat gugup. Membuat Rena semakin penasaran bangunan apa yang dia lihat tadi.

"Iya, Nyonya. Itu hanya bangunan yang isinya barang-barang tidak digunakan. Makanya, sebaiknya Nyonya tidak ke sana. Takutnya ada ular atau, semacamnya," jawab Via.

Rena terdiam sejenak, lalu menganggukkan kepalanya. Dia kembali meneguk minuman jusnya, sebelum dia masuk ke dalam kamarnya.

...

Sebelum berangkat ke kantornya, Dante menyempatkan diri ke tempat di mana dia menyimpan barang-barang ilegalnya. Untuk memastikan barang-barangnya dalam keadaan baik.

"Tuan, om Kov ingin bicara dengan anda." Enzo muncul dengan membawa ponsel dan, menyodorkannya ke depan Dante.

Dante mengambil ponsel itu, dan meletakkannya di telinganya. "Halo, Om Kov."

"Ah halo, Dante! To the point saja. Aku ingin mengundangmu untuk ke acara makan-makan di rumahku. Sebentar malam."

Alis Dante mengernyit. Selama dia terjun ke dalam bisnis ilegal ini, dia tidak pernah diundang oleh kliennya untuk acara-acara diluar kerjasama mereka.

"Tapi--"

"Aku tidak menerima penolakan, Dante. Anggap saja, ini hiburan.Ah, jangan lupa bawa istrimu. Aku pergi sekarang."

Tut

Dante menjauhkan ponselnya, dan menatap layarnya yang memperlihatkan bahwa, sambungan telponnya sudah terputus. Pria itu menghela napas panjang, entah mengapa perasaannya terasa tidak enak.

Di sisi lain, Wlliam atau yang biasa dipanggil dengan om Kov itu melempar pelan ponselnya ke atas meja keras. Pria tersenyum tipis, sambil bangkit berdiri. Menatap jendela kantor yang memperlihatkan pemandangan bangunan-bangunan, dan padatnya jalanan.

"Si Julian itu, dia benar-benar tidak memiliki rasa malu, yah? Bisa-bisanya, dia menjual anaknya ke pria itu? Untuk menutupi utangnya."

Asistennya yang mendengarnya, hanya bisa diam.

"Tapi, kenapa dia memilih Dante, daripada aku?" William berbalik menatap asistennya seolah, meminta jawaban.

Asistennya terdiam sejenak. Dia tampak memindai William. Sebenarnya, dibandingkan jadi suami dari anak Julian, William lebih cocok jadi ayah.

"Mungkin dia tidak menyadari potensi anda untuk dijadikan menantu." Namun, asistennya tidak berani bicara seperti itu.

William terkekeh pelan. "Jadi, menurutmu begitu?"

Asistennya menganggukkan kepalanya. "Dibandingkan dengan Dante, Tuan lebih baik dari segi segalanya."

William tampak puas dengan jawaban asistennya. Dia kembali duduk di kursi kebesarannya.

"Kalo begitu, kamu harus berbuat sesuatu tadi malam, kan?"

...

Kepulangan Dante yang cepat, membuat Rena bertanya-tanya. Biasanya, pria itu akan kembali saat malam sudah larut. Tapi kali ini, dia kembali sebelum matahari terbenam.

Namun, ternyata bukan hanya Rena yang merasa heran. Para pelayan juga merasa heran.

"Siap-siap dengan gaun ini," perintah Dante sambil memberikan sebuah paper bag ke depan Rena yang sedang menikmati secangkir teh sambil melihat matahari terbenam di balkon kamar.

Alis Rena mengerut. Dia mengambil paperbag itu, dan mengintip ke dalam. Sebuah dress simple dengan warna biru langit terlihat.

"Kita mau ke mana?" Rena bertanya sambil mengangkat kepalanya menatap Dante yang berdiri di dekatnya.

"Teman kantorku ajak makan malam." Dante berbalik, hendak masuk ke dalam kamar. "Kamu siap-siap. Aku tunggu di bawah."

Rena menghela napas panjang. Dia tidak langsung beranjak dari tempat duduknya, begitu Dante menghilang di balik pintu. Wanita itu kembali, menatap pemandangan matahari yang terbenam sambil, menyeruput tehnya.

"Nyonya? Kenapa belum siap-siap?" Via masuk ke dalam kamar, setelah mengetuk dan menghampiri Rena yang masih duduk santai di kursi balkon.

"Waktu masih ada, Via," balas Rena dengan santai.

Via menghembuskan napas panjang. Istri dari majikan ini, cukup menguras emosi. Namun, setidaknya tidak separah dulu. "Tapi, Nyonya, tuan sudah menunggu. Katanya, tempat makan malamnya cukup jauh dari sini. Jadinya, harus berangkat lebih cepat."

Rena berdecak, sambil meletakkan cangkir tehnya. "Iya-iya." Wanita itu bangkit berdiri, masuk ke dalam kamar mandi. Sedangkan, Via menunggu di kamar, sambil mempersiapkan apa yang Rena kenakan.

Selang beberapa menit, Rena keluar dari kamar mandi. Via langsung melakukan tugasnya. Dia merias, dan membantu Rena menggunakan dress yang Dante berikan.

"Nah, sudah selesai, Nyonya."

Rena membuka matanya. Dia terdiam melihat wajahnya. Rena merasa takjud dengan kemampuan Via. "Terima kasih, Via."

"Sama-sama, Nyonya. Sekarang, Nyonya bisa turun."

Rena menerima tas jinjing yang senada dengan dressnya dari Via, lalu melangkah keluar kamar. Di lantai bawah, tepatnya di ruang keluarga, Dante sudah menunggu.

Mendengar suara langkah kaki, pria itu mengangkat kepalanya. Dia terdiam, lalu bangkit berdiri. "Ternyata cocok."

Rena hanya diam. Dia memalingkan wajahnya, dan melangkah keluar duluan disusul Dante dari belakang. Enzo tidak tinggal diam, dia segera menyusul mereka.

Seperti yang dideskripsikan di novel, letak mansion Dante memang berada di tengah hutan. Lihat saja, sepanjang perjalanan, Rena hanya melihat hamparan pohon yang sepertinya tidak memiliki ujung.

Namun, ketika mobil mereka melewati sebuah gapura dari bunga yang menjalar, barulah Rena melihat sebuah perkampungan. Tidak lama, dia melihat perkotaan.

"Ternyata jauh banget," gumamnya pelan, nyaris tidak terdengar.

Mobil yang membawa mereka berhenti di depan sebuah mansion yang tidak kalah mewah dari mansion milik Dante. Hanya saja, mansion ini terlihat lebih hidup.

"Ayo." Rena menoleh, menerima uluran tangan Dante yang membukakan pintu mobil untuknya.

Seorang pria yang menggenakan seragam pelayan menghampiri mereka. Dia menunduk hormat. "Selamat datang di mansion keluarga Volkov. Tuan William sudah menunggu."

Tubuh Rena membeku kala mendengar nama William dari mulut pelayan itu. Rena kembali teringat scene di mana William--pria tua itu ingin memperkosa Valerie. Tapi, tidak berhasil karna, Dante menolongnya.

Rena sangat membencinya. Karna, William merupakan tokoh yang terobsesi sama gadis muda.

Dante menoleh ketika merasakan lengannya dicekam oleh Rena. Alisnya terangkat sebelah ketika melihat raut wajah wanita itu. Terlihat dia tidak senang.

"Kenapa?" tanya Dante yang membuat Rena menoleh. Wanita itu menggelengkan kepalanya.

Dante hanya diam. Dia membawa Rena masuk ke dalam. Mereka diarahkan menuju ruang makan. Dan, di sana sudah ada William yang menunggu.

"Akhirnya, kalian datang!" William bangkit berdiri, dan menghampiri mereka.

Saat matanya tertuju pada Rena, Dante segera menyembunyikan wanita itu di balik punggungnya. Hal itu, membuat William tertawa.

"Haha ... ternyata, kamu orang yang pencemburu, yah?"

Dante hanya menanggapinya dengan senyuman. Sedangkan, Rena berusaha matai-matian untuk tidak memaki William. Seandainya, dia tau jika Dante mengajak ke sini, dia akan menolak ajakan itu.

"Silakan duduk."

Dante menuntun Rena, untuk duduk di sampingnya. Saat melihat meja panjang ini, hanya terisi mereka bertiga, Dante langsung menatap William.

"Yang ke mana?"

William menopang dagunya. "Makan malam ini, khusus untuk kalian berdua," ucapnya sambil tersenyum.

Rena segera memalingkan wajahnya, sambil mengepalkan tangannya. Rasanya, dia ingin memarahi Dante karna, dengan polosnya menerima ajakan pria pedofil itu.

"Nama istrimu, Rena'kan?"

Dante terdiam sejenak, lalu menganggukkan kepalanya. Sedangkan, senyum William semakin lebar.

"Cantik."

... bersambung

1
tׁׁׅׅhׁׁׅׅ֮֮ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅׅ
lanjut, thor, makin penasaran/Determined/
tׁׁׅׅhׁׁׅׅ֮֮ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅׅ
wih, banyak rahasia ternyata/Shy/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!