NovelToon NovelToon
Romantic Scent

Romantic Scent

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama
Popularitas:674
Nilai: 5
Nama Author: Reviie Aufiar

Rona gadis cantik yang memiliki keberanian dibanding gadis lain, memilih menikmati hidup damai dan menjalankan usaha yang ditinggalkam kedua orangtuanya. Adakalanya setiap sore ia menikmati pemandangan indah berbukitan di belakang desanya dan menemukan sosok lelaki tampan jatuh tepat pada pelukkannya. Aroma tubuh lelaki itu berhasil memikatnya, dan siapa kah lelaki tersebut? dan apakah yang terjadi padanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reviie Aufiar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Eps 4. Kencan

Entah sejak berapa lama tangan itu memeluk tubuh lelaki itu, kepalaku menunduk sedikit malu dan aku berada tepat di pelukannya sambil menunggang kuda pemberiannya pulang.

Beberapa waktu sebelumnya. Tangan kami masih bergandengan sampai ke kandang sapi tempat peternakan kecil yang aku kembangkan menjadi sedikit berkembang dari sebelumnya.

langkah kaki panjangnya seolah menyeimbangkan langkah kaki pendek. Ingin sekali aku menoleh ke arahnya namun pandangan mataku hanya tertuju ke arah langkah kaki kami.

Rona dengan cepat melepas tangan lelaki itu karena mereka sudah dekat tempat tujuan.

“Ah maaf tuan.” Ucap Rona.

“Ah maaf aku malah memegangi tanganmu sedari tadi.” Ucap nya lembut pada gadis itu.

“Nona-nona,” lambaian tangan Paman Bil dari jauh.

“Iya paman.” Rona sedikit berlari kecil.

Di Tengah kekacauan perasaannya ia seperti berperang antara perasaan suka, gugup dan bau tubuh pria itu sungguh memabukkan pikiranya.

“Lihatlah nona, Tuan muda ini membawakan anda kuda yang kuat dan memiliki kaki yang kokoh.” Paman Bil membawa tali pengikat kuda tersebut mendekati nona nya.

“Wah kuda ini sangat cantik.” Rona mengusap kuda tersebut dengan perlahan.

“Kau harus coba naik.” Tangan Dean mengangkat pinggang Rona keatas kuda.

Rona sontak kaget karena tangan itu cukup kuat menaikkannya ke atas punggung kuda.

“Kau terkejut?” Tanya Dean hati-hati.

“Ah aku tak menyangka kau memiliki kekuatan sebesar itu.” Ungkap Rona membuat lelaki itu tertawa.

“Sepertinya aku mengganggu waktu kalian nona, saya akan permisi terlebih dahulu. Mari tuan.” Sapa Bily sebelum ia pergi.

“Baiklah tuan, semoga hari anda menyenangkan.” Dean memberi salam khas yang biasa ala kebiasaan di desa tersebut.

Bily menjauhi mereka berdua seakan menikmati waktu muda nya dahulu. “Sepertinya kami akan segera memiliki tuan rumah yang baru.” Gumam Bily menuju gubuk kecilnya tak jauh dari kandang peternakan sapi tersebut.

Dean menarik menarik tali kuda tersebut, terlihat sangat jelas dari pijakan kuda, tempat duduk, tali pegangan sampai kuda itu sendiri adalah kuda import mahal.

Rona terus menatap tubuh tinggi lelaki yang ada tersebut.

“ Sepertinya anda sudah sangat sembuh ya tuan,” Ucap Rona menghilangkan keheningan yang sejak tadi menyelimuti mereka berdua.

“Ayolah panggil saya Dean, bagaimana nona?” Lelaki itu menoleh kearah kanan menatap Rona dengan pekat.

“Baiklah Dean anda juga bisa memanggil saya Rona.” sambil merekahkan senyum.

“Ah ide yang bagus, lalu mau kemana kita?” Tanya Dean menatap gadis itu.

“Sepertinya ke arah ujung bukit itu. Sepertinya saya harus turun dan ikut berjalan dengan anda.” Sebelum Rona menurunkan kuda itu dan memijak pijakan kaki kuda tersebut Dean menghentikannya.

“Karena aku hanya memiliki waktu sedikit, bukankah lebih baik jika kita naik berdua,”Dengan cepat Dean menaiki kuda itu bersama Dengan Rona.

“Ah kau membuatku kaget tuan, ah maksudku Dean!” Mata Rona menatap garis dagu lelaki itu dari bawah.

Tanpa sadar Dean telah melaju kencang ke arah bukit tersebut.

DEG…DEG…DEG…

Jantung Rona tak berhenti berdetak, Rona merasa dipeluk dari belakang oleh Dean dengan pacu kuda yang semakin kencan. Terlihat pemandangan yang sangat indah menjulang di atas perbukitan. Mereka turun dari kuda dan menatap sekitar. Dean menatap gadis itu menikmati angin sejuk di pinggir bukit tersebut, rambutnya berkibas kekanan dan kekiri.

“Lihat kesini disini sangat indah.” Ucap Rona menoleh kebelakang dengan senyuman paling cantik di mata Dean.

“Ah benar cantiknya, sangat cantik.” Ucap Dean tanpa berkedip menatap gadis tersebut.

“Apa?” Rona menatap Dean dan tersipu malu membalikkan badannya ke arah bukit tersebut.

“Sepertinya Tuhan sangat baik ya? banyak keindahan dan kecantikan yang ia perlihatkan untuk makhluk nya agar hidup menikmati momen ini.” Dean menutup matanya menikmati matahari sore dan angin yang berhembus.

Rona tidak berani berbalik menatap Dean, namun Dean maju kedepannya, rambut Rona kembali berkibas. Rona menyelipkan rambut panjang indahnya itu kebalik telinganya.

Dean mengambil seutas tali pita yang disiapkan di balik saku bajunya. Lalu mengikat rambut gadis itu. Rona membeku menatap kehangatan lelaki tersebut.

“Ah terimakasih. Tapi terlalu banyak hadiah juga tidak baik.” Rona memegang rambut yang terikat dengan tali yang berwarna hijau tersebut.

“Semuanya tidak berarti dibanding dengan nyawa seseorang.” Dean menyilang tangannya di belakang masih sambil memegang tali kuda yang tak jauh dari mereka.

“Tetap saja aku tidak dapat menerima kuda hitam bercorak putih di dahi tersebut.” Ucap Rona sembari matanya tak teralihkan dari beberapa kawanan kuda liar di balik bukit.

Kuda-kuda itu berlarian bebas mengelilingi bukit.

“Kau lihat itu Dean?” Sambil menunjuk ke arah.

Dean menatap kawanan kuda tersebut, matanya menatap satu kuda yang telah ada tali kekang di kepalanya.

“Kau membuat tali itu nona Rona?” Tanya dengan nada takjub.

“Masih belum, aku baru sekali berhasil mengendarainya setelah beberapa kali percobaan dan jatuh.” Dengan bersemangat Rona menjelaskan pada Dean.

“Kau sungguh luar biasa nona. Mungkin akan banyak pria yang menginginkan gadis sepertimu.” Ungkap Dean dengan nada lembut dan masih menatap kearah kawana kuda-kuda tersebut.

“Maka dari itu aku tidak bisa menerima kuda ini tuan Dean, ah maksudku Dean.” Pinta Rona agar ia tidak jadi memberikannya kuda hitam tersebut.

“Tidak nona, kau harus punya setidaknya satu kuda ini sambil menjinakkan kuda tersebut. Kumohon jangan menolak, atau luka ku takkan sembuh.” Sambil mengambil tangan gadis itu ke arah perut bagian kirinya.

“Ah apakah luka anda belum mengering?” Spontan Rona menarik tangannya dari perut lelaki itu.

“Dia takkan sembuh jika anda terus menolak pemberian saya. Nah mari naik, matahari sudah mulai terbenam. Kita harus segera turun.” Dean menaiki kuda dan mengulurkan tangannya ke arah Rona.

“Baiklah jika itu permintaan anda.” Rona mengulurkan tangannya dan menaiki kuda tersebut dengan senyuman indahnya disertai taburan cahaya keemasan yang hendak menghilang dari langit.

Takkk… Takk…Takkk…

Sampailah kuda itu di kediaman White milik Rona, Rico sudah membawa kereta kuda di depan kediaman tersebut untuk menjemput tuannya.

“Terimakasih sudah meluangkan waktu anda yang berharga untuk saya Nona Rona, saya akan kembali ke kediaman saya.” Sambil mencium punggung tangan gadis itu.

“Baiklah tuan Dean, terimakasih untuk hari ini saya menikmatinya.” Ucap Rona dengan senang hati.

Sebelum memasuki kereta kuda Dean berbalik. “Sepertinya saya akan menantikan pertemuan kita selanjutnya Rona.” Dean memasuki kereta kudanya.

“Baiklah.” Jawaban Rona sambil melambai ke arah Dean.

Dean tersenyum menatap dari jendela, gadis yang sangat unik. Gadis yang memiliki harum bunga Lily di tubuhnya.

“Apakah kalian menikmati pertemuan ini tuan?” Tanya Rico dengan tatapan cukup gembira, karena sudah lama tuannya ini tidak merasa sesenang itu.

“Ya aku senang karena dia menerima pemberianku. Aku harus mempersiapkan banyak hal lagi kedepannya.” Dean hanya menutup matanya dan menikmati perjalanan pulangnya.

“Apa itu tuan?” Tanya Rico penasaran namun tuannya tidak menjawabnya hingga mereka tiba di rumah

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!