Zielga Nadine adalah seorang forensik kepolisian yang terkenal karena kecerdasannya dalam memecahkan kasus-kasus tersulit. Kemampuannya membawa banyak penghargaan dan membuat namanya dikenal sebagai salah satu ahli forensik terbaik.
Namun di balik sosoknya yang brilian, Zielga menyimpan masa lalu yang kelam. Semasa SMP, ia mengalami perundungan brutal dan kehilangan harga dirinya berkali-kali. Luka itu tak pernah sembuh—dan menjadi api yang membakar seluruh hidupnya.
Bagaimana jika forensik jenius yang dipercaya semua orang ternyata menyimpan agenda gelap?
Inilah kisah benturan antara dendam yang membara dalam diri Zielga dan upaya polisi mengungkap kebenaran.
Siapa yang akan menang: Zielga, yang bertekad membalas semua rasa sakitnya, atau aparat kepolisian yang tanpa sadar sedang memburu rekan mereka yang paling mereka hormati?
Di atas kertas bertuliskan “Keadilan”, sebuah pertempuran dimulai.
cerita ini hanya fiksi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gdc Hb vl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 3
Langit begitu cerah di smp river gumilang kota roves.
Sekolah menengah pertama yang terkenal sebagai tempat murid kalangan elite karena biaya dan pengajaran yang sungguh bagus.
Di halaman belakang sekolah terdapat seorang laki-laki dan dua wanita berdiri tegak di hadapan seorang gadis yang berlutut di hadapan mereka.
Laki-laki itu meletakkan tangannya di pinggang dan satu kakinya sedikit maju ke depan tengah menginjak kepala gadis yang berlutut di depan nya.
"Bagaimana rasanya rendahan!!" Mirza gevano laki-laki yang waktu smp menjabat sebagai ketua kelas lokal A.
Dia tersenyum dengan sombong ketika kotornya dari sepatunya menempel kuat di kepala gadis yang bernama azna celeveria.
Ujung sepatunya segera memainkan wajah azna dengan sangat sombong.
Azna hanya diam di perlakuan sangat rendah seperti itu, jika dia melawan anak dari donatur ini, dia akan kehilangan fasilitas serta biaya siswa nya.
"Apa yang kau mau" tanya azna sambil menggigit bibirnya, matanya yang terus menatap tajam mirza di hadapan nya menahan semua amarahnya.
Wajah mirza terlihat marah ketika mendengar perkataan azna.
"Hah!!" Marah mirza sambil menarik kakinya.
"Wah sepertinya dia butuh pelajaran untuk mengerti" ucap salah satu gadis di samping kiri mirza, sambil tersenyum dengan niat yang tersembunyi.
"Ya, kadang ada kacang lupa kulitnya" gadis di sisi kanan mirza ikut menimpali, jari telunjuk menggosok bibirnya sambil menatap azna dengan tatapan yang ganas.
Raut ketakutan mulai terlihat dari wajah azna kala tiga orang yang berdiri di hadapan nya menatapnya layaknya seperti mangsa.
Tubuh azna tampa sadar gemetar ketakutan, ia perlahan memundurkan tubuhnya mencoba untuk kabur.
"Hei mau kemana kau!!!!" Mirza yang menyadari hal itu segera menarik rambut azna dengan kuat membuat azna menjerit kesakitan.
"Lepa..Kan, ught!!" Pinta azna sambil merintih.
"Hah!!, berani-beraninya kau memerintah ku, akan ku tunjukkan apa hal yang pantas untuk mu!!" Mirza berteriak marah ia segera mencengkeram kuat pipi azna hingga membuat azna tak dapat menutup mulutnya.
Memanfaatkan kesempatan ini mirza segera mengambil tanah yang tengah ia injak dan memasukannya ke dalam mulut azna dengan kasar.
Azna yang menyadari hal itu meronta-ronta tak karuan mencoba melepaskan diri cengkraman mirza namun sayang kekuatannya tak sebanding dengan mirza.
Mirza yang telah memasukkan beberapa genggam tanah ke mulut azna langsung menutup mulut azna dan menekan hidungnya memaksa azna untuk memakannya.
Azna dengan reflek membuat dirinya mundur secepat kilat sambil memuntahkan tanah yang ada di mulutnya.
Uhukk
Hoss
Uhuk
Hoss
Jari-jari azna segera menekan lehernya mencoba mengeluarkan seluruh tanah yang ada di mulut nya.
Bukkk
"Harusnya kau sadar sekarang posisi mu jalang!!!" Tanpa di duga mirza telah berada di dekat nya menekan kepala azna ke tanah dang menggosokkan nya.
"Kau ini enak saja, makan makanan kantin sekolah secara gratis hanya karena beasiswa, sedangkan kami tetap makan dengan uang orang tua kami yang di berikan ke sekolah!" Racau mirza saat tangan kirinya masih menekan kepala azna ketanah hingga wajah azna terasa sakit karena bergesekan dengan tanah.
"Kau dengar tidak, kau itu pantasnya makan kotoran sama seperti asal mu, bukan makan makanan orang yang menyilaukan seperti kami, ck!!"
Dukk
Mirza dengan kesal menendang kepala azna dan meninggal azna yang terbaring kesakitan di tanah.
Hosss
Azna dengan cepat segera memuntahkan lagi isi perutnya mencoba mengeluarkan tanah yang di berikan oleh mirza tadi.
Kedua telapak tangannya yang terus mencekik lehernya memaksakan dirinya untuk muntah.
Uhukk
Uhukk
setelah merasa cukup, azna menatap tajam ke depan, marah, benci, dan juga rasa dendam yang mendalam terlihat jelas dari tatap azna.
Meskipun mirza hampir setiap sekolah memperlakukan dia seperti ini azna tak perna terbiasa dengan hal seperti ini.
'Bertahanlah az tinggal beberapa bulan lagi' batin azna segera bangkit dan meninggalkan halaman belakang sekolah.
***
Hujan tak kunjung berhenti, dengan gemuru dan kilatan yang mengerikan dari langit.
Mata mirza membulat kala melihat seorang wanita yang telah menyiksa nya itu berdiri dengan angkuh di hadapan mirza.
Kenangan lama mirza saat smp tiba-tiba membanjiri kepalanya membuat tubuhnya menggigil ke takutan.
"Az..azna!" lirih mirza matanya bergetar hebat ketika mengingat siapa wanita itu.
"Ya, lama tak bertemu mirza gevano, bagaimana kabar mu!?" Ucap ziel sambil tersenyum.
"Apa!, kau mau balas dendam untuk hal yang lama sudah lama terjadi.." Ucap mirza sambil tersenyum meremehkan.
Mendengar ucapan mirza, ziel hanya dia menatap mirza begitu intens membuat mirza seolah memenangkan pertarungan.
"Dengar, itu hanya kejadian waktu itu aku berpikir kau manusia rendahan karena tak tau apa-apa, aku minta maaf okey!" mirza berbicara dengan nada yang lembut saat membujuk ziel.
Senyuman aneh mulai terukir si wajah ziel ketika mendengar ucapan mirza, kilatan petir dan hujan yang membasahi mereka menjadi saksi bahwa ziel bertingkah aneh.
Wajah mirza sedikit pucat ketika melihat senyuman ziel, tubuhnya bergetar seolah merasakan bahaya.
"Apa!?, kenapa kau tersenyum!" Tanya mirza dengan gugup.
Ziel segera berdiri tegak menarik kakinya yang menginjak dada mirza.
Tatapannya kini tertuju pada balok besi yang berukuran 60 cm terletak di dekat mereka. Ia segera mengambil balok tersebut membuat mirza mendapatkan kesempatan untuk kabur.
Ugh!!!
Mirza sedikit merintih kesakitan kala mencoba melepaskan pisau dari kedua telapak tangan nya.
Namun belum sempat mirza melakukan apa yang dia inginkan ziel segera berdiri di dekat nya.
Ia dengan cepat meletakkan balok besi yang seberat 8 kilo itu ke pisau yang tertancap pada tangan mirza.
Hal ini membuat tubuh mirza terbaring tak berdaya dengan telapak tangannya telah tertusuk dengan pisau yang di tindih dengan balok besi.
"Apa yang mau kau lakukan!, dasar sialan!!!" Teriak mirza ketika mendapatkan perlakuan keji dari ziel.
Ziel hanya tersenyum, ia kemudian berjongkok di samping kepala mirza.
"Kau tau, dulu kau bilang aku tak pantas makan, makanan seseorang seperti kalian dan lebih pantas makan makanan seperti asal ku" ucap ziel dengan senyumannya yang aneh.
"Apa!" Mirza menatap ziel dengan takut, ketika melihat senyuman aneh dari wajah ziel.
"Karena kau bilang kau orang yang menyilaukan, aku dengan baik hati membawakan mu makanan yang cocok untuk mu!" ziel mengeluarkan sebuah botol tabung kecil yang Transparan yang memperlihatkan isinya ke arah mirza.
Jari-jarinya yang di balut kaus tangan hitam sedikit mengguncang botol tersebut membuat kepastian tentang apa isi di dalamnya.
Suara dari hujan yang lebat menemani mirza, namun tak dapat menghilangkan suara gemericik benturan serpihan kaca di dalam tabung.
Wajah mirza pucat, sangat pucat, tubuhnya gemetar , dia ingin sekali kabur dari sini namun yang hanya bisa di gerakan hanya otot-otot yang tak mampu lagi membawanya pergi dari sini.
"Tol...ong,..."
"Hmm" mendengar suara lirih dari mirza ziel menatap mirza sambil tersenyum licik.
"Tolong ampuni..hmp!!!??"
HMPP!!
belum sempat mirza menyelesaikan ucapan nya tangan ziel segera memegang kedua pipi mirza hingga membuat mirza membuka mulutnya.
Senyuman yang tak memiliki arti bahagia namun juga memiliki arti kesenangan terpancar dari wajah cantik ziel, ketika memasukan serpihan kaca itu ke mulut mirza.
Setiap detik yang berlalu membuat senyuman ziel makin lebar, seolah makin senang dan semakin menyeramkan.
Air mata mirza mengalir deras ketika mulutnya merasakan sepihak Beling tersebut, rasa sakit saat ziel yang menarik kepalanya sedikit berdiri membuat serpihan itu masuk ke tenggorokan mirza.
"Bagaimana, enak bukan" ziel menarik tangannya memasukkan kembali botol tabung itu ke sakunya dan tersenyum ke arah mirza.
Mirza yang merasakan sakit luar biasa dari tenggorokan dan mulutnya membuat nya meronta-ronta tak karuan, air matanya mengalir deras bersama hujan.
Ziel segera berdiri menginjak kedua tangan mirza, membuat Mirza kesulitan bergerak.
"Jangan seperti itu kau akan membelah kedua telapak tangan mu!" Ucap ziel sambil tersenyum.
Mirza hanya menatap ziel dengan ketakutan, air matanya mengalir deras, perlahan-lahan mirza menutup matanya mencoba menenangkan tubuhnya agar tak memperparah rasa sakitnya.
"Ck yang benar saja, apa secepat ini" keluh ziel saat melihat mirza sepertinya ingin mati.
Dia segera menarik kakinya dan bergerak, kedua kalinya berdiri dari kedua sisi tubuh mirza secara tenang.
Mirza yang sedang menutup mata perlahan membuka matanya karena tak merasakan kehadiran ziel, ia pikir ziel telah pergi.
Namun saat ia membuka matanya ziel telah ada di hadapan nya, mengangkat kapak nya tinggi-tinggi.
Mirza ingin berteriak namun tak bisa, tenggorokannya sangat sakit karena serpihan beling.
"Sampai jumpa, bajingan" ucap ziel sambil menyeringai. menancapkan kapak ke kepala mirza. cairan merah mengalir keluar dari ujung kapak dengan deras.
Mata mirza yang terbuka lebar entah karena shok atau ketakutan membuat nya mati tak sempat menutup mata.
Setelah selesai melakukan itu ziel terduduk di dekat mirza, senyuman aneh muncul dari wajahnya, senyuman yang merasa puas namun tak memiliki beban kebahagiaan.
"Permainan yang menyenangkan mirza gevano" ziel segera bangkit pergi dari sana dengan perasaan aneh.
Tak ada saksi yang melihat bagaimana kematian mirza gevano terjadi.
Hanya ada hujan, kilatan petir dan gemuruh di langit yang menjadi saksi bisu kejadian mencekam malah itu.