"janji ya kita harus bareng-bareng sampai besar nanti.. sampai aku bisa ajak kamu jalan-jalan keliling dunia!" seru Sena pada Arunika, gadis dengan rambut kepang duanya itu. "hm! Sena gak boleh ingkar janji ya, Aru bakalan nunggu janji Sena!" angguk gadis itu semangat sambil menyambut jari kelingkin Sena
namun sebuah kesalahpahaman menghantam keduanya, mengukir benci tanpa akhir. perpisahan tak dapat terelakkan hingga takdir mengikat keduanya kembali Cinta dan Benci, Rindu dan Dendam mempermainkan mereka dalam kisah masa-masa SMA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna_dee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
janji yang retak
"lalu kenapa jika dia putrimu? dia sudah tak suci lagi! tubuhnya sudah bekas orang lain!!" sahut wanita glamor itu
"Diam Ma!!! dia istriku! dan akan selalu jadi istri ku apapun yang terjadi!!" marah Maja, tak tahan dengan hinaan sang Mama pada istrinya
"terserah!! Mama mau kamu pulang hari ini! Titik!!" Wanita itu bersikeras ingin membawa Maja pergi, tangan kekar Maja menepis kuat tangan Mamanya, tatapan dinginnya mulai menusuk dan Wanita itu tak ingin kalah masih tetap menatap mata putranya dengan angkuh
"lepaskan Pa.. pa!!" celetuk Sena yang masih sesenggukan berusaha untuk bicara meski tenggorokan nya terasa di cekat
wanita tua itu menarik kacamata hitamnya kebawah, menatap intens Sena alisnya terangkat sebelah lalu setelah itu tersenyum puas
"kalau begitu, terserah kamu! jika tidak ingin pulang maka biar dia yang Mama bawa!" ucapnya sambil menggendong paksa Sena, Sena tak punya banyak tenaga untuk memberontak
"lepaskan Sena!!" suara Maja dingin, wajah datar dengan mata merah yang seakan ingin membakar membuat wanita itu perlahan melepaskan Sena, dalam lubuk hatinya yang dalam ada rasa takut melihat putranya yang seperti itu
"Sena.. Sena gak apa-apa kan? Aru disni.. Sena jangan takut ya.." ucap Arunika yang datang memeluk sahabatnya itu mencoba menghibur sekaligus memberinya kehangatan agar lebih tenang, namun.. bukan membalas pelukan, Sena mendorong keras Arunika hingga tersungkur ke belakang, suara gedebuk tubuh Arunika yang terlempar cukup keras dan semua terkejut melihatnya
"Sena kenapa? Aru nyakitin Sena ya?" tanya Arunika polos mencoba berdiri dan kembali memeluk Sena memberinya rasa aman sekali lagi
"Sena jangan takut.. Aru akan lindungi Sena ya?" lanjutnya, namun sikap Sena masih sama mendorong kerang gadis itu hingga sekali lagi terjatuh tanpa mengaduh
"Sena kenapa?" tanya nya masih polos, Bisma tak tahan dan membantu adiknya berdiri Surya menepuk pundak putranya sambil menggelengkan kepala memberi isyarat agar sang putra tidak ikut campur, Sena saat ini dalam keadaan yang sangat kacau
"jauh-jauh Aru! Sena gak akan jadi teman Aru lagi!" ucap Sena dingin, Arunika tak peduli dengan kata-kata Sena
"bapak.. Aru mau ngomong sama Sena bentar ya? Om Maja.. Senanya Aru pinjam sebentar Ya?" izin nya, tak ada respon apapun namun Arunika tetap nekat menarik tangan Sena menjauh dari kerumunan orang dewasa, Bisma cukup khawatir namun Surya melarang nya untuk ikut
"Sena boleh ngomong sekarang.. Sena pasti marah ya? tapi Bapak gak salah.. dia.."
"Diam!!"
brukk.. Aaaa!!
Arunika jatuh menggelinding kebawah setelah Sena mendorongnya, Sena tak tau jika di belakang Aru ada tangga Sena berlari kebawah membantu Aru berdiri bahkan sempat meniup luka di lutut Arunika
"gak apa-apa kok Sena, Aru gak sakit" ucap polos gadis itu
"Aru.. mulai sekarang Sena dan Aru bukan lagi teman! Bapak Aru udah sakitin Mama, Sena gak akan jadi teman Aru lagi!" kali ini kata-kata Sena cukup menggores luka untuk Arunika, mata gadis itu mulai sembab rasa kecewa benar-benar menghantam nya
"Sena.. Bapak gak salah.." lirih Arunika menarik pelan sudut baju Sena mencoba menjelaskan
"kata dokter Mama udah gak nafas.. artinya Mama udah meninggal.. Bapak Aru pembunuh! Aru juga pembunuh! kalian pembunuh!!" teriak Sena kencang melepaskan kemarahannya sambil menangis, berlari kembali pada pelukan sang nenek
Arunika masih diam di tempat kepalanya menggeleng tanpa henti
"bukan bapak.. Sena gak boleh marah, Aru bukan pembunuh.. Sena udah janji jadi sahabat Aru selamanya gak boleh ingkar janji.." lirihnya pelan air matanya menetes tanpa henti, hati kecilnya benar-benar kecewa namun dia berusaha untuk menepis
"Aru tau Sena pasti masih marah makanya ngomong gitu, nanti Bapak pasti bisa jelasin" ucapnya mengusap air mata
"Sena.. mau ikut oma? Mama kamu sudah meninggal, kamu gak perlu tinggal lagi didesa ini lagi" ucap pelan Merry, mencoba membujuk cucu yang baru pertama kali dilihatnya
"Mama gak mungkin meninggal!!" teriak Sena menolak
dokter keluar setelah begitu lama didalam, Maja menyambut dokter dengan berbagai pertanyaan namun dokter hanya menggeleng sebagai jawaban, spontan tubuh Maja terduduk lemas tak kuasa menghadapi kenyataan yang begitu pahit
"dok? putri saya... benar-benar.." tanya Adam tak berani percaya
"yang tabah ya pak.. mungkin sudah takdir nya.. Tuhan sayang sama putri bapak itu mengapa dia di panggil olehnya" dokter mencoba menghibur dan menguatkan Adam, mulut Adam bergetar tangisnya mulai pecah begitupun dengan Uswati
"Mama.. Mama!!!!" teriak Sena berlari masuk, tangisnya kembali pecah
'heh.. sudah sepantasnya! dia tidak layak masuk kekeluarga kami!' batin Merry mengibaskan kipas hitamnya
Merry meninggalkan rumah sakit, dia akan kembali lagi nanti setelah suasana yang saat ini panas mulai dingin kembali
.
tangis Maja dan lainnya masih terdengar, tanah makam juga masih basah warga Desa yang membantu pemakaman itu satu persatu mulai meninggalkan tempat. Arunika mendekati Sena, perlahan menggapai tangan Sena menggenggam lembut jemari itu
"Sena yang kuat ya.. Aru akan selalu ada kok buat Sena.. Aru akan jadi keluarga Sena" ucap lembut gadis itu, tangan Sena mendorong kuat tubuh mungil itu
"Sena gak butuh Aru! Sena benci sama Aru!!" pekiknya, Arunika berdiri meski sangat kecewa dengan kata-kata Sena namun dirinya tetap ingin memberi kehangatan pada sahabat nya itu
"mulai sekarang, Aru jangan pernah lagi temui Sena!!"
Bisma mengelus pelan pundak adiknya itu, mencoba menenangkan nya
"Aru pulang yuk? Sena nya lagi butuh waktu sendiri jangan di ganggu dulu ya?" ucap Bisma, remaja yang baru menginjak kelas dua SMP itu cukup Dewasa saat menenangkan adiknya
Arunika mengangguk pelan, langkahnya mulai menjauh dari Sena yang terus menatapnya dengan penuh amarah
hari-hari berlalu, Maja diam-diam mengumpulkan bukti kecurangan Darwin memperkuat hukuman untuk laki-laki bejat itu! tak ada sempat untuknya bicara pada Surya yang dia tau Surya tak bersalah dan juga sempat membantu istrinya. terlalu sibuk dengan dendamnya pada Darwin, Surya pun masih menunggu waktu untuk bicara, tak ingin Maja terganggu olehnya hubungan keduanya perlahan merenggang setiap harinya
hari ini Merry kembali datang dengan tampilan yang lebih Fresh, Maja sibuk di dalam rumah mengumpulkan foto-foto mendiang istrinya untuk di simpan dalam sebuah kotak berwarna coklat
Sena sibuk di kebun, mencari kegiatan agar tak terus teringat pada Mamanya yang masih segar dalam ingatan
Sena menyibukkan diri memetik sayur, dia tau Ayahnya tak pandai memasak tapi sang nenek setiap hari datang mengantarkan makanan untuknya dan ayahnya
"Sena!! ayo gembala sapi ke bukit!! Aru janji akan jagain sapinya buat Sena!" ajak Arunika yang tiba-tiba datang untuk menghiburnya
"pergi!! Sena gak mau main sama Aru!" usir Sena dingin, hatinya yang penuh amarah dan benci itu terselip rasa tak tega saat tiba-tiba senyum di wajah Aru memudar karena kata-kata nya
"kalo gitu gimana kalo kita tangkap kupu-kupu? kupu-kupu di sini banyak banget loh Sena.." bukannya menyerah, Arunika mencoba cara lain untuk menghibur Sena dan kembali bermain bersama nya seperti dulu lagi
"Aru.. Sena udah bilang, Sena gak mau main lagi sama Aru! Sena dan Aru bukan teman lagi!! pergi sana!" usir Sena untuk kedua kalinya
"Sena liat deh, Aru ada layangan loh.. seru banget, ayo kita terbangin di bukit Sena!!" ajak Arunika tak peduli dengan kata-kata Sena yang sebenarnya menusuk di hati
"Ayo Sena.. kita ke bukit sekarang!! anginnya gede loh!!" serunya lagi berlari berputar menunjukkan layangan yang di bawanya untuk Sena
"pergi!! Sena gak mau main sama pembunuh!! dasar pembunuh!! Aru pembunuh!! Sena benci Aru, Aru pergi sana Sena gak akan pernah main lagi sama Aru selamanya!! PEMBUNUH!!!"
Arunika menghentikan kakinya, kali ini dirinya tak bisa lagi bohong, Sena sangat menyakiti hatinya
"PEMBUNUH!!" pekik Sena lagi melempar sayur di keranjang nya pada Arunika
"Sena.. Aru bilang Bapak gak salah, Aru bukan pembunuh!" lirihnya mulai kesal
"ARU PEMBUNUH!! KELUARGA ARU PEMBUNUH, SENA BENCI ARU TITIK!!" teriak Sena tak peduli dengan ucapan Arunika
"mulai sekarang, Aru juga benci sama Sena! SELAMANYA!! Sena pergi sana! pergi dari desa pergi sama nenek kamu itu jangan pernah kembali!!!" teriak Arunika menangis kesal