Nareswari (18), gadis desa peraih beasiswa, dipaksa menerima perjodohan dengan Arjuna Bhaskara (27), CEO dingin yang sinis terhadap cinta karena trauma masa lalu. Pernikahan mereka hanyalah kontrak kaku yang didasari janji orang tua. Di apartemen yang sunyi, Nares berjuang menyeimbangkan hidup sebagai mahasiswi baru dan istri formal. Mampukah kehangatan dan kepolosan Nares, yang mendambakan rumah tangga biasa, mencairkan hati Juna yang beku dan mengubah ikatan kontrak menjadi cinta sejati, di tengah kembalinya bayangan masa lalu sang CEO?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akmaluddinl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4 KHSC
Suasana di ruang akad nikah KUA terasa dingin, meskipun lampu kristal memancarkan cahaya terang. Ini bukan karena pendingin udara yang terlalu dingin, melainkan karena aura formal yang menyelimuti seluruh prosesi. Nareswari Kirana duduk diapit oleh ibunya dan seorang saksi dari pihak Juna. Pakaiannya, kebaya putih sederhana dengan kerudung yang bersih, memancarkan kesahajaan yang kontras dengan jas mahal dan jam tangan berkilauan yang dikenakan Juna.
Nares mencoba menenangkan detak jantungnya yang berpacu tak karuan. Ia menyentuh buku Yasin yang dipegangnya, mencari kekuatan batin. Ia mengangkat wajahnya, menatap lurus ke arah Arjuna Bhaskara, pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.
Juna duduk tegak di seberang meja, diapit oleh Pak Baskara dan Ayah Nares, Pak Harjo. Juna terlihat tampan sempurna—sebuah patung keindahan maskulin yang terbuat dari marmer dingin. Matanya, tajam dan tanpa emosi, sesekali menyapu ruangan, seolah memastikan semua rukun dan syarat terlaksana sesuai jadwal. Tidak ada gurat kegembiraan atau kecemasan seorang pengantin pria, hanya ketegasan seorang CEO yang akan menutup kesepakatan bisnis bernilai tinggi.
Bu Melati, ibu Juna, mencoba tersenyum hangat kepada Nares, tetapi senyum itu tidak mencapai Juna.
Prosesi dimulai. Penghulu membacakan ayat-ayat suci, menekankan makna sakral dari pernikahan dalam Islam, sebagai ibadah terpanjang yang dilandasi mitsaqan ghaliza—perjanjian yang sangat kuat. Nares menunduk, meresapi setiap kata. Ia berdoa, memohon agar berkah yang dibacakan penghulu itu benar-benar menaungi rumah tangganya, meskipun suaminya sendiri tidak menginginkannya.
Saat nasihat pernikahan usai, ketegangan memuncak. Pak Harjo, wajahnya memerah menahan tangis dan haru, menjabat tangan Juna yang terasa dingin dan kokoh. Jari-jari Pak Harjo yang kasar karena berbulan-bulan mengolah tanah, beradu dengan jari-jari Juna yang mulus dan terawat. Dua dunia yang berbeda kini berhadapan.
“Ananda Arjuna Bhaskara bin Baskara Utama…” suara Pak Harjo sedikit bergetar, penuh makna. “…Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri kandung saya, Nareswari Kirana binti Harjo Susilo, dengan mas kawin seperangkat alat salat dan emas 25 gram, dibayar tunai.”
Keheningan melanda. Nares memejamkan mata, membiarkan takdirnya ditentukan oleh satu ucapan.
Juna menarik napas pendek. Ekspresinya tidak berubah, seolah ia sedang membacakan siaran pers. Ia menjawab dengan suara yang lantang, jelas, dan tanpa sedikit pun jeda atau kesalahan, menunjukkan kendali diri yang sempurna.
“Saya terima nikah dan kawinnya Nareswari Kirana binti Harjo Susilo dengan mas kawin tersebut, tunai.”
“SAH!”
Kata ‘Sah’ menggema, mengakhiri status Nares sebagai gadis lajang. Nares merasakan air mata yang sudah lama ia tahan, akhirnya mengalir di pipinya. Ia bukan menangis sedih, melainkan tangis haru yang bercampur rasa kehilangan atas kebebasan dan rasa gentar atas peran baru.
Setelah penandatanganan buku nikah, tibalah momen pemasangan cincin. Ini adalah formalitas yang paling membuat Nares merasa hampa. Juna mengambil cincin yang sangat sederhana, tanpa berlian berlebihan sesuai permintaan keluarga Harjo. Juna berjalan ke arah Nares, tubuhnya tegap, tanpa membungkuk atau menunjukkan kelembutan.
Ia meraih tangan Nares. Sentuhan pertamanya sebagai suami. Jari-jemari Juna terasa panas. Ia memasangkan cincin perak itu ke jari manis Nares dengan cepat dan efisien, seolah melakukan tugas administrasi. Ia sama sekali tidak menatap mata Nares, hanya fokus pada jari. Setelah cincin itu terpasang, Juna segera melepaskan tangan Nares.
Nares mengambil cincin Juna. Ia mendongak, menatap wajah suaminya yang masih dingin. Ia sadar, ini adalah kesempatan terakhirnya untuk menunjukkan rasa hormatnya sebagai seorang istri yang berpegang teguh pada ajaran.
“Juna,” bisik Nares. Ia mengambil tangan kiri Juna, memegang pergelangan tangannya yang kokoh. Dengan hati-hati, ia memasangkan cincin itu. Setelah selesai, Nares menundukkan kepalanya sedikit, dan mencium punggung tangan Juna—sebuah takzim seorang istri pada suaminya, sebuah tanda penghormatan yang tulus.
Ciuman itu ternyata berhasil mengguncang benteng Juna. Juna tersentak. Untuk pertama kalinya, Juna menatap Nares dengan pandangan yang tidak ia kuasai. Ada kejutan, ada gurat kebingungan, dan ada bayangan rasa bersalah yang melintas di matanya. Sentuhan ketulusan dari gadis desa itu, yang menunaikan kewajibannya sebagai istri dengan penuh kepatuhan, menyentuh relung hati Juna yang lama ia bekukan. Namun, sepersekian detik kemudian, Juna kembali mengendalikan diri. Ia hanya mengangguk kaku, tanpa kata, dan kembali ke tempat duduknya.
“Semoga Allah memberkahi pernikahan kalian,” tutup penghulu.
Pak Harjo dan Bu Lastri memeluk Nares lama.
“Jaga dirimu baik-baik, Nak. Ini rumah tanggamu sekarang. Apapun yang terjadi, jangan lupakan dirimu sendiri,” bisik Pak Harjo, tangannya membelai pipi Nares.
Bu Lastri terisak, air matanya tak terbendung. “Ibu titipkan kamu pada Juna, Nak. Anggap Ibu Melati seperti ibumu sendiri. Kami akan segera kembali ke desa.”
Perpisahan itu terasa seperti pisau. Nares tahu, ia kini benar-benar sendirian, jauh dari perlindungan keluarganya.
***
Selesai Ijab Kabul, Juna langsung membawa Nares pergi. Ia menolak ajakan makan siang bersama keluarga.
“Aku harus kembali ke kantor. Kau harus segera beradaptasi. Kita akan ke apartemen dulu,” ujar Juna, nadanya sudah kembali formal.
Mereka berada di dalam mobil sport mewah Juna. Juna mengemudi sendiri, membelah kemacetan Jakarta. Nares duduk di kursi penumpang, memandangi cincin di jarinya. Aroma mahal parfum Juna memenuhi mobil, berpadu dengan aroma bunga melati yang sempat ia gunakan.
Keheningan melanda, memakan mereka berdua. Keheningan itu begitu pekat hingga Nares merasa harus melakukan sesuatu.
“Juna,” panggil Nares pelan.
“Ya?” jawab Juna tanpa menoleh, matanya fokus pada spion.
“Terima kasih sudah menepati janji. Dan… terima kasih untuk akad nikah yang sah tadi. Aku akan berusaha menjadi istri yang tidak merepotkanmu.”
Juna menghela napas, terdengar berat. “Itu tanggung jawabku. Aku tidak akan pernah mengingkari janji. Baik janji kepada Kakekku, maupun janji Ijab Kabul tadi. Aku akan memberimu hak sebagai istri—nafkah lahir, tempat tinggal, dan keamanan.”
“Bagaimana dengan nafkah batin, Juna?” tanya Nares, keberaniannya muncul entah dari mana.
Juna mengerem mendadak karena lampu lalu lintas berubah merah. Ia menoleh, tatapannya dingin namun penuh gejolak.
“Nafkah batin sudah aku jelaskan di kontrak, Nareswari. Kau tidak perlu berharap lebih dari pernikahan ini. Aku tidak punya apa-apa untuk kuberikan di sana. Hatiku sudah tertutup, dan aku tidak ingin membuka pintu itu lagi. Itu hanya akan menyakitimu,” Juna menekankan setiap kata.
“Aku tidak mencari cinta, Juna. Aku hanya… bertanya. Karena akad nikah kami adalah kesepakatan utuh, bukan hanya fisik. Tapi aku mengerti. Aku akan menjaga garis batas itu.” Nares menatap ke depan, kecewa.
Juna kembali fokus mengemudi. Kata-kata Nares justru membuatnya merasa bersalah. Ia melihat kelembutan dan kejujuran di mata Nares, sesuatu yang tidak ia lihat dari wanita mana pun di kotanya. Nares tidak meminta uang, tidak meminta kemewahan, hanya meminta perasaan dan status yang utuh.
Kenapa dia begitu berbeda? batin Juna, merasa terganggu. Ia sudah menyiapkan diri menghadapi drama atau tuntutan, bukan ketulusan yang polos.
“Kau bisa mengatur kamar tamu utama sesukamu,” kata Juna tiba-tiba, berusaha mengubah topik. “Kau bisa memesan apapun yang kau butuhkan. Minta saja pada Rio. Jangan segan.”
“Aku tidak segan, Juna. Hanya saja… aku tidak terbiasa dengan kemewahan. Di desa, aku biasa memasak dan membersihkan rumah sendiri. Apakah aku boleh melakukannya di apartemen?” tanya Nares.
Juna mengerutkan kening. “Kami punya asisten rumah tangga dan koki. Kau adalah Nyonya Bhaskara sekarang. Kau fokus saja pada kuliahmu.”
“Aku tahu, tapi… aku ingin melakukan hal yang biasa kulakukan. Agar terasa seperti rumah,” jawab Nares, suaranya sedikit memelas.
Juna tidak menjawab. Ia hanya mengangguk singkat, seolah mengizinkan Nares melakukan hobi anehnya. Ia tidak peduli. Selama Nares tidak mengganggu pekerjaannya, Juna akan membiarkannya.
***
Mereka tiba di apartemen mewah Juna, sebuah penthouse di lantai teratas gedung. Pemandangan kota yang terhampar luas di bawah jendela kaca raksasa itu seharusnya membuat takjub, tetapi Nares hanya merasakan kesepian.
Apartemen itu adalah perwujudan sempurna dari Juna: modern, minimalis, dan sangat dingin. Dominasi warna hitam, putih, dan abu-abu, sofa kulit mahal yang tegak, dan tidak ada satu pun pernak-pernik yang menunjukkan kehangatan. Semua terlihat perfek dan mati rasa.
“Ini ruang utama. Dapur ada di sana. Kamar tamu utama di lorong ujung. Kamarku di sebelah sana. Ingat batasannya,” Juna memberikan tur singkat, setiap kalimatnya adalah peringatan.
“Aku mengerti, Juna,” kata Nares.
Tiba-tiba, Juna menerima telepon penting. “Ya, aku sudah di apartemen, aku akan segera bergabung dengan rapat online.”
Juna melepas jasnya, menggantungkannya dengan hati-hati, dan menatap Nares. “Aku harus bekerja. Aku ada di ruang kerjaku. Jangan ganggu aku selama beberapa jam ke depan. Rio akan mengurus barang-barangmu. Nikmati soremu, Nareswari.”
Tanpa menunggu jawaban, Juna berbalik dan menghilang ke dalam sebuah ruangan yang terpisah, menutup pintunya rapat-rapat.
Nares ditinggalkan sendirian. Ia resmi menjadi Nyonya Bhaskara, tetapi ia ditinggalkan di hari pernikahannya.
Ia berjalan ke kamar tamu utama. Kamar itu luar biasa besar, dengan kamar mandi mewah. Koper kainnya yang sederhana diletakkan Rio di samping lemari besar. Nares membuka koper itu. Isinya hanya beberapa potong baju sederhana, buku-buku kuliah, dan selembar kain batik usang milik ibunya.
Ia berjalan ke jendela kaca setinggi langit-langit, menatap pemandangan Jakarta yang gemerlap. Ia merasa sangat kecil. Kota ini, dengan segala kemewahannya, terasa seperti penjara kaca.
Nares kemudian teringat pada kedua orang tuanya. Mereka berjanji akan langsung kembali ke desa sore ini, tak mau berlama-lama mengganggu kehidupan baru Juna. Nares merogoh saku bajunya, mengambil ponsel murahnya, dan menelepon ibunya.
“Ibu?” suara Nares bergetar.
“Ya, Nak? Kamu sudah di apartemen? Bagaimana? Bagus, kan?” tanya Bu Lastri, suaranya terdengar cemas.
“Bagus, Bu. Sangat mewah. Nares baru saja masuk. Juna… Juna sedang bekerja,” jawab Nares, menahan diri untuk tidak menceritakan kekosongan yang ia rasakan.
“Syukurlah. Kami sudah di stasiun, Nak. Kami harus segera kembali. Jaga kesehatanmu, ya. Jangan lupakan shalatmu. Dan ingat, sabar adalah kunci di kota besar.”
Nares menangis tanpa suara. “Ibu hati-hati, ya. Ayah juga. Nares sayang Ibu.”
“Kami juga sayang kamu, Nak. Sampai jumpa lagi, ya.”
Sambungan terputus. Nares berdiri di kamar yang dingin itu, menyentuh kerudungnya. Ia adalah seorang istri, mahasiswi, dan penghuni penthouse, tetapi ia merasa seperti anak kecil yang tersesat.
Ia memutuskan untuk tidak larut dalam kesedihan. Ia akan membawa kehangatan yang Juna tolak.
Nares keluar dari kamar, menuju dapur. Dapur itu raksasa, didominasi baja dan peralatan masak paling modern yang ia yakini belum pernah digunakan. Ia membuka kulkas, menemukan isinya penuh dengan bahan-bahan premium yang diatur rapi.
Ia mengambil beberapa bawang, cabai, dan sayuran sederhana. Nares mulai memasak air, memotong-motong bumbu. Di tengah kemewahan baja, Nares mulai menciptakan aroma masakan rumahan sederhana yang sangat ia rindukan: tumis kangkung dan sambal terasi.
Apartemen yang tadinya hanya berbau AC dan parfum mahal, kini perlahan mulai terisi oleh aroma bumbu dapur yang hangat dan akrab. Nares tidak tahu apakah Juna akan memakan masakannya, tetapi ia tahu, dengan melakukan hal yang ia cintai, ia akan menciptakan rumah, sedikit demi sedikit, di dalam benteng CEO yang berhati es. Ia akan membuktikan bahwa ia bisa menjadi istri syar'i yang tulus dan tidak merepotkan, sambil tetap mengejar mimpinya.
Bersambung....