Mengisahkan perjalanan hidup seorang pemuda di jaman dahulu untuk meraih cinta dan menjungjung tinggi martabat seorang ibu. hidup sebagai seorang pemburu untuk menghidupi sekaligus menjadi tulang punggung dan terpaksa melewati bermacam rintangan demi mendapatkan hati seorang wanita yang di cintainya. serta calon mertua yang tak setuju karena memiliki latar belakang yang bertentangan. serta ikut campur bangsa dari dunia lain yang tak kasat mata yang menyulitkan mewujudkan impiannya. simak keseruan kisahnya di setiap babnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hendriyan Sunandar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4
Apalagi sebagian besar penduduk kampung tau jika datangnya dadakan para gerombolan itu tak lain di sebabkan para gerombolan itu murka karena kedatangannya ke kampung itu seminggu yang lalu malah di sambut hujanan peluru dari pihak TNI. Yang tentu saja mengakibatkan sebagian banyak gerombolan itu tewas berlumuran darah.
Dan keberhasilan jebakan itu tak lain di karenakan keberanian alm bapak Tumang yang bernama Pak Atmaja. Yang dengan sengaja melaporkan kebiasan para gerombolan itu yang selalu datang meranjah/merampok kampungnya setiap hari minggu sebelum tengah malam.
Sehingga pantas dan sudah sewajarnya Pak Atmaja selama beberapa hari setelah kejadian itu, beliau di anggap pahlawan dan di beri perlindungan khusus dari pihak TNI. Bahkan Pak Atamaja dan keluarganya termasuk Tumang sebagai anak satu satunya, di perlakukan lebih, di cukupi makanan dan kebutuhan lainnya dan terkesan di istimewakan. sehingga tanpa sengaja kehormatan itu membuat segelintir warga lainya merasa cemburu sampai ada yang tega berhianat dengan mengatakan kabar kebiasaan gerombolan itu pada pihak TNI.
Hanya saja sangat di sayangkan. Seseorang yang sudah tega berhianat pada teman sendiri itu tak bisa di lihat dengan jelas oleh Tumang dan ibunya ketika malam itu. Selain ke adaan yang gelap dan hanya tersinari oleh beberapa kelebatan sinar senter, sang penghianat itu tampak di kawal dan terhalang beberapa orang gerombolan itu.
"bagus elang satu. Cari terus orang orang yang mau memberi informasi pada kita. Dan untuk kau ki. Mulai sekarang kau dan keluargamu akan aman. Ku pastikan anak buah ku tak akan ada yang berani masuk apalagi meminta upeti ke rumahmu. Tapi ingat !!! Selalu berikan informasi keberadaan TNI di manapun berada. Jika kau berani berbohong, maka kau akan bernasib seperti dia. Mengerti !!! "
Kata kata yang terdengar sebuah kode itu yang sempat di dengar Tumang di sertai jeritan anak anak dan wanita dari beberapa rumah di sekelilingnya. Seorang warga penghianat dan baru saja di akui bagian dari kelompok gerombolan itu hanya terdengar mengatakan terima kasih dengan suara yang gemetar seperti menahan rasa takut yang teramat sangat.
Lalu pada akhinya sekumpulan orang orang bersenjata itu pergi begitu saja sembari membawa beberapa gembolan yang tentunya berisi bermacam makanan dan harta benda yang berharga.
Sementara tubuh Pak Atmaja yang sudah tewas dan bersimbah darah itu di biarkan begitu saja bak bangkai binatang yang tak seberapa nilainya. Dan sejak hari itulah penderitaan warga semakin terasa karena ulah biadab dan rakusnya gerombolan itu semakin menjadi. Hasil kebun hanya sebatas merasakan lelahnya saja. memberi makanan dan dan setor upeti seperti sudah menjadi sarat wajib jika mereka masih menginginkan hidup.
Adapun kehadiran beberapa pasukan TNI yang sesekali patroli atau menyempatkan berjaga di kampung mereka, semua itu seperti tidak artinya lagi. Karena jika ada pihak TNI yang berjaga, sudah bisa di pastikan para gerombolan itu tak akan berani datang ke kampungnya.
Ya. seperti keberadaan TNI itu sudah di ketahui oleh gerombolan itu. Dan itu tentunya ulah musuh di dalam selimut yang berpura pura sependeritaan dan sehati dengan warga kebanyakan.
"bangsat. Kira kira siapa ya yang sudah tega melaporkan bapak pada orang hutan itu (gerombolan).
awas ya kalo aku sampai tau siapa dia. Habis kau setannn... "
Gerutu Tumang sembari meremas kuat kepala seekor anjing yang tengah tertidur di sampingnya karena tak kuasa menahan geram di hatinya. Dan tentu saja seketika Tumang dan mang Darman pun terkejut oleh suara pekikan anjing itu.
Gaik...!!! Gaik...!!! Gaik ...!!!
Suara erangan anjing itu terdengar begitu keras dan merasakan kesakitan. sebelum pada akhirnya lari terbirit birit menjauhi Tumang.
"astaghfirullah !!! Eling Tumang eling !!! Kau ini kenapa hah. Anjing sedang tidur kenapa tiba tiba kau cekik begitu. Kalo anjing itu kapok gak balik lagi gimana hayo ?
bukanya anjing itu yang kau andalkan untuk berburu ? "
Tegur mang Darman sembari menepuk sedikit keras pundak Tumang. Dirinya begitu heran pada perubahan derastis sikapTumang yang sempat menggumamkan nama alm bapak nya itu dan spontan mencekik anjing peliharaan kesayangannya itu.
Dan tentu saja Tumang pun tersentak dan seketika tersadar bahkan ketika anjing itu berontak dari cengkraman tangannya.
"a... a... Aduh !! Aduh maaf bul maaf"
Ucap Tumang spontan sembari menyebut nama anjingnya yang ia beri nama 'Gembul'.
detik itu juga Tumang segera berdiri berusaha mengejar dan memanggil anjing itu. Namun sayang anjing itu sepertinya sudah jera dan lari jauh entah ke mana. Sedangkan mang Darman tampak menggelengkan kepala sembari menahan tertawa karena merasa lucu pada kelakuan Tumang dan anjingnya.
"masih untung bukan mamang yang kau cekik mang. Bisa mati kehabisan nafas mamang kalo kau tadi melakukan itu pada mamang.
kau ini ngelamunin apa sebenarnya mang? Apa setiap hari kau begini ? "
Tanya mang Darman sembari menahan tawa dan memintaTumang untuk kembali duduk di tempatnya. Di awali Tumang menarik nafas dalam seakan berusaha menepis semua kekecewaannya selama ini, Tumang pada akhirnya mengutarakan semua isi hatinya. Terutama rasa dendam pada seseorang yang di anggap menjadi penyebab meninggalnya alm bapaknya itu.
Dan tentu saja mang Darman yang mendengarnya, dirinya hanya mampu mengela nafas dalam. seperti ikut merasakan apa yang di rasakan Tumang. Terlebih mang Darman sendiri sudah tau perkara itu sebelumnya sekaligus dirinya juga adalah salah satu saksi mata di malam berdarah itu.
"yang sabar ya Mang semoga keadilan segera kita temukan. Tugasmu sekarang, jaga ibumu baik baik ya ? Dan satu hal yang harus kau ingat mang. Buang rasa dendam di hatimu agar kau bisa menikmati hidup lebih baik dan penuh ketenangan"
Imbuh mang Darman sembari menepuk kecil pundak Tumang. Tak heran Tumang pun sempat merasa kesal pada nasehat mang Darman kali ini. Namun setelah merenung makna ucapan itu, Tumang pun terlihat menunduk. hati kecilnya berkata, jika ucapan mang Darman itu ada baiknya.
Dari pada sibuk mencari penyebab, bahkan sekalipun di temukan orangnya tentu tak akan bisa mengembalikan alm ayahnya, sehingga akan lebih baik jika ia bersukur atas keselamatan diri dan ibunya sembari tak lupa mendoakan kebaikan untuk alm ayahnya.
Waktu terus berlalu. Detik berganti menit, lalu berganti jam.
suasana cerah bahkan terasa begitu panas itu kini terasa sejuk. Tak terasa keduanya menghabiskan hari itu dengan bermacam obrolan serius bahkan bermacam candaan.
Di luar gubuk tampak ke adaan mulai menghitam di sertai udara dingin mulai terasa menusuk. Menandakan waktu itu sudah memasuki sore hari. bahkan suara burung burung pipit yang biasa bercuit seperti menunggu dirinya lengah, kini perlahan hening.
"apa kau mendengar suara bedug ashar mang ? Jam berapa ya ini ?"
Tanya mang Darman sembari mendongak ke atas langit. Tak biasanya mereka terkecoh oleh ke adaan alam apalagi sampai bingung pada perkiraan waktu.
Namun ketika itu hari seperti sudah memasuki sore hari dan mungkin tak lama lagi akan berubah menjadi malam. dari kejauhan langit tampak pekat dengan gumpalan gumpalan awan hitam di sertai suara katak sawah yang sesekali terdengar seakan hewan itu tau jika tak lama lagi akan turun hujan.
"sepertinya mau turun hujan yang mang ?"
Tanya mang Darman sembari melirik Tumang yang tampak tersenyum dan menatap langit.
untuk pertama kalinya mereka merasakan tanda tanda itu setelah sekian lama kemarau panjang menimpa kampung dan desanya.
"lihat mau hujan saja kau seperti senang betul mang ? Kaya anak kecil yang merindukan main hujan hujanan saja"
Celetuk mang Darman mengatakan itu pada Tumang. dan memang itulah yang di rasakan Tumang ketika itu. Jika hujan lebat itu tak lama lagi terjadi, maka bagi dirinya terbukalah peluang mengais rejeki. Dirinya berniat...