Mengisahkan Ling Yi, gadis desa rupawan yang kebahagiaannya direnggut oleh bencana tak terduga. Malam yang tenang tiba-tiba berubah menjadi luka mendalam saat suatu organisasi rahasia dengan sengaja membakar rumahnya hanya untuk bersenang-senang. Kebakaran itu menewaskan sang ibu dan merenggut sang ayah dengan paksa untuk dijadikan budak. Namun disanalah Ling Yi diuji lantaran menyadari keistimewaan dirinya yang kebal terhadap api. Kobaran api yang menyelimuti rumahnya malam itu seolah menjadi saksi bisu atas semua kesedihan, rasa sakit serta kebencian yang ikut mengepul dalam dirinya.
"Malam ini aku bersumpah! Kalian semua pasti akan musnah dengan apiku sendiri!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SSERAPHIC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4. Pertemuan di Festival
Nenek Shifu pun tersenyum dan meletakkan tangannya di bahu Ling Yi.
"Tentu saja, anak baik. Jangan khawatir, aku pasti akan membantumu membalaskan dendam ibumu pada mereka. Tapi Ling Yi, sebelum itu kamu juga harus bersiap untuk menghadapi apa yang akan terjadi selanjutnya. Jadi, apa kamu sudah benar-benar yakin dengan keputusanmu?"
Nenek Shifu menatap Ling Yi dengan wajah seriusnya. Tanpa ragu, Ling Yi pun mengangguk dan menjawabnya dengan mantap.
"Hm! Aku yakin! Terima kasih, nenek Shifu!" sahutnya riang.
Ling Yi begitu bersyukur bisa di pertemukan dengan orang baik yang mau membantunya, dan bahkan dengan senang hati bersedia berbagi tempat tinggal yang sama dengannya.
Nenek Shifu lalu bangkit dari duduknya, dan menghampiri sebuah rak buku miliknya. Di raihnya salah satu buku yang cukup tebal dari rak tersebut, dan di serahkannya pada Ling Yi.
"Ini untukmu, Ling Yi,"
"A-apa? Untukku?"
Nenek Shifu pun mengangguk lembut, hingga sukses meyakinkan Ling Yi untuk menerima kitab itu dengan kedua tangannya.
"Ini adalah kitab kuno yang berisi tentang kemampuan khusus dari para leluhur pengendali api, leluhur dari klan kalian. Aku rasa, ini pasti akan sangat berguna untukmu,"
Ling Yi pun tercengang menatap kitab kuno yang baru saja ia terima itu dengan mata terbelalak. Nenek Shifu lalu menjelaskan bahwa kemampuan khususnya itu adalah warisan berharga dari para leluhurnya, dan Ling Yi harus belajar untuk bisa mengendalikannya dengan baik.
"Malam ini, kamu baca saja dulu kitab itu. Setelah itu, barulah besok kita akan memulai latihan pertamamu,"
"Sudah larut malam, aku tidur duluan, ya? Jangan terlalu di paksakan. Tidurlah jika di rasa sudah mengantuk. Kamu bisa melanjutkan membacanya kapan pun kamu mau."
Ling Yi pun mengangguk bahagia.
"Aku mengerti. Terima kasih, nenek Shifu. Kamu sudah begitu baik padaku,"
Nenek Shifu hanya melemparkan senyuman sayu padanya dan mengangguk lembut, lalu berlalu menuju pembaringannya untuk pergi tidur.
Ling Yi yang melihat hal itu pun kemudian beralih fokus pada kitab kuno dalam genggamannya. Di bukanya sampul kitab yang sudah cukup usang itu, dan di bacanya halaman demi halaman kitab yang telah sukses membangunkan rasa penasarannya.
Dan ternyata benar. Kitab kuno tersebut tak lain adalah berisi tentang rahasia-rahasia kemampuan khusus untuk mengendalikan elemen api. Mantra-mantra, teknik dasar, macam-macam serangan, aturan dan larangan, segala sesuatu tentang kemampuan khususnya telah tercantum rinci di dalamnya.
Setiap halaman yang di buka akhirnya sukses mengejutkan Ling Yi. Tercengang dan sulit percaya, Ling Yi benar-benar tidak pernah menyangka bahwa kemampuan khusus yang ia dapatkan sebenarnya seluar biasa seperti yang di katakan dalam kitab itu.
"Api itu tak akan pernah padam. Api itu akan terus membara dalam dirimu, abadi seumur hidupmu. Hargailah dan kendalikan api itu! Maka ia pasti, akan menjadi senjata terkuat, sekaligus sahabat terbaikmu."
Begitulah bunyi dari bait terakhir yang Ling Yi baca pada halaman itu, yang merupakan seperempat halaman dari tebalnya kitab itu, satu kalimat petuah yang sukses menerobos masuk relung hatinya dan membekas di sana.
"Itu artinya, kemampuan khusus pengendali api benar-benar tidak bisa aku remehkan. Selama ini aku sudah cukup dibuat kagum oleh kemampuan ayah. Sekarang giliranku untuk mengasah kemampuanku ini, menguasainya, hingga bisa melampaui kemampuan ayah. Baiklah! Ayo lakukan itu!"
Keesokan harinya, Ling Yi di bangunkan oleh suara reruntuhan bebatuan gunung yang cukup membuat pembaringannya ikut bergetar. Sayup-sayup matanya seketika menoleh ke arah pintu gua, dan tebakannya pun benar.
"Hahaha... maaf, ya, sudah membangunkanmu," celoteh nenek Shifu yang sudah berdiri tegak di depan sana sambil tersenyum ramah.
Bukannya kesal dan melanjutkan tidurnya, Ling Yi justru bergerak bangkit dari pembaringannya dan berdiri dengan sigap.
"Selamat pagi, nenek Shifu!" ucapnya penuh semangat sembari membungkukkan badan.
Mengangguklah nenek Shifu dengan senyuman di wajah sayunya.
"Ayo, ikut aku! Pagi itu tidak bisa menunggu lama, lho,"
Langkah kaki Ling Yi akhirnya membawa dirinya keluar dari gelapnya gua, membuatnya terpanah dengan pesona bentang alam di sekelilingnya yang kini telah terpampang jelas di matanya berkat pencerahan dari sang mentari yang mendukung bergantinya langit gelap jadi membiru cerah.
Nenek Shifu akhirnya mengajarinya tentang teknik-teknik dasar untuk mengendalikan api. Ling Yi memang merasa sulit pada awalnya, terutama di hari pertamanya. Namun, di hari hari berikutnya, dengan latihan yang tekun, ia akhrinya mulai bisa mengendalikan api dengan baik.
Tapi, Ling Yi juga mulai merasakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres. ia merasa ada kekuatan gelap yang mengintai di balik kemampuan khususnya. Nenek Shifu juga merasakan hal yang sama, dan memberi nasihat padanya.
"Ling Yi, ada api yang mengalir dalam darahmu. Kamu sudah ditakdirkan untuk memilikinya, dan kamu harus memanfaatkannya untuk hal-hal baik. Tapi, berhati-hatilah. Semakin besar kemampuanmu itu, semakin besar pula ancaman yang akan menantimu di kemudian hari," ucap nenek Shifu dengan tegas.
Hari demi hari, Ling Yi terus berlatih untuk meningkatkan kemampuan khususnya, dan perlahan-lahan ia pun mulai merasa lebih percaya diri.
Namun, setiap kali Ling Yi sedang berlatih sendirian, ia selalu merasakan bahwa ada seseorang yang mengawasi ia dari jauh. Ling Yi tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas, tapi ia bisa merasakan kehadirannya.
Suatu malam, Ling Yi berjalan di jalanan yang sunyi untuk mencari udara segar. Kali ini, Ling Yi sudah bisa menggunakan apinya sendiri dari telapak tangannya sebagai penerang jalanan, tidak lagi memerlukan obor.
Disitulah, Ling Yi kembali merasakan kehadiran itu. Ia pun berbalik dan melihat sekelebat bayangan seseorang seperti sedang mengintainya dari balik pepohonan. Namun sayang saat di dekati orang tersebut justru berlari dan menghilang di balik semak-semak.
Ling Yi merasa seperti sedang dikejar oleh sesuatu yang tidak terlihat. Nenek Shifu memberitahunya bahwa ia harus berhati-hati karena ada kekuatan gelap yang ingin memanfaatkan kemampuan khususnya untuk tujuan jahat.
Ling Yi merasa penasaran dan ingin tahu lebih lanjut tentang kekuatan gelap itu. "Siapa yang ada di balik kekuatan gelap itu?" tanya Ling Yi penasaran.
Nenek Shifu tersenyum dan mengatakan bahwa ia akan mengetahuinya sendiri suatu hari nanti. Tapi, untuk sekarang, ia harus fokus untuk meningkatkan kemampuan khususnya dan siap untuk menghadapi apa yang akan terjadi selanjutnya.
Ling Yi merasa tidak puas dengan jawaban nenek Shifu, tapi ia tahu bahwa ia harus bisa mempercayai perkataannya. Ling Yi pun terus berlatih dan berlatih untuk mengendalikan kemampuan khususnya dengan bimbingan nenek Shifu.
Beberapa hari kemudian, di saat Ling Yi sudah lebih ahli dalam mengendalikan elemen api, ia mendapat kabar dari Nenek Shifu yang mengatakan bahwa sebentar lagi desa sekitar akan mengadakan sebuah festival tahunan menyambut masa panen.
Nenek Shifu pun mengatakan bahwa Ling Yi harus pergi kesana karena ini adalah kesempatan yang baik bagi dirinya untuk mulai berbaur dengan masyarakat luas.
"Pergilah, Ling Yi. Firasatku baik tentang ini. Aku yakin perjalanan kali ini pasti akan membuatmu lebih dekat dengan keberadaan ayahmu diluar sana," ucap nenek Shifu meyakinkannya.
Ling Yi pun mengangguk paham dengan nasehatnya.
Keesokan harinya, Ling Yi berpamitan dengan nenek Shifu dan berterima kasih padanya atas semua jasa yang sudah ia lakukan untuknya selama ini.
"Tidak masalah, gadis baik. Aku percaya aku pasti tlah melakukan hal yang benar dengan membantumu. Dan ingatlah satu hal, bahwa dimanapun kamu berada, kamu bisa memanggilku jika membutuhkan bantuan," begitulah ucap nenek Shifu lembut sebagai pesan terakhirnya untuk Ling Yi.
"Baiklah! Sekali lagi, terima kasih banyak nenek Shifu!"
Usai berpelukan sejenak dan merasa benar-benar mantap, Ling Yi akhirnya melangkah untuk melanjutkan kembali perjalanannya menuju desa tujuan.
Sesampainya di sana itu, Ling Yi bertemu dengan banyak warga desa yang tengah memeriahkan festival kala itu.
Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, mereka semua terlihat ceria dan serasi dengan pakaian-pakaian unik yang melambangkan kebudayaan desa mereka. Meski tidak saling kenal, uniknya mereka tetap bersikap ramah pada Ling Yi hingga membuatnya amat menikmati suasana dan pernak-pernik dalam festival tersebut.
Tak lama saat Ling Yi duduk sendirian, seorang pria tampak mendatanginya dan mengajaknya mengobrol dengan ramah. Zhang Hao namanya. Ia juga seorang pengunjung, bukan warga asli desa tersebut. Ling Yi pun menerimanya sapaannya dengan senang hati lalu mulai berbincang tentang banyak hal, termasuk kemampuan khususnya.
Zhang Hao terlihat sangat tertarik dengan kemampuan khususnya. Namun, hal itu cukup membuat Ling Yi merasa tidak nyaman. Keanehan pun mulai terasa saat ia dengan sangat berani mengatakan bahwa dia ingin melihat kemampuan khusus Ling Yi
"Apakah kamu... bisa menunjukkannya padaku?"
.
.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...BERSAMBUNG......