NovelToon NovelToon
WANITA ITU IBU ANAKKU

WANITA ITU IBU ANAKKU

Status: tamat
Genre:Tamat / Patahhati / Romansa-Tata susila / Percintaan Konglomerat
Popularitas:9.9M
Nilai: 4.8
Nama Author: Moena Elsa

Mutia Arini seorang ibu dengan satu putra tampan dan juga pengusaha bakery wanita tersukses. Kue premium buatannya telah membuat dirinya menjadi seorang pebisnis handal. Banyak cabang telah dibukanya di berbagai kota besar. Pelanggannya adalah golongan menengah ke atas. Di balik kesuksesannya ternyata ada sebuah rahasia besar yang disimpannya. Karena kejadian satu malam yang pernah dilaluinya, mengubah semua arah kehidupan yang dicitakan oleh seorang Mutia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moena Elsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 4

Keesokan hari, selepas menjemput Langit. Mutia langsung balik ke apartemen untuk menyiapkan barang-barang yang akan dibawa ke kota S untuk acara peresmian cabang baru di kota tersebut.

"Bunda, kok beres-beres. Kita mau ke mana?" tanya Langit.

"Mau main di pantai, Langit mau nggak?" tukas Mutia.

"Mau dong bunda. Nanti di sana buat istana pasir ya" ajaknya.

"Siapa takut" mereka berdua tertawa bersama.

"Abis ini Langit makan, terus.....????" Mutia sengaja menggantung ucapannya.

"Bobok siang," Langit melanjutkan ucapan bundanya.

"Anak pintar," puji Mutia mengusap rambut Langit dengan lembut.

Langit mengerjakan apa yang menjadi perintah bundanya dengan ceria.

Saat Langit bobok siang, datanglah Dena.

"Kak, sudah siapkah?"

"Ini juga baru beberes Den, lagian Langit juga lagi tidur" ucap Mutia sambil memasukkan baju Langit dan bajunya ke dalam koper.

"Minggu kita balik kan Den?" tanya Mutia ke Dena yang memang mengatur jadwalnya.

"Iya lah Kak, lagian Senin Langit sudah sekolah lagi kan?" ucap Dena.

"Aku mau beres-beres juga kak," pamit Dena masuk ke kamarnya.

Sementara bik Sumi sudah pulang ke kampung halaman sedari pagi tadi.

Sore hari mereka bertiga menuju bandara. Langit sangat antusias saat naik tangga pesawat.

"Bun, kalau sudah gedhe aku mau jadi sopir nya pesawat," celotehnya.

Dena bahkan tertawa mendengarnya.

"Langit, sopirnya pesawat namanya apa? Bunda pernah bilangkan?" tanya Mutia.

"Apa ya bun, Langit lupa?" ucapnya polos.

"Oh ya...pilot," Langit terlihat senang karena berhasil mengingatnya.

Bahagiamu sederhana putraku, batin Mutia.

Saat pesawat lepas landas, Langit bahkan tidak ada takut-takutnya. Mutia memang selalu mengajak Langit kemanapun dia pergi. Langit pun akhirnya terbiasa dengan naik beberapa kendaraan. Penerbangan itu hanya memerlukan waktu sekitar satu jam lima belas menit.

Sampai hotel sudah menjelang petang.

"Kak, kalian istirahat saja dulu. Abis ini aku pergi ke cabang, skalian mau mengecek persiapan sampai sejauh mana buat peresmian besok," ucap Dena.

"Den, jangan lupa anak-anak yatim yang kita undang ya," Mutia mengingatkan.

"Langit, kita makan malam dulu ya. Di resto hotel aja," ajak Mutia.

Setelah check in dan menaruh barang-barang mereka, Mutia dan Langit berjalan ke resto. Sementara Dena menuju lobi untuk pergi ke kantor cabang yang akan diresmikan.

"Bun, kapan kita ke pantainya?" tanya Langit di sela-sela makan.

"Bagaimana kalau besok pagi kita ke sana?" tukas Mutia.

"Asyikkkk," teriak Langit dengan ceria.

.

Mutia memenuhi janjinya mengajak Langit ke pantai.

Karena masih pagi suasana masih agak sepi. Angin yang berhembus sedikit kencang, menambah hawa dingin. Tapi semua itu tidak menyurutkan keinginan Langit untuk bermain istana pasir bersama bunda nya. Istana yang telah dibangun itu hancur seketika ketika disapu ombak lautan. Langit tertawa senang.

"Ayok bun kita bikin lagi," serunya.

Mutia pun mengikuti yang diinginkan Langit.

Saat matahari mulai terik, barulah Langit mau diajak beranjak dari bibir pantai itu.

"Kita kembali ke hotel ya?" ajak Mutia.

"Oke bun," sahut Langit menuntaskan suapan terakhir makan ikan segar bakar itu.

Mereka ketemu di lobi dengan Dena yang telah bersiap.

"Kak, aku duluan ya. Ntar kalau sudah oke persiapannya aku kabari " ucapnya bergegas menuju mobil jemputan.

Mutia dan Langit naik lift menuju kamar.

"Langit, bobok dulu ya. Abis bobok ikut bunda lagi!!" tawar Mutia.

"Ikut di acara bunda ya? Oke Bun, Langit akan menjaga kemanapun bunda pergi," sahut Langit penuh semangat.

"Makasih tampan," puji Mutia dengan memeluk Langit.

Mutia bergegas bersama Langit, sejenak setelah menerima panggilan telpon dari Dena. Mobil yang menjemput mereka pun telah siap.

Tiba di tempat acara, suasana meriah telah menyambut kedatangan sang pemilik usaha itu. Para kolega juga nampak telah hadir. Ada binar kebahagiaan di mata Mutia.

Hal itu tidak lepas dari semua pandangan putra semata wayangnya.

Suatu saat kelak aku harus bisa membahagiakan bunda, batin Langit. Langit duduk tenang saat Mutia memberikan sambutan di atas podium. Bunda ku cantik, puji Langit dalam hati.

Acara dilanjutkan dengan pengguntingan pita. Mutia puas dengan hasil yang disiapkan oleh Dena dan tim. Acara berlangsung sukses. Acara dilanjutkan dengan ramah tamah dengan para kolega-kolega yang hadir.

Langit yang merasa bosan dengan acara orang dewasa itu, beranjak dari tempat duduknya. Dia berjalan keluar dari tempat acara bunda nya.

Ternyata di depan outlet tempat acara berlangsung, tampak area playground. Dengan semangat Langit pun menuju ke sana. Karena tidak membawa uang dan tidak ada pendamping, serta merta Langit ditolak untuk masuk ke arena playground itu.

Langit berjalan gontai di tempat yang ternyata sebuah mall besar di kota S itu.

Langit duduk di sebuah kursi kosong sebuah foodcourt. Karena hanya asal duduk, Langit pun tidak memperhatikan sekeliling.

"Hai anak tampan, kenapa mukanya ditekuk?" sapa seorang laki-laki dewasa yang duduk tepat di depan Langit.

Seorang laki-laki yang ternyata telah memperhatikan Langit yang datang sendiri tanpa orang dewasa yang mendampingi.

Langit pun memandang seseorang yang menyapanya.

Deg, batin laki-laki dewasa itu.

Kenapa dia sangat mirip denganku waktu kecil, batinnya.

"Hai Om tampan," sapa Langit mengikuti sapaan laki-laki itu terus kembali menekuk mukanya.

"Kok mukanya ditekuk lagi?" lanjut laki-laki itu.

"Abis mau mainan di playground nggak dibolehin sama kakak-kakak yang di sana. Langit nggak bawa uang om," Langit mulai berkaca-kaca.

"Jadi namamu Langit? Kenalin nama Om, Sebastian" sapa laki-laki dewasa itu mengulurkan tangannya. Langit pun menyambut uluran tangan itu,

"Langit Putra Ramadhan," sebutnya.

"Wah nama kita ada yang sedikit sama nih, Sebastian Putra," ujar laki-laki itu.

"Gimana kalau Langit makan dulu, abis itu Om anter ke playground" Sebastian menawari.

"Langit ingin makan apa?" lanjutnya.

"Ayam goreng," suara Langit mulai semangat.

"Tunggu sini ya, Om pesankan dulu," Sebastian bangkit menuju outlet ayam goreng terkenal itu.

Sekembalinya Sebastian mencoba mengorek tentang Langit yang sendirian itu.

"Langit, kenapa sendirian di tempat seperti ini??" tanya Sebastian.

"Aku bosan Om, acarnya bunda membosankan," gerutunya.

Langit memang sering diajak Mutia kalau ada acara pembukaan cabang.

"Om sendiri ngapain di sini. Sendiri juga seperti Langit?" Langit mengembalikan pertanyaan ke Sebastian.

Sebastian sebenarnya sedang memantau perkembangan mall yang dikunjunginya kali ini.

Mall saat ini dia berada adalah mall milik keluarganya.

"Main aja, bosan di rumah sama seperti Langit yang lagi bosan juga," Sebastian terkekeh.

"Sama dong Om," Langit mulai menyuap makanan yang baru diantar. Langit sangat lahap makan ayam goreng yang merupakan makanan kegemarannya.

Nampak seorang laki-laki menghampiri mereka berdua, "Tuan, sudah waktunya kita kembali ke kota J. Pesawat juga sudah siap di bandara," ujar orang itu.

"Kamu undur aja jadwal kita Dewa," perintah Sebastian.

Dewa Anggara, yang ternyata asisten Sebastian itu mengernyitkan alisnya.

"Sudah undur saja, jangan banyak pertanyaan," ulang Sebastian.

Dewa mengangguk, tapi pandangan Dewa tak luput memandang anak laki-laki yang sedang lahap makan itu.

Sebuah pertanyaan aneh terlintas di otaknya, mirip sekali dengan tuan Sebastian waktu kecil.

Tapi Dewa segera menepis pikiran itu. Mana mungkin tuan nya yang masih single mempunyai seorang anak. Dewa Anggara telah mengikuti Sebastian selama lima tahun terakhir, menggantikan ayahnya yang juga merupakan asisten ayah Sebastian juga. Tak nampak seorang wanita pun yang dekat dengan tuan Sebastian, pikirnya.

to be continued 🤗

1
Nita Kelung
Penipu kena tipu😂
Nita Kelung
ternyata Janetra yg bodoh😂
Nita Kelung
Opa tinggal aja dgn Mutia dan sebastian
Nita Kelung
terbongkar sdh
Nita Kelung
pasti opa itu yg Tian cari
Nita Kelung
opa yg di cari juga oleh Tian
Nita Kelung
pasti ttg kalung dan liontin yg pernah di lihat
Nita Kelung
Sebastian ngidam
Nita Kelung
Dewa sama Dena aja
Nita Kelung
mutia sepupuan dgn Janetra
Nita Kelung
pasti Bibi kaget, krn mukax Sebastian mirip Bintang
Nita Kelung
pasti itu Mutia
Khairul Azam
ini othornya gak konsisten bukanya diawal si bibik mangil mutia dgn mutia aja gak pakek nyonya?
Khairul Azam
boleh song komen kan gunanya kolom komentar untuk komen 🤭🤭🤭

ceritanya bagus cuman sedikit menganjal dan gak enak dibaca trs feelnya kurang greget, seperti bastian bilang " aku gak punya no tlf bunda km lhoo" apa gak enak bilang "om tidak punya" kan lbh enak, tts basti ada " hahaha hehhehe" itu menggangu sih gak harus ditulis begitu sih. trs cara percakapan anak anak seumuran langit dan bintang terlalu dewasa
Khairul Azam
umur lima tahun cara ngomongnya seperti orang dewasa, malah gak imiut jadinya
Neneng Tejaningsih
bagus karya mu thor aku suka
Khairul Azam
bagus ceritanya tp cara nulisnya kq begini bikin pusing bacanya
moenaelsa: proses edit kak...maafin msh belajar nulis
total 1 replies
Neneng Tejaningsih
Luar biasa
George Lovink
Bagus ceritanya cuman kekurangan penulis nggak pisahkan percakapan.Dalam satu bab percakapan menumpuk tak ada jeda pisah sambung menyambung...jadi malas baca walau cerita bagus...mengagungkan diri penulis tapi hal sepele ini saja terlewati
moenaelsa: makasih masukannya, otewe revisi
total 1 replies
George Lovink
Kayaknya cerita bagus...tapi pisahkan donk percakapannya...numpuk gitu...seorang penulis kok nggak teliti sih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!