Karna ini adalah novel pendek jadi babnya gak terlalu panjang ya..
Mengandung cerita 21+
Ayunanda saputri harus terima kalau, mama yang ia cintai harus rela memilih lelaki yang baru saja menikahinya. Lelaki itu bernama Thomas Killer dia adalah sahabat papanya dahulu.
Dengan penuh perjuangan dia hidup sebatang kara, untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari.
Suatu hari dia bekerja di sebuah Bank swasta dan terpaksa menjadi simpanan CEO untuk membalas dendam kepada lelaki yang sekarang menjadi suami mamanya.
Adakah cinta di antara keduanya, simak terus kelanjutannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lintang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bonus Chapter 5
Luna menuju ke rumah yang dulu pernah ia tinggali bersama mendiang papa dan kakaknya, Rosa begitu terkejut saat Luna dengan kasar menggedor pintu rumahnya.
"Sayang, kamu pulang? Mama kangen." Rosa berusaha memeluk Luna.
"Jangan sentuh aku!! kau sudah mengambil semua kebahagiaanku Bi." Teriak Luna memecah keheningan rumah tersebut.
Mendengar hal itu membuat hati Rosa terluka, ia menyentuh area dadanya dan mengelusnya perlahan.
"Jadi selama setahun kamu di Jepang, masih memendam dendam itu kepadaku dan Yuna Lun?." Tanyanya dengan lirih.
"Ya, bahkan rasa dendamku tak bisa di kalahkan oleh apapun!!." Luna menghardik wanita tua itu, sehingga Rosa jatuh terduduk di depan pintu. Sedangkan Luna berlari ke dalam rumah untuk mencari tali tambang untuk mengikat Rosa dan mengurungnya di sebuah gudang kosong di belakang rumahnya.
Rosa yang sudah bangun dari terjatuh dan duduk di ruang tamu, di paksa Luna untuk segera mengikutinya.
"Ikut aku sekarang!!." Luna menyeret tangan Rosa dengan kasar.
"Mau kemana Luna, tolong lepaskan tanganku sakit?!." Rosa meronta karena merasa tangannya kesakitan.
Setelah tiba di gudang, ia segera mendudukkan Rosa dan segera mengikatnya dengan kencang.
"Diam, dan jangan banyak bergerak atau mau pisauku menghujam lenganmu yang sudah tak mulus lagi." Luna mengancam dengan mengacungkan pisaunya, Rosa merasa takut dengan Luna yang berubah menjadi bengis.
"Sayang lepaskan Bibi, Bibi tau kamu marah Yuna mengambil kembali harta Ayahnya. Tapi itu memang ada hak kami di dalam harta itu, kamu juga bisa mengambil sebagian harta kamu itu. Bibi dan Yuna sudah menyiapkan semuanya untukmu, anak Bibi tidak Sea jahat yang kamu bayangkan Nak." Rosa berusaha membuat Luna tersadar, tapi karena Lusa di liputi kemarahan yang sangat luar biasa jadi dia tidak bisa berfikir jernih. Ia merasa telah di permaikan di sini.
"Aku bilang diam, atau mau ku lakban saja mulut Bibi."
Rosa kembali bergetar saat Luna kembali berteriak, tepat di telinganya. Bahkan ia merasa Luna yang super manja kini telah berubah menjadi Luna yang super bengis dan kejam. Ia tau kalau semua kejadian yang terjadi kepadanya, bisa membuat Luna berubah menjadi psycopat serta gangguan bipolar sesuai yang di beritakan oleh orang suruhan Arya.
Setelah mengikat Rosa ia meninggalkannya sendiri di sana dan kembali ke dalam rumah, ia sibuk mencari-cari dokumen penting milik mendiang papanya yang di simpan di dalam sebuah brankas rahasia yang di simpan di dalam ruang kerjanya.
Saat ia berhasil mendapatkan dokumen itu, tiba-tiba Rio datang menghampirinya. Entah siapa yang memberitahunya, nyatanya sekarang pria itu sudah berada di dalam rumahnya. Luna terkejut saat Rio duduk di salah satu sofa ruang keluarga.
"Rio sedang apa kau di sini?." Luna menyembunyikan dokumen yang di bawanya, di balik tubuhnya.
"Mari kita pulang Nona, Tuan Arya dan Nona Yuna akan memberikan semua apa yang Anda inginkan. Jadi lebih baik Anda ikut dengan saya, dan menurut dngan saya, lupakan semua dendam mari hidup dengan damai bersama saya." Rio berusaha membujuk Luna agar mau ikut dengannya.
"Jangan coba-coba mengelabauiku dengan pesonamu Rio, aku tidak akan tertarik dengan orang yang suka bermain licik di belakangku."
"Bukannya Anda juga licik Nona, Anda menyuruh seseorang untuk memperkosa Nona Yuna?."
"Diam kau, sialan!!." Luna berlari ke arah gudang dan mengunci pintu gudang dari dalam, Rio yang berusaha mengejarnya harus terpaksa berhenti karena Luna menutup pintu gudang dengan cepat.
"Keluar Nona, atau saya akan membuka paksa pintu ini." Teriak Rio dari luar gudang.
"Tidak semudah itu Rio, setelah kamu berhasil membuka pintu gudang ini kau tau mayat siapa yang pertama kali akan kamu lihat."
'Mayat dia bilang mayat, memangnya siapa yang berada di dalam?. Atau jangan-jangan itu mamanya Nona Yuna?' dengan cepat Rio meghubungi Arya agar segera datang ke rumah mertuanya.
Arya dan Yuna segera datang ke rumah mamanya saat Rio memberitahu kedatangan Luna dan menyekap mama Rosa di dalam gudang kosong.
Setelah menunggu agak lumayan lama, akhirnya mereka berdua datang. Yuna yang mengawali berteriak untuk memanggil Luna, ia ingin agar Luna segera membukakan pintu untuknya dan mau membebaskan mamanya.
Namun sayang bukannya membukakan pintu, Luna malah berdiri di belakang Rosa memposisikan dirinya apabila tiba-tiba pintu gudang terbuka.
Dan benar saja pintu berhasil di dobrak oleh Arya dan Rio, mereka bertiga terbelalak terkejut melihat mata dan mulut mama Risa yang di tutup lakban oleh Luna. Bahkan Luna sudah menunjukkan sebuah pisau ke leher mama Rosa, sedikit saja ia bergerak pisau tajam itu akan berhasil merobek tenggorokannya.
"Jauhkan pisau itu dari leher Mama Lun." pinta Yuna sambil berurai air mata.
"Tidak, serahkan duku semua harta yang sudah kau kuasai sekarang. Kalau tidak aku tidak akan melepaskan Mamamu."
"Aku sudah membawa harta warisan untukmu, dan aku sudah membaginya." Yuna melemparkan dokumen itu di depan Luna, dasar Luna yang sudah gelap mata ia tak mau mau harta papanya di bagi tapi ia menginginkan harta itu semuanya.
"Berikan semua yang kau miliki padaku, maka aku akan melepaskan Mamamu." Luna kembali menggerakkan pisau itu di leher mama Rosa, hingga ada setetes darah yang keluar dari kulitnya.
"Baiklah ambil semuanya, dan bebaskan Mamaku." Yuna berharap Luna benar-benar melepaskan Mamanya sekarang.
"Aku akan melepaskan Bibi, tapi ubah dulu dokumen itu atas namaku seutuhnya." Tanpa menunggu lama Arya mengambil dokumen tersebut dan segera mengganti semuanya dan langsung di tanda tangani oleh Yuna, setelah selesai ia kembali menyerahkan dokumen tersebut kepada Yuna.
Ternyata Luna benar-benar melepaskan Mama Rosa, dan berusaha melakukan barter. Saat Yuna sudah berhasil mengambil dokumen itu, ia mencoba berlari ke arah Yuna dan ingin menusuknya menggunakan lisau yang di pegangnya.
Rio yang mengwtahui kelicikan Luna segera berlari menghadang Luna, ia ingin menghalanginya. Namun sayang pisau itu lebih dulu menancap dalam ke perut Rio, seketika Luna dan Rio saling berteriak.
Luna baru menyadari kalau pisau itu kini sudah berada dalam perut Rio, Rio yang dalam keadaan kesakitan langsung menjatuhkan tubuhnya ke pelukan Luna.
"Luna, saya begitu mencintaimu. Tapi kenapa kamu tega berbuat ini, padahal kamu berjanji akan hidup bersama denganku?." suara Rio lirih, darah yang keluar begitu banyak dan sedikit saja ia sudah nampak begitu pucat.
"Rio maafkan aku, sebenarnya ini ku tujukan kepada Yuna." Luna menjerit memanggil nama Rio saat Rio semakin sesak untuk bernafas.
"Hilangkan dendam itu, dan hiduplah dengan damai. Selamat tinggal Luna, aku sungguh sangat mencintaimu." Dengan sekali tarikan nafas yang panjang, akhirnya Rio menghembuskan nafas terakhirnya. Dan itu makin membuat Luna merasa sakit hati, karena setiap orang yang baik dengannya pasti akan meninggal dengan keadaan yang tragis.
Luna yang mengalami depresi kini menjadi orang yang benar-benar menyedihkan, penampilannya semakin tidak baik. Gadis yang dulu begitu cantik dan anggun kini berubah menjadi orang gila yang sekarang tinggal di rumah sakit jiwa, ia sering menangis sendiri bahkan kadang tertawa sendiri.
Arya dan Yuna hanya bisa memperhatikan Luna di kejauhan, mereka berdua hidup dengan bahagia.
Sad Ending...
Dasar Mak lampir...
ngga bisa lihat orang bahagia.
visualnya thort