Dendam memang bisa membuat siapapun terlihat tak memiliki hati, seperti seorang pria muda dengan kesuksesan dan harta yang berlimpah. Karena rasa dendam di masa lalu ia menculik seorang gadis tak bersalah di hari pernikahannya.
"Kau hanya akan mendapatkan siksaan seumur hidupmu, mulai hari ini." Tekan seorang pria dengan setelan jas dan kemeja putih yang terlihat sempurna di tubuhnya.
Akankah sang gadis tahan dengan siksaan yang pria itu berikan padanya?
Gak update setiap hari, tapi diusahakan ✨
Follow Instagram aku
@Alfianaaa05_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kasih sayang Ayah
2 bulan telah berlalu, kini usia kandungan Diandra sudah jalan 4 bulan. Perut wanita itu sudah mulai terlihat sehingga baju ketat yang ia gunakan mencetak dengan jelas perutnya. Diandra sudah mulai kembali bekerja setelah dirinya melewati masa trimester dan tentu Aryan mengizinkan untuk kembali bekerja di kantor.
"Permisi pak," ucap Diandra masuk ke dalam ruangan Aryan.
"Ada apa?" tanya Aryan tanpa melihat pada Diandra yang membawa berkas di tangannya.
"Ini berkas dengan perusahaan X, perwakilan asistennya datang untuk menemui anda. Apakah boleh beliau menemui anda?" tanya Diandra seraya menyodorkan berkas yang ia bawa.
"Buat jadwal lusa bersamanya, hari ini saya tidak ingin bertemu siapapun." Jawab Aryan seraya membereskan meja kerjanya.
"Baik pak," cicit Diandra ingin keluar namun Aryan memanggilnya.
"Kau juga bersiap-siaplah, aku mau mengajakmu bertemu Oma dan Opa," tutur Aryan membuat Diandra diam beberapa saat.
"Harus sekarang? aku takut bertemu dengan keluargamu," ucap Diandra, ia memang sudah mengenal kakek dan nenek Aryan tapi bagaimana dengan keluarganya yang lain?
"Tidak perlu takut, Oma sudah sangat ingin bertemu denganmu. Terlebih lagi kondisimu yang sedang hamil," ujar Aryan yang akhirnya diiyakan oleh Diandra.
"Aku menunggu di basemen 2," ucap Aryan kemudian pergi meninggalkan ruangannya duluan.
Diandra segera merapikan mejanya, sebelum itu ia tentu sudah memberitahu orang yang ingin bertemu dengan Aryan kemudian mengatur jadwal pertemuan mereka. Setelah semuanya rapi, ia bergegas menyusul Aryan yang sudah duluan pergi.
Ketika berpapasan dengan karyawan lain, tanpa sengaja ia mendengar bisik-bisik para karyawan yang sedang membicarakan dirinya. Memang semenjak ia masuk dan keadaanya yang sedang hamil tak jarang ia mendapatkan gunjingan dari mulut karyawan.
"Pasti hamil di luar nikah tuh," bisik salah satu orang pada temannya.
"Iya, buktinya gak pernah tuh dia dijemput suaminya." Sahut teman yang ikut membicarakan Diandra.
Diandra biasa saja menghadapi ucapan ucapan karyawan, menurutnya menanggapi hal tidak penting sama sekali tidak ada gunanya. Toh pada kenyataannya perkataan mereka semua tidak benar adanya, ia hamil tentu dengan seorang suami dan Diandra yakin jika mereka tahu siapa suami Diandra yang pasti mereka akan menyesali ucapan mereka itu.
"Cukup!" teriak seseorang yang ikut mendengar ucapan buruk tentang Diandra.
"Pak Andi, selamat siang." Sapa karyawan yang tadi membicarakan Diandra.
"Apa kalian digaji pak Aryan untuk bergosip? Diandra hamil bersama suaminya ataupun tidak itu tidak ada bedanya bukan? karena kedua kenyataan itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan kalian." Ucap Andi tegas membuat kedua karyawan itu hanya bisa diam menundukkan kepalanya.
"Maaf pak," cicit keduanya kemudian segera pamit pergi.
"Kau oke Diandra?" tanya Andi dijawab anggukan seraya tersenyum pada temannya itu.
"Makasih ya, aku duluan." Pamit Diandra karena takut Aryan terlalu lama menunggu.
Diandra masuk kedalam mobil Aryan, ia melihat Aryan tengah melakukan telpon dengan seseorang. Sementara tanpa menunggu perintah Aryan, Roy langsung menjalankan mobilnya meninggalkan basemen.
"Iya Oma, jangan khawatir aku akan segera kesana dengan Diandra," ucap Aryan kemudian mematikan sambungan teleponnya.
"Roy, kita pergi ke supermarket untuk membeli buah sebentar." Ucap Aryan seraya mengantungkan ponselnya di jas.
"Baik tuan," balas Roy kembali fokus membawa mobil.
"Aryan, kau yakin aku akan pergi seperti ini kerumah keluargamu?" tanya Diandra merasa dirinya sangat lusuh sehabis bekerja.
"Lalu? apa kau harus pakai gaun pengantin untuk datang kesana? sudahlah kau masih terlihat cantik." Jawab Aryan tanpa sadar telah memuji wanita itu.
Diandra mengulum senyum, selama beberapa bulan belakangan sikap Aryan jauh berbeda dari Aryan yang dulu. Bahkan Aryan rela bangun malam malam hanya demi mewujudkan keinginannya, tak jarang juga Aryan membantunya meredakan rasa nyeri di perutnya dengan mengusap perutnya lembut.
"Kau menginginkan sesuatu?" tanya Aryan membuyarkan lamunan Diandra.
"Aku haus," jawab Diandra seraya mengusap lehernya.
"Kau mau minum apa? apa mau jus atau air mineral?" tanya Aryan lagi.
"Cukup air mineral saja," jawab Diandra yang kemudian Aryan mengambil sebotol air yang ada di mobil kemudian memberikannya pada Diandra.
Diandra kembali memberikan botol itu pada Aryan, ternyata pria kejam seperti Aryan bisa juga berubah menjadi pria bertanggungjawab. Aryan sudah menunjukkan sikap ayah yang sangat menyayangi anaknya meski Diandra belum menemukan sikap Aryan sebagai suami ia sudah cukup bahagia melihat Aryan yang sangat perhatian pada anak dalam kandungannya.
"Aryan, boleh aku jujur. Kau pria yang baik dan sangat bertanggungjawab, andai orangtuaku tak pernah memasuki kehidupan keluargamu aku yakin kau tidak akan menjadi pria jahat hanya demi balas dendam. Kau menunjukkan semua sikap baikmu pada anak kita, kau bisa menjadi ayah yang baik. Meski kau tak pernah mengatakan cinta ataupun kasih sayang padaku, tapi aku bisa melihat banyak cinta dimata mu untuk anak kita. Tapi berbeda dengan hatiku, setiap detik dan jam bibirku seakan ingin mengatakan jika aku sangat mencintaimu, aku mencintaimu sebagai seorang istri yang begitu menyayangi suaminya. Tidak peduli jika perasaan ku tidak terbalas, yang penting hanya aku bebas mencintaimu sesuka hatiku." Batin Diandra enggan mengalihkan pandangannya dari wajah Aryan.
BAPER GAK???
BERSAMBUNG.........